Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 28 Anugerah


__ADS_3

Kini Hani ditemani oleh Abhiyasa, suaminya, memasuki ruangan dokter yang bertuliskan dr. Vina Wicaksana SpOG di pintu ruangan tersebut.


Dokter Vina menyambut dengan senyumnya ketika Hani memasuki ruangannya. Dia sudah mengetahui keadaan Hani dari status medis rumah sakit tersebut yang dikirimkan oleh perawat padanya.


"Silahkan Bu Hani berbaring di sini, saya akan memeriksa Ibu," ucap dokter Vina sambil menunjuk tempat tidur yang digunakan untuk memeriksa.


Hani menoleh ke arah Abhiyasa, ada keresahan dalam matanya. Abhiyasa tersenyum dan menggapai tangan istrinya, kemudian dia menuntunnya menuju tempat tidur tersebut.


Hani memang tidak mengetahui apa maksud dari pemeriksaan tersebut. Dia benar-benar khawatir jika ada masalah serius dengan kandungannya. Dia tidak berpikir tentang kehamilan, karena sudah sejak lama kehamilan itu tidak datang padanya, meskipun dia dan Abhiyasa sudah berusaha agar bisa segera hamil. Karena itulah dia mengira jika ada masalah dengan kandungannya.


Terlihat jelas ketakutan dan keresahan dari wajah Hani. Bahkan kini dia berusaha untuk tidak mendengar apa pun dengan larut dalam pikirannya sendiri.


Abhiyasa berada di samping istrinya sambil memegang erat tangan istrinya agar istrinya itu tidak lagi resah dan takut dengan pemeriksaan tersebut.


Dokter Vina mulai memeriksa keadaan Hani, kemudian dia menggunakan alat USG untuk memeriksa kandungannya. Bibir dokter Vina melengkung ke atas ketika melihat layar yang terhubung pada alat USG tersebut.


"Selamat Pak, Bu, usia kandungannya tiga minggu, masih sangat rentan sekali. Sebaiknya Ibu beristirahat total terlebih dahulu hingga badan Ibu fit kembali," tutur dokter Vina sambil tersenyum pada Hani dan Abhiyasa.


"Hamil? Dua minggu? Saya hamil dok?" tanya Hani seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Dokter Vina tersenyum padanya. Dia menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Benar Bu, Ibu sedang hamil. Sebaiknya Ibu lebih berhati-hati dan lebih menjaga kesehatan tubuh Ibu. Jangan memforsir tenaga Ibu karena usia kandungannya masih sangat rentan, apa lagi Ibu semalam mengalami pingsan, jadi lebih baik Ibu beristirahat total terlebih dahulu."


Mata Hani berkaca-kaca mendengar penjelasan dari dokter Vina. Dia memandangi layar yang memperlihatkan janin yang ada dalam kandungannya itu dengan perasaan haru dan tidak percaya.


Setelah itu Hani dan Abhiyasa berkonsultasi dengan dokter Vina mengenai kandungannya. Mereka berdua sangat antusias dengan kehadiran bayi yang ada dalam kandungan Hani saat ini. Mereka berdua sangat bahagia dan merasa Allah telah memberikan anugerah pada mereka setelah kesulitan dan ujian yang diberikan Allah pada mereka.


Setelah pemeriksaan selesai, Hani diperbolehkan pulang saat itu juga. Abhiyasa membeli obat di apotek klinik tersebut sesuai dengan resep yang diberikan oleh dokter Vina padanya.


Kini Hani dan Abhiyasa dalam perjalanan pulang setelah mendapatkan obat tersebut. Di dalam mobil, Hani dengan bahagianya mengusap pelan perutnya. Bahkan senyum bahagianya itu tidak pernah pudar dari bibirnya.

__ADS_1


Abhiyasa sedikit melirik ke arah istrinya yang duduk di sampingnya. Dia pun tersenyum bahagia melihat kebahagiaan istrinya yang terpancar saat ini. Dalam hatinya mengucap syukur sebanyak-banyaknya atas anugerah yang diberikan oleh Allah pada keluarganya.


"Honey, sebentar lagi keluarga kita akan bertambah. Pasti Aksa sangat senang mendengar berita jika dia akan segera memiliki adik," ucap Abhiyasa sambil mengemudikan mobilnya.


Hani menoleh ke arah suaminya. Dia tersenyum penuh kebahagiaan, matanya berbinar dan berkata,


"Aku juga sangat senang sekali. Kehamilan ini sudah sangat lama ku nantikan. Apa kamu tidak senang Sayang?"


"Tentu saja aku sangat senang sekali. Bukankah kamu tau jika aku sudah sangat lama menantikan kehadiran seorang bayi dalam rumah kita?" tanya Abhiyasa dengan mata yang berbinar diiringi dengan senyuman kebahagiaannya.


