Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 30 Keinginan Hani


__ADS_3

Kini Abhiyasa dan Hani sudah berada di dapur restoran milik Abhiyasa. Dengan berbekal bantuan dari chef yang bekerja di restoran tersebut, Abhiyasa mengeluarkan semua bahan makanan dari tempat penyimpanan bahan-bahan yang ada di dapur tersebut.


"Maaf Honey jika nanti rasanya gak sesuai dengan yang kamu inginkan," ucap Abhiyasa sambil menyiapkan side dish untuk steak yang akan dibuatnya.


Hani melingkarkan tangannya pada pinggang Abhiyasa dan memeluknya dari belakang serta menempelkan pipinya pada punggung suaminya seraya berkata,


"Apa pun rasanya, buatku makanan yang dimasak oleh suamiku tetap yang terbaik buatku. Apa lagi yang memasaknya adalah polisi tampan yang namanya sudah merajai hatiku sebagai suamiku."


Abhiyasa tersenyum. Dia menghentikan kegiatannya dan menghadap ke belakang. Ditatapnya dengan intens manik mata istrinya dan berkata,


"Banker cantik ini juga menjadi ratu hatiku sejak dulu hingga kapan pun."


Hani tersenyum malu mendengar perkataan suaminya. Tersirat rina merah pada wajahnya saat ini.


Abhiyasa tersenyum dan menarik tangan Hani. Dia membawa Hani masuk ke dalam walk in chiller untuk mencari apa yang sedang dibutuhkannya.


"Kenapa masuk ke sini Sayang?" tanya Hani yang terlihat bingung ketika sudah berada di dalam walk in chiller.


"Cari sayuran," jawab Abhiyasa sambil memilih-milih sayuran yang ada di sana.


"Tadi kan udah," tukas Hani sambil mengusap-usap lengannya dengan tangannya.


"Aku lapar. Aku mau masak sayuran," ujar Abhiyasa yang masih memilih sayuran tanpa menoleh ke arah istrinya.


Tiba-tiba saja Hani memeluk erat pinggang suaminya dan berkata,


"Sayang, dingin banget. Keluar yuk."


Abhiyasa menghentikan gerakannya. Dia memegang tangan istrinya dan memutar badannya. Senyumnya mengembang tatkala melihat wajah cantik istrinya yang menatapnya seolah menginginkan sesuatu.


Tangan Abhiyasa memegang dagu istrinya dan dengan cepatnya dia menyambar bibir istrinya yang sedari tadi terlihat seperti sedang menggodanya.

__ADS_1


Ciuman Abhiyasa dibalas oleh Hani. Hawa dingin di dalam tempat itu pun tidak menghalangi aktivitas mereka saat ini. Ciuman mereka begitu panas dan sangat menuntut, hingga mereka terbawa oleh suasana.


Tiba-tiba saja terdengar suara timer berbunyi dengan sangat kerasnya memenuhi seisi dapur, sehingga menghentikan ciuman panas mereka berdua.


Abhiyasa menghentikan ciuman mereka. Dengan nafas yang terengah-engah dia menautkan dahi mereka berdua. Kemudian dia berkata,


"Sudah saatnya aku memasak dagingnya."


"Sayang, kita pulang saja ya. Sepertinya aku sudah gak terlalu menginginkannya," ucap Hani sambil memegang tangan Abhiyasa ketika akan keluar dari tempat tersebut.


"Sudah gak lapar lagi?" tanya Abhiyasa dengan dahinya yang mengernyit.


Hani menganggukkan kepalanya dengan malu-malu dan berkata,


"Aku menginginkan hal lain di rumah."


Abhiyasa tersenyum mendengar ucapan istrinya. Dia menangkap sinyal dari mata istrinya saat ini. Abhiyasa merangkul pundak istrinya dengan erat dan mengajaknya keluar dari tempat itu.


"Aku sudah gak menginginkannya," jawab Hani dengan cepatnya.


Hani mengikuti suaminya dan kembali menempelkan tubuh bagian depannya pada punggung suaminya.


"Aku menginginkan hal lainnya," ucap Hani sambil membuat pola abstrak pada punggung suaminya dengan menggunakan jarinya.


Abhiyasa mengerti akan kode yang diberikan oleh istrinya. Dengan segera dia menghadap ke belakang dan meraih tubuh istrinya untuk digendongnya seraya berkata,


"Dengan senang hati Honey."


