Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 13 Faktor


__ADS_3

Abhiyasa menoleh ke arah istrinya dan menatapnya dengan penuh tanda tanya. Kemudian dia berkata,


"Ada apa Honey? Apa ada sesuatu?"


"Aku... Aku takut Abhi. Aku takut jika yang kita dengar itu--"


"Sssstttt...," ucap Abhiyasa sambil meletakkan jari telunjuknya pada bibir Hani.


"Permisi Pak, Bu, saya diminta oleh dokter Fahmi untuk menjaga pasien selama Bapak dan Ibu bertemu dengan dokter di ruangannya."


Terdengar suara seorang perempuan dari arah pintu yang membuat Hani dan Abhiyasa menoleh ke arah tersebut. Mereka melihat seorang perempuan sedang berdiri di tengah pintu dengan menggunakan seragam perawat dari rumah sakit tersebut.


"Ayo Honey, biar perawat yang menunggu Aksa. Kita sekarang sudah ditunggu dokter di ruangannya," ucap Abhiyasa sambil merangkul pundak istrinya.


"Tolong jaga anak saya. Dia baru saja tidur," ujar Hani pada perawat tersebut ketika hendak melewatinya.


"Baik Bu, akan saya jaga anak ibu," tukas perawat tersebut dengan sopan dan tersenyum pada Hani.


Hani dan Abhiyasa berjalan meninggalkan kamar inap putranya menuju ruang dokter. Hani melepaskan tangan Abhiyasa yang ada di pundaknya. Dia mencengkeram erat tangan suaminya, sehingga Abhiyasa bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh istrinya.


Abhiyasa menghentikan langkahnya. Dia menghadap kearah istrinya, memegang tangannya dan menatap intens manik mata istrinya seraya berkata,


"Honey, kita sekarang hanya berdiskusi dengan para dokter untuk mencari tahu penyebab penyakit Aksa saat ini. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi nanti."


Mata Hani mengatakan segalanya. Abhiyasa melihat kekhawatiran dan kecemasan yang sangat besar dari matanya. Abhiyasa merangkul pundak istrinya dan berbisik di telinganya,


"Jangan tegang, kita masuk sekarang dan bertemu dengan para dokter yang ada di sana. Berdoalah Hani. Semoga Allah akan mendengar doa kita dan memberikan jalan yang terbaik untuk masalah yang kita hadapi.


Hani menganggukkan kepalanya dan tersenyum meskipun dengan sedikit terpaksa. Dia berdoa dalam hatinya untuk kesembuhan puteranya.


Kini mereka berdua berada di ruangan dokter. Hani dan Abhiyasa duduk di hadapan beberapa dokter yang ikut mencari tahu penyebab dari penyakit yang diderita oleh anak sekecil Aksa.


"Maaf Bu, kami ingin bertanya, apa semenjak kecil sampai sekarang Aksa pernah sakit selain demam dan batuk pilek?" tanya salah satu dokter pada Hani.

__ADS_1


"Tidak dok. Selama ini, penyakit yang diderita Aksa hanya demam dan batuk pilek saja. Apa ada masalah dok?" tanya Hani setelah menjawab pertanyaan dari dokter tersebut.


"Kami masih mencari tau Bu. Maka dari itu, saya mohon Ibu mengatakan dengan sejujur-jujurnya apa yang akan kami tanyakan nanti," jawab salah satu dokter yang ada di hadapan Abhiyasa dan Hani.


Hani menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Baik dok. Akan saya jawab dengan sejujur-jujurnya."


"Jadi... pasien tidak pernah mengidap penyakit lain selain demam dan batuk pilek selama ini?" tanya dokter itu kembali pada Hani.


"Tidak pernah dok," jawab Hani tanpa ragu-ragu disertai gelengan kepalanya.


Para dokter itu saling menoleh seolah berkomunikasi menggunakan tatapan mata mereka. Kemudian salah satu dokter dari mereka bertanya,


"Maaf Pak, Bu, apa Bapak dan Ibu ada penyakit yang mungkin saja sering kambuh atau penyakit apa saja yang pernah dirasakan oleh Bapak dan Ibu."


Hani dan Abhiyasa menoleh secara bersamaan. Mereka saling menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dokter pada mereka seraya serentak bersamaan menjawab,


"Tidak ada dok."


