Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 7 Kembali bertemu


__ADS_3

"Ada apa ini Pak? Apa yang terjadi?" tanya seorang perawat yang membantu Abhiyasa merebahkan tubuh Aksa pada tempat tidur yang ada di sana.


"Anak saya jatuh ketika bermain sepak bola. Tiba-tiba nafasnya tersengal-sengal dan badannya panas sekarang," jawab Abhiyasa yang terlihat sangat cemas saat ini.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Perawat tersebut, Hani dsn Abhiyasa menoleh ke arah pintu ruangan tersebut.


"Apa ada pasien darurat?" tanya seorang wanita yang memakai jas putih yang biasanya dipakai oleh dokter.


Mata Abhiyasa dan Hani terbelalak melihat sosok dokter wanita yang sedang berjalan menuju ke arah mereka.


"Ada dok, pasien seorang anak berumur...," ucapan perawat tersebut menggantung sambil melihat ke arah Abhiyasa dan Hani yang bermaksud meminta jawaban atas umur Aksa sebagai pasien.


"Dua setengah tahun," sahut Hani dengan tanggapnya.


Perawat tersebut tersenyum dan kembali memberikan informasi pada dokter wanita tersebut.


"Seorang pasien merupakan anak berumur dua setengah tahun yang terjatuh ketika bermain sepak bola dan setelah itu nafasnya tersengal-sengal serta badannya panas saat ini," ucap perawat tersebut memberikan informasi pada dokter wanita itu tentang pasien yang sedang ditanganinya saat ini.


Dokter wanita yang sedari tadi hanya memandang lurus ke arah Aksa yang terbaring sebagai seorang pasien, kini dia menoleh ke arah dua orang yang sedang berdiri di samping tempat tidur pasien tersebut.


"Abhiyasa?!" celetuk dokter wanita tersebut yang terlihat sedang terkejut ketika melihat keberadaan Abhiyasa dan Hani di sana.


Abhiyasa membuang mukanya ketika dokter wanita tersebut tersenyum padanya. Dokter wanita itu berjalan ke arahnya dan mengulurkan tangannya ketika sudah berada di depannya seraya berkata,


"Apa kabar Yasa?"


Abhiyasa benar-benar mengacuhkannya. Dia mengalihkan pandangannya pada putranya dan mengabaikan dokter wanita tersebut yang sedang berada di hadapannya.


Bahkan uluran tangan dokter wanita tersebut tidak diterima olehnya. Tangan dokter wanita tersebut masih saja bergantung di udara.


Melihat hal itu, Hani merasa kasihan pada dokter wanita tersebut. Dia menggapai uluran tangan dokter wanita itu untuk menjabat tangannya seraya berkata,


"Apa kabar Aulia? Sepertinya sudah lama kita tidak berjumpa."


Dokter wanita tersebut yang ternyata adalah Aulia, perempuan yang sedari dulu sangat menyukai Abhiyasa sehingga rela melakukan apa saja hanya demi Abhiyasa. Dia menatap tidak suka pada Hani yang sedang menjabat tangannya menggantikan Abhiyasa.

__ADS_1


Lancang sekali dia berani menjabat tanganku, gerutu Aulia dalam hatinya sambil melepaskan tangan Hani yang menjabat tangannya.


Anbhiyasa melirik apa yang dilakukan oleh Aulia pada Hani, istri tercintanya. Dia mengeram kesal dan marah, akan tetapi ditahannya karena situasi saat ini bukan saat yang tepat untuk menegur sikap kurang ajar Aulia pada Hani.


Aulia mendekati Aksa, bersiap untuk memeriksanya. Dia tersenyum dan berkata,


"Apa dia anak kamu Yasa? Tampan sekali dia, persis seperti kamu."


Abhiyasa semakin kesal mendengar suara Aulia. Apalagi terlihat jelas sikap buruknya yang ingin mengambil hati Abhiyasa dengan memuji Aksa, putra tampannya bersama dengan Hani.


Abhiyasa melihat ke arah perawat yang ada di dekat Aulia. Kemudian dia bertanya,


"Apa tidak ada dokter lainnya di rumah sakit ini?"


Perawat tersebut terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Abhiyasa padanya. Dia menoleh ke arah Aulia dan dengan gugupnya dia menjawab,


"Dokter di rumah sakit ini ada banyak Pak. Hanya saja yang bertugas di IGD sekarang ini hanya dokter Aulia."


Abhiyasa menghela nafasnya mendengar jawaban dari perawat tersebut. Apalagi dia melihat senyum Aulia yang seolah membanggakan dirinya di hadapannya ketika perawat tersebut menjawab pertanyaannya.


