
Pertanyaan yang diajukan oleh Aksa membuat Abhiyasa dan Hani saling menatap. Mereka bingung akan memberi jawaban apa pada putra mereka. Karena mereka takut jika memberi harapan yang berlebihan padanya. Dan mereka juga tidak ingin mengecewakannya.
Namun, mereka tidak bisa mengabaikan pertanyaan itu begitu saja. Selama ini mereka berdua membiasakan untuk menjawab semua pertanyaan yang diberikan Aksa pada mereka. Sesusah apa pun itu, mereka berusaha menjawabnya dengan sebijak mungkin.
"Apa Aksa sangat menginginkan adik?" tanya Abhiyasa sambil tersenyum padanya.
Aksa menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,
"Aksa ingin punya adik agar Mama dan Papa gak kesepian ketika aku gak ada di rumah. Lagi pula teman-teman Aksa hampir semuanya mempunyai adik. Jadi, aku juga ingin merasakan mempunyai adik."
Hani dan Abhiyasa tersenyum mendengar jawaban polos dari putra mereka. Jawaban yang sangat membesarkan hati kedua orang tuanya.
"Tenang saja Sayang, sebentar lagi pasti Aksa akan memiliki adik. Tapi... Aksa harus cepat sembuh dan tetap sehat, agar bisa menjaga adik nantinya," tukas Hani sambil mencium pipi putranya.
Aksa menatap mamanya dan menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan mamanya. Kemudian dia berkata,
"Aksa janji Ma, Aksa akan sembuh dan sehat kembali."
"Pintarnya anak kita ya Ma," ujar Abhiyasa sambil memeluk anak dan istrinya.
"Memangnya Aksa akan menginap di rumah sakit lagi ya Pa, Ma?" tanya Aksa sambil menatap mama dan papanya secara bergantian.
Mendengar pertanyaan dari putranya, membuat Abhiyasa merenggangkan pelukannya. Dia menatap istrinya untuk memberi isyarat padanya bersama-sama mengatakan perlahan pada putra mereka.
"Aksa Sayang, seperti yang dikatakan oleh dokter Antonio, Aksa akan kembali menjalani pemeriksaan selanjutnya agar cepat sembuh," tutur Hani sambil mengusap lembut pipi putranya.
"Nanti, jika kita harus menginap lagi di sana, Aksa bersedia kan?" tanya Abhiyasa pada putranya.
Aksa mengangguk menanggapi pertanyaan papanya. Kemudian dia berkata,
"Aksa ingin sembuh, jadi Aksa harus mau melakukan semua perintah dokter. Benar kan Pa?"
"Benar sekali Sayang. Aksa memang anak yang pintar. Aksa memang jagoan Papa dan Mama," jawab Abhiyasa sambil mencium pipi putranya.
"Ya sudah. Kita tidur sekarang, besok kita akan jalan-jalan pagi," tutur Hani sambil menutup tubuh mereka bertiga dengan selimut hingga pinggang mereka.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, terdengar dengkuran halus dari mulut Aksa. Mata Hani terbuka, dia memperhatikan wajah damai putranya dari jarak yang sangat dekat. Diperhatikannya dengan seksama wajah putranya yang membuatnya kembali merasa bersalah.
Hatinya benar-benar sakit membayangkan putranya berada dalam ruangan operasi yang akan dilakukan beberapa hari yang akan datang. Tanpa terasa air matanya menetes di pipinya.
Entah mengapa mata Abhiyasa terbuka begitu saja. Saat itu juga dia melihat wajah perempuan yang sangat dicintainya dihiasi oleh air mata yang menetes di pipinya.
"Honey, ada apa?" tanya Abhiyasa lirih sambil mengusap air mata yang menetes di pipi istrinya.
Hani menggelengkan kepalanya. Dia takut jika suaminya kecewa padanya karena selalu menangis di hadapannya. Kemudian dia berkata,
"Aku merasa sangat bersalah pada Aksa, putra kita. Aku gak bisa membayangkan bagaimana esok ketika putra kita yang sekecil ini berada di ruang operasi."
"Sayang... doakan saja yang terbaik, karena doa kita sebagai orang tua sangat berarti bagi anak kita, terutama kamu Honey, ibunya," tutur Abhiyasa sambil menatap intens manik mata istrinya, berusaha untuk meyakinkannya.
Hani menganggukkan kepalanya, dia tidak mampu mengatakan apa pun, lidahnya terasa kelu merasakan hatinya yang sangat sakit membayangkan putranya berada di ruang operasi.
"Sudah, ayo kita tidur. Besok kita harus membuat jagoan kita bahagia sebelum hari itu tiba," ujar Abhiyasa sambil mengusap lembut rambut istri tercintanya.
Perlahan mata Hani terpejam. Abhiyasa pun ikut memejamkan matanya, merajut mimpinya bersama dengan istri dan putra mereka bersama.
