PINTU NO.7

PINTU NO.7
PART 32 - MOMENT


__ADS_3

Hari kedua training lapangan, semangat di dalam dadaku masih bergejolak cieee...


Aku sudah mulai akrab dengan Evan, dan sering ngobrol juga dengan kompetitor lain. Di jam jam sibuk kami semua stay di meja masing masing. Berharap ada costumer yang datang dan langsung beli.


"Jam 12 nanti gantian ya istirahatnya. Mau aku dulu apa kamu dulu?"


Tanya evan


"Kamu dulu aja gapapa"


"Gak deh kamu dulu"


"Kamu dulu ajaa"


"Kamu dulu, kamu kan junior"


"Junior gak boleh ngelebihin senior"


Jawabku gamau kalah


"Justru itu, senior harus ngalah"


Kata evan gamau kalah


"Gak ah aku gak enak ngeduluin senior"


"Yaudah kita istirahat berdua aja"


Aku kernyitkan dahi.


"Nanti siapa yang jagain nih dagangan"


Kataku


Evan tertawa lebar


"Yaudah aku dulu aja yang break deh"


"Nah gitu dong ngalah hahah, ohya kamu juga harus belajar speak brand lain ya biar comperenya enak nanti"


"Iya pasti dong"


Evan langsung mengambil brosur brand sebelah.


"Nih, kamu harus belajar spek brand ini. Ini yang bener bener kompetitor. Kalau jualan kita dibawah brand ini, kita bakalan kena marah SVP nanti."


Kata evan dengan memberikan brosur itu. Akupun langsung membaca speknya.


"Bacanya nanti aja di rumah, biar nyerep. Bandingin sesuai type. Nanti kalau suatu saat ada costumer minta compere brand ini dengan brand sebelah, kamu ceritain aja keunggulan dari brand kita, tapi jangan jatohin brand lain juga. Paham kan?"


"Iya paham, jadi aku boleh nyeritain keunggulan brandku, tapi disisi lain gak boleh juga jatohin brand orang"


"Nah cakep, gitukan pinter"


"Gak kebalik?"


Evanpun nyengir lebar.


"Eh udah jam 12, aku istirahat dulu yah. Nanti jam 1 aku balik. Stay terus ya disini, kalau ada costumer yang dateng, jelasinnya kaya aku kemaren. Kalo kamu belum hapal speaknya, gapapa jelasin sambil lihat brosur"


"Oke"


Kataku sambil ngacungin jempol.


Sambil nunggu evan selesai break, aku lap lagi meja demo biar kelihatan lebih bersih. Tiba tiba ada cewe nyamperin dan itu dari brand x*iaomi.


"Tandem dari kapan?"


"Ohh dari kemaren"


Jawabku


"Belum break kan?"


"Belum evan dulu"


"Yaudah break bareng aku yah ntar"


"Oh boleh, emang disini kalo break suka dimana?"


Tanyaku


"Disini ada kantin khusus karyawan, gak boleh keluar, disini ketat banget"


"Oh yaudah sih enakan gitu"


Kataku


"Oh ya kenalin namaku windy"

__ADS_1


Katanya dengan mengasongkan tangan


"Aku kelly"


Jawabku


"Udah jualan berapa hari ini?"


"Belul jualan sih"


Jawabku


"Semenjak covid lo*te jadi sepi pengunjung"


"Kemaren sih rame kayaknya"


"Kemaren kan weekend, segitu sih menurutku sepi. Gak kaya dulu"


"Emang udah berapa lama stay disini?"


Tanyaku


"Aku sudah setahun belum pindah pindah"


"Enak dong"


"Gaklah, justru bete disini mulu. Pengennya dirolling kaya yang lain"


"Ohh gitu, rolling malesnya adaptasi terus"


"Hehe emang iya sih"


Kamipun tidak terlalu banyak mengobrol soalnya ada CCTV dan security juga yang berjaga. Maenan Handphonepun harus sembunyi sembunyi. Takutnya kami difoto secara diam diam oleh security dan dikirimkan kepada atasan Lo*te setelah itu dilaporkan kepada SVP kami.


Daripada melakukan tindakan berbahaya, lebih baik aku menahannya sampai jam istirahat.


1jam kemudian evan balik dari istirahatnya. Wajahnya sudah fresh.


"Grooming dulu yah, pomadenya udah licin lagi aja"


Komentarku


"Iya donk, inikan modal utama, daya tarik juga haha. Yaudah sana gih gantian istirahatnya"


"Iya aku nunggu windy dulu"


"Oh si windy anak x*aomi?"


Dan gak butuh waktu lama windypun nyamperin dan kami sama sama istirahat di kantin lotte.


Dikantin bukan hanya karyawan Er*afhone saja, tetapi semua karyawan yang ada di Lotte. Mulai dari SPB TV, SPG kecantikan dan juga cleaning service.


"Kamu mau makan apa kel?"


Tanya windy


"Aku mau makan sayur, kayaknya seger deh"


"Aku ikutan ah mau sayur juga"


Windy gampang akrab juga orangnya. Dan dia orangnya sering ngehumor.


"Ohya tau dari mana ada lowongan kerja di Op*o?"


"Aku tau dari marcel"


"Bentar bentar, kayaknya aku pernah denger deh nama marcel"


"Ituloh marcel anak ero"


"Ohh, si asel, yang motornya ninja merah itu yah"


"Iya, kamu kenal?"


