Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 6 Nafas yang tersengal-sengal


__ADS_3

Bik Sumi dalam keadaan panik saat ini. Dia takut melihat keadaan Aksa yang nafasnya tersengal-sengal setelah jatuh ketika bermain sepak bola. Dengan ketakutannya itu, Bik Sumi segera menghubungi Abhiyasa dan Hani secara bersamaan melalui video call.


"Halo," sapa Bik Sumi ketika wajah Hani dan Abhiyasa sudah terlihat pada layar ponselnya.


Hani yang sedang bekerja, seketika menghentikan pekerjaannya ketika mendapatkan panggilan video call dari Bik Sumi bersamaan dengan Abhiyasa.


"Ada apa Bik?" tanya Hani dengan serius menatap Bik Sumi yang tidak biasanya melakukan video call bertiga dengan Abhiyasa.


"Apa ada masalah Bik?" tanya Abhiyasa menyelidik karena merasakan hal yang sama dengan Hani.


"Pak, Bu, Aksa terjatuh ketika bermain sepak bola dan dia...," Bik Sumi menggantungkan ucapannya dan memperlihatkan wajah paniknya di hadapan Abhiyasa dan Hani.


Melihat wajah panik dan kehawatiran yang tersirat pada wajah Bik Sumi dari layar ponsel mereka, Hani dan Abhiyasa melayangkan pertanyaan pada Bik Sumi dengan menyiratkan kekhawatiran mereka.


"Kenapa Bik? Apa yang terjadi?"


"Bik! Katakan apa yang terjadi?"


Hani dan Abhiyasa bertanya bersamaan. Mereka sangat khawatir dengan keadaan putra mereka saat ini.


Bik Sumi segera mengarahkan kamera ponselnya menghadap ke arah Aksa yang sedang duduk dengan nafas tersengal-sengal.


"Aksa!"


"Aksa! Sayang! "


Seru Hani dan Abhiyasa secara bersamaan dengan paniknya melihat putra mereka memegang dadanya seperti kesulitan bernafas.


"Bibik tidak tau Pak, Bu. Tadi setelah jatuh, nafas Aksa jadi seperti itu. Bibik harus bagaimana Pak, Bu? Bibik tidak tau harus bagaimana," jawab bik Sumi dengan paniknya.


Kamera ponsel Bik Sumi masih menghadap ke arah Aksa. Hanya saja suara bik Sumi masih tetap terdengar oleh Hani dan Abhiyasa pada video call mereka.


"Beri Aksa minuman Bik," perintah Abhiyasa pada bik Sumi.


"Air putih saja Bik. Beri Aksa minum air putih. Saya akan segera pulang Bik," sahut Hani sambil terburu-buru memasukkan barang-barangnya ke dalam tasnya.

__ADS_1


"Saya juga akan pulang sekarang Bik. Tolong jaga Aksa baik-baik sampai kami kembali," tukas Abhiyasa yang terdengar terburu-buru.


"Baik Pak, Bu," ucap Bik Sumi menanggapi perintah Abhiyasa dan Hani.


"Honey, tunggu aku Sayang. Sekarang aku akan menjemputmu," ujar Abhiyasa sebelum mengakhiri panggilan video call tersebut.


Setelah panggilan video call itu berakhir, Abhiyasa segera ijin untuk pulang saat itu juga. Begitu pula dengan Hani, dia segera mengemasi barangnya dan keluar dari ruangannya dengan membawa tasnya.


Dengan sangat terburu-buru, Hani membawa tasnya dan berpamitan pada atasannya dan rekan-rekan kerjanya. Dia menunggu kedatangan Abhiyasa di depan kantornya.


"Mana sih Abhi... Kenapa dia lama sekali?" gerutu Hani dengan paniknya.


Berkali-kali Hani melihat ponselnya untuk memeriksa panggilan yang kemungkinan besar dari bik Sumi ataupun dari Abhiyasa, suaminya yang sedang ditunggunya saat ini.


Setelah beberapa saat Hani menunggu kedatangan Abhiyaa yang mengatakan akan menjemputnya, akhirnya sang suami yang sedari tadi ditunggunya itu terlihat batang hidungnya.


Bibir Hani melengkung ke atas ketika mendengar suara deru motor sport yang sangat familiar di indera pendengarnya dan melihat motor sport yang selama ini menjadi saksi cintanya bersama dengan suaminya.


