PINTU NO.7

PINTU NO.7
Eps. 16 - Otak dan Hati


__ADS_3

Menjalin hubungan jarak jauh atau yang biasa dikenal dengan LDR memang tidak mudah. Selain butuh kesabaran, butuh penantian juga.


Hubungan bisa berjalan dengan baik kalau komunikasi juga baik.


Hubunganku dan Fito sudah berjalan 8 bulan.


Awal pacaran memang tidak ada masalah dalam komunikasi, bahkan aku sampai kesal karena dia keseringan nelfon. Tapi itu waktu pertama kenal.


Sekarang fito semakin minim kabar.


Jujur sih sebenernya aku suka malas kalau stalking stalking gitu, ujungnya suka sakit hati. Lebih baik aku tidak tau apa yang dia lakukan dibelakang, daripada hatiku sakit.


Stalkingku cukup lewat WA saja.


Malam itu fito online. Aku coba chatt dia


"Malam sayang"


Online berubah jadi terakhir dilihat.


"Apa dia sudah bosan?"


Pertanyaan yang menjatuhkan diri sendiri mulai memenuhi ruang otakku.


Apa semudah ini dia berubah? apa secepat ini dia melupakan?


Sedangkan aku disini menunggu kabarnya.


Aku menarik nafas pelan..


Malam ini aku biarkan asap roko memenuhi setiap syaraf di otakku.


Sekilas aku mengenang setiap kata indah yang dia ucapkan. Dia bilang tidak akan berubah, tidak akan meninggalkan dan rasanyapun akan tetap sama.


Tapi sekarang tanpa kabar dariku dia terlihat baik baik saja.


Kadang otak bilang :


"Udah deh ngapain juga mikirin dia? dia juga belum tentu mikirin kamu. Lagian ketemu aja belum ngapain kamu ambil pusing? Mendingan fokus kerja, kumpulin duitnya, pake buat seneng seneng dan juga percantik diri".

__ADS_1


Semua itu di tentang oleh hati. Hati bilang :


"Jangan dengerin apa kata si otak. Dia memang selalu mengambil jalan simple dan gak mikirin efek kedepan gimana. Lebih baik kamu sabar aja dulu, nanti juga dia bakalan ngasih kabar ko"


Otak membalas :


"Kalau dia sayang, kalau dia cinta, kalau dia peduli, gak mungkin dia kaya gitu. Ngilang tanpa kabar. Buat apa punya cewe kalo ujung ujungnya di kaya giniin"


Hati tak mau kalah :


"Mungkin dia benar benar sibuk dan ada alasan lain yang membuatnya harus menyendiri dulu"


"Halah, satu hari itu 24 jam. Ngetik chatt aja gak nyampe 1 menit ko"


"AAAARRGHHHH"


Otak dan hati ikut menunjukan kepeduliannya. Dalam hubungan percintaan, otak dan hati memang selalu tidak sependapat.


Untuk kali ini aku menuruti apa yang dikatakan otak. Dia selalu berbicara soal fakta dan logika.


Otak benar. Kalau fito sayang gak mungkin dia menghilang tanpa kabar. Setidaknya ada sepatah kata yang bisa dia ungkapkan tanpa harus membuat hatiku menunggu dan bertanya tanya.


Aku juga pernah ingat kalau fito pernah bilang seperti ini :


"Wanita pertama yang aa sayang itu mamah, kedua adik aa, ketiga saudara perempuan aa, dan keempat itu neng"


Aku hanya tersenyum. Dan aku bilang gini :


"A, bagi neng nomor itu ga penting. Nomor berapapun neng di hidup aa tidak pernah neng masalahin. Tanpa harus diungkapkan, neng juga tau kalau aa, adik aa, saudara aa itu paling utama di hidup aa. Tapi apa aa sadar apa yang aa katakan itu cukup menyinggung? bicarakanlah apa yang seharusnya dibicarakan. Ingat efek apa yang akan terjadi."


Dan benar saja, efek dari semua perkataannya sampai detik ini sangatlah menyakitkan.


Aku tidak meminta menjadi nomor satu, dan tidak juga menjadi prioritas.


Cukup diingat dan dihargai saja sebagai seorang pacar tentulah aku sudah merasa senang.


Langit malam mulai menunjukan pesonanya. Tapi malam ini tidak ada bintang yang ikut bersinar. Bintang itu seolah tenggelam, terhanyut bersama awan hitam yang mulai mendekatinya.


Aku baca ulang chatt Fito 8 bulan lalu. Aku tidak pernah menghapusnya. Aku ingin sedikit mengenang tentang masalalu yang sangatlah indah..

__ADS_1


Dia bilang kalau aku "Bidadari tak bersayap dari bandung".


Dia bilang juga kalau dia "Tidak akan berubah".


Ada senyuman yang melengkung di bibirku saat aku membaca ulang setiap pesannya.


Aku juga melihat foto fotonya yang dia kirim.


Dia mengirim foto masa kuliahnya dan masa kecilnya.


Dia juga mengirim foto saat dia berkumpul dengan keluarganya.


Aku lihat wajah fito dengan seksama.


Aku zoom sampai foto itu pecah karena ukurannya yang hanya beberapa kilo bite.


Air mata tidak tertahan. Sejauh ini aku memang sudah jatuh dalam cintanya, aku sudah terlena dengan sikap manisnya.


Fito orang yang dulu selalu buat aku kesal karena telfonnya, sekarang dia membuat aku terjatuh dalam kerinduan.


Aku mengangkat wajahku kelangit, berharap bintang itu bersinar dan menampakan cahayanya. Tapi bintang itu semakin meredup dan tenggelam.


Yang ku lihat hanya seonggok bulan yang hanya terlihat sebagian. Aku melihat sebuah fatamorgana disana, fatamorgana itu berangsur angsur membentuk sesosok wajah yang belum pernah aku sentuh.


Aku melihat senyumnya malam ini...


Malam ini aku biarkan air mata ini menetes. Air mata yang ditahan karena rasa sakit dalam hati akan menjadi toxic.


Aku bersandar di balik tembok, berharap dan berharap orang yang aku sayang ada menghubungiku.


Ternyata tidak ada sama sekali..


Aku mengambil HP dan stalking lagi kontaknya. Rupanya masih saja online..


Aku sudah menuruti apa yang dikatakan oleh otak. Tapi sangatlah tidak adil kalau aku membiarkan hati ini terluka. Lebih baik aku tidak stalking lagi. Aku sibukkan dengan melihat story teman. Dan ada satu story yang membuat aku semakin tersadar. Begini storynya :


* Dia tidak menghubungimu karena memang dia tidak menginginkanmu. Dia masih menghiburmu karena kamu yang memintanya dan membiarkannya. Dia tidak memberi apa yang kamu inginkan karena memang dia tidak takut kehilanganmu.


Berhentilah mencari alasan!

__ADS_1


Cinta itu sesungguhnya tidak rumit, kamu saja yang tidak menyadari dan keras hati. Bukan dia yang jahat. Kamu yang bodoh - kinand *


__ADS_2