Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 8 Demam


__ADS_3

Abhiyasa membawa Aksa pulang setelah badannya tidak demam lagi. Aulia sebagai dokternya memperbolehkan Abhiyasa membawanya pulang karena dia tidak bisa lagi menghentikan keinginan Abhiyasa. Lagi pula Aulia tidak memiliki alasan yang tepat untuk menghentikan Abhiyasa membawa putranya pulang saat itu juga.


"Abhi, apa akan baik-baik saja jika kita membawa Aksa pulang?" tanya Hani ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Aksa sudah tidak demam. Dan nafasnya juga sudah tidak seperti tadi. Jika memang ada yang tidak sehat dengan tubuh Aksa, pasti dokter itu gak akan membiarkan kita untuk membawa Aksa pulang bersama kita. Meskipun aku meragukan keahliannya dalam mengobati pasien," jawab Abhiyasa sambil mengemudikan mobilnya.


Hani hanya bisa menghela nafasnya mendengar jawaban dari suaminya. Dia tidak bisa membantahnya dan tidak bisa menghentikan keputusan suaminya. Terlebih lagi apa yang dikatakan oleh suaminya memang benar adanya.


Dia menoleh ke arah belakang untuk melihat putra kebanggaannya itu sedang tertidur pulas dengan memeluk guling boneka kesayangannya seolah tidak terganggu dengan suara mama dan papanya.


"Abhi, pelan-pelan saja, Aksa sedang tertidur. Kasihan jika dia harus terbangun karena terganggu," ujar Hani sambil memperhatikan suaminya yang sedang mengemudikan mobil tersebut.


Abhiyasa pun menuruti perkataan istrinya. Dia mengurangi kecepatan mobil yang dikendarainya agar putra kesayangan mereka tidak terbangun.


"Honey, maafkan aku," ucap Abhiyasa tanpa menoleh ke arah sampingnya, di mana Hani berada.


Hani mengernyitkan dahinya mendengar kalimat permintaan maaf yang diberikan Abhiyasa padanya. Kemudian dia berkata,


"Maaf? Maaf untuk apa Abhi?"


"Maaf karena membawa Aksa ke tempat tadi sehingga bertemu dengan wanita gak tau diri itu," jawab Abhiyasa sambil fokus mengemudikan mobilnya.


"Sayang... kenapa harus minta maaf. Tindakan kamu sudah tepat. Sebagai seorang papa kamu segera membawa anakmu menuju tempat pengobatan terdekat agar segera mendapatkan pertolongan. Jadi... kenapa kamu harus meminta maaf?"


Abhiyasa menghela nafasnya mendengar perkataan istrinya. Dia masih mengemudi dan fokus pada jalanan yang ada di hadapannya. Kemudian dia berkata,


"Aku lupa jika di sana ada wanita sialan itu. Jadi, tolong sepanik apa pun kamu, ingatkan aku untuk mencari tempat pengobatan lain tanpa harus ke tempat itu tadi."


"Abhi, di tempat itu bukan hanya ada Aulia sebagai dokternya. Masih banyak dokter lain yang ada di tempat itu. Jadi... kita gak seharusnya menghindari tempat itu," tukas Hani mencoba untuk mengingatkan suaminya agar tidak menuruti emosinya.

__ADS_1


"Memang benar katamu istriku. Hanya saja suamimu ini tetap merasa gak nyaman berada di sekitar wanita yang gak tau diri itu," sahut Abhiyasa yang benar-benar tidak nyaman jika satu tempat dengan Aulia.


Hani tersenyum melihat wajah tampan suaminya yang benar-benar setia pada cintanya. Dalam hatinya berkata,


Sungguh sangat bersyukurnya aku memiliki seorang Abhiyasa Nareswara menjadi imamku, cintaku dan suamiku yang luar biasa.


Abhiyasa sedikit melirik ke arah istrinya meskipun dalam keadaan menyetir. Kemudian dia berkata,


"Jangan sedih Sayang. Aksa pasti baik-baik saja. Dia anak yang kuat dan mempunyai banyak rencana dalam hidupnya. Jadi... kita lihat saja, apa dokter yang akan menaklukannya atau dia yang berhasil menaklukan semua ini agar kembali menjadi normal."


Hani menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan suaminya. Dia kembali melihat ke belakang dan mendapati putranya sedang tertidur dengan sangat pulas.


