
Hari ini, tibalah saatnya Aksa untuk kembali ke rumah sakit. Dokter Antonio sudah meminta pada Abhiyasa agar Aksa segera dibawa ke rumah sakit untuk persiapan operasi.
Persiapan operasi pun sudah dilakukan. Kini, kurang beberapa saat lagi Aksa akan dibawa masuk ke dalam ruang operasi.
"Ma, Pa, Aksa ingin bermain di taman," rengek Aksa pada mama dan papanya ketika perawat sedang mempersiapkannya untuk dibawa ke ruang operasi.
"Aksa, Sayang, nanti saja ya, perawat sudah menunggu untuk mengantar Aksa periksa seperti biasanya," tutur Hani sambil tersenyum dan mengusap lembut rambut putranya penuh dengan kasih sayang.
Aksa menggelengkan kepalanya seolah menolak untuk mengerti penuturan dari mamanya.
"Enggak mau... Gak mau... Aksa ingin main di taman sekarang...," rengek Aksa diiringi isakan tangisnya.
Hani menatap Abhiyasa dengan tatapan penuh kesedihan. Kini apa yang dikhawatirkannya benar-benar terjadi. Aksa rewel, dia menangis dan merengek seolah tahu apa yang akan terjadi dengannya.
Sebelumnya Abhiyasa dan Hani sudah memberikan pengertian dan membujuk putra mereka, hingga Aksa mengangguk setuju dan mau melakukan pemeriksaan apa pun agar dia bisa sembuh total dan bisa sehat kembali.
Namun, saat ini semuanya berbeda. Aksa seolah lupa akan janjinya dan lupa akan semua yang disampaikan oleh mama papanya.
"Maaf, kami akan membujuk putra kami dulu. Nanti akan kami beritahukan jika putra kami sudah siap," ucap lirih Hani pada perawat yang berada tidak jauh dari mereka.
"Baik Bu, akan saya sampaikan pada dokter," tukas perawat tersebut sambil tersenyum.
Sepeninggalan perawat dari kamar inap Aksa, Hani dan Abhiyasa masih saja membujuk putra mereka dengan segala cara. Bahkan mereka mengajak Aksa untuk bermain di taman rumah sakit tersebut, sesuai dengan permintaannya.
Dokter Antonio memperhatikan Aksa yang sedang merengek dalam gendongan Abhiyasa di taman rumah sakit tersebut. Dia juga melihat bagaimana berusahanya Hani dan Abhiyasa dalam membujuk putranya itu.
"Bagaimana kabarmu hari ini Aksa?" tanya dokter Antonio yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.
__ADS_1
Hani dan Abhiyasa menoleh ke arah sumber suara. Mereka berdua tersenyum pada dokter Antonio dan menatap dokter Antonio seolah ingin meminta bantuan padanya.
Aksa yang berada dalam gendongan papanya, kini mendongakkan kepalanya. Dia meletakkan kembali kepalanya pada dada papanya, mengacuhkan kehadiran dokter Antonio dan pertanyaan yang diberikan oleh dokter Antonio padanya.
"Aksa gak mau periksa. Aksa mau main di taman sama Papa. Aksa mau main bola," rengek Aksa dengan kepalanya yang masih disandarkan pada dada papanya.
Dokter Antonio mendekati Hani, dia mengatakan sesuatu padanya.
"Bu, sebaiknya Aksa ditenangkan dahulu. Bujuk dan beri pengertian dia dengan sangat hati-hati agar semangat dan keinginannya untuk sembuh ada kembali."
"Baik dok, kami akan berusaha membujuknya dan memberi pengertian padanya. Maaf, dokter harus menunggu. Nanti akan kami hubungi dokter jika Aksa sudah mau dan siap menjalani operasi," tukas Hani pada dokter Antonio.
"Baiklah Bu, hubungi saja saya ketika pasien sudah siap. Saya permisi dulu sekarang," tutur dokter Antonio sebelum meninggalkan tempat tersebut.
Hani mendekati Abhiyasa yang sedang berjalan pelan mengelilingi taman dengan menggendong Aksa sembari membujuknya.
