
"Kita baru saja sampai di rumah kita, Sayang," jawab Abhiyasa pada Aksa yang ada dalam gendongannya.
"Aksa kira sudah sampai vila, ternyata Aksa bermimpi," ucap Aksa sambil tersenyum lebar.
Abhiyasa tersenyum mendengar ucapan dari putranya. Dia baru menyadari jika putranya itu sangat ingin untuk berlibur bersama dan menginap di vila mereka seperti biasanya.
"Ya sudah. Lebih baik Aksa tidur lagi saja ya," sahut Hani yang berjalan di samping mereka.
Aksa menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia kembali memejamkan matanya dalam gendongan papanya, Abhiyasa.
Hani segera membukakan pintu kamar Aksa agar Abhiyasa yang menggendong putra mereka bisa masuk ke dalam kamar tersebut.
Dengan perlahan Abhiyasa merebahkan tubuh putranya agar tidurnya tidak terganggu. Hani duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut, kemudian Abhiyasa pun menyusulnya, dia duduk di samping istrinya.
"Abhi, lebih baik kamu membersihkan badan terlebih dahulu dan bergantilah pakaian," tutur Hani sambil tersenyum melihat suaminya.
"Baiklah, kita akan bergantian untuk menjaganya," tukas Abhiyasa sambil tersenyum manis dan beranjak dari duduknya.
Hani menghela nafasnya melihat putra kesayangannya sedang terbaring di tempat tidurnya. Matanya mulai berkaca-kaca dan dalam hatinya berkata,
Apakah ini ujian bagiku setelah menjadi mualaf Ya Allah...? Kenapa harus ujian seberat ini? Kenapa harus putra hamba Ya Allah...?
Tanpa terasa air mata Hani menetes ke pipinya menyertai emosi hatinya. Dia tidak menyalahkan takdir yang ditentukan oleh Allah karena Abhiyasa, suaminya itu selalu meyakinkan padanya jika takdir Allah sangat indah dan pasti yang terbaik untuk umatnya.
Namun, dia hanya ingin bertanya dan sedikit mengharap belas kasih dari sang penguasa jagad raya ini. Dia ingin jika putranya kembali sehat dan ceria seperti sebelumnya.
Hani tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana bisa dia hidup tanpa putranya. Apa lagi dia merasa jika semua ini, penyakit yang sedang di derita oleh Aksa saat ini merupakan faktor genetik darinya.
Berat, sungguh sangat berat baginya untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri. Penyakit turunan itu datang dari papanya, akan tetapi dia tidak menuruninya, kini penyakit itu menurun pada Aksa, putranya.
Hatinya sungguh sakit. Air mata itu pun tidak berhenti-berhentinya keluar dari pelupuk matanya. Tangan kiri Hani menutup mulutnya dan tangan kanan Hani memukul-mukul pelan dadanya untuk menyingkirkan rasa sakit dalam dadanya.
Klek!
Pintu kamar itu pun terbuka. Abhiyasa masuk ke dalam kamar tersebut dengan membawa nampan yang berisi beberapa kue dan dua cangkir teh hangat.
Hani segera mengusap air matanya dengan kasar dan cepat, agar suaminya itu tidak melihatnya.
__ADS_1
Abhiyasa tersenyum sambil berjalan menghampiri istrinya dengan tangannya yang membawa nampan. Diletakkannya nampan tersebut pada meja yang ada di dekat mereka.
"Honey, aku bawakan camilan dan teh untuk kita," ucap lirih Abhiyasa sambil tersenyum pada istrinya.
Hani membalas senyum suaminya. Sayangnya suaminya itu tahu jika senyuman istrinya itu dipaksakan. Terlebih lagi, dia melihat ada jejak air mata di wajah istrinya.
Kedua tangan Abhiyasa memegang kedua pipi istrinya. Dia mengusap lembut jejak air mata itu seraya berkata,
"Jangan menangis Honey. Aku tau ini berat bagimu. Kamu pasti menyalahkan dirimu lagi. Tapi ketahuilah, Allah akan menyiapkan kebahagiaan pada kita setelah menguji umatnya."
"Apa itu benar Abhi?" tanya Hani dengan suara yang bergetar.
Abhiyasa menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Benar Honey, kamu harus yakin itu, Sayang. Yakin jika Allah itu selalu ada untuk kita. Dan yakin jika Allah tidak akan membiarkan umatnya menderita."
