
Abhiyasa, seorang papa yang bijaksana dan sangat mencintai keluarganya. Kini dia sedang diuji dengan penyakit putra kesayangannya, Aksa Putra Nareswara.
Sedangkan Hani, seorang mama yang menjadi mualaf sebelum menikah dengan Abhiyasa. Kini dia sedang diuji oleh Allah dengan penyakit putra kesayangannya, Aksa Putra Nareswara.
Aksa menatap papa dan mamanya secara bergantian dan berkata,
"Tapi Pa, Ma, apa ini berarti Aksa sudah sembuh?"
Abhiyasa dan Hani saling menatap, seolah mereka saling bertanya melalui tatapan matanya. Abhiyasa meraih tangan putranya dan tersenyum padanya. Dan dia pun berkata,
"Untuk sekarang ini Aksa sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Akan tetapi Aksa harus tetap jaga kesehatan dan mematuhi apa saja yang dianjurkan dan dilarang oleh dokter. Selain itu, Aksa juga harus mau datang lagi ke rumah sakit ini untuk diperiksa lagi. Itu syaratnya. Apa jagoan Papa ini mau melaksanakannya?"
"Siap Komandan!" seru Aksa tegas dan memberi hormat pada papanya dengan meletakkan tangan kanannya pada pelipisnya.
Abhiyasa dan Hani terkekeh mendengar jawaban dari putra mereka layaknya seorang prajurit. Khususnya Abhiyasa, dia sangat bangga pada putranya yang selalu diyakininya akan menjadi laki-laki tangguh dan kuat, seperti dirinya, atau mungkin melebihi dirinya.
Setelah itu Hani segera membereskan barang-barang mereka yang selama ini digunakan. Sedangkan Abhiyasa, dia membereskan administrasi dan kembali menemui dokter Antonio.
Dokter Antonio datang bersama dengan Abhiyasa. Mereka masuk ke dalam kamar perawatan Aksa bersamaan.
"Aksa, apa yang dirasakan saat ini?" tanya dokter Antonio seraya mengambil stetoskop dari sakunya.
Aksa terlihat seperti sedang berpikir dan dia tersenyum lebar seraya berkata,
"Mmm... Aksa merasa sehat dan bersemangat."
Dokter Antonio, Abhiyasa dan Hani terkekeh mendengar jawaban Aksa. Mereka sangat terhibur dengan tingkah polos Aksa yang sudah terlihat sehat.
"Dokter periksa dulu ya," ucap dokter Antonio sambil meletakkan stetoskop pada dada Aksa.
Aksa mengangguk dan memperhatikan dokter Antonio yang sedang memeriksanya. Dokter Antonio tersenyum dan berkata,
"Semuanya baik-baik saja. Akan tetapi... Aksa harus janji tidak kelelahan, tidak beraktifitas yang berlebihan untuk sementara waktu, hingga kita bertemu lagi di rumah sakit ini untuk pemeriksaan selanjutnya. Mengerti?"
__ADS_1
"Siap!" jawab Aksa tegas dan memberi hormat dengan meletakkan tangannya pada pelipisnya.
Dokter Antonio sangat ramah dengan anak-anak karena dia memegang spesialis jantung anak, sehingga sangat mudah berinteraksi dengan anak-anak. Dia terkekeh dan mengusap lembut rambut kepala Aksa seraya berkata,
"Aksa memang hebat."
Setelah itu dokter memberikan kepalan tangannya di hadapan Aksa dam disambut oleh kepalan tangan Aksa, seolah mereka sudah berteman sekarang ini.
Abhiyasa dan Hani saling menoleh, mereka tersenyum dan ada sedikit air mata yang menetes dari pelupuk mata Hani. Abhiyasa merangkul pundak istrinya dan mengusapnya perlahan untuk menenangkannya. Dia pun berbisik di telinga istrinya,
"Jangan sampai Aksa melihat air matamu Honey. Takutnya dia salah sangka melihat air mata bahagiamu."
Hani segera menyeka air matanya. Dia tidak ingin putranya itu sedih melihat air matanya.
Mereka keluar dari kamar tersebut bersama dengan dokter Antonio. Aksa terlihat sangat senang. Dia berjalan di antara kedua orang tuanya. Dengan bergandengan tangan, mereka bertiga bercanda dan tertawa lepas layaknya keluarga harmonis yang sangat bahagia.
Di dalam mobil pun demikian. Aksa bernyanyi tiada henti. Bahkan dia bercerita tentang teman-temannya dan tentang tokoh serial kartun yang ditontonnya.
