
Tanpa terasa, sudah satu bulan juga aku bekerja disini. Rasa ngantuk, lelah, dan juga takut sudah menjadi temanku sehari hari. Aku mendapat gaji pertama. Aku ingat, gaji pertamaku hanya satu juta delapan ratus. Tapi aku manfaatkan semuanya. Cukup sih karena gak perlu bayar kosan, makan sudah dikasi di tempat kerja, paling dipake buat kebutuhan pribadi saja.
"Ciee yang habis gajian"
Fito meledek lewat telfon
"Alhamdulillah sayang, neng udah gajian"
"Seneng gak neng dapat uang hasil kerja sendiri?"
"Seneng banget sayang, makasih ya a, neng gak mungkin bisa seperti ini tanpa support dari aa"
"Sama sama sayang, ingat pesan aa, jangan boros dan harus menabung"
"Iya sayang"
"Ohya sayang, aa boleh ngomong ga?"
"apa tuh sayang?"
"Jujur, ini memang berat sayang tapi aa harus cerita dari sekarang"
"Gapapa aa cerita aja, ada apa"
"Jadi begini.."
Fito diam sejenak, aku kernyitkan dahi
"Kenapa sayang, bilang aja"
"Emmmh, jadi begini kemaren aa habis telfon mamah di padang"
"Oh, bagaimana kabar mamah sama ayah?"
"Alhamdulillah kabar mereka baik neng"
"Syukurlah.. terus lanjut lagi aa mau bilang apa tadi"
"Mamah sama ayah kangen sama aa"
"Ohh, aku kira apa sayang. Ya wajarlah kangen namanya juga orangtua. Lagipula kan aa udah lama ga pulang kampung"
"Iya sayang, yaudah sayang kamu tidur ya ini sudah malam. Kamu besok masuk pagi kan, dan pagi kamu itu jam tiga. Kamu gaboleh gadang"
"Aaaaa gamau neng masih kangen sama aa"
"Yaudah kalo masih kangen kita ngobrol sampe neng ngantuk ya"
Seneng banget akhirnya diturutin.
"Neng itu ada apa di kening"
Aku langsung dengan sigap mengusap keningku.
"Mana ih sayang, gada apa apa ko"
"Deketin keningnya ke kamera"
Akupun mengikuti perintah Fito
"Emmuuuuuuaaaaaaachh, i love you sayang"
Aku tersenyum kecil dan membalas
"Love you too"
Malam ini ada sebuah rindu yang sangat hebat. Rindu yang tidak bisa diobati dengan kata kata.
Sejak kehadiranku dihargai, sejak hatiku dinyamankan, aku tidak tertarik lagi dengan yang semesta suguhkan.
Jika ditanya kenapa?
Jawabannya ada pada kalimat pertama.
Dan malam ini kmipun terlalut dalam obrolan ringan penuh canda.
Ya allah aku bahagia sekali menjadi bagian dalam hidupnya, aku bahagia menjadi seseorang yang special di hatinya, entah rasa syukur apa lagi yang harus aku ungkapkan. Sejauh ini aku nyaman bersamanya dan benar benar tak ingin kehilangannya. Jaga dia untukku ya Allah. Amiin
...******...
Pagi hari yang begitu indah, aku harus sudah menyiapkan kue buat diantar ke DPR, pesanan harus sudah tiba jam 6 di senayan. Meskipun sekarang aku sudah bekerja, waktuku untuk fito masih sama, aku selalu meluangkan waktu jam 6 pagi untuk membangunkannya. Aku suka pura pura izin ke kamar mandi demi ngebangunin Fito.
Satu kali telfon tidak diangkat
Dua kali telfon tidak diangkat
__ADS_1
Tiga kali telfon, barulah dia angkat
"Pagii sayangkuu"
"emmmmhhh pagi"
Suara geliatannya terdengar jelas.
"Sayang bangun loh, ini udah jam 6 pagi. Cepetan siap siap, jangan lupa sarapan juga. Jam 7 kan aa harus sudah di kerjaan"
"Iya sayang ini bangun nih. Makasih ya sayang udah nyempetin buat bangunin aa"
"Sama sama sayang, neng lanjut kerja lagi yah"
" Ya sayang, semangat kerjanya ya sayang, i love you"
"love you too"
Dan telfon pun dimatikan. Aku melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Seneng rasanya bisa saling meluangkan waktu saat situasi sedang sibuk. Aku pernah mendengar suatu kata motivasi, kalo ga salah gini deh :
"Harus bisa membedakan orang yang meluangkan waktu bersamamu, dan orang yang bersamamu di waktu luang"
Dan untungnya, kami adalah kedua orang yang sama sama saling meluangkan waktu.
...*****...
Waktu berjalan terasa sangat cepat.
Hirup pikuk kehidupan di jakarta tidaklah jauh dari kata macet, biaya hidup yang mahal dan juga orang orangnya yang bodo amatan.
Hari ini april dan kiki izin cuti pulang ke jawa karena ada saudara mereka yang akan menikah.
Aku juga heran, kok kerja baru aja sebulan sudah mendapat izin cuti.
Tapi bosnya memang baik ko, diusia yang mulai memasuki senja dia tidak mau ribet dengan suatu masalah.
Dia selalu menuruti apa mau karyawannya.
Itulah alasannya mengapa karyawannya sampe betah bertahun tahun kerja disini.
Aku merenung, kalau gak ada mereka, aku divilla sama siapa? sedangkan dihuni bertiga saja cukup angker, apalagi aku sendiri.
"Ki, kamu pulang kampung kapan ki?"
Kiki meledek
"Awas loh nanti ada suara orang mandi dan turun tangga, terus malem malem ada orang lagi petik sawo"
Kata april, aku sedikit dongkol
"Apaan sih, jangan nakutin ah"
dan merekapun tertawa puas.
