
Akhirnya kegelisahanku selama ini terjawab, lampu di balkon selalu mati bukan karena ada penunggunya, tapi memang lampunya di colong sama si ojak.
Sekarang lampu di kamarku juga sudah terang berkat bantuan yudi.
Dan malam ini terbebas dari kegelapan.
Malam itu, aku coba cek email, barangkali saja ada balasan dari lowongan kerja yang sempat aku lamar. Dan ternyata tidak ada balasan.
Aku tidak mau ambil pusing soal masalah ini, dan kalau memang sudah tidak ada kemungkinan mendapatkan pekerjaan, paling aku pulang kampung jadi pengangguran lagi.
Hehehheeeeee.....
Aku bersandar di tembok balkon, sekilas merenungi nasib soal hubungan percintaan, kehidupan dan mimpi apa yang harus aku bangun kedepannya.
Tiba tiba aku dikagetkan oleh seseorang yang sudah berdiri di balik tangga. Dia tersenyum, dan itu marcell.
"Hayy"
"Kamu cell"
"Kenapa? kaget yah?"
Marcel melangkah dan duduk disampingku.
"Kaget lah, ujuk ujuk berdiri aja disana."
Kataku. Dia masih tersenyum dan menatap mataku.
"Ngapain? ada yang aneh yah?"
Marcel menggeleng
"Terusss?"
"Kamu cantik kalo rambutnya diiket"
"Haha, kenapa? suka ya?"
Marcel mengangguk.
"Bintaro panas sih gak siang gak malem. Jadi kalo rambut digerai suka gerah"
Kataku dengan merubah posisi duduk.
"Gimana sudah ada balasan?"
"Belum cel, udah dari kemaren aku nungguin"
"Yaudah sabar ya. Oh ya nanti pas ada panggilan kerja kayaknya interview nya
langsung deh di tangerang city"
Marcel menjelaskan.
"Tangerang city jauh gak cel?"
Tanyaku. Jujur sih aku belum tau detail tempat yang ada disini.
"Lumayan, paling 1 jam lah. Testing 3 hari disana"
"Waah, nanti aku kesana naik apa yah?"
"Nanti aku antar dehh"
Lagi lagi marcel melempar senyuman manisnya padaku.
"Oh yaudah, thanks sebelumnya yah"
Marcel mengangguk pelan.
Senyumnya masih melengkung dibibirnya.
Aku kernyitkan dahi.
"Loh, ko senyum terus?"
"Engga, bener kata dede kamu manis"
"Ah bisa aja"
Kataku sedikit malu
"Ohya kel, nyari makan yuk?"
"Kemana?"
"Nyari pecel ayam ke, sate ke, kan banyak yang jualan di depan"
"Oh yaudah"
Akupun bangkit dari tempat duduk dan mengambil jaket di kamarku.
Setelah itu aku dan marcel pergi mencari makan.
Sepanjang perjalanan marcel gak henti hentinya pegang kunciran rambutku.
"Kaya ekor kuda"
Aku ketawa dan mencubit tangannya.
"Yaudah aku copot lagi iketan rambutnya"
"Hiii jangan, aku suka... kaya kuda fony maksudnya"
Marcel tertawa puas.
Lalu kami berhenti di sebuah kedai makanan.
"Mau pecel ayam?"
Tanya marcel
"Ya aku sih terserah kamu aja"
"Jangan gitu dong, ayo mau apa?"
"Aku pengennya ayam bakar"
"Yaudah yuk kita cari ayam bakar"
Marcel memegang tanganku, tapi aku lepas.
"Kenapa dilepas?"
"Nanti takut keliatan ojak, joko dan yang lain. Mereka kan suka lewat sini"
Kataku.
"Ya ampun, apa hubungannya?"
"Gaenak aja, si ojak suka ngeledekin mulu"
Setelah berjalan 5 menit lamanya, kamipun tiba di kedai ayam bakar. Kami duduk sambil menunggu pesanan.
"Oh ya kel mau makan disini apa dikosan?"
"Disini aja cel"
Marcelpun mengangguk.
__ADS_1
"Kapan kamu masuk kerja lagi di kue itu?"
"Tiga hari lagi cel. Itupun gak pasti, soalnya kan kerjaanku tergantung pesenan"
"Yaudah kalo sekiranya kerjaan yang di kue itu gak menjajikan buat kedepan, kamu siap siap aja nunggu panggilan di op*o itu"
"Iya cel"
Dan pesananpun siap. Kami menikmati suasana makan malam ini. Agak grogi juga sih makan bareng marcel, soalnya udah lama banget gak pernah makan bareng cowok.
"Oh ya, beneran nih kel kamu gak punya cowok?"
Tanya marcel. Sebenarnya ini adalah pertanyaan kedua kalinya yang marcel tanyakan.
"Aku gak punya cowo cel"
"Masa sih?"
