
Hani masih saja menolak untuk menerima pengobatan. Dia tetap pada keteguhan hatinya. Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan bayi yang ada dalam kandungannya jika dia mengkonsumsi obat-obatan.
Abhiyasa tidak henti-hentinya membujuk istrinya untuk menerima pengobatan dari dokter. Bahkan Aksa, putra kesayangan mereka pun turut membujuknya. Dan hasilnya sama, Hani tetap tidak mau menerima pengobatan dari dokter mana pun.
Kedua orang tua Hani dan Abhiyasa pun tidak bisa merubah keputusan Hani. Hingga dokter-dokter yang ada di klinik itu pun pasrah ketika mereka semua berusaha membujuk Hani dan hanya penolakan yang mereka terima.
Abhiyasa merasa frustasi saat ini. Pasalnya kondisi Hani semakin drop. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik pada Hani sebagai pasien mereka. Akan tetapi sang kuasa berkehendak lain. Dokter menyatakan jika hanya dengan melahirkan bayi tersebutlah pilihan yang tepat untuk saat ini.
"Tidak, saya tidak mau dok. Bukankah bayi yang masih dalam kandungan usia empat bulan masih sangat ringkih? Lalu, apa dia bisa bertahan nanti? Lagi pula saya menginginkan agar bayi saya lahir dengan sempurna dok," ujar Hani dengan sangat tegas ketika dokter mengatakan padanya jika bayinya harus dilahirkan saat ini juga.
Abhiyasa merasa sangat bingung saat ini. Hani benar-benar bersikukuh tidak mau menerima pengobatan dan tidak mau melahirkan bayinya saat ini.
"Honey, kita tidak ada pilihan lain Sayang. Ikuti saja saran dari dokter. Mereka yang lebih tau akan kondisi kamu dan bayi yang ada dalam kandungan kamu saat ini," tutur Abhiyasa yang merasa frustasi saat ini.
"Aku gak mau Abhi... Bayi yang lahir di usia empat bulan dalam kandungan masih sangat ringkih dan pastinya kamu tau untuk kedepannya bagaimana. Aku gak ingin apa yang terjadi pada Aksa menimpa bayi kita ini," ujar Hani dengan mata yang berkaca-kaca.
Abhiyasa menghela nafasnya yang terasa berat dalam dadanya. Dia hanya bisa berteriak dalam hatinya mempertanyakan apa yang akan dilakukannya untuk mengambil keputusan demi kebaikan mereka semua.
Tubuh Hani benar-benar sangat lemah saat ini. Dia hanya bisa berbaring dengan wajah pucatnya menahan sakit yang dirasakannya.
Dokter berpamitan pada Abhiyasa dan dia meminta pada Abhiyasa agar bisa membujuk Hani secepatnya, mengingat kondisi tubuh Hani yang semakin melemah, sehingga kondisi bayi dalam kandungannya pun ikut melemah.
Berkali-kali Abhiyasa mencoba membujuknya di setiap kesempatan. Sayangnya bujukan dan rayuannya tidak mampu membuat Hani merubah pikirannya. Dia masih saja teguh dengan pendiriannya.
Di taman yang ada di samping klinik tersebut, seorang laki-laki sedang duduk dengan menutup wajahnya, seolah sedang menutupi kesedihannya dan menutupi air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
Abhiyasa, dialah laki-laki tersebut yang sedang meratapi kesedihannya. Dalam tangisnya dia berdoa dalam hatinya,
__ADS_1
Ya Allah... Ujiannya sangat berat buatku. Aku tidak bisa kehilangan mereka berdua. Istriku yang selama ini selalu mendampingiku dengan penuh cinta serta kasihnya dan bayi yang sudah lama kami nantikan. Hamba harus bagaimana Ya Allah...
Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponsel Abhiyasa. Dengan segera dia mengambilnya dari saku celananya.
Menangislah jika itu membuatmu lebih tenang. Percayalah jika Allah akan memberikan jalan terbaik untukmu.
Pesan tersebut membuat air mata Abhiyasa menetes dengan sendirinya. Pesan dari ayahnya itu mampu membuat Abhiyasa kembali bangkit. Dia meyakini dalam hatinya akan kuasa sang pencipta dan jalan terbaik yang diberikan oleh Nya untuk semua manusia di bumi ini.
Abhiyasa bergegas kembali ke ruangan istrinya. Dia tidak ingin Hani cemas karena tidak menemukan Abhiyasa di sisinya.
