Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 34 Kebahagiaan Setelah Kesedihan


__ADS_3

Di atas sebuah kursi roda, seorang wanita dengan wajah pucat menangis tersedu-sedu melihat jasad seorang bayi yang dimasukkan ke liang lahat. Dalam hatinya sungguh tidak rela melihat bayi tersebut hilang dari penglihatannya. Apalagi dia tidak bisa memangkunya meskipun hanya sekali.


Tangisannya sungguh menyayat hati. Tangisan seorang ibu yang sedang menangisi bayinya. Semua orang merasa iba padanya.


Tangisnya semakin pecah ketika Abhiyasa, sang ayah bayi yang berada di dalam liang lahat sedang menggendong bayi itu untuk diletakkan di dalam liang lahat tersebut.


Hati Abhiyasa sangat sakit mendengar tangisan istrinya. Ingin sekali dia memeluknya dan menenangkannya untuk sama-sama berbagi kesedihan mereka.


Namun, dia harus mengantar kepergian bayi mereka untuk terakhir kalinya. Kesedihan yang tidak bisa diperlihatkan oleh Abhiyasa itu sangat menyakitkan dan menyesakkan hatinya.


"Honey, ikhlaskan dia. Kelak dia akan menolong kita di alam mahsyar," ucap Abhiyasa dengan suara yang bergetar sambil membawanya dalam pelukannya.


Hani membalas pelukan suaminya. Dia mencengkeram erat baju suaminya dan menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya.


"Menangislah Honey, agar kamu bisa tenang. Setelah ini jangan menangis lagi. Anak kita pasti gak suka melihat orang tuanya menangis. Apalagi mamanya yang menangis. Pasti dia akan sangat sedih melihatmu menangis," sambung Abhiyasa yang sedang menahan air matanya agar tidak menetes.


Seketika tangisan Hani semakin keras. Sepertinya dia menuruti perintah suaminya untuk menghabiskan air mata kesedihannya saat itu juga. Lama sekali dia menangis tersedu-sedu, hingga akhirnya tangisannya melemah.


Merasa suara tangisan istrinya semakin melemah dan cengkeraman tangan istrinya pada bajunya semakin mengendur, Abhiyasa mengurai pelukannya.


"Honey!" seru Abhiyasa dengan paniknya ketika melihat istrinya sudah lemas dengan matanya yang terpejam.


Dengan segera Abhiyasa menggendong istrinya masuk ke dalam mobil dan kembali ke klinik tempatnya di rawat.


Dokter pun segera memeriksa kondisi Hani saat ini. Kedua orang tua Hani serta kedua orang tua Abhiyasa sangat cemas saat ini. Terlebih lagi Abhiyasa dan Aksa. Bahkan Aksa saat ini sedang menangisi mamanya. Dia takut terjadi apa-apa dengan mamanya.


"Kondisi istri Bapak baik-baik saja. Pasien hanya sedang dalam kondisi lemah dan kelelahan saja. Setelah pasien sadar, saya akan memeriksanya kembali," ujar dokter setelah memeriksa kondisi Hani.


Abhiyasa bernafas lega mendengar ucapan dari dokter tentang kondisi Hani saat ini. Dia menganggukkan kepalanya dan berkata,

__ADS_1


"Baik dok, saya akan memanggil dokter setelah istri saya bangun. Terima kasih dok."


Dokter pun menganggukkan kepalanya dan segera keluar dari ruangan tersebut. Dia tidak mau mengganggu keluarga tersebut yang sedang berduka saat ini.


Setelah beberapa saat, Hani pun terbangun. Dia hanya diam seolah sedang larut dalam pikirannya sendiri. Hanya air matanya yang menetes di pipinya. Bahkan Abhiyasa dan Aksa yang mengajaknya berbicara pun tidak dihiraukannya.


Dengan tergesa-gesa dokter segera datang ke ruangan tersebut setelah menerima panggilan telepon dari Abhiyasa yang mengatakan keadaan Hani saat ini.


Dokter tersebut segera memeriksa kondisi Hani. Dia menghela nafasnya ketika Hani tidak merespon apa yang dikatakannya.


"Pak, sepertinya kita membutuhkan bantuan dokter psikolog. Istri Bapak sangat terpukul dengan kematian bayinya," tutur dokter tersebut pada Abhiyasa.


Abhiyasa terduduk lemas, kakinya tidak kuat menahan tubuhnya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh dokter. Kemudian dia berkata,


"Lakukan saja dok. Tolong sembuhkan istri saya dan pulihkan dia sepenuhnya."


"Kami akan berusaha Pak. Kami juga membutuhkan doa serta kesabaran Bapak dalam membantu pemulihan istri Bapak," tukas dokter tersebut yang menatap iba pada Abhiyasa.


