PINTU NO.7

PINTU NO.7
PART 21 - VENUE


__ADS_3

Sabtu sore di bulan Juni..


Air hujan mendadak turun membasahi sebagian kota bintaro.


Siang ini aku masih di kerjaan, mau pulang nanggung karena hujan sudah turun.


Lebih baik aku bertahan dulu disini. Pikirku..


Efek covid memang merugikan bagi sebagian orang. Banyak perusahaan yang bangkrut gara gara wabah ini.


PHK dimana mana, makin banyak saja orang pengangguran.


Tapi aku bersyukur sejauh ini masih mendapatkan pekerjaan dan gaji yang utuh.


Satu jam lamanya menunggu hujan reda, akupun memutuskan untuk pulang. Tiba di kosan aku langsung mandi, makan dan tidak lupa bikin teh hangat yang airnya aku rebus di termos listrik.


Lagi asyik menyeruput teh hangat, terdengar suara orang mengetuk pintu. Aku lihat ternyata itu si ojak.


"Kell dah balik?"


"Iya nih baru balik jak"


Ojak berjalan dan duduk disampingku.


"Bagi rokok dong"


"Itu ambil ajalah"


Ojakpun mengambil rokok yang masih dalam bungkusan. Rokok rasa madu dengan rendah nikotin.


"Wah bungkusnya belum dibuka nih, gue buka yah"


Akupun mengangguk.


"Gimana bajunya udah ketemu belum?"


Tanya ojak sambil menyalakan korek dan mengarahkan api itu ke rokoknya.


"Bajunya juga udah seminggu lalu ilang, eh baru sekarang nanyanya"


"Hahaha, telat ya gue nanya nya"


Ojak menggaruk kepalanya.


"Jak gue boleh nanya gak?"


"Paan tuh, tanya aja"


"Nih kosan bebas gak sih?"


"Wiih ni kosan emang paling the best"


Ojak ngacungin dua jempolnya.


"Bebas maksud lo?"


Tanyaku meyakinkan.


"Lahiyaaa, padahal yang punya nya itu rumahnya dibawah samping kosan. Tapi gak pernah komen. Yang penting bayar kosan jangan telat aja kalo sama diamah"


Aku mengangguk mantap.


"Kenapa emang nanya bebas apa nggaknya? mau bawa cowok lu kesini? bawa aja"


"Lah, cowo darimana jak. Gak punya cowo guemah"


"Ya kali aja kell. Si dede aja tiap hari ko cus cus sama ceweknya"


Aku diam, gak aneh memang. Hal seperti itu tidak tabu untuk didengar. Apalagi di kosan kaya begini.


"Lu juga sama yah suka bawa cewe kesini"

__ADS_1


Aku menunjuk geli


"Wah guemah jangan ditanya hahaha"


Ojak orangnya memang lucu, kulitnya sedikit hitam. Kalo ketawa kadang suka keliatan giginya doang.


Dan obrolan kamipun terpotong oleh suara Joko.


"Wah rupanya lu disini jak?"


"Waduh koko, iya sini ko masuk. Gue lagi sama ukhtyyyy"


Akupun tertawa lebar. Ukhty dari mana wkwkkw


"Ojak kalo ada cewe, apalagi ada rokoknya suka betah dia. Awas aja pelan pelan tuh rokok habis"


Kata joko yang melangkah masuk lalu duduk.


"Haha gapapa rokok aja, kalem sama gue mah"


Bener kata yudi, lama lama bakalan terbiasa dengan kata lu gua.


"Nanti malam si dede ngajakin dugem tuh di venue, lo ikut gak jak?"


Tanya joko. Aku diam dan menyimak obrolan mereka.


"Yaaah pastilah ngikut. Inikan malam minggu. Nyari l*nte syariah siapa tau dapeedd"


"Eh pea l*nte syariah mana ada di tempat dugem. Mbak tatoan baru ada"


Kamipun tertawa lepas sore ini.


