
"Widih yang baru sembuh dari koma udah seliweran lagi aja"
Ojak mengejek di balik aquarium. Aku masuk ke kamarnya dan tiduran di kasur.
Hah siang ini berasa beda dari siang sebelumnya.
"Koma 3 hari, si joko nyangkanya gua covid. Kan gilaa. Lagi sakit dibikin parno"
"Lagian gejala yang lu rasain hampir sama dengan covid"
Ojak mencibir
"Bedalah dodol. Covid itu udah gak ada rasa. Baik dari penciuman maupun lidah"
Kataku menjelaskan.
"Reaksinya kan 2 minggu baru ketauan"
"Jadi lu nyumpahin gue covid?"
Aku menjitak kepalanya.
"Kalo lu covid 3 kamar kena semua. Rame dah tuh ambulance ngantri depan kosan"
Akupun tertawa lebar.
"Joko kemana?"
Tanyaku
"Dia lagi maen ke tempat temennya. Katanya sih mau bikin usaha baru"
"Wah usaha apaan tuh?"
"Bisnis ikan ******"
"Jadi saingan sama lo ni ceritanya?"
"Enggak lah. Si joko emang niatnya mau usaha jual beli ******, kalo gue kan cuman piara doang"
Ojak menjelaskan.
"Jak akuariumnya udah kotor banget dih"
"Ini baru aja mau gue bersihin. Bantuin yah"
Ojak tersenyum kecil dan menggerak gerakan kedua halisnya.
"Males banget, gue kan baru sembuh dari koma. Harusnya lu lakuin gue layaknya puteri"
Gak butuh waktu lama dede datang bareng ceweknya.
Udah beberapa hari ini memang aku baru liat dede. Kata ojak sih dede suka nginep di kosan ceweknya.
Dede dan ceweknya pamit masuk ke kamarnya.
Tiba tiba aku dikagetkan dengan suara telfon dari kerjaan.
Katanya sih semua karyawan harus kumpul siang ini.
Mau gak mau ya aku harus berangkat ke kerjaan lamaku.
Telfon yang sangat mendadak!
Sesampainya di kerjaan, karyawan sudah berkumpul.
"Ki, ko ngedadak gini ya di telfonnya?"
"Tau nih, aku juga lagi tidur tadi ngedadak di telfon"
Beberapa menit kemudian ibu bos pun datang. Dia membawa berita yang memang sangat mengecewakan bagi para karyawannya.
"Sebelumnya ibu meminta maaf kepada kalian semua. ibu juga bingung dengan kondisi yang terjadi saat ini. Sudah beberapa minggu tidak ada pesanan masuk. Kalau ibu tetap mempekerjakan kalian, ibu gaji kalian dari mana? sedangkan pemasukan tidak ada"
Kami semua diam. Meresapi setiap kata yang disampaikan oleh bos kami.
Memang masuk akal sih, sejauh ini yang selalu menjadi pendapatan utama adalah dari DPR dan juga Al-azhar. Tapi berhubung karena covid, semua aktivitas disana terpaksa ditutup selama beberapa waktu.
__ADS_1
"Ibu harap kalian bisa mengerti dengan apa yang ibu sampaikan. Tapi kalian jangan khawatir, kalian akan ibu beri pesangon"
Dan gak lama kemudian ibu bos pun membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa amplop putih yang masih disegel rapi. Ibu bos membagikan amplop itu satu persatu.
Jujur sih kami semua kecewa, menunggu waktu sampai 2 minggu, tapi berakhir dengan kabar yang mengecwakan.
Dan hari ini aku resmi jadi pengangguran lagi..
Sesampainya di kos, aku langsung rebahan. Mataku masih menerawang ke langit langit kamar.
Entah apa langkah selanjutnya yang akan aku ambil.
Akupun langsung membuka amplop itu, isinya uang sebesar 2juta.
Alhamdulillah, sejauh ini aku masih bersyukur, walaupun kehilangan pekerjaan tapi setidaknya aku masih memegang uang di dompetku.
Uang ini akan aku pergunakan dengan baik, dan aku berharap semoga saja ada berita baik dari lowongan kerja yang marcel infokan.
Hidup di perantauan dengan posisi jadi pengangguran adalah mimpi buruk bagi semua orang. Apalagi di zaman pandemi seperti ini.
Mau pulang kampung tapi masih lockdown, bertahan di disini tidak ada pemasukan. Sedangkan biaya kosan dan isi perut sudah menjadi kebutuhan utama.
Kadang aku selalu berpikir, kok nasibku seperti ini?
Diusia muda aku sudah ditakdirkan menjadi janda.
Diusia muda juga nasibku tak sepenuhnya mujur. Selalu saja ada halangan dan rintangan saat aku lagi semangat semangatnya menjalani hidup.
Dalam percintaan selalu gagal juga belakangan ini.
Ya tuhaaan, apakah aku harus menghardik sebuah takdir yang memang sudah tidak bisa dirubah?
Apakah aku harus menyesali hidup yang setiap detik selalu Tuhan titipkan nafas ini padaku?