"Ya ampun gak percayaan banget"
"Aku takut dosa aja bawa cewek orang"
"Lah, serius cel aku gak punya cowok"
"Aku kira........."
Marcel diam sejenak, lalu aku potong
"Bisa mengira ngiranya dari mana?"
"Kamu itu dandan mulu, rapih mulu"
"Dandan dan rapih memang kebutuhan cel, aku gak suka kucel"
"Haha kucel juga gapapa, tetep manis kok. Aku suka natural"
"Jadi kalo bibir aku gak lisptikan tetep suka?"
"Ya ampun, itu kamu lagi makan aja lipstik kamu luntur tapi kamu tetep aja manis"
Akupun batuk kecil, dan langsung minum air. Gombalannya bikin nasi tertahan di tenggorokan.
"Lah kamu kenapa?"
"Gapapa"
"Karena aku bilang gitu barusan?"
"Aneh aja, aku gak suka di gombalin"
"Ya ampun kel, bedain pujian sama gombalan"
"Lah hampir sama ko"
Kataku.
"Hampir kan bukan sama? Kalo pujian itu memang tulus dari hati, kalo gombalan gak dari hati"
Aku mengangguk pelan. Nasipun sudah habis. Setelah itu kami pulang. Sumpah ko jadi deg degan gini yah.
Sepanjang perjalanan pulang marcel terus menggodaku. Aku balas godaan kecilnya dengan cubitan di tangannya.
Tiba di kosan, ojak dan joko sudah duduk di balkon dengan asap rokoknya.
"Udah gue duga, kalian pada jadian kan?"
Kami baru sampai di ujung tangga dan ojak sudah berteriak.
"Gapapa jadian juga, nanti gue kasih kalian 1 paket MCD"
"Lah lah bener kan jadian?"
Kataku
"Bukan fitnah, emang kenyataan"
"Ko, udah selesai belum lukisannya?"
Aku sengaja memotong pembahasan ojak, soalnya gak enak sama marcel.
"Udah dari kapan hari jadinya"
Kata joko yang selalu asyik dengan TTS nya
"Mana lihat dong"
Akupun berjalan menuju kamar joko. Dan bener aja lukisan 1 bunga 4 kumbangnya sudah jadi. Lukisan itu dipoles cat yang membuat lukisan itu semakin hidup. Dibawah lukisan itu juga ada sebuah tulisan JOY JAKDELY.
"Ko, joy jakdely tuh apa?"
Tanyaku heran
"Itu singkatan nama kita"
Jawab joko
"Joko, yudi, ojak, dede, kely"
Kata ojak menjelaskan
"Nama gue ko gak ada?"
Marcel protes
"Halah lu bikin aja berdua sama kelly. Gue namain Limar"
Kamipun tertawa lepas
"Apaan tuh limar"
"Kelly Marcell"
Malam ini memang menyenangkan. Kesedihan yang dulu aku rasakan, terbayar sudah dengan candaan mereka.
Setelah 2 jam lamanya kita ngobrol di balkon, marcel pun pamit pulang karena besok harus kerja pagi. Aku mengantar marcel sampai ke tangga lantai 2.
"Thanks ya kel buat malam ini"
Kata marcel dengan memakai helm.
"Sama sama"
Jawabku dengan tersenyum kecil.
Dan marcel pun pulang, aku langsung masuk ke dalam kamar. Ojak sama joko masih duduk diluar. Malam ini kayaknya ngantuk berat, gak sanggup kayaknya kalo gadang..
Dan malam inipun aku tidur lebih awal.
...*****...
Matahari pagi sudah kembali dari tidurnya. Aku bangun di jam 7 pagi. Kepalaku mendadak pusing, tenggorokan terasa sakit dan badan terasa panas.
Segera aku ambil air minum. Tapi pas berdiri rasanya kunang kunang. Aku kembali lagi tidur, membenamkan kepalaku di bawah bantal.
Semakin dirasa, pusing di kepala semakin bertambah berat, badanku juga menggigil.
Ya ampun rupanya aku sakit.
Jujur saat posisi lagi kayak gini, diperantauan, jauh dari keluarga dan gak megang tabungan banyak berasa hampir mati.
__ADS_1
Mau beli obat juga gak sanggup buat turun tangga. Terpaksa aku telfon ojak.
"Apa kel?"
"Jak lu dimana?"
"Gue di kerjaan, kenapa?"
"Jak, gue sakit jak. Badan gue panas semua"
"Ya ampun, di kosan ada siapa?"
"Gak tau jak, gue mau berdiri aja kepala pusing banget"
"Yaudah lu tunggu disana. Tar ada yang kesana"
"Yaudah iya, thanks ya jak"
Aku langsung matikan telfonnya. Paling yang dateng ke kamar antara yudi, joko kalau enggak dede.
Aku coba memijit kepalaku, pusing dan panas dingin campur aduk jadi satu.
Aku coba cari obat warung yang pernah aku beli, tapi mendadak gak ada.
