Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 26 Pulang


__ADS_3

Aksa menghentikan kegiatannya. Dia meletakkan mainannya di sampingnya, kemudian dia duduk manis menghadap ke arah dokter Antonio seraya berkata,


"Dokter mau bicara apa sama Aksa?"


"Aksa mau pulang tidak?" tanya dokter Antonio sambil tersenyum pada Aksa.


Dengan cepatnya Aksa menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan yang diajukan dokter Antonio padanya.


"Aksa ingin pulang dok," jawab Aksa dengan sangat antusias.


Dokter Antonio tersenyum sambil mengusap lembut rambut Aksa seraya berkata,


"Aksa sudah boleh pulang. Apa Aksa senang?"


Seketika mata Aksa berbinar. Dia kembali mengangguk dengan antusias dan berkata,


"Aksa senang dok. Aksa mau pulang. Aksa mau bermain."


"Aksa boleh main, dengan satu syarat, jika sudah mulai capek, Aksa harus segera berhenti dan istirahat. Mengerti?" tanya dokter Antonio sambil menatap penuh perhatian pada Aksa.


Aksa mengulurkan jari kelingkingnya pada dokter Antonio seraya berkata,


"Aksa janji dok."


Dokter Antonio pun mengaitkan jari kelingking kanannya pada jari kelingking Aksa. Dia terkekeh sambil mengusap rambut Aksa menggunakan tangan kirinya.


"Baiklah, dokter akan pegang janji kamu Aksa. Sekarang bersiap-siaplah untuk pulang," ujar dokter Antonio sambil tersenyum pada Aksa.


Mata Aksa berbinar. Terlihat dengan jelas binar kebahagiaan di wajahnya. Dia bersorak kegirangan mendengar berita kepulangannya.


Setelah itu dokter Antonio berpamitan keluar dari ruangan tersebut pada Ahbiyasa dan Hani.


"Honey, persiapkan semuanya, aku akan menyelesaikan administrasinya," tutur Abhiyasa pada Hani sambil tersenyum bahagia pada istrinya.


Hani pun segera membereskan barang-barang mereka yang digunakan selama beberapa hari di sana. Celotehan riang penuh kebahagiaan dari Aksa membuat Hani sangat bahagia. Dalam hatinya dia sangat bersyukur atas keberhasilan operasi dan pemulihan putranya yang sangat cepat.


Selang beberapa saat kemudian, Abhiyasa kembali masuk ke dalam kamar inap putranya bersama dengan dokter Antonio beserta tim dokter yang mendampingi Aksa selama masa operasi dan pemulihan. Mereka semua mengantar kepulangan Aksa hingga keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


"Terima kasih dok atas semuanya," ucap Abhiyasa seraya menunduk hormat pada semua dokter yang mengantar kepergian Aksa.


Hani pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Abhiyasa. Dia menundukkan kepalanya, memberi hormat pada jajaran dokter yang ada di hadapannya.


"Sudah menjadi tugas kami untuk membantu pasien dan menyembuhkan pasien atas izin Nya. Mohon dijaga dan diperhatikan kesehatan Aksa dengan baik ya Pak, Bu," ujar dokter Antonio mewakili semua dokter yang ada di sana.


"Tentu dok. Kami akan memperhatikan dan menjaganya," tukas Abhiyasa dengan sangat yakin.


Dokter Antonio menunduk, menyamakan tinggi badannya dengan Aksa. Kemudian dia berkata,


"Aksa, ingat janji kamu ya. Kita akan berjumpa tiga bulan lagi. Dan dokter harap hasil pemeriksaan mu tiga bulan lagi lebih bagus dari pada sekarang."


"Ok dok. Aksa janji," ucap Aksa dengan riangnya.


Semua dokter terkekeh melihat tingkah lucu Aksa yang menurut mereka sangat luar biasa dalam masa penyembuhannya.


Di dalam mobil, Aksa bernyanyi dengan begitu riangnya seolah dia memberitahukan pada semua orang jika dirinya sudah sehat kembali saat ini.


Hani menoleh ke belakang, di mana putranya sedang duduk sambil bermain. Abhiyasa melihat dari kaca spion yang ada di tengah, kemudian dia berkata,


"Setelah ini tidak akan ada lagi yang membuat kita sedih. Kita akan selalu bahagia."


Setelah beberapa saat, mobil mereka tiba di rumah yang sudah selama beberapa minggu mereka tinggalkan. Di sana sudah berdiri kedua orang tua Abhiyasa dan kedua orang tua Hani. Para nenek dan kakek itu berkumpul untuk menyambut kedatangan cucu mereka.


