Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 9 VIP


__ADS_3

"Lebih baik kita bawa saja Aksa ke dokter spesialis anak," ujar Abhiyasa dengan paniknya.


"Dokter spesialis anak di mana jam segini yang masih buka?" tanya Hani disertai helaan nafasnya.


"Ya sudah, kita bawa saja Aksa ke klinik yang ada di dekat sini. Klinik yang buka dua puluh empat jam," jawab Abhiyasa sambil menggendong putranya.


Hani segera mengambil tasnya dan menyambar ponsel miliknya dan milik suaminya yang ada di atas meja. Dengan tergesa-gesa dia mengikuti suaminya yang sudah terlebih dahulu berjalan keluar kamar menuju mobil.


Hani duduk sambil memangku kepala putranya yang sedang memejamkan matanya di kursi belakang. Sedangkan Abhiyasa berada di kursi pengemudi untuk mengemudikan mobilnya.


"Honey, bagaimana jika kita bawa Aksa ke klinik dekat kantor kamu saja?" tanya Abhiyasa tanpa menoleh ke belakang, di mana istri dan anaknya berada.


"Terserah kamu saja Abhi, di sana juga bagus dan sepertinya peralatannya juga lengkap," jawab Hani sambil mengusap lembut rambut putranya.


Abhiyasa sedikit mempercepat laju kendaraannya. Dia tidak ingin membuang-buang waktunya agar putranya cepat mendapatkan pertolongan.


Setelah beberapa saat, mobil mereka memasuki parkiran klinik yang berada tidak jauh dari kantor tempat Hani bekerja. Bangunan besar dengan tempat parkir yang luas itu tidak kalah dengan rumah sakit tempat mereka memeriksakan Aksa sebelumnya.


"Dok, cepat periksa anak saya. Badannya demam dan seluruh tubuhnya berkeringat," ucap Hani dengan paniknya mendahului Abhiyasa yang ada di belakangnya sambil menggendong putranya.


Mata Aksa sedikit demi sedikit terbuka. Dia mengerjapkan matanya dan mengusap kedua matanya seraya berkata,


"Kita ada di mana Pa? Kenapa Aksa digendong sama Papa?"


Abhiyasa yang tadinya menatap lurus ke depan, seketika mengalihkan perhatiannya pada putranya yang ada dalam gendongannya. Kemudian dia berkata,


"Kita sedang berada di klinik, Sayang. Badan Aksa panas, jadi kita harus memeriksakan kamu."


"Cepat bawa ke sini Bu," ujar seorang perawat sambil menunjuk tempat tidur yang ada di dekatnya.


Dengan segera Abhiyasa merebahkan putranya pada tempat tidur yang telah ditunjukkan oleh perawat itu padanya.


Dokter yang berjaga di IGD klinik tersebut telah datang. Dia segera memeriksa Aksa dan bertanya,


"Apa saja yang dirasakan?"


"Badannya demam dok. Dan setiap malam ketika tidur dia selalu berkeringat seluruh tubuhnya. Bahkan kita selalu menggantikan piyamanya sekali ketika dia tertidur dengan pakaian yang basah karena keringatnya," jawab Hani mewakili putranya.

__ADS_1


Dokter wanita tersebut memeriksa dengan seksama. Kemudian dia menghadap ke arah Hani dan Abhiyasa seraya berkata,


"Sebaiknya putra Bapak dan Ibu dirawat di sini malam ini agar kita bisa memantau perkembangannya."


"Baik dok," tukas Hani sambil memegang tangan putranya.


"Apa sebelumnya pasien sudah diberikan obat?" tanya dokter tersebut sambil menatap Hani dan Abhiyasa secara bergantian.


"Sudah dok. Tadi dia sudah meminum obat dari dokter," jawab Hani dengan tegas, tanpa ragu-ragu.


"Obat? Obat apa? Apa Bapak dan Ibu hafal nama obat-obatnya?" tanya dokter wanita tersebut sambil mengernyitkan dahinya.


Abhiyasa menghela nafasnya. Terlihat sekali wajah kesalnya saat ini ketika mengingat dokter yang tadi menangani putranya adalah Aulia.


"Tadi pagi sebenarnya anak kami ini jatuh ketika sedang bermain bola. Setelah itu nafasnya menjadi tersengal-sengal dan badannya panas. Kami membawanya ke rumah sakit Harapan, tapi dokter yang menanganinya mengatakan jika anak kami baik-baik saja, sehingga kami diperbolehkan pulang saat itu juga," jelas Abhiyasa disertai helaan nafasnya.


