Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 15 VSD


__ADS_3

Abhiyasa dan Hani ikut mengantarkan putera mereka ke ruang pemeriksaan. Di sana mereka hanya menunggu di ruang tunggu yang ada di depan ruangan tersebut.


"Aksa, putera Papa yang pemberani. Aksa gak boleh takut ya. Aksa harus kuat dan harus berani. Aksa akan baik-baik saja. Aksa sangat hebat, jadi tetaplah jadi anak yang hebat," tutur Abhiyasa sebelum melepaskan tangannya untuk membiarkan puteranya masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Hani pun demikian, dia memegang tangan puteranya seolah enggan untuk melepaskannya. Matanya berkaca-kaca melihat puteranya yang masih berumur dua setengah tahun harus mengalami hal ini. Dia tidak mengira jika Allah memberinya ujian seperti ini.


"Maaf Pak, Bu, sudah waktunya ananda masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Dokter sudah menunggu di sana," tutur perawat tersebut pada Abhiyasa dan Hani.


Abhiyasa melepaskan tangannya. Dia memegang tangan Hani dan berkata,


"Lepaskan tangannya sekarang Honey. Biarkan Aksa menjalani semua pemeriksaan agar cepat ditangani penyakitnya."


Dengan berat hati Hani melepaskan tangan puteranya seraya berkata,


"Aksa gak boleh takut ya Sayang. Mama dan Papa menunggu di sini."


"Aksa gak takut Ma. Mama tenang saja. Jika Aksa memang sakit, Aksa juga ingin cepat sembuh. Mama tenang saja ya," ujar Aksa sambil tersenyum pada mamanya.


Brankar yang di atasnya terdapat Aksa pun segera dibawa masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Dan senyuman Aksa itu sangat membekas di hati Hani dan juga Abhiyasa.


Mereka berdua, Hani dan Abhiyasa duduk di ruang tunggu yang ada di depan ruangan tersebut. Mereka berdua duduk dengan kecemasannya sendiri-sendiri.


"Abhi, kenapa Allah memberikan cobaan ini pada kita? Kenapa harus Aksa, anak kita yang masih sekecil itu harus merasakan ini?" tanya Hani pada Abhiyasa dengan suara yang bergetar dan matanya yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Abhiyasa meraih tangan istrinya. Dia menggenggamnya dan berkata,


"Berarti kita orang pilihan Sayang. Allah akan menaikkan derajat kita jika kita bisa dengan sabar melalui semua cobaan yang diberikannya pada kita. Dan ingatlah selalu, Allah gak akan membiarkan umatnya terpuruk. Yakinlah dan berusahalah, Allah pasti akan membantu kita. Aku yakin jika Allah akan memberikan takdir yang indah untuk keluarga kita."


Hani mengangguk lemah. Dia menyandarkan kepalanya pada pundak suaminya. Dan dia berusaha menyeka air mata yang sedikit menetes di pipinya.


Abhiyasa merangkul tubuh istrinya dari samping. Di ruang tunggu itu mereka duduk dan saling menguatkan. Hani menguatkan suaminya dengan cintanya dan kesabarannya menyertai suaminya untuk menghadapi cobaan hidup mereka bersama. Sedangkan Abhiyasa, dia menguatkan istrinya dengan memberikan semangat serta memeluknya agar istrinya tetap kuat menghadapi cobaan ini bersamanya.


Pemeriksaan tersebut meliputi, Echo jantung, untuk menentukan ukuran, lokasi, dan tingkat keparahan VSD, serta ada tidaknya kelainan jantung lain, seperti tetralogy of Fallot. Foto Rontgen dada, untuk memeriksa kondisi jantung dan paru-paru. Elektrokardiogram (EKG), untuk merekam dan memeriksa aktivitas listrik jantung. Katerisasi jantung, untuk memeriksa kondisi jantung langsung dari dalam. Dan MRI, untuk mendeteksi kemungkinan adanya kondisi cacat jantung lain.


Setelah beberapa saat, pemeriksaan Aksa pun selesai. Mereka membawa Aksa kembali ke kamar inapnya.