Rasanya aku sudah lelah, berusaha baik tapi tidak pernah berakhir dengan baik.
Tapi kalau berusaha jahat, selalu saja gampang dan dimudahkan.
Apa ini cara tuhan menguji umatnya?
Aku menarik nafas ini dalam dalam..
...******...
Malam hari, suasana kosan masih seperti biasanya.
Penghuni kos yang tidak tau aturan
Penghuni kos yang bodo amatan
Penghuni kos yang selalu bikin ibu kos kesal.
Dan itulah kami.
Siapa lagi kalau bukan Joko, Ojak, Dede dan yudi.
Aku keluar dari kamarku dan berjalan menuju kos joko. Disana sudah ada dedengkot.
"Widihh baru nongol"
Kata yudi. Akupun nyengir lebar dan langsung duduk.
"Murung amat, kenapa lu?"
"Pusing gue yud, gue kena PHK"
"Jangan diambil pusing, kan ada kita kita, yah nggak?"
Kata joko dengan menuang sesuatu kedalam gelas. Aku sih tau itu apa, cuman aku diem aja.
"Nih minum"
Kata joko dengan mengasongkan gelas itu.
"Gak ah, gak suka"
Jawabku menggeleng
__ADS_1
"Yaelah kali kali gapapa, masalah hidup jangan terlalu dipikirin. Kita enjoy malam ini"
Dan akupun mengambil gelas yang joko kasih. Aku minum, sumpah ceket banget di tenggorokan. Segera aku ambil air putih.
"Minuman apa sih ini? gak enak banget"
"Lagi krisis keuangan beli yang murah dulu"
Akupun mengusap mulutku menggunakan baju. Ojak, joko, dede dan yudi sangat menikmati minuman itu. Ditambah musik yang jedak jeduk, membuat suasana malam ini seperti dunia gemerlap malam.
"Kel, bukan lu aja kali yang kehilangan pekerjaan, gue juga udah 2 bulan ini gak dapet insentif"
Kata ojak, matanya memang sudah merah daritadi. Sepertinya minuman itu cukup membuat ojak bereaksi.
"Iya lu sih mending pengeluaran cuman buat kosan dan makan aja. Lah guemah kosan iya, makan iya, bayar motor iya. Mau dibuat apa hidup gue sama nih covid"
Aku diam, mencerna apa yang mereka katakan. Kalo lagi gak waras mereka suka mendadak waras, tapi kalo waras suka mendadak gak waras. Itulah mereka.
Tak butuh waktu lama yudi dikagetkan oleh suara telfon. Dan ternyata itu ibu kos.
"Yudi, kecilin musiknya gak enak sama tetangga"
Suara ibu kos terdengar nyaring karena suaranya yang di loudspeaker. Kami semua menguping.
"Bu, saya udah tidur. Ini musik di lantai 2 kali bu"
"Coba kamu keluar deh"
Yudipun mengikuti perintah ibu kos, dan sialnya ibu kos sudah berdiri diluar dengan memandangi kosan lantai 3.
Ibu kos mendengus kesal. Yudi pun langsung masuk lagi ke kamar joko.
"Sial, bohong gue ketauan. Ibu kos udah berdiri aja di depan"
"Lu o'on sih malah keluar, ah elah"
Joko mendengus kesal
"Makannya dengerin apa kata gue, kalo udah malem itu puter musik jangan kenceng kenceng. Kena deh lu sama ibu kos"
Kataku sedikit mengingatkan.
Ojak tertawa lebar. Lalu musikpun dimatikan sama joko. Dan terpaksa mereka minum tanpa ditemani musik.
"Gariiing"
Kata dede dengan membuang kulit kacang.
"Tau tuh ibu kos udah jam 12 bukannya tidur. Malah mejeng aja di depan"
"Dia minta diculik kali"
Cibir joko
Akupun tertawa lebar. Jujur, kehidupan kami dikosan tidak jauh dari kehidupan anak muda yang sedang dalam masa masa nakalnya.
Kami selalu meluapkan segala masalah dengan kumpul bareng dan hal menyebalkan macam ini.
Kadang aku suka ikut gabung bareng mereka, tapi aku gak ikutan minum, kalaupun dipaksa palingan setengah gelas kecil aku minum.
Itu karena aku menghargai mereka sebagai teman.
And then, aku tau tidak mungkin juga kita terus terusan kaya begini, sering berjalannya waktu kita akan satu persatu meninggalkan tempat ini.
Bukankah saat kita akan mengakhiri segala sesuatu kita sedang memulai satu langkah untuk mengakhirinya?
Ini adalah moment, moment yang mungkin tidak akan bisa dilupakan selama diperantauan.
Sejauh ini aku bahagia memiliki mereka.
Ojak yang petakilan
Joko yang selalu sibuk dengan TTS nya
Yudi yang selalu asyik dengan HP nya
Dede yang selalu ngebucin
__ADS_1
DAN AKU....
Wanita yang selalu gagal.....