
Dokter tersebut melihat hasil pemeriksaan jantung yang dilakukan oleh Aksa beberapa waktu yang lalu. Dia membaca dan melihat hasil pemeriksaan itu dengan seksama.
Hani menatap cemas pada hasil pemeriksaan yang sedang dibaca oleh dokter tersebut. Kemudian dia bertanya,
"Dok, bagaimana hasilnya?
"Menurut hasil yang kami peroleh, ananda Aksa, putera Bapak dan Ibu tidak memiliki flek pada jantungnya. Sepertinya dugaan kami salah," jawab dokter tersebut sambil memberikan hasil pemeriksaan jantung Aksa pada Hani.
Hani menerima hasil pemeriksaan itu dari tangan dokter. Dia membacanya meskipun sedikit tidak mengerti akan apa yang tertera di sana. Abhiyasa pun ikut membaca hasil pemeriksaan tersebut. Kemudian dia melihat ke arah dokter yang duduk di hadapannya seraya berkata,
"Lalu... kenapa nafas Aksa bisa seperti itu dok?"
"Itulah Pak. Maaf, tadinya kami mengira jika terdapat flek pada jantung pasien. Sayangnya menurut hasil pemeriksaan tidak. Dan hasil lab darahnya juga tidak mengarah ke sana. Kami akan memeriksa ulang dan mencari tahu penyakitnya," jawab dokter tersebut disertai helaan nafasnya.
"Apa itu berarti putera kami baik-baik saja dok?" tanya Hani dengan sangat penasaran.
"Untuk sementara ini, seperti yang kita lihat, pasien bisa beraktivitas seperti biasanya. Dia terlihat baik-baik saja. Hanya saja kita harus segera mencari tahu penyebab sakitnya akhir-akhir ini agar tidak terlambat jika memang ada penyakit yang harus segera diketahui sejak dini," jawab dokter tersebut tanpa ragu-ragu.
Jawaban dari dokter itu membuat Hani kembali khawatir. Pasalnya penyakit puteranya bahkan belum diketahui meskipun serangkaian pemeriksaan dan tes sudah dilakukan.
"Maaf, saya permisi dahulu. Saya akan membicarakan hal ini dengan tim dokter yang lain agar bisa segera mendapatkan hasilnya," ujar dokter tersebut sambil beranjak dari duduknya.
"Baik dok, terima kasih," ucap Abhiyasa menanggapi dokter tersebut yang berpamitan pada mereka.
Hani beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati puteranya yang masih bermain si atas tempat tidur. Dia mengusap lembut rambut serta punggung puteranya.
Ada tetesan air mata yang tanpa sadar jatuh di pipinya. Air mata itu mengiringi perasaan sedih Hani yang tidak pernah terpikirkan olehnya jika akan kehilangan putera mereka.
Aksa, putera kebanggan Hani dan Abhiyasa, dia juga cucu kesayangan dan kebanggan dari keluarga Atmaja serta keluarga Hani. Tidak ada yang bisa membayangkan jika mereka kehilangan Aksa yang seolah menjadi putera mahkota itu.
Abhiyasa menghampiri anak dan istrinya. Dia merangkul pundak istrinya dan membawa Aksa dalam pelukan mereka berdua. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya saat ini.
"Kita satu keluarga. Dan selamanya akan bersama menjadi keluarga bahagia. Jadi, kita tidak akan terpisahkan. Meskipun banyak rintangan yang menghadang, kita akan tetap bersama. Percayalah," tutur Abhiyasa untuk menenangkan hati istrinya.
__ADS_1
Air mata Hani semakin banyak menetes. Dia tidak bisa menghentikannya. Hatinya sangat risau dan sedih saat ini.
"Mama kenapa menangis? Apa ada yang berbuat jahat pada Mama? Katakan Ma, siapa yang melakukannya, Aksa akan memberi pelajaran pada mereka," ujar Abhiyasa dengan tegasnya sambil mengusap lembut air mata yang menetes di pipi mamanya.
Masih dengan wajah sedihnya yang dihiasi bekas air mata, Hani tersenyum mendengar perkataan putera kesayangannya. Hani menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Mama baik-baik saja Sayang. Hanya saja Mama sedih melihat Aksa sakit. Jadi... Mama harap Aksa kuat dan harus sembuh."
Aksa menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias. Dan dia pun berkata,
"Aksa janji Ma, Aksa akan menjadi laki-laki yang kuat dan menjadi kebanggan Mama dan Papa. Aksa juga akan segera sembuh, Mama jangan khawatir. Mama gak boleh sedih ataupun menangis. Mama janji kan?"
Hani tersenyum mendengar perkataan puteranya. Tangannya mengusap lembut pipi puteranya dan berkata,
"Mama janji Sayang. Mama gak akan sedih lagi dan gak akan menangis. Asalkan Aksa harus cepat sembuh agar kita bertiga bisa kembali ke rumah dan berkumpul bersama seperti biasanya."