"Honey, lebih baik kita bawa Aksa ke rumah sakit lainnya."


"Abhi, jangan seperti itu. Lebih baik Aksa berobat dulu di sini," ucap Hani sambil memegang lengan suaminya dan tersenyum padanya, berusaha untuk menenangkannya.


Abhiyasa menghela nafasnya. Dia tidak pernah bisa membantah ataupun mengacuhkan permintaan istri tercintanya. Dia menatap istrinya dengan tatapan keberatan dan berkata,


"Tapi Honey, lebih baik--"


"Sayang...," sahut Hani dengan tatapan memohonnya sambil mengusap-usap lembut lengan suaminya.


Abhiyasa menghela nafasnya yang terdengar begitu berat. Dia kembali merebahkan tubuh putranya pada tempat tidur tersebut. Kemudian dia melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya dan menariknya agar lebih dekat padanya.


"Periksalah anakku. Dan jangan sampai salah diagnosa," ujar Abhiyasa dengan ketusnya.


"Abhi...," sahut Hani sambil memelototkan matanya pada Abhiyasa.

__ADS_1


Abhiyasa tersenyum tipis mendengar peringatan dari istri tercintanya itu. Tanpa malu pada siapa pun, dia tetap memeluk mesra istrinya seolah memberitahukan pada dunia, terutama pada Aulia bahwa Hani adalah istrinya dan mereka berdua tidak bisa dipisahkan oleh apa pun, kecuali kematian.


Aulia sangat kesal pada sikap Abhiyasa saat ini. Dia merasa Abhiyasa tidak bisa menghargai perasaannya dengan bersikap manis dan mesra pada istrinya di hadapan dirinya.


Dengan perasaan kesal dalam hatinya itu, Aulia memeriksa Aksa. Dia meletakkan stetoskop pada dada Aksa dan memeriksanya. Setelah selesai memeriksanya, dia memerintahkan pada perawat untuk memeriksa suhu badan Aksa.


"Bagaimana dok? Apa ada yang salah dengan Aksa? Apa penyakitnya dok?" tanya Hani dengan cemasnya.


"Menurut hasil pemeriksaan, tidak ada yang salah dengan anak anda. Mungkin karena kelelahan saja sehingga anak anda bersikap seperti itu," jawab Aulia dengan sangat percaya dirinya di hadapan Hani.


Dia sengaja bersikap seperti itu agar Hani mengetahui kehebatannya sebagai dokter yang menurutnya lebih keren daripada menjadi seorang banker.


"Kamu tidak bercanda kan? Apa kamu sudah memeriksanya dengan benar?" tanya Abhiyasa yang meragukan hasil pemeriksaan Aulia pada putranya.


Aulia menatap intens pada mata Abhiyasa. Dia menghela nafasnya mendengar pertanyaan Abhiyasa yang seolah sedang meragukan hasil pemeriksaannya.


"Aku sudah memeriksanya. Dan aku sangat yakin akan hal itu," jawab Aulia dengan sedikit kesal pada Abhiyasa.


"Lalu bagaimana dok? Apa putra kami harus dirawat di rumah sakit? Atau langsung diperbolehkan pulang?" tanya Hani mewakili Abhiyasa.


"Terserah kalian mau pulang atau dirawat di sini. Hanya saja saya menganjurkan untuk menginap di rumah sakit agar kita bisa memperhatikan perkembangannya," jawab Aulia yang masih betah menatap wajah tampan Abhiyasa.


Abhiyasa menatap kesal pada Aulia. Kemudian dia mendekati wajah istrinya dan berbisik di telinganya,


"Lebih baik Aksa kita bawa pulang saja Honey. Aku gak suka jagoan tampanku dipegang-pegang oleh dia."


Seketika Hani menahan tawanya. Permintaan Abhiyasa itu tidak bisa dibantahnya. Dan yang terpenting memang tidak bisa dipungkiri jika Hani tidak suka dengan cara Aulia menatap Abhiyasa mesipun berkali-kali mendapatkan penolakan dari Abhiyasa.


Hani tersenyum dan mengedipkan kedua matanya sebagai jawaban dari permintaan suaminya.


"Apa putra saya benar-benar baik-baik saja?" tanya Abhiyasa menyelidik.


"Dia baik-baik saja saya akan meresepkan obat-obat untuknya," jawab Aulia dengan sedikit kekesalannya.


"Dok, sebenarnya anak kami kenapa? Apa dia benar-benar hanya kelelahan saja?" tanya Hani menyela tatapan mata Aulia pada Abhiyasa yang sedang membenarkan selimut putranya.

__ADS_1


__ADS_2