Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 27 Pingsan


__ADS_3

Bruuk...


Tiba-tiba saja tubuh Hani terhuyung dan kepalanya yang terasa berat itu membuatnya jatuh kembali di sofa.


"Honey!" seru Abhiyasa dengan cepatnya meraih tubuh istrinya dan berusaha mengangkatnya dari sofa.


"Mama!" seru Aksa berlari mendekati mamanya.


"Hani!" seru kedua kakek dan nenek Aksa ketika menoleh dan melihat Hani sedang terbaring di sofa.


Abhiyasa meraih tubuh istrinya dan menggendongnya masuk ke dalam kamarnya. Aksa dan semua orang tua yang ada di sana khawatir, mereka panik dan mengikuti mereka masuk ke dalam kamar tersebut.


"Yasa, cepat panggilkan dokter. Suruh datang ke sini sekarang juga,” perintah ayah Abhiyasa dengan paniknya.


"Ingat, jangan sampai memanggil dokter Aulia," sahut ibu Abhiyasa dengan tatapan penuh peringatan pada putranya.


"Yasa juga gak mau bertemu dengan dia Bu. Apa lagi jika dia bertemu dengan Hani, Yasa gak rela," tukas Abhiyasa sambil menggosok-gosok telapak tangan istrinya dan menciuminya.


"Ya sudah, cepat telepon dokter agar cepat datang ke sini sekarang juga," ujar ayah Abhiyasa kembali.


Papa Hani mendekati putrinya yang terbaring tidak sadarkan diri di atas tempat tidur. Kemudian dia berkata,


"Apa tidak lebih baik jika kita membawanya langsung ke rumah sakit atau klinik, dari pada menunggu dokter yang ke sini?"


"Benar. Cepat bawa istrimu ke klinik atau rumah sakit terdekat," perintah ayah Hani kembali pada putranya.


Aksa yang mengeluarkan air matanya sambil merengek memanggil namanya dan menciumi tangan mamanya, membuat Abhiyasa merasa tidak tega meninggalkannya. Akan tetapi dia tidak bisa mengajaknya.


"Aksa Sayang, Papa akan membawa Mama ke klinik tempat Aksa dirawat pada saat malam hari waktu itu. Aksa di rumah saja ya," tutur Abhiyasa sambil meraih tubuh istrinya untuk digendongnya.


"Aksa ikut," rengek Aksa dengan matanya yang sudah digenangi air mata.

__ADS_1


Abhiyasa menggendong tubuh istrinya dan menoleh ke arah putranya yang masih saja merengek untuk ikut dengannya. Kemudian dia berkata,


"Aksa di rumah saja bersama dengan kakek dan nenek. Ingat, Aksa gak boleh terlalu capek. Aksa tidur saja bersama dengan kakek dan nenek. Nanti akan Papa kabari keadaan Mama setelah sampai di sana. Mengerti?"


Dengan terpaksa Aksa menganggukkan kepalanya. Terlihat jelas dia enggan melepaskan kepergian mama dan papanya tanpa dirinya. Dia merasa sangat khawatir pada mamanya.


Abhiyasa segera Membawa istrinya masuk ke dalam mobilnya. Mereka hanya berdua menuju klinik tempat dirawatnya Aksa waktu itu. Dia tidak ingin lagi menginjakkan kakinya ke rumah sakit yang terletak tidak jauh dari rumahnya dan klinik tersebut. Mungkin jika Aulia tidak ada di rumah sakit itu, Abhiyasa tidak anti lagi pada rumah sakit tersebut.


Hanya beberapa menit saja mobil Abhiyasa sudah sampai di parkiran klinik tersebut. Dia segera menggendong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke ruang UGD klinik tersebut seraya berseru,


"Dok, tolong istri saya. Tiba-tiba saja dia pingsan."


Perawat dan dokter yang berjaga di ruangan tersebut dengan segera menghampiri Abhiyasa dan menyuruhnya meletakkan tubuh istrinya pada tempat tidur yang mereka tunjukkan.


Dokter pun segera memeriksanya dengan teliti. Dia tersenyum setelah memeriksa keadaan Hani secara menyeluruh. Diletakkannya stetoskop yang dipakainya di pundaknya. Kemudian dia berkata,


"Jangan khawatir Pak, istri Bapak baik-baik saja."


Dokter wanita tersebut kembali tersenyum. Dia menoleh ke arah Hani, kemudian dia kembali menghadap Abhiyasa dan berkata,


"Menurut hasil pemeriksaan saya, istri Bapak sedang hamil. Dan sepertinya usia kehamilannya masih rentan, jadi--"


"Hamil dok?" tanya Abhiyasa dengan mata yang berbinar.


