
Jari telunjuk Abhiyasa kembali berada di bibir Hani untuk menghentikan perkataan istrinya. Kemudian dia berkata,
"Kamu tidak perlu khawatir Honey. Aku yakin jika semuanya akan baik-baik saja. Aku juga yakin jika putera kesayangan kita itu akan sembuh kembali dan setelah itu dia tidak akan sakit-sakitan. Percaya padaku Honey."
Hani menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan suaminya. Memang tidak seharusnya dia berkata seperti itu dan berpikiran yang berlebihan tentang semuanya.
Dia segera melingkarkan tangannya pada lengan suaminya dan berkata,
"Ayo Abhi, kita temui putera kesayangan kita."
Mereka berdua, sepasang suami istri itu bergegas menuju kamar inap putera mereka. Dengan rasa cemas yang memenuhi hati mereka, Abhiyasa dan Hani masuk kamar tersebut.
"Terima kasih sudah menjaga anak kami," ucap Hani pada perawat tersebut.
Perawat itu pun mengangguk hormat pada Abhiyasa dan Hani sebelum dia meninggalkan ruangan tersebut.
Selang berapa saat kemudian, dokter datang untuk memeriksa keadaan Aksa. Anak kecil yang sedang tidur karena pengaruh obat itu, kini terbangun karena sentuhan stetoskop dokter yang diletakkan pada dadanya.
"Saya kenapa dok? Apa ada sakit yang dokter dengar dari dada saya dok?" tanya Aksa dengan wajah polosnya.
Dokter tersebut terkekeh. Dia melakukan pemeriksaan menyeluruh dengan harapan Aksa baik-baik saja, agar Aksa bisa dibawa ke rumah sakit jantung untuk pemeriksaan secara lebih mendetail.
"Aksa, kamu hebat. Kesehatanmu kembali pulih dengan sangat cepat. Sekarang Aksa sudah diperbolehkan pulang, tapi Aksa nanti akan diajak oleh Mama dan Papa Aksa untuk bertemu dengan dokter lain. Apa Aksa takut?" tutur dokter tersebut pada Aksa dan tangannya mengusap lembut kepala Aksa disertai pertanyaan darinya.
"Aksa tidak pernah takut dok. Aksa putera seorang Abhiyasa yang hebat, jadi Aksa tidak boleh takut menghadapi apa pun. Papa selalu mengingatkan Aksa bahwa Aksa harus menjadi seorang pemberani untuk melakukan hal yang benar," ujar Aksa dengan percaya dirinya.
Dokter tersebut tersenyum padanya. Tangannya masih mengusap lembut rambutnya dam berkata,
"Aksa memang anak yang hebat. Jadi, jangan takut nanti jika diperiksa oleh dokter lain. Mereka akan membantu Aksa agar kembali sehat lagi."
Aksa menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan dokter tersebut, seolah dia berjanji pada dokter itu untuk tidak takut ketika diperiksa di rumah sakit jantung.
"Keadaannya sudah lebih baik Pak, Bu. Jika Bapak dan Ibu ingin membawanya untuk periksa ke rumah sakit jantung, kami sudah mengijinkannya," tutur dokter tersebut sambil melepaskan stetoskopnya dari kedua telinganya dan menoleh ke arah Abhiyasa dan Hani.
Hani menatap puteranya dengan penuh kecemasan, hingga dia tidak bisa menutupi kecemasannya itu dari wajahnya dan itu sangat terlihat jelas dari wajahnya.
__ADS_1
"Baik dok, keluar dari rumah sakit ini, kami akan segera menuju rumah sakit yang dokter sarankan," tukas Abhiyasa menanggapi ucapan dokter tersebut.
Dokter Fahmi, dokter yang menangani Aksa, kini menghadap ke arah Abhiyasa. Dia menatap serius pada Abhiyasa dan berkata,
"Tolong jangan ditunda lagi Pak. Karena kasus seperti ini akan lebih baik jika lebih cepat ditangani."
"Baik dok, kami tidak akan menundanya. Kami juga tidak ingin kesempatan itu terlewati begitu saja," ujar Abhiyasa sambil meraih tangan istrinya untuk menguatkannya dan menenangkannya.
Dokter tersebut mengangguk dan memerintahkan perawat yang datang bersamanya agar menyiapkan kepulangan Aksa dari klinik tersebut.
Karena kondisi Aksa yang sangat baik, dokter tidak menyarankan mengantarkannya menggunakan ambulans. Dan kebetulan sekali Abhiyasa menyetujuinya karena mereka takut jika Aksa ketakutan dan menyebabkan kesehatannya terganggu kembali.
