Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 20 Adik


__ADS_3

Abhiyasa menoleh ke arah Aksa berada, yaitu di tempat tidurnya. Sedangkan Hani, dia menoleh ke lain arah karena merasa malu dengan anaknya.


"Mata Mama kelilipan tadi. Papa membantu meniupnya," jawab Abhiyasa sambil tersenyum pada putranya.


"Benarkah Ma? Apa mata Mama sekarang baik-baik saja?" tanya Aksa yang sedang mengkhawatirkan mamanya.


Sontak saja Hani menghadap ke arah putranya berada. Kemudian dia tersenyum dan berkata,


"Mama baik-baik saja. Papa sudah berhasil mengeluarkannya dari mata Mama."


"Kalau begitu, Mama harus memakai kacamata, agar tidak kelilipan lagi," tutur Aksa pada mamanya.


Abhiyasa menahan tawanya mendengar penuturan putranya. Hani mencubit pinggang suaminya karena menertawakannya. Abhiyasa hanya bisa menahan cubitan itu tanpa mengeluarkan suara agar putra mereka tidak bertanya lagi apa yang sedang mereka lakukan.


Namun, cubitan Hani itu merupakan cubitan sayang bagi Abhiyasa. Dia tidak pernah keberatan menerimanya ketika Hani melakukannya setelah Abhiyasa menjahilinya. Dan cubitan itu tidak sakit bagi Abhiyasa, karena Hani juga tidak akan bisa memberikan cubitan yang terlampau sakit untuk menyakiti suaminya. Begitulah cara mereka mengutarakan rasa sayang mereka dalam bentuk candaan.


"Aksa, Sayang, sini yuk... kita makan kue sama-sama," ajak Hani sambil melambaikan tangannya pada putranya.


Aksa mengangguk dengan sangat antusias. Setelah itu dia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang duduk di sofa.


"Aksa mau kue yang mana, Sayang?" tanya Abhiyasa sambil mendekatkan meja agar lebih dekat lagi di hadapan mereka.


"Aksa mau makan yang itu dulu," jawab Aksa sambil menunjuk croflle dengan toping full coklat.


Abhiyasa mengambilkannya dan memberikannya pada Aksa seraya berkata,


"Makan pelan-pelan ya Sayang."


Aksa menganggukkan kepalanya seraya tangannya menerima croffle tersebut dari tangan papanya.


"Mmm... Enak... Pasti ini beli di tempat yang biasanya ya Pa?" tanya Aksa di sela kunyahannya.


"Bener banget. Kok Aksa bisa tau sih?" tanya Abhiyasa sambil mengusap lembut kepala putranya.


Aksa menelan kunyahannya. Setelah itu dia berkata,


"Karena rasa gak pernah bohong."


Hani dan Abhiyasa tertawa mendengar jawaban dari putra mereka. Mereka sangat terhibur dengan celotehan putra mereka. Dan itulah yang selalu mereka rindukan ketika Aksa sedang sakit saat itu.

__ADS_1


Kini mereka bertiga memakan kue yang telah disediakan oleh Abhiyasa itu bersama-sama. Momen ini menjadi momen pertama mereka setelah Aksa dirawat di rumah sakit.


"Pa, Ma, apa kita berangkat sekarang saja ke vila? Kita menginap di sana. Paginya, kita berjalan-jalan dan mengunjungi banyak tempat. Bagaimana Ma, Pa?" tanya Aksa sambil memandang mama dan papanya secara bergantian.


Abhiyasa dan Hani saling menatap, seolah mereka saling bertanya melalui mata mereka.


"Apa Aksa gak capek? Ingat apa kata dokter, Aksa dilarang capek. Mengerti kan?" tanya Abhiyasa sambil menatap putranya.


"Papa dan Mama gak perlu khawatir. Aksa akan selalu mengingat itu. Karena Aksa ingin sembuh dan selalu berkumpul bersama dengan Mama dan Papa," jawab Aksa dengan sangat yakin.


Hani memeluk putranya seraya mengusap rambutnya dan berkata,


"Jagoan Mama dan Papa memang pintar. Mama dan Papa juga menginginkan hal yang sama dengan Aksa, jadi Mama dan Papa harap agar Aksa selalu kuat dan mau menjalani pengobatan hingga selesai."


Aksa mendongakkan kepalanya melihat ke arah Mamanya. Kemudian dia berkata,


"Sampai kapan Ma?"


"Hanya kurang sebentar lagi Sayang. Aksa yang sabar ya. Setelah proses pengobatan dan penyembuhan selesai, Aksa pasti akan menjadi anak yang sehat dan kuat. Dan pastinya gak akan sakit lagi," sahut Abhiyasa.