"Pak, Bu, menurut hasil pemeriksaan, memang benar putera Bapak dan Ibu menderita VSD. Suatu cacat jantung karena koneksi yang abnormal antara bilik bawah jantung (ventrikel). Defek septum ventrikel adalah cacat jantung umum yang paling sering terjadi pada saat lahir, tetapi dapat terjadi pada orang dewasa setelah operasi atau serangan jantung. Terdapat sebuah lubang di dinding antara bilik-bilik bawah jantung. Bisa dibilang jantung bocor. Akan tetapi, untuk kasus putera Bapak dan Ibu ini karena faktor genetik, sehingga penyakit ini memang sudah bawaan dari lahir," tutur dokter tersebut.


Seketika Hani lemas. Badannya terhuyung seolah tidak bertenaga dan tidak bertulang. Untung saja Abhiyasa ada di sampingnya, sehingga dia bisa dengan sigapnya menangkap tubuh istrinya.


"Maaf Bu, jika ini sangat mengagetkan. Tapi kami harus menyampaikannya pada wali pasien agar cepat ditangani," ujar dokter Antonio dengan wajah yang sedikit bersalah.


"Tidak masalah dok. Kami orang tuanya dan kami harus mengetahuinya meskipun seburuk apa pun hal itu," tukas Abhiyasa sambil merangkul istrinya.


Hani berusaha berdiri dengan sisa tenaganya. Kemudian dia bertanya pada dokter tersebut.


"Lalu, apa anak kami bisa disembuhkan dok?"

__ADS_1


"Bisa Bu. Beruntungnya pasien mengidap penyakit jantung bawaan fase paling ringan karena kurang sempurnanya sekat penutup jantung untuk memisahkan udara yg masuk dan keluar, sehingga masih bisa ditangani. Dan beruntung sekali penyakit ini bisa ditemukan sekarang, karena jika sudah berumur lima tahun, maka pengobatannya pun sudah berbeda," jelas dokter Antonio sambil menatap pada Abhiyasa dan Hani secara bergantian.


Hani dan Abhiyasa terlihat kaget mendengar penjelasan dari dokter Antonio. Terbersit sedikit rasa syukur dari dalam hati Hani mendengar penjelasan dari dokter tersebut.


"Benarkah dok? Apa ini tandanya kami harus bersyukur karena penyakit putera kami ini bisa terdeteksi sejak dini?" tanya Abhiyasa disertai helaan nafasnya.


"Bisa dibilang begitu Pak. Karena jika usia pasien sudah berumur di atas lima tahun, makan harus memakai ring jantung. Dan bisa Bapak dan Ibu bayangkan sendiri, jika memakai ring jantung, maka akan ada benda asing yang masuk di dalam tubuh," jawab dokter tersebut sambil menatap Abhiyasa dan Hani secara bergantian.


"Lalu, bagaimana pengobatan untuk anak kami dok?" tanya Hani yang terlihat sangat cemas saat ini.


"Pasien harus dioperasi, nanti akan saya jelaskan pada Bapak dan Ibu. Sekarang saya permisi dulu untuk membicarakan kasus ini pada dokter lainnya. Karena pasien masih kecil, jadi kami dokter jantung harus bekerja sama dengan dokter lainnya. Agar psikis anak juga tidak terganggu, kami juga membutuhkan bantuan dari dokter psikologi dan dokter penyakit dalam untuk membantu kami. Jadi kami nantinya akan ada tim untuk menangani pasien," jawab dokter Antonio dengan sangat yakin.


Hani menghela nafasnya mendengar pernyataan dari dokter tersebut. Dia kembali melingkarkan tangannya pada lengan suaminya untuk berpegangan padanya. Mendengar berita seperti ini membuat Hani merasa dunianya seketika hancur.


Namun, dia tidak bisa ikut hancur. Seperti yang dikatakan Abhiyasa padanya, mereka berdua harus tetap kuat untuk Aksa, putera mereka yang sedang sakit saat ini. Jika mereka berdua tidak kuat, maka Aksa pasti akan merasa sangat sedih.


Dokter Antonio pun meninggalkan mereka berdua setelah berpamitan pada mereka. Sedangkan Hani dan Abhiyasa, mereka bergegas kembali menuju kamar inap puteranya yang kemungkinan besar sedang menunggu kedua orang tuanya.


"Aksa, kamu gak tidur? Mama sama Papa kira kamu sedang tidur," ucap Abhiyasa sambil tersenyum berjalan bersama Hani mendekati puteranya.


Aksa menggelengkan kepalanya. Dia menatap kedua orang tuanya secara bergantian seraya berkata,


"Sebenarnya Aksa sakit apa Pa, Ma?"

__ADS_1


__ADS_2