Hani segera naik di boncengan motor suaminya ketika motor sport tersebut berhenti tepat di hadapannya.


"Ayo, cepat Abhi, kita harus segera sampai di rumah secepatnya," ujar Hani dengan paniknya.


Jarak antara kantor Hani dan rumah mereka terasa sangat lama. Berbeda dengan saat biasanya tanpa dirundung rasa khawatir dan panik seperti saat ini.


Apalagi saat mereka terjebak oleh lampu merah yang mengharuskan mereka untuk berhenti saat itu juga. Betapa bertambah panik dan khawatirnya mereka saat ini. Wajah Aksa, putra tampan kebanggaan dan kesayangan mereka itu terbayang di pelupuk mata mereka saat ini. Wajah putra mereka yang terlihat sedang tidak baik-baik saja itu membuat mereka semakin khawatir dan panik, berharap dalam hati mereka akan segera sampai di rumah tanpa ada halangan apa pun.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di rumah. Hani segera berlari masuk ke dalam rumahnya setelah motor Abhiyasa berhenti di halaman rumah mereka.


"Aksa...! Sayang... kamu di mana?" seru Hani sambil berlari masuk ke dalam rumah dengan helm yang masih berada di kepalanya.


Bik Sumi segera berlari keluar kamar Aksa untuk menyambut majikannya.


"Aksa ada di dalam kamarnya Bu," ucap bik Sumi di sela nafasnya yang ngos-ngosan setelah berlari menemui Hani.


Hani segera masuk ke dalam kamar putranya. Dia melihat putranya yang masih berbaring dengan memegang dadanya dan nafasnya masih saja tersengal-sengal.

__ADS_1


Selang beberapa detik, masuklah Abhiyasa yang berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia berhenti tepat di depan bik Sumi dan berkata,


"Di mana Aksa Bik?"


"Di kamarnya Pak," jawab bik Sumi sambil menunjuk ke arah kamar Aksa.


Dengan segera Abhiyasa berlari masuk ke dalam kamar putranya tanpa berkata-kata pada bik Sumi.


"Aksa! Sayang... kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Hani sambil berlari kecil menghampiri putranya.


Aksa menoleh ke arah mamanya. Dia tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


Namun, Hani tahu jika putranya tidak baik-baik saja saat ini. Dia duduk di dekat putranya yang sedang terbaring. Tangannya mengusap lembut rambut putranya seraya berkata,


"Katakan Sayang, apa yang sedang kamu rasakan saat ini."


Abhiyasa segera berlari masuk ke dalam kamar putranya. Dia duduk di dekat putranya dan mencium dahi putranya dengan penuh kasih sayang.


"Aksa jagoan Papa yang paling tampan dan hebat, jawab pertanyaan Mama ya," ucap Abhiyasa sambil tersenyum dan mengusap lembut pipi putranya.


"Ini... gak nyaman," ucap Aksa lirih sambil memegang dadanya.


Hani menoleh ke arah Abhiyasa yang juga menoleh ke arahnya. Kemudian dia berkata,


"Abhi, apa kita bawa Aksa ke rumah sakit saja sekarang?"


Abhiyasa mengangguk setuju menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Hani padanya. Abhiyasa segera beranjak dari duduknya dan bersiap untuk menggendong putranya seraya berkata,


"Ayo kita bawa dia sekarang juga."


Hani pun beranjak dari duduknya dan berjalan cepat berusaha mengimbangi langkah cepat dan lebar dari kaki suaminya. Dengan usaha kerasnya itu, kini Hani berhasil berjalan di samping suaminya.


"Bik, tolong jaga rumah. Kami akan membawa Aksa ke rumah sakit sekarang juga," perintah Hani pada bik Sumi.


"Baik Bu," jawab bik Sumi meskipun kini Hani dan Abhiyasa sudah tidak berada di dekatnya.

__ADS_1


Hani dan Abhiyasa membawa putra mereka ke rumah sakit terdekat dari rumah mereka, berharap jika putra mereka akan segera mendapatkan pertolongan saat ini.


"Tolong periksa putra kami," seru Abhiyasa ketika masuk ke dalam ruang IGD bersama dengan Abhiyasa yang berada dalam gendongannya dan Hani yang berjalan di sampingnya.


__ADS_2