Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 31 Keteguhan Hati Hani


__ADS_3

Seorang perempuan memakai seragam yang sama dengan Hani merasa tidak enak berada di antara dokter dan Abhiyasa. Apa lagi saat ini mereka sedang membicarakan hal yang serius.


"Maaf Pak, saya permisi mau kembali ke kantor dulu. Salam untuk Hani. Saya doakan semoga Hani cepat sembuh dan bisa masuk kerja kembali," ucap perempuan tersebut yang merupakan rekan kerja Hani.


Abhiyasa menoleh ke arah sampingnya, di mana rekan kerja Hani yang membawa Hani ke klinik tersebut sedang berdiri. Dia menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Terima kasih atas bantuan dan doanya."


Setelah perempuan tersebut meninggalkan mereka, dokter yang berdiri di depan Abhiyasa pun kembali berbicara.


"Pasien sedang hamil Pak, akan tetapi kondisinya sangat tidak mungkin untuk tidak diobati. Selain itu, menurut hasil pemeriksaan, pasien harus diberikan obat yang mungkin akan berakibat buruk untuk kehamilannya," tutur dokter tersebut dengan perlahan pada Abhiyasa.


"Maksud dokter ada efek samping untuk bayi yang ada di dalam kandungan istri saya?" tanya Abhiyasa sambil mengernyitkan dahinya.


"Benar Pak, apa Bapak mengijinkan kami memberikan obat tersebut?" tanya dokter tersebut kembali pada Abhiyasa.


Seketika tubuh Abhiyasa lemas. Dia merasa diberikan pilihan yang sulit saat ini. Akan tetapi dia harus memilih yang terbaik untuk saat ini.


Dia yakin jika Allah tidak akan memberinya cobaan yang tidak bisa dilaluinya. Selain itu dia meyakini bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk umatnya.


Abhiyasa menghirup nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Kemudian dia menatap dokter tersebut dan berkata dengan yakin.


"Berikan saja obat yang seharusnya diberikan untuk penyakitnya dok."


"Baik Pak, kami akan memberikan obat sesuai dengan yang dibutuhkan saja, mengingat kondisi pasien yang sedang hamil, kami tidak berani memberikan obat tanpa seijin Bapak atau pasien," ujar dokter tersebut pada Abhiyasa.


Abhiyasa menganggukkan kepalanya dengan lemah. Dia merasa lemah saat ini, akan tetapi dia harus kuat, karena dialah yang menjadi sandaran bagi Hani dan Aksa, istri dan anaknya.


"Untuk saat ini kami akan memindahkan pasien ke kamar inap untuk perawatan selanjutnya. Silahkan Bapak mengurus administrasinya terlebih dahulu," sambung dokter itu kembali.


"Baik dok, akan saya urus sekarang," tukas Abhiyasa disertai helaan nafasnya yang terasa sangat berat.


Setelah Abhiyasa mengurus semua administrasinya, dia kembali menemui istrinya. Betapa sakit hatinya ketika mengingat wajah istrinya yang sedikit pucat dengan peluh di wajahnya saat video call tadi.


Abhiyasa memasuki kamar inap VIP yang didalamnya sudah terdapat istrinya. Diraihnya tangan istrinya itu dan dipegangnya dengan erat, seolah tidak mau terpisahkan.

__ADS_1


Perlahan mata Hani terbuka, dia tersenyum lemah melihat suami tercintanya.


"Maaf Abhi. Maaf aku sudah membuatmu khawatir," ucap Hani lirih dengan tatapan penuh penyesalan pada Abhiyasa.


Abhiyasa berusaha tidak menampakkan kesedihannya. Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya seraya berkata,


"Aku gak pernah keberatan untuk mengkhawatirkan kamu, Honey. Sekarang yang terpenting kamu harus cepat sembuh dan berkumpul kembali dengan kami di rumah."


Hani tersenyum lemah dan menganggukkan kepalanya. Mereka saling menatap menyalurkan kerinduannya tanpa mengeluarkan kata-kata.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar itu pun terbuka. Masuklah seorang dokter laki-laki bersama dengan dokter perempuan yang bertuliskan SpOG di belakang nama pada name tag nya.


"Maaf Pak, kami akan memeriksa kondisi pasien saat ini," tutur dokter laki-laki yang menangani Hani di UGD.


"Silahkan dok," tukas Abhiyasa sambil beranjak dari duduknya yang ada di sebelah tempat tidur istrinya.