Dokter tersebut keluar dari ruangan itu setelah berpamitan pada Abhiyasa dan semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


Selang beberapa saat kemudian, datanglah seorang dokter wanita yang memeriksa kondisi Hani saat ini. Dia adalah dokter psikolog yang akan membantu memulihkan psikis Hani yang terguncang karena kehilangan bayinya untuk selamanya.


Semua orang keluar dari kamar inap Hani. Tinggallah Hani dan dokter tersebut dalam ruangan itu. Dokter berusaha membuat Hani nyaman dan mau berbicara dengannya.


Setelah beberapa saat, Hani mau membuka suaranya. Dia menceritakan semua isi hatinya. Bahkan rasa sakit hatinya pada cobaan hidupnya yang silih berganti diceritakannya dengan bulir air matanya yang tak henti-hentinya menetes di pipinya.


Merasa sudah cukup, dokter tersebut menyudahinya untuk hari ini. Dia segera keluar dari ruangan tersebut dan menceritakan semuanya pada Abhiyasa.


...----------------...

__ADS_1


Hari-hari berikutnya pun sama. Kedua dokter itu masih menangani Hani. Mereka sama-sama berusaha untuk memulihkan kondisi Hani agar bisa pulih secara bersamaan.


Usaha mereka tidak sia-sia. Selang beberapa hari berikutnya, Hani dinyatakan sembuh total. Dia sudah bisa bercanda kembali dengan keluarganya. Saat itu juga kedua dokter tersebut memperbolehkan Hani untuk pulang.


"Honey, terima kasih sudah kuat menghadapi semuanya bersamaku. Kita mulai semuanya kembali layaknya lembaran baru yang belum tertorehkan tinta. Aku mencintaimu Honey. Aku sangat membutuhkanmu. Tolong jangan tinggalkan aku. Tetaplah bersamaku hingga maut memisahkan kita," ujar Abhiyasa sambil memegang erat kedua tangan Hani yang sedang duduk di depannya.


Abhiyasa menatap lekat manik mata istrinya yang sedang tersenyum haru dengan matanya yang berkaca-kaca. Mereka larut dalam suasana. Tanpa terasa bibir mereka pun menyatu seolah saling mengatakan isi hati dan perasaan mereka.


...----------------...


Hari-hari pun berlalu. Enam bulan sudah sejak Aksa dioperasi. Mereka melakukan pemeriksaan di rumah sakit jantung tempat Aksa dioperasi waktu itu. Dokter sangat senang memberitahukan hasil pemeriksaan tersebut. Perkembangan Aksa sangat baik. Bahkan kondisinya melaju pesat.


Enam bulan berikutnya Aksa kembali melakukan medical check up. Hasilnya sangat memuaskan. Dia dinyatakan sembuh total. Bahkan karena perkembangannya yang luar biasa pasca operasi, Aksa diangkat menjadi duta anak kesehatan jantung untuk tingkat provinsi.


Hani dan Abhiyasa seolah mendapatkan kekuatan baru saat ini. Mereka berdua merasa sangat bangga pada putra semata wayang mereka. Setelah kehilangan bayi mereka untuk selamanya, Abhiyasa tidak memperbolehkan Hani untuk hamil kembali. Dia tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Dia sangat takut kehilangan istri yang sangat dicintainya dan anak yang sangat mereka nantikan kelahirannya.


...----------------...


Hari, bulan dan tahun pun berganti dengan cepatnya. Aksa, putra kebanggaan mereka kembali memberikan kebahagiaan dan kebanggaan pada kedua orang tuanya.


"Selamat Sayang, kamu memang anak kesayangan dan kebanggaan Mama Papa," ujar Abhiyasa dengan bangga menepuk-nepuk lirih pundak putranya.


"Selamat Sayang," ucap Hani dengan matanya yang berkaca-kaca memeluk putranya.


Aksa benar-benar menjadi putra kebanggan Hani dan Abhiyasa. Dia menjadi lulusan terbaik akpol tahun ini. Betapa membanggakannya prestasi Aksa mulai dari kecil hingga saat ini. Dia selalu menjadi yang terbaik di antara yang terbaik.


Keluarga Abhiyasa dan Hani kembali merasakan kebahagiaan mereka setelah kehilangan bayi mereka untuk selamanya. Abhiyasa selalu berusaha agar kebahagiaan menyertai keluarganya. Hingga saat ini, hanya kebahagiaan yang ada dalam keluarga mereka.


...TAMAT...

__ADS_1


Untuk cerita kehidupan Aksa dan percintaannya, akan hadir di season selanjutnya.💜💜💜💜💜


__ADS_2