Jarak dari klinik tersebut dengan rumah sakit jantung yang dituju tidak begitu jauh, sehingga Hani dan Abhiyasa bisa mengantarkan putera kesayangan mereka tanpa kehadiran perawat yang menyertainya.
Hanya dalam waktu beberapa saat saja mobil mereka sudah memasuki parkiran rumah sakit tersebut. Bangunan yang sangat besar dengan bertuliskan nama rumah sakit yang tertera di sana, membuat Hani merasa kembali cemas.
Abhiyasa menoleh ke arah samping, di mana istrinya sedang duduk dan terlihat jelas dari wajahnya kecemasan yang sedang dirasakannya.
Tangan Abhiyasa menggenggam tangan istrinya. Dia tersenyum padanya dan menganggukkan kepalanya seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja tanpa mengucapkannya secara langsung.
"Ayo jagoan Papa, kita akan memeriksakan kembali jagoan Papa ini."
Hani pun keluar dari mobil tersebut tanpa menunggu dibukakan pintunya oleh Abhiyasa seperti biasanya.
Mereka bertiga berjalan masuk ke dalam rumah sakit yang sangat besar itu dengan Aksa yang digendong oleh Abhiyasa.
Ternyata dokter Fahmi sudah menghubungi pihak rumah sakit tersebut. Hani, Abhiyasa dan Aksa diantarkan oleh perawat menuju ruangan dokter jantung yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Dokter memeriksa Aksa saat itu juga. Setelah dia memeriksa keadaannya, dokter itu pun berkata,
"Apa hasil lab darah, THT dan semua yang mencakup medical check up sudah dilakukan Pak?"
"Ini dok hasil pemeriksaannya kemarin. Entah mungkin ada yang terlewat atau tidak, kami tidak tau," jawab Abhiyasa sambil menyerahkan amplop besar yang di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan Aksa waktu itu.
Dokter tersebut menerima amplop yang diberikan oleh Abhiyasa padanya. Dibukanya amplop tersebut dan dibacanya hasil pemeriksaan lab yang meliputi medical check up beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Baiklah, Pak, Bu. Kami akan melakukan pemeriksaan lain yang belum dilakukan kemarin, khususnya untuk jantungnya," tutur dokter tersebut pada Abhiyasa dan Hani.
"Silahkan dok, kami percayakan kesehatan putera kami pada dokter," ujar Hani yang terlihat mengiba pada dokter tersebut.
"Pak, Bu, kami akan berusaha yang terbaik untuk pasien. Tapi kami juga meminta agar Bapak dan Ibu selalu mendoakannya," ucap dokter tersebut yang ber name tag dokter Alfian.
Hani dan Abhiyasa menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan dokter Alfian.
"Pasti dok, kami selalu mendoakan kesembuhan putera kami," tukas Hani pada dokter Alfian.
"Baik Pak, Bu, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut sekarang. Setelah semuanya siap, kami akan menjemput pasien untuk melakukan pemeriksaan tersebut," tutur dokter Alfian sebelum meninggalkan kamar inap yang baru saja ditempati oleh Aksa.
"Mohon bantuannya dok. Kami percayakan anak kami pada dokter," sambung Abhiyasa kemudian.
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya dan segera meninggalkan ruangan tersebut. Selang beberapa saat, dua orang perawat masuk ke dalam kamar Aksa untuk menjemputnya.
"Maaf Pak, Bu, kami akan membawa pasien untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut," ucap salah satu perawat meminta ijin pada Abhiyasa dan Hani sebagai wali dari pasien.
"Bagaimana dengan dokter Alfian?" tanya Hani pada perawat tersebut.
"Dokter sudah menunggu di sana Bu. Kami hanya ditugaskan untuk membawa pasien menuju ruangan pemeriksaan," jawab salah satu perawat tersebut.
"Baiklah, silahkan," tukas Abhiyasa menanggapi ucapan perawat tersebut.
Abhiyasa mencium seluruh bagian wajah puteranya dan berkata,
"Aksa tidak boleh takut. Dan ingat, Aksa harus kuat agar cepat sembuh dan kita bisa berkumpul lagi di rumah, bermain bersama seperti biasanya."
Aksa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum padanya. Kemudian dia mengacungkan jempolnya seraya berkata,
"Ok Pa, Aksa janji."
Kedua perawat tersebut membawa Aksa keluar dari mamar tersebut. Tiba-tiba saja langkah mereka dihentikan oleh suara Hani.
"Tunggu, apa kami berdua sebagai orang tuanya diperbolehkan untuk mengantarkan anak kami ke sana?"
__ADS_1