"Honey!" seru Abhiyasa ketika melihat peluh di wajah pucat istrinya dengan suhu tubuh tinggi saat ini.
Dengan segera Abhiyasa menekan tombol yang ada di dekat tempat tidur Hani untuk memanggil dokter.
"Honey, tetaplah sadar. Jangan tinggalkan aku...," ujar Abhiyasa panik dengan air matanya yang menetes di pipinya.
"Maaf Pak, sepertinya sekarang hanya ada satu pilihan saja. Kita harus segera mengeluarkan bayi dalam kandungan istri Bapak. Kondisi sang ibu sangat lemah, sehingga kondisi bayi yang ada dalam kandungannya pun juga sangat lemah. Jika dibiarkan seperti yang istri Bapak kehendaki, maka bayi tersebut tidak akan bertahan lama," jelas dokter tersebut pada Abhiyasa.
Abhiyasa merasa dadanya dihantam oleh batu besar saat ini. Dia merasakan sakit yang tak tertahankan dalam dadanya ketika mendengar penjelasan dari dokter tersebut.
"Bagaimana Pak, apa Bapak menyetujui operasi ini?" tanya dokter tersebut pada Abhiyasa yang terlihat syok saat ini.
Abhiyasa mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan untuk mengenyahkan rasa sesak dalam dadanya, meskipun hanya sedikit saja berkurangnya. Kemudian dia berkata,
"Lakukan saja dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya dan bayi yang ada dalam kandungannya."
"Baik Pak. Kami akan berusaha melakukan semaksimal mungkin. Mohon tandatangani formulir persetujuannya Pak," tukas dokter tersebut menanggapi perkataan Abhiyasa.
__ADS_1
Setelah itu dokter bersiap untuk melakukan operasi tersebut setelah Abhiyasa menandatangani formulir persetujuan operasi itu. Perawat pun membawa Hani menuju ke ruangan operasi saat itu juga.
Abhiyasa hanya bisa memegang tangan istrinya di sepanjang koridor menuju ruangan operasi. Beruntungnya Klinik yang begitu besar dan mewah itu mempunyai fasilitas yang hampir sama dengan rumah sakit, sehingga dalam situasi ini mereka bisa dengan cepat menanganinya.
"Honey, kamu harus bertahan," tutur Abhiyasa pada istrinya sebelum memasuki ruangan operasi.
Hani yang masih memejamkan matanya, perlahan membuka matanya. Dia menatap suaminya dengan tatapan penuh kesedihan.
"Aku gak mau melahirkannya sekarang. Tolong jangan lakukan ini," ucap Hani lemah disertai tetesan air matanya.
Hati Abhiyasa hancur melihat air mata istrinya yang masih saja bersikukuh mempertahankan bayi yang ada dalam kandungannya hingga saatnya melahirkan. Air mata Abhiyasa pun tidak bisa lagi dibendungnya. Air matanya itu bukan air mata kebahagiaan yang dipersiapkannya untuk menyambut kelahiran bayi mereka. Kini air mata itu keluar karena kesedihan hatinya.
"Maaf Pak, kita harus segera melakukannya. Sudah tidak ada waktu lagi. Jika tidak--"
"Lakukan dok," sahut Abhiyasa tegas dengan menahan kesedihan hatinya.
"Sebaiknya Bapak ikut masuk ke dalam. Saya mengijinkan demi kenyamanan pasien," tutur dokter tersebut sebelum masuk ke dalam ruangan operasi.
Abhiyasa pun ikut masuk ke dalam ruangan operasi. Dia memakai pakaian khusus sebelum memasuki ruangan tersebut. Setelah itu dia selalu memegang tangan istrinya dan mendampinginya.
Namun, Hani masih saja menolak untuk melahirkan bayinya saat ini. Dia masih ingin mempertahankan bayinya hingga saatnya bayi itu lahir dengan sempurna.
Atas ijin Abhiyasa, dokter melakukan operasi tersebut karena kondisi bayi yang semakin lemah saat ini.
Air mata Hani menetes meskipun Hani dalam keadaan tidak sadar saat ini. Air matanya itu seolah menandakan bahwa dirinya menolak dan tidak ikhlas jika bayinya lahir saat ini.
"Dok, bayinya!" ucap seorang bidan yang membantu dokter dalan persalinan tersebut.
__ADS_1
Sontak saja Abhiyasa berpindah tempat untuk melihat apa yang terjadi dengan bayi mereka ketika melihat semua raut wajah tegang dalam ruang operasi tersebut.