"Sayang, bagaimana jika kita pergi berlibur dan menginap di vila seperti waktu itu?" tanya Hani pada Abhiyasa yang sedang fokus pada kemudinya.
"Bagaimana Aksa Sayang, apa kamu setuju?" tanya Abhiyasa yang masih fokus pada kemudinya.
"Setuju...! Yes! Kita liburan...!" seru Aksa sambil berselebrasi seperti biasanya saat dia senang.
Hani dan Abhiyasa tertawa bahagia melihat putra mereka saat ini sedang bahagia. Abhiyasa melihat putranya melalui kaca spion yang berada di tengah. Kemudian dia berkata,
"Aksa Sayang, ingat kata dokter. Jangan terlalu lelah. Ok?!"
Aksa pun duduk dengan manis dan tersenyum lebar. Dia mengacungkan jempolnya seraya berkata,
"Ok Papa, Aksa janji. Maaf, Aksa kelupaan tadi."
Senyuman lebar Aksa itu membuat Abhiyasa semakin tertawa melihatnya. Dia tidak akan pernah bisa marah pada putranya yang sangat pintar, lucu dan menggemaskan itu. Begitu pula pada Hani, dia tidak akan pernah bisa marah pada istri cantiknya itu. Karena mereka berdua adalah nyawa baginya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat mobil mereka memasuki halaman rumah yang sudah beberapa hari mereka tinggalkan. Bik Sumi berlari dari dalam rumah ketika mendengar suara deru mobil yang memasuki halaman rumah tersebut.
Bik Sumi segera membuka bagasi setelah Abhiyasa menghentikan mobilnya. Semua barang dalam bagasi diturunkan oleh bik Sumi dan di bawanya masuk ke dalam rumah.
"Honey, lihatlah jagoan kita. Sepertinya dia terlalu lelah dan terlalu bahagia," ucap Abhiyasa ketika menoleh ke arah belakang.
Setelah melepas sabuk pengamannya, Hani segera menoleh ke belakang dan tersenyum ketika melihat buah hati mereka sedang tidur dengan nyenyaknya menggunakan bantal boneka kesayangannya.
"Lihatlah wajah damai itu Abhi. Aku gak bisa bayangkan nanti ketika dia memasuki ruangan operasi," ucap Hani dengan suara yang tercekat.
Tanpa terasa tangan Abhiyasa bergerak mengusap pipi Hani. Dia tersenyum dan berkata,
"Kamu tau kan Honey, jika jagoan kita ini anak yang tangguh dan kuat? Aku yakin dia akan tumbuh menjadi laki-laki yang sangat tangguh dan mempunyai fisik yang kuat. Jadi, kita harus yakin dan berdoa untuk jagoan kita ini."
Hani menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis pada suaminya. Apa yang dikatakan oleh suaminya selalu membuatnya tenang dan mengerti. Sehingga dia merasakan jatuh cinta setiap hari pada suaminya. Dan dia merasa jika cintanya itu selalu bertambah hingga dia tidak ingin kehilangannya.
"Ayo keluar Sayang. Kasihan Aksa, pasti dia tidak begitu nyenyak tidur di situ," ujar Abhiyasa sambil membuka pintu mobilnya.
Setelah dia keluar dari mobil tersebut, Abhiyasa segera berjalan cepat memutar agar tidak keduluan Hani yang membuka pintu mobilnya.
"Silahkan Nyonya Abhiyasa," tukas Abhiyasa sambil mengulurkan tangannya setelah membuka pintu mobil untuk istrinya.
Hani menerima uluran tangan suaminya dan keluar dari mobil disertai senyuman manisnya yang selalu membuat hati Abhiyasa merasa sangat ingin memilikinya.
Abhiyasa membuka pintu mobil bagian penumpang. Dia menunduk dan masuk ke dalamnya untuk menggendong putranya.
Namun, dia kembali keluar dan bertanya pada istrinya.
"Honey, Aksa tidur di kamarnya atau tidur di kamar kita?"
"Di kamarnya saja. Mungkin dia kangen sama kamarnya sendiri," jawab Hani mengutarakan pendapatnya.
"Ok, kita bawa Aksa ke kamarnya," ucap Abhiyasa mengulangi keputusan Hani.
__ADS_1
Setelah itu dia menggendong tubuh putranya dan berjalan masuk ke dalam rumah bersama dengan Hani. Tiba-tiba saja mata Aksa mengejap-ngejap dan perlahan terbuka. Dia melihat wajah papanya yang sedang menggendongnya. Kemudian dia berkata,
"Apa kita sudah sampai vila Pa?"