Abhiyasa menoleh ke arah lain. Dia mengusap air matanya yang dengan sekuat tenaga sudah ditahannya. Sayangnya pembicaraan antara istri dan anaknya itu membuat air matanya tidak bisa ditahannya lagi. Dalam hatinya berkata,
Ya Allah... tolong beri kemudahan bagi kami untuk menghadapi cobaanmu. Hamba mohon Ya Allah... Hamba mohon jangan biarkan putera kami meninggalkan kami. Hamba mohon sembuhkan putera hamba dan bebaskan dia dari penyakit yang berbahaya.
"Papa akan keluar sebentar menemui dokter. Mama dan Aksa di sini saja. Papa akan segera kembali."
Abhiyasa meninggalkan ruangan tersebut setelah mendapatkan anggukan dari Hani dan Aksa.
...----------------...
Di dalam ruangan dokter yang menangani Aksa, Abhiyasa duduk berhadapan dengan beberapa dokter yang menjadi tim penanganan untuk penyakit Aksa. Aksa masih sangat kecil, dan hal itu membuat para dokter menjadi prihatin padanya. Mereka semua berdiskusi tentang keadaan Aksa dan mencari penyebab yang diderita Aksa saat ini.
"Maaf Pak, apa kami boleh bertanya secara mendetail tentang keluarga Bapak dan Ibu?" tanya salah satu dokter yang ada di hadapan Abhiyasa.
"Silahkan dok. Silahkan bertanya apa saja. Saya pasti akan menjawabnya," jawab Abhiyasa tanpa ragu-ragu.
"Begini Pak, kami cuma ingin bertanya saja. Apa ada keluhan selama ini sebelum kejadian jatuhnya pasien ketika bermain sepak bola?" tanya salah satu dokter pada Abhiyasa.
__ADS_1
"Maksud kami ada penyakit lain atau keluhan sakit yang lainnya mungkin Pak," timpal dokter yang lainnya.
Abhiyasa berpikir sejenak. Dia memikirkan tentang penyakit-penyakit Aksa sewaktu kecil. Kemudian dia menjawab,
"Setau saya sih dok, putera saya itu dari bayi hanya sakit demam dan batuk pilek saja. Tidak ada penyakit lain yang mengharuskan dia tinggal di rumah sakit."
"Mmm... Apa Bapak yakin? Atau mungkin lebih baik Bapak menanyakan juga pada istri Bapak, takutnya ada hal yang terlupa. Meskipun kecil, kami butuh untuk mendiagnosanya Pak," ujar dokter tersebut pada Abhiyasa.
Abhiyasa mendengarkan dengan seksama semua yang dikatakan oleh dokter-dokter itu padanya. Dan dia merasa ada benarnya juga jika istrinya ikut diskusi dengan mereka saat ini. Kemudian dia berkata,
"Sebentar dok, saya akan memanggil istri saya untuk datang ke sini. Dan untuk putera saya, apa boleh saya meminta tolong agar perawat menjaganya selama saya dan istri saya ada di sini?"
"Silahkan Pak. Saya akan meminta perawat untuk menjaga putera Bapak di kamarnya selama Bapak dan Ibu ada di sini bersama dengan kami," jawab dokter yang menangani Aksa selama ini.
"Terima kasih dok, saya akan memanggil istri saya sekarang dan akan segera kembali ke sini. Permisi," tukas Abhiyasa sambil beranjak dari duduknya.
Abhiyasa segera menuju kamar inap Aksa untuk menjemput istrinya agar bersama dengannya menemui para dokter itu.
Sesampainya di dalam kamar inap Aksa, dia melihat puteranya itu sedang tertidur dengan ditemani oleh Hani yang memegang tangan puteranya seraya menciuminya.
"Honey, ayo ikut aku sebentar. Kita akan bertemu dengan dokter untuk membicarakan tentang putera kita," bisik Abhiyasa di telinga Hani.
"Apa penyakit Aksa sudah diketahui?" balas Hani berbisik di telinga Abhiyasa.
"Untuk lebih jelasnya, sebaiknya kita ke sana dulu sekarang," bisik Abhiyasa kembali di telinga Hani.
Hani melihat Aksa yang masih tertidur pulas setelah dia menemaninya tidur saat Abhiyasa bertemu dengan dokter. Abhiyasa mengikuti arah pandang istrinya dan dia tersenyum seraya berkata,
"Honey, tidak akan terjadi apa-apa. Sebentar lagi ada perawat yang datang ke sini untuk menjaganya."
Abhiyasa merangkul pundak Hani mengajaknya untuk menemui dokter yang sudah menunggu mereka.
Tiba-tiba saja Hani menarik baju Abhiyasa dan berkata,
__ADS_1
"Abhi, aku...."