
Abhiyasa lemas ketika mengetahui bayi yang akan dilahirkan oleh Hani berhenti berdetak jantungnya. Bahkan dokter sudah berusaha untuk mengembalikan detak jantung bayi tersebut, sayangnya sang pencipta telah mengambilnya kembali.
"Maaf Pak, kami turut berduka cita. Sepertinya istri Bapak benar-benar tidak rela untuk melahirkan bayinya sekarang, sehingga bayi tersebut pun tidak ingin dilahirkan. Kekuatan batin antara ibu dan anak benar-benar sangat kuat Pak. Kami tidak bisa melawannya dan melawan takdir dari sang kuasa," ujar dokter tersebut pada Abhiyasa yang masih menatap penuh kesedihan pada bayi mungil tersebut.
Bahkan air mata Abhiyasa saat ini menetes dengan sendirinya. Kesedihan hatinya semakin dalam. Air mata kesedihan itu tak dapat dibendungnya lagi. Dia manusia biasa yang juga bisa mengeluarkan air mata kesedihannya.
Badannya terasa lemah tak bertulang. Kakinya lemas tak bisa digerakkan. Dunianya serasa hancur mendengar kenyataan yang harus diterimanya saat ini.
Operasi pun berakhir. Bayi tersebut masih dalam proses untuk dibersihkan sebelum dimakamkan. Sedangkan Hani, dia pun kembali ke ruangannya. Dia kembali menerima pengobatan melalui infus.
Kedua orang tua Hani dan kedua orang tua Abhiyasa segera datang dengan membawa serta Aksa bersama mereka. Kini suasana menjadi haru dan penuh dengan air mata kesedihan.
Mereka semua tidak bisa membayangkan betapa kehilangannya Hani saat dia sadar nanti. Bahkan mereka merasa takut menyampaikan berita duka itu padanya.
"Ummm...."
Terdengar suara lenguhan dari bibir Hani ketika berusaha membuka matanya. Hani mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan binar cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.
"Honey, kamu sudah sadar? Sebentar, aku akan memanggil dokter terlebih dahulu," ucap Abhiyasa sambil memegang pipi istrinya.
Abhiyasa segera menekan tombol yang ada di dekat tempat tidur Hani untuk memanggil dokter. Sedangkan Hani, dia menatap heran pada sekelilingnya yang terdapat keluarga besarnya sedang berkumpul dan menatapnya dengan tatapan iba serta penuh kesedihan.
"Mama!" seru Aksa sambil berlari menghampiri mamanya.
Dia memeluk erat tubuh mamanya yang masih lemah dan belum bisa banyak bergerak. Bahkan Hani merintih merasakan sakit di bagian perutnya.
__ADS_1
Matanya terbelalak ketika mendapati perutnya sudah rata. Tangannya mengusap-usap perutnya seolah sedang mencari keberadaan bayi yang ada dalam kandungannya.
"Abhi, di mana bayiku? Di mana bayi kita? Apa dia sudah lahir?" tanya Hani lemah dengan tatapan penuh kesedihan pada Abhiyasa.
Abhiyasa memegang dengan erat kedua tangan istrinya. Dia menatap teduh mata istrinya dan berkata,
"Sayang, ikhlaskan semuanya. Allah mempunyai kehendak lain untuk kita."
"A-apa maksudmu?" tanya Hani dengan mata yang berkaca-kaca.
Abhiyasa menghela nafasnya yang terasa sangat berat dan menyesakkan dadanya. Di matanya terdapat kesedihan yang sangat mendalam dan tak dapat dikeluarkan, karena dia diharuskan kuat untuk menjadi sandaran istri dan anaknya.
"Bayi kita meninggal ketika akan dikeluarkan dari kandunganmu," ucap Abhiyasa dengan suara yang bergetar dan matanya yang berkaca-kaca mengatakan pada istrinya.
Seketika air mata Hani menetes dengan sendirinya. Bibirnya bergetar dan tangannya mencengkeram kuat selimut yang menutupi badannya.
Air matanya tumpah dengan sendirinya. Air mata kesedihan itu sangat menyayat hati Abhiyasa. Dia memeluk erat tubuh istrinya dan air matanya pun menyertai tangis histeris istrinya saat ini.