"Sepertinya putra kesayangan kita ini baik-baik saja. Dia hanya sedikit bergerak dan tertidur pulas tanpa gangguan dari pihak lain," ujar Hani sambil menatap waja damai putranya.


Abhiyasa tersenyum mendengar perkataan Hani yang serius padanya. Tanpa sadar mobil yang mereka tumpangi sudah berada di halaman rumah mereka.


Tanpa membangunkannya, Abhiyasa membawa Aksa, putra mereka masuk ke dalam kamarnya. Hani dan Abhiyasa duduk di sofa yang ada dalam kamar tersebut.


Hani melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Kemudian dia berkata,


"Sudah jam segini, tanggung. Lagi pula aku tadi sudah meminta ijin pada semuanya. Jadi lebih baik aku berada di sini menemani jagoan tampanku itu."


Abhiyasa tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkataan dari istrinya.


"Kalau kamu bagaimana Sayang. Apa kamu akan kembali ke kantor?" tanya Hani dengan tatapan menyelidik.


"Tentu saja aku gak akan meninggalkan istri dan putraku. Apalagi Aksa sedang sakit. Jika aku pergi bekerja sekarang, percuma saja, karena nantinya di sana aku gak bakalan bisa bekerja. Pasti aku akan kepikiran kalian terus," jawab Abhiyasa sambil tersenyum dan tangannya mengusap lembut rambut istrinya.


Hani menyandarkan kepalanya pada dada bidang Abhiyasa Dia mencari tempat ternyaman setelah mereka mengalami kerumitan dan kepanikan hari ini. Abhiyasa memeluk erat tubuh istrinya itu dengan mengerahkan seluruh rasa cintanya pada pemilik hatinya itu.

__ADS_1


Tanpa terasa mata mereka pun terpejam. Sore itu mereka lewati dengan tidur bersama dalam satu kamar, hanya saja Aksa tidur di tempat tidurnya, sedangkan Abhiyasa dan Hani tidur di sofa yang berada dalam kamar tersebut dengan saling berpelukan.


"Mmm... Mama... Papa... air... minum... Aksa haus...," rengek Aksa dengan mata yang terpejam.


"Ma... Pa... haus... minum...," rengek Aksa kembali yang masih saja memejamkan matanya.


Indera pendengaran Abhiyasa menangkap suara rengekan putranya. Seketika mata Abhiyasa terbuka. Dia menatap sekelilingnya dan kembali mendengar suara rengekan putranya.


"Honey, Sayang, bangun. Aksa minta minum," ucap Abhiyasa lirih berusaha membangunkan istri cantiknya itu.


Mata Hani dengan cepatnya terbuka. Dia segera beranjak dari tempatnya saat ini. Dengan mata yang masih belum sepenuhnya terbuka, Hani mengusap-usap matanya agar kedua matanya itu bisa terbuka dengan sempurna.


Abhiyasa mengangkat tubuh istrinya menuju tempat tidur putra mereka. Melihat Aksa yang kembali berkeringat hingga kedua tangannya basah kuyup membuat Hani dan Abhiyasa cemas dan panik.


"Aksa kenapa berkeringat lagi seperti ini Abhi?" tanya Hani dengan paniknya.


Abhiyasa memegang tangan putranya dan mengusap keringatnya agar tangan putranya kembali kering.Sedangkan Hani, tangannya menyentuh dahi putranya untuk menyeka keringatnya. Mata Hani terbelalak mendapati kenyataan yang membuatnya semakin cemas.


"Abhi," panggil Hani dengan paniknya.


"Hmmm... ada apa sih Sayang?" tanya Abhiyasa sambil mengusap keringat putranya di kedua tangannya.


"Sayang, coba pegang dahi Aksa," ucap Hani sambil menarik tangan Abhiyasa.


Abhiyasa pun menuruti perintah istrjnya. Dia meletakkan telapak tangannya pada dahi putra mereka. Seketika mata Abhiyasa terbelalak ketika tangannya berada di dahi putranya.


"Honey, kenapa dahi Aksa panas sekali?" tanya Abhiyasa yang tidak kalah panik dengan Hani.


Hani menggelengkan kepalanya seraya berkata,

__ADS_1


"Aku gak tau Abhi. Tiba-tiba saja Aksa badannya panas. Apa yang sebenarnya terjadi?"


__ADS_2