
Keesokan harinya aku bangun di jam 8 pagi. Aku cek HP rupanya baterai habis.
Mungkin karena kemarin Video call tanpa dimatikan.
Aku langsung cas HP, mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, mandi lalu makan.
Ya rutinitasku memang seperti ini, namanya juga pengangguran hehe.
"kell"
"Ya teh"
Teteh adalah panggilan untuk kakak perempuan di sunda.
"Malam kamu telfonan sama siapa sih?
Malem teteh liat kamu sudah tidur tapi telfonnya gak dimatiin."
"Oh itu temen"
"Siapa?"
Teteh mulai kepo
"Ituloh teh orang jauh di kalimantan"
"Hah? kalimantan? kenal lewat mana?"
Tanya teteh sambil masukin baju kotor ke mesin cuci.
"Aplikasi"
"Teteh perhatiin hapemu bunyi terus, gak kaya biasanya.
Biasanya maen game mulu kerjaannya"
"Ya gapapa sih teh ada kerjaan baru kan haha"
Aku tertawa
"Udah ketemu belum sih?"
"Lah teteh ngaco, kenal aja baru. Orang kalimantan lagi. Gimana ceritanya udah ketemu"
"Kaya kucing dalem karung dong"
Teteh mulai menggiling baju di mesin cuci. Suaranya cukup mengganggu kami yang sedang mengobrol.
"Kucing dalam karung itu maksudnya gimana teh?"
Aku mulai bingung
"Ya ituloh maksudnya telfonan sama orang yang belum pernah ketemu. Kan kita gatau dia gimana"
"Hemm, tapi dia baik kok"
Aku meyakinkan.
Tetehpun diam. Lalu dia duduk di kursi.
Gibran anak bungsunya menghampiri.
Anak bungsu, selalu manja memang.
"Dia asli kalimantan?"
Teteh bertanya lagi soal Fito, sepertinya teteh ingin tau lebih dalam.
"Gak sih teh, dia asli padang. Cuman lagi kerja di kalimantan."
"Hati hati loh udah punya istri"
"Jangan nakutin lah teh"
Aku menepis soal itu. Pikiranku belum menerawang kesana. Ko aku gak sempet mikir kesana yah?
"Ya bukan nakutin kel. Kamu hati hati aja. Zaman sekarang itu banyak yang ngaku single padahalmah dikampung udah ada anak istri. Gimana kamu bisa tau. Itu yang teteh maksud kucing dalam karung"
"Yaudah teh nanti deh pelan pelan aku tanya soal itu"
"Yaiya wajib kamu tanya. Nanti kamu sudah terlanjur nyaman gimana?"
Ada benernya juga sih yang teteh bilang.
Lalu segera aku aktivkan HP. Dan ternyata ada 10 panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk, ada 1 video yang dia kirim.
Aku lihat videonya, rupanya videonya berisi suasana di tempat kerjanya. Ternyata kerjaan fito di pedalaman, sekitaran tempat kerjanya memang pohon sawit semua.
__ADS_1
"Fito sorry ya baru ngabarin, batreku habis"
Secepat kilat juga dia balas
"Oh ya gapapa kell, aku khawatir aja sama kamu, soalnya gak ada kabar dari pagi."
"Aku baik baik aja ko"
"Nanti jam 12 siang aku telfon ya pas istirahat, ada yang mau aku omongin samamu"
"Oh yaudah ok"
"Yaudah aku lanjut kerja dulu yaah kell, kamu jangan lupa makan"
"iya"
Sebenernya aku gak terlalu pernasaran apa yang mau dia omongin.
Aku lebih penasaran soal statusnya saja.
Lebih baik aku tau semuanya dari sekarang daripada nanti sudah terlanjur nyaman.
Apalagi hampir setiap jam dia menelfon.
Kalau boleh jujur, aku itu type orang paling malas telfonan apalagi sama orang yang belum pernah aku temui. Ditambah lagi jarak antara aku dan fito sangatlah jauh.
Aku anggap ini hanya sebatas pertemanan jauh yang gak tau juga kapan tuhan pertemukan.
Aku biarkan semuanya seperti air yang mengalir. Kalaupun jodoh pasti akan tuhan pertemukan.
Itu bunyi do'aku.
Singkat, padat dan pasrah....
Jam 12 siang pun tiba, fito nelfon. Aku lihat dia memakai kemeja biru. Dia juga bercerita kalau ini adalah kemeja di tempat kerjanya. Fito cukup bagus memakai kemeja itu.
"Kamu sudah makan?"
Tanya fito
"Udah ko, baru aja makan. Kalo kamu?"
"Ini baru aja mau makan. Temenin aku makan yah"
"Yaudah"
Rasanya pengen to the point aja aku nanya soal statusnya. Tapi aku urungkan dulu soalnya dia lagi makan.
