Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 16 Jantung bocor


__ADS_3

Abhiyasa mencoba memberi pengertian pada puteranya. Dia tidak menyebutkan penyakitnya. Dia dan Hani hanya menyebutkan jika nanti setelah dokter menjelaskan pada mereka, maka mereka akan menjelaskannya padanya.


Abhiyasa dan Hani berusaha meyakinkan pada puteranya jika semuanya akan baik-baik saja dan tentu saja penyakitnya itu akan sembuh dan kesehatannya akan kembali normal lagi.


"Beneran Pa, Ma?" tanya Aksa sambil menatap mama dan papanya secara bergantian.


Hani dan Abhiyasa menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Mereka yakin jika itu memang akan benar terjadi.


"Aksa harus yakin bisa sembuh. Dan untuk sementara Aksa tinggal dulu di sini hingga dokter menyatakan untuk pulang," jawab Abhiyasa sambil tersenyum dan mengusap lembut rambut kepala putranya.


Beberapa saat kemudian, dokter berkunjung ke dalam kamar inap Aksa. Dokter Antonio memeriksa keadaan Aksa bersama dengan dua dokter lainnya. Mereka adalah dokter psikolog dan dokter penyakit dalam.


"Maaf Pak, Bu, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya dokter Antonio pada Abhiyasa dan Hani.


"Tentu saja bisa dok," jawab Abhiyasa yang juga mewakili istrinya.


"Bagaimana jika kita berbicara di ruangan saya?" tanya dokter Antonio kembali.


Abhiyasa menoleh ke arah istrinya. Dan Hani pun menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Pergilah, biar aku saja yang menjaga Aksa di sini. Aku gak tega meninggalkan dia sendiri jika harus ikut kamu."


Abhiyasa meraih tangan istrinya dan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum padanya.


Abhiyasa pun meninggalkan ruangan tersebut bersama para dokter menuju ruangan dokter Antonio.


"Pak, seperti yang saya jelaskan tadi. Putera Bapak mengidap VSD. Tapi masih golongan yang rendah, jadi kami hanya akan melakukan operasi untuk menambahkan sel daging tumbuh yang diambilkan dari bagian tubuh pasien. Nah, selnya itu akan kami sambungkan dengan dijahit halus ke sekat jantungnya. Nantinya sel tersebut dalam satu tahun akan menyambung dan menjadi daging. Dan dua dokter ini yang nantinya akan membantu mengawasi perkembangan pasien. Tentunya juga akan tetap diawasi gizi pasien dan sebagainya," tutur dokter Antonio pada Abhiyasa sambil memperkenalkan dia orang dokter yang ada di sampingnya.


Abhiyasa mencengkeram kedua tangannya. Dia merasa sangat menyesal pada puteranya. Apa lagi Hani, dia merasakan penyesalan yang lebih terhadap puteranya karena penyakit jantung yang diderita oleh puteranya saat ini karena faktor genetik keturunan darinya. Hani memang tidak mempunyai penyakit jantung, tapi penyakit jantung itu diturunkan dari papa Hani.

__ADS_1


"Saya mohon bantu putera saya agar bisa sembuh dan jantungnya bisa normal kembali dok," ucap Abhiyasa sambil menatap dokter Antonio dengan penuh harap.


"Pasti Pak, pasti kami akan berusaha semaksimal mungkin. Karena tugas kami adalah menyelamatkan dan membantu kesembuhan pasien. Dan jangan lupa bantu kami dengan doa Pak," tutur dokter Antonio untuk meyakinkan Abhiyasa.


"Baik dok. Untuk operasinya kapan akan dilaksanakan dok?" tanya Abhiyasa pada dokter Antonio.


"Secepatnya Pak. Kami akan menjadwalkan operasinya terlebih dahulu. Nanti kami akan memberitahukan pada Bapak," jawab dokter Antonio dengan sangat yakin.


"Baiklah dok, jika sudah tidak ada yang disampaikan lagi, saya permisi dulu," ucap Abhiyasa berpamitan pada dokter yang ada di ruangan tersebut.


"Silahkan Pak," tukas dokter Antonio mempersilahkan Abhiyasa untuk keluar dari ruangannya.


Abhiyasa segera menuju ke kamar inap puteranya. Dia akan memberitahukan pada istrinya tentang semua pembicaraannya dengan dokter di ruangannya tadi.


