
Hani menghadap membelakangi puteranya dan dengan cepat mengusap air matanya. Setelah itu dia beranjak dari duduknya bersama dengan Abhiyasa menghampiri putera mereka.
Hani duduk di depan puteranya. Dia tersenyum dan mengusap lembut pipinya seraya berkata,
"Mama tidak menangis karena Aksa. Mama menangis karena Mama lapar."
"Benarkah itu Ma?" tanya Aksa seolah tidak percaya pada perkataan mamanya.
"Benar. Jika Aksa tidak percaya, Aksa bisa tanyakan pada Papa. Iya kan Pa?" jawab Hani seraya menoleh ke arah Abhiyasa untuk meminta dukungannya.
Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia duduk di samping Hani dan mengusap lembut rambut puteranya seraya berkata,
"Apa yang dikatakan Mama benar sekali. Mama sering menangis jika terlalu lapar. Jadi, jagoan Mama dan Papa ini tidak perlu khawatir. Mama baik-baik saja."
Aksa kembali melihat ke arah mamanya. Dia mencari kebenaran dari mata mamanya. Kemudian dia berkata,
"Ya sudah, sebaiknya Mama makan saja sekarang. Aksa baik-baik saja Ma. Dan jika Papa mengantar Mama ke kantin, Aksa berani kok sendirian di sini. Jangan khawatirkan Aksa. Anak Mama dan Papa ini sudah besar."
Hani dan Abhiyasa terkekeh mendengar perkataan putera mereka. Dari situlah Hani percaya jika puteranya pemberani, sama seperti papanya. Dan dia juga berharap jika keberanian Aksa bisa membawa dampak baik untuk proses operasi dan pemulihannya.
"Lebih baik Papa yang membelikan makanan untuk kita. Dan kita makan bersama di sini. Boleh kan Pa?" tanya Hani pada Abhiyasa.
Abhiyasa tersenyum dan beranjak dari duduknya. Kemudian dia memandang istri dan anaknya secara bergantian seraya berkata,
"Ide yang bagus Ma. Papa saja yang membeli makanan. Mama dan jagoan Papa ini duduk santai saja menunggu kedatangan Papa. Ok?!"
"Ok Papa!" seru Hani dan Aksa bersamaan sembari mengarahkan jempolnya pada Abhiyasa.
Tok... Tok... Tok...
"Maaf, Pak, Bu, ini makanan untuk pasien," ucap salah seorang bagian pengantar makanan yang memakai seragam rumah sakit tersebut.
Abhiyasa segera menerima makanan tersebut dan meletakkannya di meja. Kemudian dia berkata,
"Aksa, Sayang, lebih baik Aksa makan makanan ini saja dulu ya. Makanan ini sudah diatur oleh dokter agar Aksa cepat sembuh. Nanti, setelah Aksa sembuh, Aksa pasti bisa makan apa saja sesuai keinginan Aksa."
__ADS_1
Aksa tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Dia pun berkata,
"Iya Pa. Aksa makan itu saja. Papa beli makanan buat Mama dan Papa saja."
Setelah mendengar jawaban dari puteranya, Abhiyasa segera keluar dari kamar tersebut untuk membeli makanan.
Selang beberapa saat, Abhiyasa kembali ke dalam kamar puteranya. Dia tersenyum melihat tawa anak dan istrinya yang sedang bercanda saat ini.
Abhiyasa berjalan masuk dengan membawa kantong yang berisi dua box makanan seraya tersenyum dan berkata,
"Wah... Wah... Sepertinya Papa ketinggalan yang seru-seru ya?"
Seketika Hani dan Aksa mengalihkan perhatian mereka pada Abhiyasa. Mereka berdua tersenyum melihat Abhiyasa sudah kembali saat ini.
Abhiyasa meletakkan makanan yang dibawanya tadi di atas meja. Kemudian dia berjalan menghampiri anak dan istrinya.
"Ayo, kita makan bersama sekarang," ajak Abhiyasa pada anak dan istrinya.
Tiba-tiba badan Aksa sudah berada dalam gendongan papanya. Abhiyasa tersenyum padanya dan berkata,
Aksa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia terlihat sangat bahagia saat ini. Meskipun dalam keadaan sakit, mama dan papanya rela meninggalkan pekerjaan mereka demi menemaninya selama berada di rumah sakit.