"Saya rasa keluarga saya tidak memiliki penyakit seperti itu dok. Kami hanya terserang batuk pilek biasa dan demam saja biasanya," jawab Abhiyasa sambil mengingat-ingat penyakit apa saja yang dikeluhkan orang tuanya selma ini.


"Kalau keluarga Ibu bagaimana?" tanya dokter tersebut pada Hani.


Sama seperti Abhiyasa. Hani mencoba mengingat-ingat penyakit apa saja yang diderita oleh kedua orang tuanya. Kemudian dia berkata,


"Selain demam dan batuk pilek biasa... mmm... Papa saya mempunyai penyakit jantung dok."


"Penyakit jantung?" tanya dokter itu kembali seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Iya dok, penyakit jantung. Selain itu tidak ada lagi," jawab Hani dengan sangat yakin.


Semua dokter yang ada di ruangan tersebut saling memandang. Salah satu dokter menganggukkan kepalanya pada mereka semua dan berkata,

__ADS_1


"Bisa saja ini karena faktor keturunan. Jadi pasien mempunyai penyakit jantung turunan dari sang kakek. Tapi ini masih dugaan. Saya sarankan sebaiknya Bapak dan Ibu periksakan puteranya ke rumah sakit jantung untuk diperiksa lebih lanjut."


Hani mencengkeram tangan suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca dan hatinya sungguh sangat takut akan kenyataan jika benar adanya putera kesayangannya itu mengidap penyakit jantung.


Sama dengan Hani, Abhiyasa juga sangat takut jika apa yang dikatakan oleh dokter itu benar terjadi. Akan tetapi dia harus kuat untuk bisa menjadi sandaran istri dan anaknya. Dalam hatinya dia berteriak dan menangis, hanya saja dia menahannya. Dia tidak boleh mengeluarkan air matanya agar istrinya tidak bertambah sedih.


Tangan Hani yang mencengkeram tangan Abhiyasa diraih oleh suaminya itu dan digenggamnya dengan erat, seolah mengatakan jika ada suaminya yang akan selalu menjadi penguatnya.


Hani menatap suaminya dengan tatapan kesedihan dan matanya yang berkaca-kaca itu mengatakan segalanya, sehingga tanpa berucap pun suaminya tahu apa yang dirasakannya saat ini.


Abhiyasa tersenyum pada istrinya dan menganggukkan kepalanya seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Ini surat rujukan dari kami Pak. Setelah ini dokter akan memeriksa keadaan pasien. Sebaiknya Bapak dan Ibu segera memeriksakan pasien ke rumah sakit yang kami sarankan," ucap dokter yang menangani Aksa sambil menyerahkan surat rujukan pada Abhiyasa.


Abhiyasa menerima surat rujukan tersebut seraya berkata,


"Terima kasih dok. Kami akan segera memeriksakan putera kami ke rumah sakit jantung yang dokter sarankan."


Setelah itu Abhiyasa beranjak dari duduknya dan memegang kedua bahu istrinya untuk membantunya beranjak dari duduknya.


"Kami permisi dulu dok," ucap Abhiyasa sebelum keluar dari ruangan tersebut bersama dengan istrinya.


Hani menghentikan langkahnya. Dia duduk di kursi tunggu yang ada di koridor sepanjang jalan menuju kamar inap putera mereka. Dengan badan yang mendadak lemas Hani menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya agar air matanya tidak diketahui oleh orang lain yang sedang melihatnya.


Abhiyasa pun ikut duduk di kursi sebelah istrinya. Dia memeluk istrinya dari samping dan berkata,


"Honey, Sayang, kita harus kuat untuk Aksa. Dan aku yakin jika semuanya akan baik-baik saja. Kita harus berusaha semaksimal mungkin dan berdoa pada Allah agar penyakit Aksa diangkat dan dia bisa kembali pulih seperti sebelumnya."


"Tapi Abhi... Aksa...--"


"Yakinlah jika Allah maha segala-galanya. Dan hanya atas kuasa Allah lah Aksa akan sembuh dari penyakitnya," tutur Abhiyasa pada istrinya dengan lembut dan dia berusaha keras menahan air matanya agar tidak menetes di pipinya.


"Abhi... Aksa masih sangat kecil dan aku tau jika penyakit yang dikatakan oleh dokter itu--"

__ADS_1


Hani tidak bisa meneruskan ucapannya karena apa yang dilakukan oleh Abhiyasa saat ini.


__ADS_2