Ya ampun lengkap sudah penderitaanku.
"Tok....tok....tok....."
Suara orang mengetuk pintu
"Buka aja, gak dikunci"
Jawabku.
Lalu orang itu membuka pintu. Aku lihat tenyata itu marcel. Loh ko marcel yang datang?
Aku ngebatin dalam hati.
Marcel pun masuk dengan membawa sepelastik makanan. Dia duduk di sampingku.
"Kamu sakit?"
"Iya cel badanku menggigil"
Jawabku dengan badan yang masih ditutup selimut.
"Tadi ojak telfon aku pas aku mau berangkat kerja"
Sial, kok si ojak malah telfon marcel sih. Aku menggerutu dalam hati.
"Terus sekarang kamu gak kerja?"
Marcel menggeleng.
"Ya ampun cel, kenapa gak berangkat kerja aja"
"Kamu tenang aja, aku udah tukeran off kok sama temen"
"Cel tadi aku emang telfon ojak, tapi aku gak nyuruh kamu kesini"
"Kel, yudi, joko, dede dan ojak masuk pagi semua. Di kosan gak ada siapa siapa, jadi ojak
terpaksa telfon aku"
Marcel menjelaskan, dan aku diam.
"Tadi di jalan aku mampir dulu ke apotik beli obat panas. Sekarang kamu makan dulu nasinya udah gitu diminum obatnya"
Marcel membuka bungkusan nasi itu.
Aku masih diam. Kok marcel bisa sepeduli ini sama aku.
"Loh kok malah diem? mau sembuh gak?"
Akupun langsung menuruti perintah marcel.
Aku makan nasinya.
"Makasih banyak ya cel"
Marcel mengangguk.
Jujur sih aku gak sanggup makan banyak, selera makan udah hilang, ditambah tenggorokan dakit banget. Jadi nasinya gak habis. Hanya aku makan beberapa sendok saja.
"Ko gak habis?"
"Tenggorokan aku sakit cel. Dan lidahku hambar"
"Iya wajar namanya juga lagi sakit. Yaudah yang penting perut kamu gak kosong. Sekarang minum obatnya"
Akupun mengangguk. Marcel membuka bungkus obat itu. Dan akupun meminumnya.
"Lekas sembuh ya, sekarang kamu istirahat. Aku jagain kamu disini"
Marcel membenarkan selimut yang menempel di badanku. Jujur sih mau tiduran tapi gak enak ada marcel. Tapi berhubung kepalaku pusing kalo dibawa duduk akhirnya akupun tidur.
Marcel tetap pada posisinya.
Aku pandangi marcel, apakah marcel reinkarnasi Fito?
Aduh, kok bisa ya aku bandingin orang sebaik Marcel sama Fito.
Kali ini aku menyebut hati adalah organ yang paling aneh.
Akupun tertidur beberapa menit. Sampai akhirnya aku terbangun lagi karena rasa panas yang mulai menyengat.
"Kamu kenapa?"
Tanya marcel. Marcel masih duduk dengan menonton video.
"Cel badanku mendadak nyengat gini panasnya"
"Itu reaksi obat kayaknya. Mukamu aja merah gitu"
Marcel memegang keningku dengan punggung tangannya.
"Iya kel kamu panas. Kamu sabar dulu ya tunggu reaksi obatnya"
Akupun mengangguk. Semakin dirasain semakin sakit.
Aku bersandar di tembok kamar dan memejamkan mataku sejenak.
"Kel aku bawa roti sama air minum juga. Kamu minum dulu yah"
Marcel membuka bungkusan plastik itu dan membuka segel botol mineral. Akupun meminumnya. Berharap panas yang ada di tubuhku sedikit berkurang.
"Kamu minum yang banyak biar gak dehidrasi"
Jujur, seberapa pedulinya marcel, aku belum bisa memberikan hatiku walaupun sedikit. Aku tidak tertarik padanya, tetapi aku lebih tertarik dengan kebaikannya.
Kalau dibilang trauma, ya memang betul aku trauma. Sakit hati karena ditinggal Fito memang masih menyisakan kecewa yang mendalam. Aku tidak semudah itu jatuh cinta apalagi menaruh hati.
Aku anggap perhatian marcel adalah sebuah perhatian layaknya teman.
Aku anggap posisi marcel sama dengan ojak, joko, yudi dan dede. Hanya bedanya marcel lebih special.
Hari ini adalah moment yang sangat special, dibilang special karena marcel datang saat kondisiku memang benar benar lagi drop. Dia juga rela tukar off dengan temannya karena khawatir dengan kondisiku.
Dari dulu aku selalu membiarkan air mengalir. Dimana air itu berhenti, dari sana juga air menemukan ujungnya.
__ADS_1
Sebuah telaga dengan dua kemungkinan, ujung yang berakhir bahagia dengan air yang deras, dan ujung yang menyedihkan dengan air yang diam.