Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 10 Pemeriksaan


__ADS_3

Dokter Liana memandang Hani dan Abhiyasa secara bergantian. Dia melihat kekhawatiran yang mendalam dari pasangan suami istri itu. Kemudian dia menghela nafasnya dan berkata,


"Ini masih dugaan sementara kami. Kita tunggu saja bagaimana perkembangan selanjutnya."


"Sakit apa anak kami dok?" tanya Hani seolah memaksa dokter untuk mengatakannya.


"Sebenarnya ini masih dugaan saja. Kami menduga jika pasien terkena demam berdarah. Tapi kita harus memantau dulu dan memeriksanya kembali untuk memastikannya. Kami juga akan melakukan pemeriksaan lab pada paru-paru dan jantungnya," tutur dokter tersebut pada Hani dan juga Abhiyasa.


Seketika badan Hani terasa lemas. Dia tidak bisa membayangkan jika apa yang dikatakan oleh dokter benar adanya.


"Demam berdarah? Paru-paru? Jantung?" ucap Hani lirih dan terbata-bata dengan matanya yang berkaca-kaca.


Abhiyasa segera merangkul pundak istrinya. Dia mengusap lembut lengan istrinya seraya berbisik di telinganya,


"Sabar Sayang, gak akan terjadi apa-apa pada Aksa. Ingat, dia itu jagoan tampan yang kuat menghadapi apa pun, karena dia anak kita."


Dokter Liana tersenyum melihat sikap Abhiyasa yang sedang menenangkan istrinya. Dia berpamitan pada mereka berdua dan Abhiyasa menganggukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan pada dokter tersebut.


Perawat memberikan obat pada Aksa sesuai dengan perintah dokter. Demam Aksa perlahan turun setelah meminum obat yang diberikan oleh dokter. Dan infus pun masih diberikan pada Aksa sesuai dengan yang diberikan oleh dokter.

__ADS_1


Namun, beberapa jam berikutnya, badan Aksa kembali demam. Dan itu membuat Aksa merintih dan mengigau dengan matanya yang masih terpejam.


"Abhi, badan Aksa demam lagi. Cepat panggil dokter sekarang juga," ucap Hani dengan paniknya.


Abhiyasa yang sedang memberikan kabar melalui pesan pada keluarganya, dengan segera dia berjalan cepat menghampiri putranya dan meletakkan punggung tangannya pada dahi Aksa, seperti yang dilakukan oleh Hani sebelumnya.


"Kenapa badannya panas sekali? Bukankah dia sudah mengkonsumsi obat dan mendapatkan infus? Kenapa badannya panas lagi?" tanya Abhiyasa yang tidak kalah panik dengan Hani.


"Abhi, cepat panggil dokter," perintah Hani dengan tidak sabarnya.


Abhiyasa segera memencet tombol yang ada di tembok atas tempat tidur. Merasa beberapa detik itu berlalu tanpa ada dokter yang datang, dengan segera Abhiyasa berlari keluar untuk memanggil dokter yang menangani putranya.


Selang beberapa saat, dokter berlari bersama perawat menuju ruangan Aksa berada. Mereka berpapasan dengan Abhiyasa yang juga berlari keluar dari kamar inap tersebut.


"Dok, cepat periksa anak saya. Badannya panas sekali sekarang."


Tanpa menunggu lama dokter tersebut berlari menuju kamar inap Aksa diikuti oleh seorang perawat dan Abhiyasa. Di dalam kamar itu, dokter segera memeriksa Aksa menggunakan stetoskopnya. Sedangkan perawat memeriksa suhu tubuh Aksa menggunakan termometer.


Perawat tersebut memperlihatkan pada dokter angka yang merupakan suhu tubuh Aksa tertera di layar termometer tersebut.

__ADS_1


Dokter tersebut segera memberikan perintah agar perawat tersebut segera memberikan obat pada Aksa yang dikonsumsi saat itu juga.


Hani yang tadinya sudah sedikit tenang, kini dia panik kembali. Dalam hatinya, dia merapal doa untuk kesembuhan putra tercintanya.


Begitu pula dengan Abhiyasa. Dia membacakan banyak doa dalam hatinya untuk kesembuhan putra kesayangannya. Mereka berdua berdoa sendiri-sendiri dalam hatinya seraya menatap wajah damai putra tercinta Mereka.


"Kita sudah memberinya obat, semoga saja demamnya akan cepat turun. Jika ada apa-apa, segera hubungi kami, agar kami bisa cepat datang ke mari," tutur dokter tersebut pada Abhiyasa dan Hani.


"Baik dok. Terima kasih," ucap Abhiyasa menanggapi perkataan dokter tersebut.


"Dok, apa anak kami baik-baik saja?" tanya Hani dengan raut wajah khawatirnya pada putra mereka yang sangat mereka banggakan.


Dokter tersebut menghela nafasnya mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Hani padanya. Kemudian dia menjawab,


"Seperti yang saya ucapkan tadi. Kemungkinan seperti itu, tapi kita akan mengamatinya lagi sesuai dengan perkembangannya nanti."


Setelah obat dan infus telah diberikan oleh perawat sesuai dengan anjuran dokter, mereka keluar dari kamar tersebut. Sedangkan Hani dan Abhiyasa kembali duduk di sebelah tempat tidur Aksa sambil memegang tangan putra mereka.


"Abhi," panggil Hani tanpa menghadap ke arah suaminya, dia masih saja menatap wajah putra mereka yang masih tertidur karena efek dari obat yang diminumnya.

__ADS_1


"Hmmm... Ada apa Honey," tanya Abhiyasa sambil mengalihkan pandangannya dari putranya pada istrinya.


"Sayang, apa... Aksa... paru-parunya... jantungnya...."


__ADS_2