Akhirnya mereka meninggalkan dapur restoran tersebut tanpa memakan apa pun. Bahkan Abhiyasa belum sempat memasak apa pun saat ini.


Hari-hari berlalu. Sejak malam itu, Hani masih saja mengidam di malam hari. Akan tetapi dia hanya menginginkan Abhiyasa agar memasakkan makanan untuknya di rumah. Jauh dari kata mahal dan sulit, tidak sesuai dengan keinginan Hani setelah dinyatakan hamil oleh dokter Vina.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Abhiyasa, Hani selalu memakan manisan yang sangat asam dan makanan yang pedas jika sedang bekerja. Tidak hanya itu saja, dia menginginkan minuman yang asam dengan dalih keinginan bayinya. Padahal Abhiyasa sudah sering melarangnya karena penyakit asam lambung yang sering dideritanya.


Siang harinya Hani merasa perutnya sangat sakit hingga dia berkeringat dingin serta merasa tidak tahan sehingga tubuhnya lemas dan tidak bisa berkata apa pun.


Rekan kerja Hani melarikannya ke klinik terdekat dari tempat kerja mereka. Semua panik karena usia kandungan Hani yang sudah menginjak empat bulan itu membuat perutnya terlihat sedikit membesar.


Tepat pada saat itu Abhiyasa meneleponnya. Rekan kerja yang membawa Hani ke klinik segera mengambil ponsel Hani yang berada di dalam tasnya dan mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo Pak, maaf saya teman Hani. Sekarang kami sedang membawa Hani ke klinik yang ada di dekat kantor kami. Bapak langsung saja ke sana. Hani lemas, dia sepertinya enggan berbicara."


Hani sakit? Bagaimana keadaannya? Tolong, pindahkan ke video call, saya ingin melihatnya, perintah Abhiyasa yang terdengar panik saat ini.


Abhiyasa bertambah panik melihat wajah sayu yang berpeluh menghiasi wajah cantik istrinya. Dengan segera dia menuju mobilnya dan berangkat ke klinik yang diberitahukan oleh rekan kerja Hani.


Panggilan video call itu masih saja aktif. Abhiyasa tidak memperbolehkan mereka mematikannya. Dia ingin melihat istrinya hingga dia sampai di sana, bertemu dengannya.


Di ruang UGD klinik tersebut Hani sedang diperiksa oleh dokter yang bertugas saat itu. Abhiyasa tiba di sana ketika Hani masih diperiksa. Rekan kerja Hani memberikan tas dan ponsel Hani pada Abhiyasa.


Setelah beberapa saat, dokter keluar dari ruang UGD. Dia berhadapan dengan Abhiyasa sebagai wali dari pasien yang bernama Hani. Kemudian dia berkata,


"Sepertinya asam lambung pasien sudah sangat akut Pak. Apa pasien mengkonsumsi sesuatu yang membuat penyakit asam lambungnya kambuh hingga seperti ini?"


"Saya suaminya dok. Di rumah, istri saya tidak pernah mengkonsumsi makanan atau minuman yang membuat penyakit asam lambungnya kambuh. Tapi saya tidak tau jika dia mengkonsumsi sesuatu di saat sedang bekerja. Setiap saya tanya sih, dia hanya mengatakan makanan dan minuman yang biasa saja," jawab Abhiyasa yang masih terlihat panik saat ini.


"Emmm... Maaf, sebenarnya Hani di kantor sering sekali memakan manisan dan makanan pedas. Selain itu dia juga meminum minuman yang sangat asam. Siang ini pun dia baru saja makan dan minum itu semua," tukas rekan kerja Hani yang masih berada di sana.


Abhiyasa menghela nafasnya mendengar perkataan teman Hani yang mengantarkannya ke klinik tersebut. Dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga istrinya, apa lagi di saat istrinya sedang hamil, seperti saat ini.


"Maaf Pak, sudah jelas sekali penyebab dari apa yang dirasakan oleh pasien saat ini. Untuk sementara kita berusaha obati dulu penyakit asam lambungnya. Apa Bapak tidak keberatan?" tanya dokter tersebut pada Abhiyasa.


Abhiyasa merasa aneh dengan pertanyaan dari dokter tersebut. Dia mengernyitkan dahinya dan menatap dokter tersebut dengan tatapan penuh tanya. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Maaf dok, apa ada sesuatu yang harus saya ketahui?'


__ADS_2