"Loh ko diem"
Fito bertanya
"Kamu lagi makan, gaenak juga kalau aku banyak tanya"
"Ya gapapalah, justru aku seneng. Kalo sama aku gausah kaku"
Dia menyendok makanan ke mulutnya.
"Oh ya apa aku boleh nanya?"
"Boleh. Tanyalah"
"Jadi gini, aku mau nanya soal status kamu"
"Lah, bukannya waktu itu aku pernah bilang sama kamu ya kalau aku itu lajang"
Memang betul, waktu pertama kenal kami sudah bercerita soal itu. Tapi kebanyakan hanya menceritakan soal statusku saja.
"Iya tapi aku mau nanya lagi. Gapapa kan?"
"Gapapa, tanya aja"
"Maaf sebelumnya, kamu bener kan masih lajang?"
"Ya ampun, beneran kel aku masih lajang. Aku liatin ya KTP ku"
Dia kemudian merogoh dompet yang ada di sakunya. Lalu dia mengeluarkan KTP.
"Nih lihat KTP ku"
KTP nya di arahkan ke depan kamera. Aku membaca identitasnya :
Namanya Fito Revi
Lahir 10 Oktober 1990
Alamat padang Sumatera Barat
__ADS_1
Agama Islam
Status Lajang
"Gimana?"
Katanya sambil memasukan KTP itu kedompetnya.
"Iya aku percaya. Aku hanya takut aja"
"Aku tau ko, tapi memang benar aku belum pernah menikah. Pikiran buruk tentang aku kamu buang yah"
"Aku gak berfikiran buruk, aku hanya takut aja"
"Contohnya?"
Nasi dipiringnya sudah habis. Dia meremas kertas nasi itu dan mengumpulkannya di kantong plastik.
"Ya contohnya aku takut mengganggu rumah tangga orang, aku takut dosa dan aku takut nyaman juga. Kalau sudah nyaman gimana, itu yang susah"
"Kamu tenang aja yah. Gausah takut. Wajar aja kamu kaya begitu karena memang kita belum kenal lama. Pasti banyak sekali pikiran aneh aneh yang hinggap di kepala"
"Maaf yaa kalau aku berlebihan sama berani nanya soal ini"
"Ya ampun kely, aku gak marah ko. Udah gausah bahas ini ya. Sekarang kamu temenin aku ngeroko dulu yah"
Akupun mengangguk. Dia mengambil rokok di sakunya.
"Itu rokok apa?"
"S*mpoerna mild. Kamu suka ngeroko juga gak?"
"Sedikit sih, belum terlalu akut. Kalau lagi banyak masalah atau mumet baru aku merokok. Itupun gak banyak paling sebatang"
"Oh, ngerokok boleh tapi jangan terlalu berlebihan yah"
"Iya. Kamu ngeroko habis berapa batang sehari?"
"Ga nentu ko. Aku beli rokoknya juga gak bungkusan. Tapi slopan"
"Berapa itu? ya ampun sampe slopan gitu"
Aku kaget
"2 slop biasanya buat sebulan"
"Ya ampun banyak banget. Jangan berlebihan gitu ah. Ingat jaga kesehatan"
"Hiyaaa"
Fito tersenyum lepas.
Aku sudah bisa mengenali wajahnya Fito walaupun hanya sebatas lewat video call.
Fito berperawakan tinggi, kulitnya kuning langsat, bola matanya cokelat, sedikit berkumis.
Potongan rambutnya juga selalu rapi dengan bagian pelipis yang selalu tipis.
Itulah bagaimana aku mengingat Fito..
"Jujur kell aku pengen ketemu sama kamu, tapi tabunganku belum banyak"
Fito menopang dahi sambil mengeluarkan asap rokoknya.
"Yaudah kamu yang sabar aja"
Aku menenangkan
"Tiap bulan aku harus mengirim uang buat adikku kuliah di kampung"
"Yaudah gapapa, ngebantu keluarga kan berkah"
"Iya sih, kalau misalnya aku punya uang buat ongkos berangkatnya aja gimana?"
"Maksudnya?"
Aku belum paham
"Ya maksudnya kalau aku kesana cuman bawa uang pas pasan gimana?"
Aku diam sejenak, aku bingung mau jawab apa. Soalnya aku juga lagi nganggur.
"Yaudah nanti juga kalau udah waktunya ketemu pasti ketemu ko. Kalau belum ada uang lebih jangan dipaksain yah"
Fitopun mengangguk, dibarengi dengan senyumannya yang khas.
Setelah satu jam lamanya kita mengobrol, akhirnya fito pamit tidur siang karena jam 2 harus mulai bekerja lagi.
__ADS_1
Seperti biasa fito minta ditemani tidur lewat Video call. Akupun menurut sampai akhirnya dia benar benar terlelap dalam tidurnya.