Abhiyasa tidak ingin menceritakan apa yang terjadi di ruang operasi saat ini. Dia juga tidak ingin mengatakan apa yang disampaikan oleh dokter sewaktu bayi itu tidak dapat diselamatkan. Semua itu tidak ingin dikatakannya saat ini, dia tidak ingin jika Hani kembali menyalahkan dirinya sendiri atas kehilangan bayi mereka. Cukup saat itu saja, saat Aksa mendapatkan penyakit jantung turunan dari keluarga Hani.
"Kenapa Allah begitu kejam padaku? Kenapa Allah selalu memberikan ujian pada keluarga kita? Aku mualaf dan masuk dalam agama islam dengan ikhlas, tanpa ada yang memaksaku. Aku juga selalu beribadah sesuai ajaran islam. Aku shalat lima waktu dan juga melaksanakan puasa. Bahkan aku melaksanakan shalat malam bersamamu Abhi. Tapi... Tapi mengapa Allah memberi kita cobaan yang sebesar ini?" tanya Hani dengan suara yang bergetar diiringi isakan tangisnya yang begitu menyayat hati.
Semua orang di ruangan itu menangis mendengar ucapan Hani. Bahkan tangisannya itu menggetarkan hati mereka.
Hati Abhiyasa sangat sakit mendengar perkataan istrinya. Dia tidak pernah mengira jika Hani berpikiran seperti itu saat ini, saat di mana kesabaran mereka benar-benar diuji oleh sang Khaliq.
__ADS_1
"Honey, tenang Sayang. Sabar dan ikhlaskan semuanya. Allah menyiapkan jalan lain untuk kita. Yakinlah jika Allah akan memberikan kebahagiaan untuk hambanya yang sabar dan ikhlas menjalani cobaan yang diberikan olehnya," tutur Abhiyasa diiringi dengan derai air matanya yang menetes di punggung istrinya.
Tangis Hani semakin pecah. Dia menyalahkan semuanya pada orang-orang yang ada di sekitarnya dan pada sang pencipta, dengan cara itulah dia menyalahkan dirinya sendiri. Hatinya terlalu sakit mengatakan jika semua yang terjadi adalah kesalahan dan kelalaiannya.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu ruangan tersebut membuat semua perhatian yang ada di ruangan itu tertuju pada pintu.
Ibu Abhiyasa membukakan pintu tersebut. Di depan pintu itu terlihat seorang perempuan yang menggunakan seragam perawat rumah sakit tersebut sedang berdiri dan tersenyum padanya.
"Maaf Bu, jenazah ananda sudah siap," ucap seorang perawat yang berdiri di depan pintu tersebut.
Mendengar ucapan perawat tersebut, tangis Hani kembali pecah. Dia menangis tersedu-sedu hingga wajahnya dibanjiri oleh air matanya.
Abhiyasa pun tidak bisa berkata-kata. Dadanya begitu sesak dipenuhi dengan kesedihan. Air matanya pun tidak henti-hentinya menetes mengiringi tangisan istrinya.
Setelah Hani sedikit tenang, Abhiyasa ingin membawa istrinya turut serta memakamkan bayi mereka atas ijin dari dokter yang menanganinya.
Suasana saat ini sangat memilukan. Mereka semua sangat sedih dan kehilangan bayi yang sudah lama dinantikan dalam keluarga besar mereka. Bahkan setelah empat bulan ini mereka sudah sangat menantikan kelahiran bayi tersebut di antara mereka semua.
Namun, Tuhan sang penguasa alam semesta berkehendak lain. Ujian yang diberikan oleh Allah datang silih berganti. Cobaan itu terasa berat oleh Hani dan Abhiyasa. Mereka yang saling mencintai dan sangat setia pada pasangannya, tidak diuji melalui datangnya orang lain yang masuk dalam kehidupan mereka. Cobaan itu diberikan melalui anak-anak mereka.
Kesabaran mereka benar-benar diuji setelah beberapa tahun mereka menikah. Kini, cobaan yang begitu berat itu membuat Hani sedikit goyah. Dia mempertanyakan keadilan Allah padanya.
Dokter datang untuk memeriksa kondisi Hani saat ini. Dokter sangat iba melihat Hani yang terlihat seolah tidak mempunyai semangat hidup saat ini.
__ADS_1
Setelah dokter mengatakan hasil pemeriksaan Hani, Abhiyasa bertanya padanya,
"Dok, apa istri saya boleh keluar untuk ikut mengantarkan bayi kami yang akan dimakamkan beberapa jam lagi?"