Dokter tersebut memeriksa Hani, kemudian dia mempersilahkan dokter perempuan tersebut untuk memeriksa kondisi Hani dan kandungannya saat ini.


Abhiyasa menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Mohon bantuannya dok."


"Baik Pak, kami akan berusaha yang terbaik untuk pasien," ucap dokter Rani sambil melepaskan stetoskop setelah dipakainya.


Perawat memberikan obat yang akan diberikan dokter melalui infus. Hani menatap semua obat-obatan yang dibawa oleh perawat yang ada di dekatnya. Kemudian dia bertanya,


"Apa obat-obatan itu semua untukku?"


"Iya Bu. Ini semua obat-obatan yang harus Ibu minum agar Ibu cepat sembuh," jawab dokter sambil tersenyum dan bersiap untuk memberikan obat melalui infus yang digunakan oleh Hani.


"Tidak! Jangan! Saya tidak mau dok! Jangan masukkan obat apa pun ke dalam tubuh saya!" seru Hani dengan tatapan yang menyatakan penolakannya diiringi gelengan kepalanya, mempertegas bahwa dia tidak menyetujuinya.


"Honey," panggil Abhiyasa tanpa membentaknya.

__ADS_1


"Aku gak mau Abhi. Aku gak mau terjadi apa-apa dengan bayi kita. Obat-obatan itu nantinya akan berpengaruh pada bayi kita," ucap Hani dengan mata yang berkaca-kaca.


Abhiyasa mendekati Hani. Dia memeluk tubuh istrinya dengan erat seraya berkata,


"Gak akan terjadi apa-apa Honey. Percayalah. Jika kamu menolak obat-obatan itu, maka akan sangat membahayakan kamu dan bayi kita."


Hani menggelengkan kepalanya dalam pelukan suaminya. Dia benar-benar teguh akan pendiriannya.


Abhiyasa memejamkan matanya merasakan betapa berat dan perih hatinya saat ini. Dia sangat lemah saat ini ketika memikirkan keadaan istrinya dan bayi yang ada dalam kandungannya.


Namun, dia harus kuat. Dia meyakinkan dirinya sendiri agar bisa membujuk dan meyakinkan istrinya untuk mau menerima pengobatan.


"Maaf dok, saya akan berbicara dengan istri saya terlebih dahulu," ucap Abhiyasa pada dokter yang ada di ruangan tersebut.


Dokter dan perawat yang ada di ruangan tersebut pun meninggalkan tempat itu. Mereka menyerahkan semuanya pada Abhiyasa, karena dialah yang bisa memutuskan semuanya sebagai wali dari Hani.


Abhiyasa duduk di hadapan Hani. Dia menatap sendu pada wajah istrinya yang sedikit pucat dan memegang kedua tangannya, berusaha menyalurkan rasa yang ada dalam hatinya.


"Honey, Sayang, aku mohon... Kamu harus menerima pengobatan itu. Semua ini demi kamu, bayi kita, aku dan juga Aksa," pinta Abhiyasa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi Abhi, akan berakibat buruk nantinya bagi bayi kita. Aku gak mau jika bayi kita nanti lahir dengan kondisi...."


Air mata Hani menghentikan ucapannya. Dia tidak mampu meneruskan perkataannya. Rasa sesak dalam dadanya membuat air matanya keluar begitu saja tanpa henti.


"Sayang...," ucap Abhiyasa sambil meraih tubuh istrinya dalam pelukannya.


"Semuanya akan baik-baik saja. Gak akan ada hal buruk yang akan menimpa keluarga kita," tutur Abhiyasa yang masih dalam posisi memeluk istrinya.


Hani sedikit mengurai pelukan suaminya. Dia menatap intens manik mata suaminya dan berkata,


"Aku takut Abhi... Aku gak mau kejadian Aksa terulang lagi."


Abhiyasa mengerti kekhawatiran istrinya. Penyakit jantung bawaan yang diderita oleh Aksa merupakan turunan dari keluarganya, sehingga Hani selalu menyalahkan dirinya. Kini, dia berusaha untuk melindungi bayi yang ada dalam kandungannya.


Abhiyasa meraih kedua tangan istrinya. Dia menatap penuh harap pada istrinya dan berkata,

__ADS_1


"Sayang, apa yang terjadi pada Aksa bukan salahmu. Ini hanya cobaan dari Allah yang harus kita lewati. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Jalani pengobatan ini dan lahirkan bayi yang sudah kita nantikan kehadirannya. Mau kan? Aku mohon Honey...."


__ADS_2