Aksa mendengarkan baik-baik semua perkataan papanya. Semua penuturannya memang sesuai dengan apa yang dijanjikan Aksa padanya. Sayangnya dia tidak luluh begitu saja, meskipun dia merasa papanya memang benar.
Entahlah, saat ini Aksa tidak seperti biasanya ketika sedang berobat ataupun sedang diperiksa. Hani hanya bisa mendengarkan dari belakang punggung suaminya. Dia tidak ingin merusak suasana ketika Abhiyasa sedang membujuk putra mereka.
Selang beberapa saat, dengan bujuk rayu dari Abhiyasa, akhirnya Aksa luluh. Dia bersedia melakukan operasi sesuai dengan pengarahan yang diberikan oleh papanya.
Kini Hani dan Abhiyasa berada di depan ruang operasi. Mereka melepaskan putra kesayangan mereka untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Hani dan Abhiyasa duduk di ruang tunggu yang ada di depan ruangan operasi tersebut. Di ruang operasi tersebut tertera dua nama pasien yang sedang dioperasi di ruang operasi saat ini, salah satunya tertera nama Aksa Putra Nareswara.
Tangan Abhiyasa menggenggam erat tangan Hani. Mereka berdua hanya diam dan berdoa untuk keselamatan putra mereka. Mulut mereka berdua tak henti-hentinya merapal doa untuk putra mereka.
__ADS_1
"Sayang, berapa lama lagi?" tanya Hani pada Abhiyasa.
"Kata dokter, operasi biasanya memakan waktu satu hingga enam jam. Semoga operasi Aksa bisa selesai hanya sebentar saja," jawab Abhiyasa dengan penuh harap.
Hani menyandarkan kepalanya pada pundak Abhiyasa. Dalam hatinya, dia sangat berharap jika operasi putra mereka bisa berjalan dengan baik dan secepatnya selesai. Doa-doa dari bibir mereka berdua pun masih saja dilakukan tanpa henti.
Berkali-kali orang tua Hani dan Abhiyasa menghubungi mereka untuk menanyakan jalannya operasi dan keadaan cucu mereka. Kedua nenek dan kakek Aksa memang tidak diperbolehkan Abhiyasa dan Hani untuk datang ke rumah sakit. Mereka tidak ingin merepotkan kedua orang tua mereka. Dan yang terpenting mereka takut jika kesedihan kedua orang tua mereka akan dirasakan oleh Aksa, sehingga membuat Aksa sedih dan terbebani.
Setiap detik dan setiap menit yang berlalu seolah sangat lama bagi Abhiyasa dan Hani. Rasa cemas, gelisah dan khawatir yang mereka rasakan, kini bercampur menjadi satu.
Perlahan pintu ruang operasi terbuka. Ada seorang perawat yang berlari keluar seolah sedang tergesa-gesa dari dalam ruang operasi tersebut.
Hani menoleh ke arah samping, di mana suaminya sedang duduk di sebelahnya. Kemudian dia berkata,
"Sayang, ada apa? Kenapa perawat itu sepertinya terburu-buru sekali?"
Ahbiyasa menggelengkan kepalanya seraya berkata,
"Entahlah Sayang. Semoga saja bukan hal yang buruk."
Namun, mulut dan hati Abhiyasa berkata berbeda. Mulutnya mengatakan agar tidak cemas, dan tetap tenang. Akan tetapi, hatinya mengatakan sebaliknya. Dia benar-benar cemas, gelisah dan khawatir akan keadaan putranya. Ingin sekali dia berlari masuk ke dalam ruang operasi tersebut dan melihat sendiri dengan kedua matanya bagaimana keadaan putranya saat ini.
Perawat yang berlari tergesa-gesa tadi kembali berlari dengan membawa beberapa kantong darah ke dalam ruang operasi. Hal itu membuat Hani dan Abhiyasa semakin cemas.
Selang beberapa menit kemudian, perawat tadi kembali berlari keluar dari ruang operasi dengan tergesa-gesa, seperti beberapa saat yang lalu. Beberapa detik kemudian, perawat lain berlari keluar dan terlihat panik menuju ke arah yang sama dengan perawat sebelumnya.
Hani mencengkeram tangan suaminya dan berkata,
__ADS_1
"Sayang, ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Kenapa perawat-perawat tadi terlihat sangat panik?"