
Sekarang aku sudah resmi menjadi karyawan di PT ini. Aku sudah memakai seragam promotor. Seragam polo berwarna hitam dengan garis hijau di kerahnya. Aku juga sudah memakai atribut semacam ID card dan juga PIN yang bertuliskan nama brand yang aku pegang saat ini.
Aku sudah mulai akrab dengan karyawan lain. Apalagi sama evan.
Semakin hari evan semakin asyik orangnya. Aku juga sudah di kasih target jualan dan sudah bisa nembak. Targetku lebih sedikit dari evan. Aku harus menjual 30 Handphone selama 1 bulan.
Evan selalu membagi hasil jualan denganku, dia gak mau kalau aku gak lolos target.
Pekerjaanku dibagi dua, evan yang menjelaskan produk kepada costumer, dan aku yang open pag sampai selesai.
Pekerjaan kami memang selalu dibuat adil oleh evan.
Penjualan evan memang selalu bagus, sampe kompetitor lain contohnya aji selalu dibuat kalah skors sama evan.
Evan juga selalu mendaoat Award di tempat kerjanya. Tahun lalu dia pernah mendapat jatah liburan ke bali karena penjualannya tinggi. Aku salut sama evan.
Selain pinter, ganteng juga heheheee.....
"Kel pengen break bareng tapi gak bakalan bisa yah. Kita stay cuman berdua"
Kata evan sambil menyilangkan kedua lengan di dadanya.
"Iya van, satu shift aja kita gabisa apalagi break"
"Apalagi off bareng"
Evan menambahkan
"Yah apalagi itu van"
"Ohya, gimana nih marcel?"
"Tuh kan nanyain marcel lagi, marcel udah lama gak aktiv nomornya. Gak ada main ke kosan juga udah lama"
Aku menjelaskan. Memang iya marcel udah lama gak ada kabar. Terakhir waktu itu dia nelfon tapi gak keangkat. Di telfon balik langsung gak aktiv juga nomornya.
"Dia dirolling jauh lagi kali. Marcel kan sering dirolling. Namanya juga ero"
"Iya kali van. Emang kenapa nanya soal marcel terus?"
"Aku sama marcel emang deket kel. Aku pernah stay bareng dia. Dia kalo ada user selalu dikasih sama aku. Makannya aku gak enak sama marcel"
"Apa yang di gak enakin? kita kan cuman partner kerja, dan marcel juga bukan cowokku"
"Hiiiya juga sihh. Tapi si marcel pernah cerita ko sama aku"
"Cerita apaan?"
"Pernah nembak kan tapi gak diterima?"
"Lah ko tau?"
Aku kaget dan sedikit melotot.
"Ya ampun, ngaco deh. Kan tadi aku bilang marcel pernah cerita"
"Terus cerita apa lagi?"
__ADS_1
Kali ini nadaku sedikit rendah
"Ya gitu nembak tapi gak terima"
"Ya ampun ko sampe cerita"
"Kan udah dibilang marcel temen deketku"
Aku baru tau ternyata evan itu pernah dekat juga sama marcel. Tapi jujur aku malu pas evan tau soal masalah marcel pernah nembak tapi gak aku terima.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, seperti biasa aku break lebih dulu.
Siang ini aku break bareng Aji karena Windy masih sibuk dengan costumernya.
"Udah jualan berapa?"
Tanya aji
"Udah jebol dua"
"Lu udah nembak ya sekarang?"
"Iya ji, gue udah dikasi target"
"Dari kemaren gue belum jualan, lempar ke gua satulah usernya"
"Yaelah lu mah mimpi, gak mungkin lah gue lempar ke lu"
Aji tertawa lebar, ya brand ku dengan brand aji memang kompetitor yang tidak boleh sama sekali angka brandku di bawahnya.
Jadi aku berkata pahit dari sekarang.
"Ji, gue ngantuk berat nih. Nanti bangunin gue yah"
"Iya kalem, gue juga lagi maen game ko"
Segera aku sandarkan kepalaku diatas meja. Aku benamkan wajahku di bawah lengan.
Ini bukan tidur beneran melainkan hanya sebatas memejamkan mata yang berjam jam cukup lelah memandangi orang berlalu lalang disekitaran toko.
Gimana bisa tidur nyenyak, sementara suara riuh karyawan toko terdengar begitu sangat menggema.
1 jam pun berlalu, sebelum memasuki toko lagi, aku persiapkan dulu sebagian waktuku untuk grooming. Mata yang sedikit merah karena rasa kantuk belum hilang di sudut mataku.
Hah, hari ini benar benar rasa ngantuk sangat mengganggu.
"Van, giliran kamu yang break"
Kataku
"Alhamdulillah jebol lagi tadi kel"
Kata evan sambil menyobek kertas garansi.
"Alhamdulillah, pinter deh ditinggal sebentar udah jualan"
Jawabku sedikit menggoda.
__ADS_1
"Haha, yaudah aku break dulu yah"
"Oke"
Evan pun pergi.
Hari ini toko memang cukup ramai. Berita tentang covid sedikit demi sedikit tidak digubris. Yang penting selalu ikuti orotokol kesehatan dan SOP yang ada.
Waktu semakin cepat berlalu, tiba di jam 7 malam aku pun pamit pulang. Sebelum pulang tidak lupa aku nembak barcode dulu.
Alhamdulillah setiap hari gak pernah kosong jualan. Ditambah evan yang selalu mendukung dengan target pertamaku.
Sejauh ini aku bersyukur mendapatkan partner kerja seperti evan.
Temanku banyak yang ngeluh karena seniornya yang terlalu rakus. Mereka banyak menembak penjualan demi insentif di akhir bulan. Senior mereka tidak mempedulikan anak baru.
Setiap malam kalau meeting zoom SVP selalu membahas soal ini. SVP selalu menyindir dengan kata kata yang sedikit nyeletuk untuk senior lama.
Ya gimana gak gitu, kalau anak baru gak dikasih tembakan penjualan, bagaimana nasibnya di akhir bulan. Sedangkan perjuangan sampai di titik ini tidaklah gampang.
...*****...
Mentari mulai terbit di ufuk timur. Cahayanya memantul ke jendela kamar. Hari ini aku libur.
Aku belum bangkit dari tempat tidurku, sekedar untuk meregangkan otot otot badanku yang memang belakangan ini selalu dipenuhi dengan aktivitas di kerjaan.
Sudah beberapa hari ini marcel memang tidak ada kabar. Storynyapun tidak pernah ada.
Apa mungkin marcel ganti nomor?
Ko gak ngasih tau?
Aku membatin dalam hati.
1 jam kemudian aku bangkit dari tempat tidurku. Aku langsung mencuci baju yang memang semalaman sudah aku rendam.
Pagi ini memang kosan cukup sepi, aku pandangi kamar anak 4 itu, tidak ada tanda tanda keberadaan mereka.
Perut terasa lapar, akupun turun ke bude buat beli makan dan sekedar nongkrong kalau bete di kosan.
Baru saja aku melangkah keluar gerbang, aku lihat ada ojak dan yudi di warung bude.
Oh rupanya mereka udah duluan aja nongkrong disini.
"Pantesan aja kamer atas sepi, penghuninya lagi pada ngopi disini"
"Yaelah, gue udah dari jam 7 pagi disini"
Kata ojak
"Yang lain kemana?"
Tanya ku
"Joko sama dede masuk pagi"
Jawab yudi
__ADS_1
"Lu sendiri gak gawe?"
"Gue baru balik ini. Gue kan shift malam, jadi pagi gue dah balik"