Suara kokok ayam dan nyanyian burung yang bersahut-sahutan seolah menjadi alarm bagi alam akan datangnya sang surya yang menyapa.
Perlahan mata Aksa terbuka, dia merasa sangat bersemangat saat ini. Apa lagi mama dan papanya semalaman tidur bersamanya.
"Ma, Pa, bangun... Ayo kita jalan-jalan pagi," ucap Aksa sambil menggerak-gerakkan badan mama dan papanya.
Mata Hani dan Abhiyasa pun terbuka. Pertama yang mereka lihat adalah putra kesayangan mereka yang tersenyum dan terlihat sangat bersemangat pagi ini.
"Ayo Ma, Pa, kita jalan-jalan pagi sekarang," rengek Aksa sambil menggerak-gerakkan badan mama dan papanya.
Abhiyasa dan Hani saling menatap, mereka mengangguk bersamaan dan segera beranjak dari tempat tidurnya sambil mengangkat tubuh putra mereka secara bersamaan.
Gelak tawa Aksa memenuhi kamar mereka. Bahkan pagi itu terasa sangat bersemangat bagi mereka bertiga.
Sesuai janji mereka, Abhiyasa dan Hani mengajak Aksa berjalan-jalan di sekitar vila mereka. Bahkan hanya jarak berapa meter saja, Aksa digendong oleh Abhiyasa.
__ADS_1
Jika Aksa meminta untuk jalan sendiri, maka Abhiyasa menurunkannya dan membiarkannya hanya berjalan selama beberapa meter saja. Dia tidak mau jika acara berlibur mereka akan menjadi kacau dan menyedihkan bagi putranya.
Meskipun begitu, Aksa tidak protes karena Abhiyasa membuatnya tidak kentara. Dia mengatakan pada Aksa bahwa dirinya ingin menggendong putra kesayangannya itu.
Setelah mereka lelah, Abhiyasa menghubungi Pak Cecep agar menjemput mereka di tempat mereka saat ini.
"Aksa Sayang, kita pulang dulu ya. Nanti setelah kita mandi, makan, dan beristirahat, kita pergi ke tempat lainnya. Bagaimana?" tanya Abhiyasa pada putranya yang sedang sibuk melihat sekitarnya.
"Aksa mau Pa. Janji ya Pa, nanti kita akan pergi ke tempat yang lain?" tanya Aksa dengan ekspresi bahagianya.
Abhiyasa mengangguk dan tersenyum manis pada putranya. Dia mengajukan kelingkingnya di hadapan putranya dan berkata,
"Papa janji."
Aksa pun mengaitkan kelingkingnya pada kelingking papanya. Kemudian dia bersorak kegirangan mendapatkan janji dari papanya.
Hani dan Abhiyasa terharu melihat putra mereka yang terlihat sangat bahagia sebelum nantinya dia akan menjalani operasi jantung di rumah sakit jantung yang waktu itu sempat digunakannya untuk rawat inap di sana.
Selang beberapa saat kemudian, Pak Cecep datang dengan membawa mobil milik Abhiyasa. Dia mengemudikan mobil tersebut dengan Abhiyasa, Hani dan Aksa yang duduk di kursi penumpang, di belakang pengemudi.
Sesampainya di vila, mereka melakukan aktivitas mereka. Dan setelah beristirahat, Aksa menagih janji papanya untuk mengajaknya ke tempat lain yang ada di sekitar vila mereka.
Hari demi hari mereka lalui di vila tersebut. Abhiyasa dan Hani benar-benar berusaha membahagiakan putra mereka. Apa pun yang diinginkan oleh Aksa selalu mereka berikan saat itu juga. Mereka tidak ingin putra mereka sedih sebelum hari operasi itu tiba.
"Aksa Sayang, nanti siang kita pulang ya. Besok Aksa harus periksa kembali ke rumah sakit. Saat liburan lagi, kita pasti akan datang ke sini lagi, sekalian kita ajak nenek dan kakek untuk berlibur bersama dengan kita. Bagaimana?" tanya Abhiyasa sambil mengusap lembut rambut putranya dan menatap wajah polos putranya.
"Aksa mau Pa. Aksa gak sabar menantikan liburan kita yang berikutnya," jawab Aksa dengan sangat antusias.
"Ya sudah, Mama siap-siap dulu. Satu jam lagi kita berangkat ya," ujar Hani sambil beranjak masuk ke dalam kamar mereka.
Di dalam perjalanan pulang, Aksa tertidur dengan nyenyaknya sambil memakai bantal dan guling boneka kesayangannya.
Hani melihat ke arah belakang, di mana Aksa sedang tidur nyenyak di sana. Kemudian dia berkata,
"Abhi, Sayang, bagaimana jika besok Aksa rewel atau menangis? Bagaimanapun juga dia masih anak-anak yang mudah bosan dan sering rewel jika tidak dalam mood yang baik."
__ADS_1