Ya gak kebayang juga sih tinggal di villa sendirian untuk beberapa waktu sambil menunggu kepulangan mereka.
Akupun menceritakan semuanya ke fito.
"A, kiki sama April mau pulang kampung besok"
"Terus neng sama siapa di villa?"
Tanya fito
"Neng sendiri. Tapi neng takuut"
"Yaudah sayang, kan suka aa temenin neng tiap malam. Neng gausah takut yaah"
Aku masih diam.
"Kenapa neng diam? kan ada aa"
"Yaudah sayang"
Aku lebih ke pasrah aja. Habis mau gimana lagi..
"Pulang kerja jangan lupa neng beli makan dulu yahh"
"Iya sayang"
Keesokan harinya, kiki dan april pulang kampung satu minggu lamanya.
Jauh jauh hari mereka sudah memesan tiket bus.
__ADS_1
Aku masih merenung. Apa malam aku bisa tidur nyenyak?
Arrrhhhhh sumpah gak kebayang..
"Sayang temen temenmu sudah pulang kampung kah? ko sepi?"
Tanya fito.
Fito memang tau kalau aku tinggal di villa bertiga, karena setiap fito nelfon selalu ada kiki dan april.
"Aa, neng sendiri. neng takuuut"
Sedikit manja dengan mata berkaca kaca, jujur sih emang beneran takut.
"Sayang jangan takut, kan ada aa disini nemenin neng"
"Aa kan jauh sayang"
"Tapi kan neng bisa lihat aa, bisa denger suara aa"
Akupun diam. Entah apa yang harus aku lakukan. Sementara keadaan villa semakin malam semakin mencekam
"Neng udah pesan makanan belum di Gofood?"
"Belummm"
"Ya ammpun sayang, kenapa gak daritadi neng pesen makan. Kan udah aa ingatin. Nanti kalo laper gimana? ini udah jam 11 malam loh, emangnya neng berani turun?"
Akupun menangis, membenamkan kepalaku di bawah bantal. Seperti mendengar suara yang aneh diluar.
"Kenapa ko kepalanya ditutup bantal gitu? Kan aa gabisa lihat muka neng"
"Neng takut"
Kataku dengan nada yang manja, seperti anak kecil yang ditinggal ibunya
"Sayang, kemaren temen aa jatuh di kubangan air, badannya sampe kotor tau"
Dia mencoba menghibur, aku tetap diam. Aku memang penakut dari dulu.
"Udah gitu dia kan gak bawa baju ganti, jadi terpaksa dia kerja kotor kotoran, karena mau pulang dulu rumahnya jauh"
Bukannya tertawa, aku malah menangis sejadi jadinya. Aku seperti mendengar suara kaki. Terdengar jelas, bahkan lebih jelas. Gatau memang beneran itu orang atau perasaanku saja.
"Neng kenapa? jangan buat aa panik"
"Neng takut, ada suara kaki"
"Pikiran jeleknya dibuang coba"
Malam itu gatau kenapa aku ngedadak parno. Gimana gak parno, villa yang sudah tidak terisi lama, lampu yang tidak cukup terang, dan banyak pohon rindang yang ditanam dihalaman villa membuat suasana villa seperti tak berpenghuni. Apalagi mendengar setiap cerita dari orang yang lebih dulu tinggal di villa ini.
"Neng, istighfar sayang, jangan lupa do'anya dibaca juga"
Aku masih menangis dan pindah kepojokan. Aku lihat fito semakin panik. Dan aku ga nyangka dia ikutan nangis juga, karena khawatir dengan keadaanku disini.
"Sayang, aa minta maaf, aa gabisa nemenin neng, aa gabisa jagain neng, dan aa gak selalu ada buat neng saat neng lagi ketakutan gini"
"Aa neng takut, tau gini neng sewa tempat penginapan yang rame"
"Sayang, aa telfon ivan dulu yah"
"Ivan siapa?"
"Ivan sodara aa, dia ada di jakarta. Aa suruh ivan kesana buat nemenin neng"
"Gak mau, jangan"
"Aa ga tega lihat neng nangis kaya begitu. Aa panik tau gak"
Malam ini kami menangis bersama. Baru kali ini aku melihat fito menangis, dan aku juga merasakan kekhawatiran dia yang cukup besar
"Sayang, ini sudah jam 1 malam, neng tidur ya, masuk pagi kan?"
"Iya neng masuk jam 5 pagi sekarang"
"Yaudah neng bobo, ambil selimut terus tidur. Aa ga tidur ko, aa jagain neng"
"Aa besok kerja pagi, gimana kalo aa kesiangan"
"Gapapa sayang, itu urusan aa. Yang penting malam ini aa pengen liat neng bobo nyenyak dan kerja ga kesiangan"
Aku menangis, memandangi laki laki baik yang belum pernah aku sentuh. Setiap hari yang aku lihat hanya wajahnya yang terhalang oleh layar handphone.
Bagiku dia bukan manusia biasa, dia adalah malaikat yang dikirim tuhan untuk menjagaku, dia adalah sayap saat aku hampir jatuh dari ketinggian, dia adalah raga yang selalu menjagaku, malam ini ketakutanku berubah menjadi kerinduan yang amat dalam.
__ADS_1
Ingin sekali rasanya aku memeluk laki laki yang ada di seberang sana, ingin sekali aku menggenggam tangannya, mengusap pipinya dan berkata kalau aku sangat menyayanginya.
Dan malam ini kami sama sama tidak tidur, kami saling menguatkan satu sama lain. Dia menemaniku dalam ketakutan, dan aku menemaninya dalam kekhawatiran.