PINTU NO.7

PINTU NO.7
Eps. 15 - Tidak boleh cemburu


__ADS_3

"Kamu kenapa neng bikin story galau terus"


Fito komentar di story WA ku, karena memang aku bikin story yang galau terus.


Seolah nyindir eh akhirnya dia peka juga.


"Gapapa ko"


"Maaf ya belakangan ini aa jarang ngasih kabar, aa kayaknya jadi resign kerja"


"Oh, gak pertimbangin lagi?"


"Enggak deh kayaknya"


"Terus apa sudah ada kerjaan baru"


"Belum, aa juga pusing. Pulang ke padang gak ada uang juga"


Aku diam sejenak. Jujur aku gabisa ngasih solusi apa apa selain harus bertahan dulu dikerjaan lama.


"Apa boleh neng tanya?"


"Boleh"


"Sebelumnya aa pernah melakukan kesalahan apa sampe aa dibenci rekan kerja?"


"Aa juga gatau salah aa apa"


"Hemm yaudah kalau itu sudah menjadi keputusan aa. Neng dukung apapun langkah aa selanjutnya"


Aku tidak berpikir macam macam walaupun belakangan ini fito berubah.


Aku cukup berprasangka baik saja, mungkin dia memang sedang ada banyak masalah di tempat kerjanya.


Sebagai pacar yang baik, tugasku hanya memberi semangat dan dukungan penuh. Semoga apa yang menjadi keputusannya, itulah yang terbaik.


"Kapan aa mulai resign?"


"Kayaknya habis bulan ini"


"Rencananya aa mau kemana kalau sudah resign?"


"Aa mau kerumah sepupu aa aja. Untuk sementara waktu mau tinggal disana"


"Oh yaudah sayang"


Malam ini, aku melihat matanya banyak sekali menyimpan masalah.


"Sudah makan kah?"


Aku bertanya


"Belum"


"Makan dulu lah sayang, nanti aa sakit gimana"


"Biarin ajalah, kepalaku aja udah pusing"


"Ya ampun sayang, kamu lagi sakit?"


Dia mengangguk. Fito kalau sakit memang matanya selalu merah.

__ADS_1


"Demamnya kambuh lagi kah?"


"Iya"


"Yaudah tidur, istirahat"


"Yaudah aa tidur tapi jangan dimatikan HP nya yah"


Aku menurut. Fito mulai membenahi tempat tidur dan kemudian dia menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menarik selimut.


"Jangan lupa baca doa"


Fito menengadahkan tangannya dan berdoa, setelah itu mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. Pertanda do'anya telah selesai.


Kebiasaan kami sebelum tidur selalu mencium kening, mencium kedua pipi, mendekatkan hidung ke kamera, dan terakhir cium bibir.


Walaupun terhalang kamera, tetap saja nyaman terasa.


-------------->


Sensitif itu normal kalau dia sayang


Posesif itu wajar kalau dia cinta


Yang tidak normal dan wajar adalah melarang seseorang cemburu dan berfikiran negatif.


Mungkin itu adalah sepatah kata yang selalu fito larang saat aku mulai cemburu dia chattan sama siapa, telfon sama siapa dan hal hal lainnya.


Itu menandakan kalau aku sangat mencintainya. Tapi dia tidak mengerti akan hal itu.


"Apa yang kamu cemburuin?


"Sibuk online tapi chattku dibalasnya lama"


"Aku cuman nyimak group di kerjaanku"


"Jadi chattku kamu abaikan?"


"Kalau chatt aku cuman buat ngajak berantem lebih baik gausah chatt"


"Baiklah, apa yang aku lakukan memang selalu salah belakangan ini. Aku tidak berhak cemburu. Jadi jangan salahkan aku kalau suatu saat perasaanku menjadi biasa biasa saja"


"Terserah"


"Apa? kamu bilang terserah?"


"Iyah"


"Aku paling gasuka denger kata terserah"


"Terus aku harus gimana? kamu itu kaya anak kecil"


"Kamu bilang aku anak kecil?"


"Ya kamu memang kaya anak kecil ko!"


Aku diam sejenak. Komentarnya kali ini benar benar membuat hatiku sakit.


"Apa anak kecil ga boleh cemburu?


Apa anak kecil gak boleh menuntut kabar?"

__ADS_1


"Sudah aku bilang kan kalo aku itu sibuk!!"


"Sibuk apa harus dengan cara begini? melupakan? mengabaikan?"


"Sadar dong, kamu juga kemaren ngediamin aku seharian. Apa aku marah?"


"Aku mendiamkanmu karena alasan. Aku merenungi nasib hubungan kita yang tidak disukai oleh orangtuamu"


Fito diam. Mendengarkan apa yang memang selama ini menjadi bebanku.


"Aku mencari solusi tentang hubungan ini. Sedangkan kamu menghilang tanpa mengabariku sama sekali. Kamu selalu online tapi chattku gak juga kamu balas, tiap aku telfon kamu selalu berada di panggilan lain. Apa itu cara kamu menjauh??"


"Aku telfon mamahku di kampung. Aku bilang kalau aku bakalan resign dari kerjaan"


Fito menjelaskan. Tapi tetap saja ada yang mengganjal dihatiku.


"Nelfon orangtua harus jam 1 malam?"


"Maumu apa sekarang?"


"Aku tidak mau apa apa. Aku mau kalau ada apa apa jangan cuek kaya gini"


"Yaudah aku minta maaf"


Kamipun sama sama diam. Membiarkan emosi diantara kami menurun.


"Tolong jangan buat hubungan ini semakin rumit"


Fito membuka pembicaraan.


"Aku tidak membuat rumit. Apa tidak boleh kalau aku cemburu?


Apa pernah selama ini aku curiga?"


"Akupun tidak pernah curiga sama kamu!!"


"Kamu lupa waktu malam itu aku main ke kosan temenku? kamu bukan hanya curiga tapi kamu sudah menuduhku!!"


"..................."


Heniing, tak ada jawaban...


"Aku pasrahkan hubungan ini sama kamu. Rasanya percuma kalau kita tidak saling terbuka. Aku memang anak kecil yang banyak maunya. Aku minta maaf."


Kali ini aku yang meminta maaf.


Belakangan ini memang fito sering marah, sensitif dan selalu menganggap aku biang masalah. Aku tidak pernah tau sebesar apa aku punya salah. Yang jelas fito memang benar benar sudah berubah.


Itulah yang aku rasakan..


Aku telfon jarang dia angkat, aku chatt jarang dia balas juga. Apa mungkin dia sudah bosan?


Aku merenung dan mulai mengkoreksi bagian demi bagian kata yang aku ucapkan.


Barangkali saja ada yang salah.


Tapi kalau hatinya sedang tidak baik, sebaik apapun orang peduli dan menyayangi, selalu saja dianggap tidak baik.


Malam ini aku biarkan dia tertidur dengan masalahnya, malam ini aku biarkan dia tertidur dengan amarahnya. Dan aku berharap semoga esok hari dia terbangun dengan senyuman yang indah dan hati yang ikhlas.


Ya semoga saja........

__ADS_1


__ADS_2