Abhiyasa tahu jika istrinya merasa kesulitan menjawab pertanyaan putra mereka. Bukannya tidak bisa menjawab, Hani tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada putra mereka.


"Bagaimana Pa, apa kita bisa berangkat sekarang?"


"Honey, bagaimana?" tanya Abhiyasa pada istrinya.


"Aku terserah kamu saja Sayang. Jika memang kamu capek, besok saja kita berangkatnya. Tapi, jika kamu capek dan ingin berangkat sekarang, lebih baik kita menggunakan sopir saja," jawab Hani yang berusaha bijak dan tidak ingin mengecewakan hati putranya.


Abhiyasa tersenyum melihat istri dan putranya. Kemudian dia berkata,


"Jika ada kalian berdua di sisiku, mana mungkin aku bisa capek. Kalian berdua adalah semangatku."


"Jadi, apa kita berangkat sekarang Pa?" tanya Aksa dengan tatapan penuh harap pada papanya.


Abhiyasa tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada putranya.


"Yeeee... Kita berangkat sekarang...," seru Abhiyasa dengan binar bahagianya yang terpancar jelas pada wajahnya.


Setelah itu mereka menyiapkan semua kebutuhan mereka bertiga, mulai dari pakaian, kebutuhan pribadi dan sebagainya.

__ADS_1


"Sudah siap semuanya?!" tanya Abhiyasa dengan seruan riangnya.


"Siap...!" seru Aksa bersamaan dengan Hani.


Abhiyasa pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah mereka berdoa, mereka bernyanyi bersama sesuai dengan lagu yang sedang dinyanyikan oleh Aksa.


Merasa kelelahan, Aksa berhenti bernyanyi dan bermain game di ponselnya, hingga tanpa sadar dia terlelap dalam mimpinya.


Setelah beberapa saat, mobil yang dikendarai Abhiyasa memasuki halaman vila mereka. Bangunan yang megah dan dikelilingi dengan pemandangan yang sangat indah itu adalah milik Abhiyasa. Sedari dulu dia memiliki itu semua sebelum menikah dengan Hani, dengan harapan mengajak keluarganya berlibur di sana.


"Sayang, lebih baik Aksa digendong saja seperti biasanya. Mungkin dia kelelahan di jalan," ucap Hani ketika melihat ke belakang dan mendapati putra mereka sedang tidur nyenyak dengan bantal boneka kesayangannya.


"Baik Nyonya," tukas Abhiyasa sambil tersenyum pada istrinya.


Seperti biasanya, Abhiyasa membukakan pintu untuk istrinya terlebih dahulu. Kemudian dia menggendong putranya masuk ke dalam vila bersama dengan istrinya.


"Selamat datang Tuan, Nyonya," salam dua orang paruh baya laki-laki dan perempuan di teras vila tersebut.


"Pak, tolong bawakan barang-barang kami di bagasi mobil. Ini kuncinya," perintah Abhiyasa sambil memberikan kunci mobilnya pada laki-laki paruh baya tersebut.


"Silahkan Tuan, Nyonya, bik Inah sudah masak banyak untuk kalian. Setelah Tuan Abhiyasa memberi kabar pada Pak Cecep akan datang ke sini sekarang, bibik langsung memasak makanan kesukaan Tuan, Nyonya dan Den Aksa," ujar wanita paruh baya yang memanggil dirinya sendiri dengan nama bik Inah.


"Terima kasih Bik. Kita ke kamar dulu ya," ucap Abhiyasa sambil mengendong Aksa.


"Terima kasih ya Bik. Maaf, kami jadi merepotkan bik Inah dan Pak Cecep," tukas Hani pada bik Inah.


"Apa kita sudah sampai Pa?" tanya Aksa yang tiba-terbangun ketika berada dalam gendongan papanya.


"Sudah Sayang. Apa Aksa mau tidur lagi di kamar?" tanya Abhiyasa yang masih menggendong putranya.


"Apa Aksa mau makan? Bik Inah sudah menyiapkan banyak makanan untuk kita," sahut Hani dengan riangnya.


"Aksa mau makan Pa," jawab Aksa sambil berusaha turun dari gendongan papanya.


Abhiyasa pun menurunkan putranya tepat di kursi makan yang biasanya ditempati oleh putranya. Mereka bertiga makan malam dengan situasi yang berbeda di tempat yang berbeda, tidak seperti hari-hari biasanya.


Setelah mereka selesai makan malam, mereka membawa Aksa ke kamar untuk tidur bersama dengan mereka. Kini Aksa berada di antara mama dan papanya. Dia melihat mama dan papanya secara bergantian dan bertanya,


"Ma, Pa, apa Aksa akan mempunyai adik?"

__ADS_1


__ADS_2