
"Yeay... Aksa punya adik...," seru Aksa kegirangan setelah mendengar penjelasan dari mama dan papanya ketika dia bertanya tentang sesuatu dalam perut mamanya.
Tentu saja berita tersebut disambut hangat dan gembira oleh kedua orang tua mereka. Para nenek dan kakek itu sangat bahagia dan bersuka cita mendengar kabar akan hadirnya cucu yang kedua di tengah-tengah keluarga besar mereka.
Acara tasyakuran kembali digelar. Para orang tua mereka menggelar acara tasyakuran dengan sangat besar. Mereka merasa sangat bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan pada anak dan cucu mereka.
Cucu mereka yang sakit, kini sudah pulih kembali. Dan Hani, anak serta menantu mereka kini sedang hamil setelah sekian lama penantian mereka.
Hari berlalu dengan cepatnya. Kini tepat tiga bulan setelah Aksa di operasi. Kandungan Hani pun baik-baik saja. Bahkan Hani benar-benar merasa puas akan ngidamnya saat ini.
Hani tidak henti-hentinya menginginkan sesuatu dengan alasan sedang ngidam. Dan Abhiyasa tidak pernah menolaknya. Dia sangat bahagia akan kehamilan istrinya, sehingga dia rela direpotkan apa saja oleh istrinya.
Sama seperti pada saat Hani sedang mengandung Aksa, kali ini juga Abhiyasa tetap memanjakan istrinya seolah seorang ratu yang hanya duduk dan selalu mendapatkan apa pun dari suaminya.
"Aksa sudah siap?" tanya Abhiyasa pada putranya ketika mobil mereka sudah sampai di depan rumah sakit jantung tempat Aksa dioperasi waktu itu.
"Siap Papa. Aksa ingin cepat sembuh, jadi Aksa harus mau melakukan pemeriksaan. Benar kan Pa?" tanya balik Aksa pada papanya.
Abhiyasa menoleh ke arah belakang, tepatnya di kursi penumpang yang ada di belakangnya. Dia tersenyum pada putranya yang duduk di kursi tersebut dan mengusap lembut rambutnya rambut putranya seraya berkata,
"Benar. Jagoan Papa memang hebat. Papa yakin, Aksa pasti bisa sembuh total dan bisa berlari tanpa khawatir lagi."
"Mama juga yakin. Karena Aksa, anak Mama dan Papa yang paling hebat," timpal Hani sambil tersenyum menoleh ke arah putranya.
Aksa tersenyum lebar. Dia bahagia karena mendapatkan dukungan dari mama dan papanya.
Masuklah mereka bertiga ke dalam rumah sakit tersebut dengan Aksa yang berjalan di antara mama dan papanya. Mereka bertiga bergandengan tangan layaknya keluarga yang harmonis dan bahagia.
"Selamat Pak, Bu, ananda Aksa sehat dan baik-baik saja. Bahkan kemajuannya sangat cepat. Mohon jaga terus kondisi ananda hingga enam bulan ke depan dan satu tahun ke depan pada saat pemeriksaan berikutnya," tutur dokter Antonio sambil tersenyum setelah melihat hasil pemeriksaan Aksa.
"Apa Aksa sudah sembuh dok?" tanya Aksa dengan sangat antusias.
__ADS_1
Dokter Antonio mengalihkan perhatiannya pada Aksa. Dia menatapnya dan tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,
"Aksa masih perlu pemeriksaan lagi hingga dinyatakan sembuh total. Nanti jika kondisi Aksa baik-baik saja pada saat pemeriksaan bulan ke enam dan satu tahun berikutnya, maka Aksa akan dinyatakan sembuh total."
"Beneran dok?" tanya Aksa dengan mata yang berbinar.
Dokter Antonio menunduk, mensejajarkan tinggi badannya sejajar dengan Aksa. Kemudian dia mengusap lembut rambut Aksa dan berkata,
"Benar. Jadi, Aksa harus benar-benar menjaga kondisi tubuh Aksa. Harus tetap sehat dan selalu ingat pesan dokter. Mengerti?"
"Siap!" seru Aksa sambil meletakkan tangan kanannya pada pelipisnya, layaknya orang yang sedang hormat.
Dokter Antonio terkekeh melihat tingkah Aksa yang berbeda dengan pasiennya yang lain. Aksa begitu ceria, semangat dan mempunyai keinginan yang tinggi untuk sembuh.
Hani dan Abhiyasa tersenyum melihat putranya yang sangat bersemangat saat ini. Mereka sangat bersyukur karena Allah mendengarkan doa-doa mereka tentang kesembuhan Aksa, putra mereka.
Malam harinya, Hani bergerak gelisah dalam tidurnya. Perutnya merasa lapar dan dia menginginkan sesuatu untuk dimakan saat ini.
Dilihatnya Abhiyasa yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Dia merasa kasihan jika membangunkannya. Akan tetapi dia merasa sangat lapar dan menginginkan sesuatu. Dalam hatinya berkata,
Hani menghela nafasnya. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Akhirnya dia mengikuti keinginannya untuk membangunkan suaminya.
"Abhi... Sayang... Bangun...," ucap Hani sambil menggerak-gerakkan badan suaminya.
Perlahan mata Abhiyasa terbuka karena mendengar suara istrinya. Dia mengusap-usap matanya seraya berkata,
"Ada apa Honey? Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Abhiyasa dengan suara seraknya, khas orang bangun tidur.
Abhiyasa sudah mengetahuinya. Bahkan dia sudah hafal pada jam berapa saja istrinya itu menginginkan sesuatu di malam hari.
"Aku... aku menginginkan australian tenderloin steak," jawab Hani ragu-ragu.
__ADS_1
Abhiyasa menghela nafasnya. Dia menatap lembut mata istrinya dan berkata,
"Apa kamu sangat menginginkannya Honey?"
Hani menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan suaminya dan berkata,
"Sepertinya lidahku menginginkan lembutnya daging australian tenderloin. Membayangkannya saja membuat air liurku menetes."
Abhiyasa tersenyum mendengar perkataan istrinya. Dia mengusap lembut istrinya dan berkata,
"Tunggu sebentar, aku akan membelikannya untukmu."
"Tunggu!" tukas Hani sambil memegang tangan suaminya.
Abhiyasa menghentikan gerakannya yang akan beranjak dari tempat tidurnya. Dia menoleh ke arah istrinya dan mengernyitkan dahinya seraya berkata,
"Ada apa Honey?"
"Aku ingin kamu yang memasaknya," jawab Hani sambil tersenyum lebar.
"Hah?! Aku?" tanya Abhiyasa seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Hani menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar menanggapi pertanyaan suaminya. Dia tahu jika keinginannya itu sangat merepotkan, tapi entah mengapa dia sangat menginginkannya.
Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Baiklah Honey, aku akan memasaknya untuk istri dan anakku ini."
Tangan Abhiyasa mengusap lembut perut istrinya menyalurkan perasaan sayangnya pada bayi yang masih ada dalam kandungan istrinya.
"Aku akan ke restoran untuk memasaknya. Sebaiknya kamu tunggu aku di rumah Honey," tutur Abhiyasa sambil beranjak dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Abhi, aku ingin ikut. Aku ingin melihat kamu ketika memasak. Pasti keren," tukas Hani dengan mata yang berbinar.
Waduh gawat! Padahal rencananya aku akan meminta tolong chef untuk datang ke restoran dan memasak untukku. Bagaimana sekarang? Abhiyasa berkata dalam hatinya.