Mereka bertiga makan bersama di kursi sofa yang berada di dalam kamar tersebut. Ada tawa dan juga candaan yang mengiringi saat mereka makan bersama. Situasi saat ini tidak ubahnya seperti kebiasaan mereka makan di rumah. Mereka selalu berusaha untuk bisa makan bersama meskipun hanya makan pagi dan makan malam. Paling tidak, dengan itu mereka membangun keharmonisan keluarga mereka.
...----------------...
Sehari kemudian, pada saat dokter Antonio melakukan visit ke kamar Aksa untuk memeriksa keadaannya, dokter Antonio berbicara pada Hani dan Abhiyasa.
"Untuk jadwal operasinya sudah kami jadwalkan minggu depan. Kami memberi waktu untuk pasien menyiapkan dirinya," ucap dokter Antonio sambil melihat ke arah Abhiyasa dan Hani secara bergantian.
"Apa tidak terlalu lama dok? Saya takut jika putera kami akan bosan terlalu lama di sini," tukas Hani menyuarakan pikirannya.
"Pak, Bu, saya harap Bapak dan Ibu bisa menyiapkan mental pasien pada saat menjalankan operasi. Karena mental pasien akan mempengaruhi jalannya operasi. Tolong beri semangat putera Bapak dan Ibu agar dia mempunyai keinginan yang kuat untuk sembuh. Karena dengan keinginan yang kuat itulah akan membantu juga dalam operasi kami nanti," tutur dokter Antonio menjelaskan alasannya menjadwalkan operasi yang akan dilakukan seminggu kemudian.
"Apa dalam waktu satu minggu ini anak kami harus tetap dirawat di sini dok?" tanya Abhiyasa mewakili keresahan hati istrinya.
__ADS_1
Dokter Antonio melihat Aksa yang sudah dalam keadaan baik-baik saja. Kemudian dia kembali memandang Abhiyasa dan Hani secara bergantian. Dia pun berkata,
"Jika pasien menginginkan pulang, akan kami ijinkan dengan catatan keadaannya baik-baik saja. Kami juga akan memberitahukan apa saja yang harus dijaga selama di rumah nanti."
Hani menoleh ke arah suaminya. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Abhiyasa pun tersenyum senang mendengar perkataan dari dokter Antonio. Kemudian dia berkata,
"Jika memang diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu, lebih baik kami bawa pulang anak kami dulu saja dok. Karena kami juga khawatir jika di sini terlalu lama dia akan bosan dan nantinya pada saat operasi akan mengganggu mentalnya."
"Itulah yang saya khawatirkan Pak. Karena pasien masih dalam keadaan baik-baik saja, kami harap jeda waktu yang kami berikan akan membuatnya siap untuk melakukan operasi," ujar dokter Antonio sambil menatap Hani dan Abhiyasa secara bergantian.
Hani terlihat senang dan sangat antusias. Kemudian dia berkata,
"Baik dok, terima kasih. Kami akan urus kepulangan anak kami. Tapi... Apa kami bisa menghubungi dokter kapan pun jika terjadi sesuatu?"
"Silahkan Bu, kami akan siap untuk pasien kami, kapan pun itu," jawab dokter Antonio sambil tersenyum pada Abhiyasa dan Hani.
"Terima kasih dok," ucap Abhiyasa dibarengi dengan ucapan terima kasih Hani pada dokter Antonio.
Dokter Antonio meninggalkan ruangan tersebut. Dia memberitahukan pada perawat tentang kepulangan Aksa untuk hari ini.
Hani segera menarik tangan Abhiyasa untuk menghampiri putera mereka. Dengan wajah gembira dan senyuman bahagianya Hani dan Abhiyasa duduk di depan putera mereka.
"Aksa Sayang, Aksa mau pulang gak?" tanya Hani dengan senyumnya yang merekah.
Seketika mata Aksa berbinar. Dia menganggukkan kepalanya dan berkata dengan sangat antusias,
"Mau Ma."
"Oke, jagoan Papa. Kita pulang sekarang ya," ucap Abhiyasa diiringi senyuman bahagianya.
Aksa menatap papa dan mamanya secara bergantian dan berkata,
"Tapi Pa, Ma, apa ini berarti Aksa sudah sembuh?"
Hani dan Abhiyasa saling menoleh. Di sinilah peran mereka sebagai orang tua diuji. Mereka berdua harus bisa memberi pengertian dan semangat pada putera mereka agar siap dan mau di operasi.
__ADS_1