Dokter wanita itu menatap heran pada Aksa. Kemudian dia berkata,


"Sepertinya ada yang aneh dengan pasien. Sekarang saya akan memberikan obat untuk menurunkan demamnya. Besok kita akan memeriksanya kembali."


"Sebaiknya pasien segera dipindahkan ke kamar inap dan segera digantikan bajunya," tutur dokter wanita tersebut yang terdapat tulisan nama pada bajunya, Liana.


Hani dan Abhiyasa mengikuti putera mereka yang sedang dipindahkan ke ruang kamar inap yang sudah dipilih oleh Abhiyasa. Mereka berdua memilih kamar VIP agar putera mereka merasa nyaman dan tenang, tidak terganggu oleh berisiknya pasien lainnya.


"Aksa ganti piyama dulu ya Sayang," tutur Hani sambil menggantikan piyama puteranya yang basah karena keringatnya itu dengan piyama baru yang mempunyai logo dari klinik tersebut.


"Aksa ngantuk Ma. Aksa mau tidur dulu," ucap Aksa sambil mengusap-usap kedua matanya.


Aksa, putra mereka yang pintar dan penurut itu segera tidur kembali setelah berganti pakaian. Sepertinya dia mengantuk karena terkena efek obat yang diberikan oleh dokter padanya.


Hani menatap iba pada puteranya yang kini sedang tertidur dengan memakai selang infus yang ada di tangannya.


"Jangan khawatir Honey, pasti jagoan tampan kesayangan kita itu akan baik-baik saja," tutur Abhiyasa sambil merangkul pundak istrinya.


Hani mengangguk ragu-ragu. Dan dia juga memberikan senyum kakunya untuk menanggapi perkataan suaminya.


"Sudah malam. Sebaiknya kita tidur," tutur Abhiyasa kembali sambil mengajak istrinya berjalan menuju tempat tidur yang berada di dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Malam itu mereka bertiga harus menginap di kamar klinik yang benar-benar berkelas itu. Di sana, tepatnya di tempat tidur yang ada di dekat tempat tidur Aksa, mereka berdua tidur sambil menunggu putera mereka.


Tanpa mereka berdua rasakan, waktu bergulir dengan cepatnya, hingga tak terasa malam pun berganti pagi.


Pintu kamar itu diketuk dari luar seraya terdengar suara,


"Permisi, waktunya pemeriksaan."


Mata Abhiyasa dan Hani seketika terbuka. Mereka berdua segera bangun dari tidurnya dan merapikan pakaian serta rambut mereka yang kusut.


Abhiyasa segera berjalan menuju pintu kamar tersebut dan membukanya. Tampak di depan pintu seseorang yang memakai jas putih ditemani oleh perawatnya.


"Selamat pagi Pak. Saya akan melakukan visit sebelum jam jaga saya berakhir. Nanti akan ada dokter anak yang akan memeriksa putra Bapak," ujar dokter Liana, dokter yang berada di IGD semalam.


Abhiyasa menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Silahkan dok."


Dokter Liana ditemani oleh dua orang perawat sedang memeriksa Aksa. Setelah selesai melakukan pemeriksaan, dokter Liana pun berkata,


"Apakah pasien tidur dengan nyenyak semalam?"


"Iya dok, putra kami tidur dengan nyenyak. Apa dia baik-baik saja dok?" jawab Hani menanggapi pertanyaan dari dokter tersebut dan dia mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi ingin ditanyakannya.


"Kami masih belum yakin. Tapi kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan menggunakan alat dan pemeriksaan laboratorium. Bapak dan Ibu tidak keberatan bukan?" tanya dokter itu kembali pada Hani dan Abhiyasa.


"Tidak dok, kami tidak keberatan. Lakukan yang terbaik untuk anak kami dok," jawab Hani dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangisnya.


Abhiyasa mengerti apa yang sedang dirasakan oleh istrinya. Dia merangkul pundak istrinya dan berkata lirih,


"Tenanglah Honey, Aksa akan baik-baik saja."


Dokter Liana tidak tega melihat Hani yang terlihat sangat khawatir pada putranya. Kemudian dia berkata,


"Sebelumnya kami menduga bahwa pasien sedang mengidap penyakit...,"


"Sakit apa dok?" tanya Hani dengan sangat antusias.

__ADS_1


__ADS_2