Ketika Abhiyasa masuk ke dalam kamar inap puteranya, dia melihat istrinya sedang tidur memeluk putera kesayangannya di tempat tidur pasien.


Dia menghampiri anak dan istrinya yang tertidur dengan lelap. Bibirnya melengkung ke atas melihat wajah damai anak dan istrinya.


Tiba-tiba saja mata Hani terbuka. Dia tersenyum pada suaminya yang masih menatapnya. Kemudian dia berkata lirih,


"Pantas saja aku merasa jika ada yang memperhatikan aku, ternyata kamu Sayang."


Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia membantu istrinya yang sedang bangun dari tidurnya. Senyuman istrinya pun menjadi obat tersendiri baginya tatkala senyuman pengganti kata terima kasih itu diberikan oleh Hani padanya.


Mereka berdua berjalan menuju kursi sofa yang ada di dalam kamar tersebut dengan Abhiyasa yang melingkarkan tangannya pada pundak istrinya.


Mereka duduk di kursi sofa tersebut dengan pandangan mata mereka masih tertuju pada putera kesayangan mereka.


Abhiyasa mengambil tangan istrinya dan membawanya pada pangkuannya. Hal itu membuat Hani menoleh padanya. Abhiyasa menatap intens manik mata istrinya seraya berkata,

__ADS_1


"Honey, tadi dokter sudah menjelaskan banyak padaku."


"Apa kata mereka?" tanya Hani dengan ragu-ragu.


Abhiyasa mengeluarkan ponselnya, kemudian dia mengutak-atiknya sebentar dan berkata,


"Tadi aku sengaja merekamnya agar tidak ada yang terlewat ketika aku menyampaikannya padamu. Bagaimana, apa kamu mau mendengarkannya dariku terlebih dahulu atau langsung saja mendengarkan rekaman pembicaraan kami?"


"Abhi, aku ingin mendengarkan bukan ingin mengetes daya ingat kamu," jawab Hani dengan sedikit memajukan bibirnya sehingga Abhiyasa mengetahui jika istrinya itu sedang kesal padanya.


Abhiyasa tersenyum dan secepat kilat dia mencuri ciuman sekilas dari bibir istrinya. Kemudian dia segera memasang headset bluetooth pada telinga istrinya dan memutar rekaman tersebut.


Hani yang tadinya akan marah, kini mengurungkan niatnya untuk marah ketika dia mendengar rekaman pembicaraan antara dokter dengan suaminya yang membahas mengenai pengobatan putera mereka.


Mata Hani berkaca-kaca mendengar percakapan tersebut. Dia tidak bisa membayangkan jika puteranya yang masih kecil itu harus mengalami operasi pembedahan.


"Abhi, jika aku bukan mamanya, apa Aksa tidak akan mengalami ini?" tanya Hani dengan suara yang bergetar.


"Honey! Sayang, jangan bicara seperti itu," tegur Abhiyasa yang tidak ingin mendengar hal itu keluar dari mulut istrinya.


Abhiyasa tahu jika Hani menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa anaknya. Penyakit jantung turunan dari papa Hani, hal itulah yang membuat Hani semakin merasa bersalah pada putera mereka.


"Tapi itu benar Sayang, seandainya aku bukan mamanya--"


"Berarti aku juga bukan papanya. Lagi pula semua ini sudah suratan takdir. Percayalah Sayang, kita pasti akan lebih kuat setelah menghadapi cobaan ini. Begitu pula dengan Aksa, putera kita. Dia akan tumbuh menjadi laki-laki yang lebih kuat tentunya," sahut Abhiyasa untuk meyakinkan istrinya.


Hani tidak bisa menahan lagi air matanya. Tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipinya. Dadanya bergemuruh karena menyalahkan dirinya sendiri atas penyakit yang diderita anaknya saat ini.


"Hei, Honey, kenapa kamu menangis? Jangan menangis Sayang. Kamu tau kan jika aku tidak suka melihat kamu menangis? Kamu tau kan jika aku akan merasa sangat sedih jika melihat kamu menangis?" tanya Abhiyasa sambil menyeka dengan lembut air mata yang menetes di pipi istrinya.

__ADS_1


Perlahan mata Aksa terbuka. Dia mendengar perkataan papanya. Dia melihat ke arah sumber suara dan berkata,


"Kenapa Mama menangis? Apa Mama sedih karena Aksa?"


__ADS_2