"Kenal, anak handphone udah gak asing semua, kita kan sering dirolling. Aku pernah stay sama dia di ciputat"


"Iya marcel juga peenah cerita kok kalo dia pernah stay di ciputat"


Jawabku sambil menyendok makanan.


"Kenal dimana sama si asel?"


"Kenal di si dede"


"Dede anak V*vo bukan?"


Akupun mengangguk pelan.


"Dede kan ceweknya anak sa*sung"

__ADS_1


Ko tau banget deh dia, aku membatin dalam hati.


"Iya dede kan temen aku dikosan. Dia kos di sampingku kamar no.8, aku di kamar no.7"


"Dulu dia juga pernah disini, tapi dia minta pindah ke pamulang biar bisa satu temoat bareng ceweknya"


"Lah emangnya boleh kaya gitu?"


"Bolehlah, asal kerjanya profesional aja"


Aku dan windy terhanyut seputar dunia kerja. Dia orangnya memang baik, tapi tidak boleh juga terlalu akrab. Kami hanya sebatas rekan kerja saja.


Selesai break, kamipun menyempatkan waktu 10 menit untuk grooming. Namanya juga SPG pasti gak jauh dari yang namanya mackup.


Dan kamipun lanjut bekerja.


Kesan yang aku dapatkan selama menjadi SPG memang cukup menyenangkan. Banyak teman baru dan ilmu baru juga. Anak Handphone memang semuanya gampangan akrab. Gak ada kata senior dan junior. Kami semua sama.


Sampai di jam 8 malam akupun siap siap pulang. Tadinya aku mau dianterin sama evan buat pulang kekosan, kebetulan juga 1 arah, tapi aku menolak dengan alasan mau pergi dulu ke tempat temen.


Jujur sih bukan gak mau, tapi aku gak enak aja sama dia, aku takut kalau evan memang sudah punya cewek atau apalah itu.


Lebih baik aku pulang naik gojek.


Tiba dikosan memang cukup melelahkan. Selama beberapa hari juga aku belum melihat Yudi, joko, ojak dan dede.


Mungkin kami memang sama sama disibukkan jadinya belum ada waktu buat sekedar ngopi bareng.


Dulu nomor kontak di HP ku memang sedikit, tapi dengan masuknya aku ke kerjaan baru dengan profesi yang berbeda, aku harus banyak menyimpan database costumer.


Aku juga harus mencatat nomorku di brosur.


Dan setiap 3 minggu sekali aku harus mengirim broadcast juga. Selain aktiv di tempat kerja, akupun harus aktiv juga di social media.


...*****...


Malam ini udara cukup dingin. Seperti biasa, aku selalu merebus teh hangat sekedar menghangatkan tubuh dan relaksasi.


Ada telfon masuk. Dan itu dari Marcel.


"Hallo"


"Hay kell, gimana nih kerjanya"


Tanya marcel langsung ke inti.


"Alhamdulillah lancar cel"


"Kamu sama Evan ya disana?"


"Iya aku sama evan"


"Oh yaudah, semangat ya kerjanya. Inget pulang kerja nyempetin buat belajar speak handphone. Biar tambah pinter nanti"


"Iya cell, tenang aja. Bila perlu aku hapalin juga nomer sepatu costumernya"


"Jiah ngaco, ohya dikosan ada siapa aja"


"Tadi sih pas aku pulang gak ada siapa siapa"


"Tadinya aku pengen maen kesana, tapi besok masuk pagi"


"Yaudah nanti aja kalo off maen kesininya yah"


"Yaudah deh kalo gitu. Aku makan dulu ya kel, kamu udah makan apa belum?"


"Aku udah makan kok cell"


"Duh anak pinter. Yaudah nanti sambung lagi. Bay kel"


"Baaayyyyyyy"


Dan telfon pun ditutup.


Jujur semenjak tragedi penembakan itu, marcel tidak pernah berubah. Dia tetap menunjukan sikap dewasanya. Dia juga selalu menanyakan perkembangan pekerjaanku. Itu yang membuat aku salut sama marcel.


Putus dari fito, awalnya memang membuatku cukup terpuruk. Tapi seiring berjalannya waktu, Tuhan mengganti keterpurukan itu dengan sebuah hadiah yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya.


Aku dikelilingi oleh 4 teman yang baik dan peduli. Tak hanya itu, marcel juga selalu ikut andil dalam kehidupanku.


Dia selalu peduli dengan hari hari yang aku lalui. Dia banyak membantuku dalam pekerjaan baru ini. Sebenarnya, aku belum membalas budi dengan apa yang sudah marcel berikan, balas budiku mungkin hanya sebatas mentraktirnya habis gajian nanti ataupun menemaninya lewat telfon.


Aku memang wanita jahat yang menolak cinta dari orang sebaik marcel, tapi lagi lagi aku ingatkan, aku bukanlah orang yang gampang menaruh hati kepada siapapun.


Jika boleh diulang kenapa waktu itu aku gampang sekali menerima cintanya fito?


Bahkan bertemupun belum pernah.


Jawabannya karena aku ingin merasakan sensasi yang beda, menjalin hubungan dengan orang yang belum pernah aku temui.

__ADS_1


Hikmah dari semua itu, aku bisa mengerti apa arti kerinduan, kesetiaan, penantian dan rasa penasaran yang jauh lebih dahsyat dibanding dengan orang yang sering aku temui.


Ternyata LDR itu adalah moment yang sangat berharga buatku.


__ADS_2