"Apa ini semacam anugerah dari Allah setelah ujian yang diberikannya untuk kita?" tanya Hani dengan serius memandang suaminya.


Abhiyasa yang masih fokus pada kemudi dan jalanan di depannya, kini tersenyum mendengar pertanyaan dari istrinya. Kemudian dia berkata,


"Allah selalu tau apa yang terbaik bagi umatnya. Kita harus selalu percaya, bertawakal pada Nya dan tidak boleh berburuk dangka pada Nya."


Hani menganggukkan kepalanya dan tersenyum menanggapi penuturan suaminya meskipun suaminya tidak melihat ke arahnya saat ini. Dia kembali sibuk mengusap-usap perutnya, mencurahkan rasa syukur dan kasih sayang pada bayi yang masih ada dalam kandungannya.


Tiba-tiba saja mobil tersebut berhenti, tepat bersamaan dengan lampu lalu lintas yang menyala merah serta perkataan Hani yang mengagetkan Abhiyasa.


Abhiyasa menoleh ke arah istrinya dan tersenyum padanya. Tangannya mengusap lembut pipi istrinya dan berkata,


"Aku pasti akan dengan senang hati melakukannya Sayang. Tapi... ini bukan wujud dari balas dendam ketika hamil Aksa bukan?"


"Maksud kamu aku akan balas dendam karena pada saat hamil Aksa aku gak ngidam sama sekali?" tanya Hani dengan mengerucutkan bibirnya.


Abhiyasa terkekeh melihat ekspresi istrinya saat ini. Dia mencubit gemas bibir istrinya yang mengerucut seraya berkata,


"Apa ini tandanya bibir ini menggodaku dan ingin mendapatkan ciuman dariku?"


Sontak saja tangan Hani mencoba melepaskan tangan Abhiyasa dari bibirnya. Sayangnya Abhiyasa tidak mau melepaskannya. Dia masih saja menjahili istrinya dan terkekeh melihat ekspresi istrinya saat ini.

__ADS_1


"Itu lampunya sudah hijau," ucap Hani dengan suara yang tidak jelas karena bibirnya yang masih dibungkam oleh tangan Abhiyasa.


Seketika tangan Abhiyasa lepas dari bibir Hani. Tangannya segera berpindah pada kemudi, memegangnya untuk bersiap melajukan mobilnya.


Dia menghela nafasnya dan menatap istrinya dengan seringainya seolah akan melakukan sesuatu padanya.


Hani tertawa melihat reaksi suaminya yang sangat gampang sekali dibohonginya. Abhiyasa hanya tersenyum melihat istrinya yang terlihat sangat bahagia saat ini. Bahkan ketika mobil itu kembali melaju di saat lamu hijau menyala, Hani masih saja tertawa, dia bahagia telah bisa mengelabuhi suaminya yang selalu menjahilinya.


Setelah beberapa saat, mobil mereka memasuki halaman rumah yang mereka tempati selama ini. Tampak Aksa bersama dengan kedua kakek dan neneknya sedang bermain di halaman rumah mereka.


Aksa berlari menghampiri mama dan papanya diikuti oleh kedua kakek dan neneknya yang berjalan cepat mengejar cucu mereka.


"Mama... Papa...!" seru Aksa sambil berlari ingin memeluk tubuh mamanya.


Hani dan Abhiyasa menunduk untuk menyambut putra kesayangan mereka. Tubuh Aksa pun berada di tengah-tengah tubuh Hani dan Abhiyasa yang merapat untuk menyambut pelukan putra mereka.


Aksa sedikit merenggangkan pelukannya. Dia menatap mamanya seraya berkata,


"Mama baik-baik saja kan?"


"Tentu saja Mama baik-baik saja," jawab Hani sambil tersenyum pada putra kesayangannya.


"Bagaimana dengan Aksa? Apa jagoan Papa ini baik-baik saja semalaman tidak bersama Mama dan Papa?" tanya Abhiyasa dengan tatapan menyelidik pada putra kesayangannya.


"Aksa baik-baik saja dong. Aksa kan kuat. Kalau Mama bagaimana? Kenapa Mama kemarin bisa pingsan Ma, Pa?" tanya Aksa kembali pada kedua orang tuanya.


Hani mengambil tangan putranya dan meletakkannya pada perutnya. Kemudian dia berkata,


"Itu semua karena ada sesuatu di dalam sini?"


Dahi Aksa mengernyit, dia terlihat sedang bingung saat ini. Dengan menampakkan wajah polosnya itu dia pun berkata,

__ADS_1


"Memangnya di dalam perut Mama ada apanya?"


__ADS_2