"Tapi Abhi, kenapa harus--"
"Mungkin ini yang harus kita lewati untuk menuju kebahagiaan. Tetaplah yakin Honey. Dan percayalah hanya pada Allah," sahut Abhiyasa dengan sangat bijak dalam penuturannya.
Hani tersenyum pada suaminya, setelah itu dia menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Aku percaya itu Abhi."
Abhiyasa meraih tubuh istrinya dan memeluknya. Setelah beberapa saat, dia mengurai pelukan itu.
Tangan Abhiyasa meraih kue kesukaan Hani dan menyuapkannya. Dengan senang hati Hani menerima suapan dari tangan suaminya.
"Beli macaron di mana Sayang? Kok rasanya seperti--"
"Benar sekali Sayangku...," sahut Abhiyasa sambil mencubit gemas hidung istrinya.
"Kapan kamu beli semua ini?" tanya Hani sambil melihat kue yang ada di atas meja.
Abhiyasa tersenyum dan kembali menyuapkan sisa macaron yang digigit oleh Hani tadi. Kemudian dia berkata,
"Aku order via delivery. Tadi bik Sumi yang menerima ketika aku sedang mandi."
__ADS_1
Hani tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengunyah macaron kesukaannya. Dalam hati Hani sungguh bersyukur sekali telah dipersatukan oleh Allah dengan Abhiyasa. Suaminya itu sangat mencintainya, sangat perhatian padanya dan mengerti sekali akan dirinya.
"Mau coba croffle nya? Itu juga dari tempat kesukaanmu," tanya Abhiyasa sambil menyuapkan croffle dengan toping coklat kesukaan istrinya.
Hani tersenyum dan membuka mulutnya setelah menelan macaron yang dikunyahnya. Croffle dengan toping coklat itu kini memanjakan mulutnya.
Suaminya itu tahu betul bagaimana caranya membuat mood istrinya membaik dan dia tahu bagaimana caranya menghilangkan stres istrinya.
Abhiyasa akan kembali menyuapkan gigitan croffle milik Hani tadi pada Hani, sayangnya Hani menghentikannya. Tangan Hani menghentikan tangan Abhiyasa seraya berkata,
"Sudah Abhi, aku akan mandi dulu. Nanti saja aku makan kue-kue itu lagi bersama dengan Aksa."
Abhiyasa mengangguk setuju. Kemudian dia berkata,
"Minum tehnya dulu Honey, selagi hangat."
Hani pun menyetujuinya. Dia mengambil secangkir teh hangat yang dibawa oleh suaminya. Hanya dua kali sesapan teh saja, setelah itu Hani meletakkan kembali cangkir teh tersebut di atas meja.
"Sayang, aku mau mandi dulu ya," pamit Hani pada suaminya.
"Dandan yang cantik ya," tukas Abhiyasa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Hani menggelengkan kepalanya sembari pergi meninggalkan kamar tersebut dengan debaran dalam jantungnya karena tingkah suaminya.
Setelah beberapa saat, Hani memasuki kamar putranya dengan dress yang biasanya dipakainya di rumah. Rambut yang sedikit basah dan wajah segar tanpa make up itulah yang diminta Abhiyasa setiap kali mengatakan pada istrinya untuk berdandan cantik.
Selama di rumah sakit, Hani memakai make up natural. Dan tetap saja Abhiyasa masih menyukai wajah polos tanpa make up Hani ketika berada di rumah.
"Duduk sini Honey," pinta Abhiyasa sambil menepuk sofa di sebelahnya.
Hani pun menurutinya. Dia duduk di sebelah suaminya, tempat yang tadinya didudukinya sebelum keluar dari kamar itu. Abhiyasa mengarahkan tubuh Hani untuk menghadapnya. Dia menatap wajah istrinya itu tanpa berkedip, seolah tidak pernah bosan meskipun setiap detik memandangnya.
"Abhi, kenapa? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Hani sambil menggerakkan bulu mata lentiknya naik turun.
"Aku hanya ingin sepuasnya memandang wajah cantik istriku," jawab Abhiyasa sambil menggerakkan wajahnya semakin maju, sehingga wajahnya semakin dekat dengan wajah Hani.
"Papa sama Mama lagi ngapain?"
__ADS_1