Dokter tersebut kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Ini menurut pemeriksaan saya Pak. Lebih baik Bapak memeriksakan istri Bapak ke dokter kandungan untuk lebih jelasnya."


"Apa sekarang dokter SpOG nya ada dok?" tanya Abhiyasa dengan sangat antusias.


"Maaf Pak, jam praktek dokternya besok pagi. Jika Bapak berkenan, biarkan istri Bapak beristirahat di sini sambil menghabiskan cairan infus yang sedang diberikan pada istri Bapak. Besok pagi akan kami bantu untuk mendaftarkan pada dokter SpOG," jawab dokter wanita tersebut dengan ramah.

__ADS_1


"Baiklah dok. Lebih baik kami di sini saja hingga pemeriksaan dengan dokter SpOG. Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan istri saya dok," tukas Abhiyasa sambil melihat ke arah istrinya yang terbaring lemah tidak sadarkan diri.


"Kami permisi dulu Pak. Perawat akan membantu mendaftarkan nama istri anda untuk pemeriksaan besok pada dokter SpOG," tutur dokter wanita itu sebelum meninggalkan Abhiyasa yang sedang menunggu di sebelah Hani.


Abhiyasa sangat senang mendengar hasil pemeriksaan dari dokter tersebut. Dia duduk di samping istrinya dan menciumi tangan Hani yang tidak terpasang jarum infus.


Tiba-tiba dia teringat akan semua orang yang ada di rumahnya. Dengan segera dia mengambil ponsel yang ada dalam sakunya dan mengirimkan pesan pada ayahnya. Dia mengabarkan jika Hani harus menginap di klinik malam ini dan dirinya harus menunggunya.


Hanya beberapa detik saja ayahnya sudah membalas pesannya. Mereka menanyakan tentang keadaan Hani dan apa yang terjadi dengannya. Mereka juga meminta alamat klinik tempat Hani di rawat saat ini karena mereka semua khawatir pada Hani dan mereka semua ingin berada di sana untuk menemani Abhiyasa menjaga istrinya.


Namun, Abhiyasa melarang mereka semua berada di tempat itu. Dia juga mengatakan jika Hani baik-baik saja dan hanya membutuhkan infus karena tubuhnya yang kelelahan saat ini. Dia juga mengatakan jika besok pagi mereka akan pulang.


Akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk menyusul ke klinik tersebut. Aksa kini harus menuruti keinginan papanya agar tidur bersama kakek dan neneknya. Dia harus menahan kekhawatirannya meskipun papanya sudah mengatakan jika mamanya baik-baik saja dan melarangnya untuk mengkhawatirkan mamanya.


Namun, Aksa tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya itu. Dia masih tetap saja khawatir pada mamanya, hingga dia sulit untuk memejamkan matanya.


Abhiyasa sengaja tidak memberitahukan tentah kehamilan Hani karena sebelum dipastikannya. Dia akan memberitahukan kabar tersebut setelah Hani memeriksakan kandungannya pada dokter SpOG besok pagi.


Nampaknya Hani benar-benar kelelahan. Setelah dia sadar dari pingsannya, hanya beberapa detik saja dia kembali memejamkan matanya, dia tertidur saat itu juga.


Tepat pada saat perawat melepaskan infusnya, Hani terbangun dan membuka matanya. Dokter yang semalam memeriksa Hani pun melakukan pemeriksaan kembali sebelum dia pulang pagi itu.


"Istri Bapak baik-baik saja. Dan wajahnya terlihat lebih segar. Sepertinya istri Bapak memang membutuhkan istirahat. Jika benar pemeriksaan saya semalam, sebaiknya istri Bapak istirahat total terlebih dahulu, karena masa-masa ini masih sangat rentan sekali," tutur dokter wanita yang merupakan dokter UGD di klinik tersebut.


"Baik dok, akan kami lakukan seperti saran dokter," ucap Abhiyasa sambil menggenggam tangan istrinya.


"Maaf Pak, seharusnya Bapak mendengarkan saran dari dokter SpOG, bukan dari saya," ujar dokter tersebut sambil terkekeh.


"Tidak apa dok, sebentar lagi kami juga akan periksa ke dokter SpOG," tukas Abhiyasa sambil tersenyum pada dokter tersebut.


Hani mengernyitkan dahinya mendengar perlmbicaraan dokter tersebut bersama dengan Abhiyasa. Dalam hatinya dia berkata,

__ADS_1


Hah?! Dokter SpOG? Kenapa ke sana? Ada apa denganku? Apa ada masalah dengan kandunganku?


__ADS_2