"Emangnya tempat dugem gak tutup lagi covid gini?


Tanyaku


"Ada yang buka dan tutup sebagian. Tapi venue masih buka kok"


Ojak menjelaskan


Tanya joko


"Enggak ah ko, besok masuk pagi"


"Santai aja lagi kell, gue juga besok masuk pagi"


"Pagi lu jam berapa jak?"


Tanyaku


"Jam 7"


"Lah guemah jam 5"


"Buseeet serius?"


Aku mengangguk.


"Mending sih jam 5, biasanya jam 3"


"Busett, kerja apaan itu?"


Tanya joko


"Ya kerja kue, gawe pesenan buat DPR sama Al-Azhar"


Kamipun terlarut dalam obrolan seputar dunia kerja. Lalu joko bertanya lagi soal ajakannya ke venue.


"Ayo kel ikut aja yuk ke venue, biar seru ada ceweknya. Bete nih berempat mulu"


Karena gak enak sama ajakan joko dan ojak, akhirnya akupun ikut pergi ke venue.

__ADS_1


Dan berangkatlah sudah kami ke venue. Kami berangkat jam 11 malam.


Kami berangkat menggunakan mobil yang dede setir.


Ceweknya memang aku doang sendiri.


Setelah sekian lama tidak menginjak dunia malam, akhirnya akupun bisa menginjaknya lagi.


Terakhir aku dugem waktu jadian sama Fito.


Kalau gak ada minuman dan musik DJ, bukan tempat dugem namanya. Kami disuguhkan dengan musik yang jedak jeduk.


Malam ini kami open tabble.


Mereka berempat donaturnya.


Aku tidak dimintai uang sepeserpun.


Mereka memesan 1 paket minuman plus cemilan.


Yudi mulai membuka segel minuman yang brandnya gak aneh di telinga sebagian orang.


Gelas pertama dia kasih ke aku, tapi aku menolak dengan alasan gaenak tenggorokan.


Yudi tidak memaksa, entah gak enak atau memang paham apa maksud penolakanku.


Jujur sih gak ikutan minum bukan karena gak ngehargain.


Tapi udah janji gak minum lagi, apalagi sampe balik balik teler.


Udah malas jujur aja..


Karena aku ngerasa gaenak sama mereka, akhirnya aku menawarkan diri jadi bartender.


"Sini gue bartenderin"


Kataku sambil mengambil botol minuman dan gelas kecil itu.


Aku tuang airnya yang sudah dicampur dengan bir, setelah itu aku putar.


Aku lihat, otak mereka sudah mulai bereaksi.


Ojak sudah bangkit dari duduknya dan mulai joget mengikuti irama musik.


Sedangkan yudi, joko dan dede masih duduk di kursinya.


Aku tidak terlalu antusias apalagi ikutan joget, cukup menikmati musiknya saja sudah membuat otakku rilex.


Memasuki jam 1 malam musik DJ barat berganti jadi musik DJ indonesia.


Lagu DJ yang aku ingat waktu itu adalah DJ lagunya judika.


*Cinta karena cinta, tak perlu kau tanyakan..


Karena alasan cinta datang dan bertahta*


Begitulah kira kira..


Joko dan Ojak menarik tanganku, mengajakku untuk berjoget. Tapi aku menolaknya halus.


"Ayolah kell, gausah malu malu gitu"


Kata yudi yang badannya mulai sedikit goyang goyang


"Gak yud, gue duduk aja"


"Yaaa gak asik lah"


Kata dede


Dan sampai di jam 2 malam kamipun memutuskan pulang dalam keadaan pusing..

__ADS_1


Ojak, dede dan joko langsung tidur. Sedangkan yudi turun dulu beli nasi goreng.


Aku sendiri mulai berbenah membereskan tempat tidur dan langsung terjaga sampai pagi menjelang.


__ADS_2