"Kakek... Nenek...!" seru Aksa sambil berlari kecil menghampiri mereka.


"Aksa! Pelan-pelan Sayang...!" seru nenek yang merupakan ibu dari Abhiyasa.


"Jangan lari Aksa!" seru nenek yang merupakan mama dari Hani.


Aksa terus berlari dan dia tersenyum lebar ketika berada di depan nenek-neneknya. Dia memeluk nenek dan kakeknya secara bergantian.


Hani dan Abhiyasa tersenyum bahagia melihat semua keluarga besar mereka berkumpul di rumahnya. Kepulangan Aksa dari rumah sakit membawa mereka semua berkumpul layaknya momen lebaran ataupun pada saat acara tasyakuran.


Dan benar saja, sekarang ini sudah terhidang banyak makanan di meja makan yang disiapkan oleh restoran Abhiyasa di perintahkan oleh ayahnya.


"Wah... makanannya banyak sekali...," ujar Aksa dengan mata yang berbinar.

__ADS_1


Mata Hani dan Abhiyasa terbelalak melihat semua makanan yang memenuhi meja makan berukuran besar itu. Mereka berdua tidak menyangka jika orang tua mereka telah menyiapkan segalanya untuk menyambut cucu mereka satu-satunya.


"Ada acara apa ini Yah?" tanya Abhiyasa yang sedang bersalaman dengan ayahnya.


"Ayah menyiapkan semua ini untuk tasyakuran atas kesembuhan cucu Ayah. Nanti setelah kita berdoa bersama, bagilah makanan itu ke tetangga sebelah. Semuanya sudah Ayah persiapkan beberapa box. Suruhlah Bik Sumi mengantarkannya nanti," jawab ayah Abhiyasa yang terlihat lega dan bahagia.


Abhiyasa dan Hani tersenyum lega, bahkan binar kebahagiaan mereka pun terlihat jelas saat ini. Semua pekerja yang ada di rumah tersebut ikut serta memberikan doa dan makan bersama mereka. Setelah itu bik Sumi membagikan beberapa box makanan yang sudah disiapkan tadi pada para tetangga dekat rumah itu.


"Kakek dan nenek semuanya menginap di sini kan? Aksa senang rumahnya jadi ramai. Aksa jadi banyak teman untuk bermain," ujar Aksa ketika berada di tengah-tengah para kakek dan neneknya.


Mereka semua saling menatap seolah mencari jawaban pada pasangan masing-masing.


Abhiyasa berjalan mendekati mereka dan berkata,


"Turuti keinginan cucu kesayangan kakek dan nenek. Kapan lagi semuanya akan berkumpul seperti ini jika tidak sekarang?"


Sontak saja mereka menoleh ke arah Abhiyasa yang terlihat memohon pada mereka melalui tatapan matanya.


"Baiklah, Ayah dan Ibu akan menginap di sini," tukas ayah Abhiyasa menyetujui permintaan Aksa, cucu kesayangannya.


"Ya sudah, Papa dan Mama juga akan menginap di sini," ucap papa Hani.


"Yeee...," seru Aksa sambil melompat-lompat kegirangan mengetahui kedua kakek dan neneknya akan menginap di rumahnya.


Malam itu rumah Abhiyasa dan Hani sangat ramai. Adanya kedua kakek dan nenek Aksa itu mampu membuat rumah mereka semakin ramai dengan canda tawa mereka.


Abhiyasa melihat wajah istrinya yang terlihat sangat lelah. Apa lagi saat ini dia melihat istrinya itu sedang menguap. Sangat terlihat kelelahan dan kurang istirahat.


"Sayang, lebih baik kamu istirahat saja sekarang. Biar Aksa bermain bersamaku dan kakek neneknya," tutur Abhiyasa sambil memegang tangan Hani.


Hani melihat ke arah putranya yang sedang asyik bercanda dan bermain bersama kedua kakek neneknya. Kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku tidur nanti saja, menunggu Aksa sekalian."


"Honey, jangan membantah. Wajahmu terlihat sedikit pucat. Kamu kelelahan. Sudahlah, aku antar ke kamar sekarang," ujar Abhiyasa sambil beranjak dari duduknya.


Hani tidak bisa mengelak lagi. Abhiyasa tidak suka dibantah. Dia pun beranjak dari duduknya. Sayangnya, saat itu juga kepala Hani terasa berputar-putar.

__ADS_1


Bruuuk...


"Honey!"


__ADS_2