Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 23 Ruang Isolasi


__ADS_3

Abhiyasa membimbing Hani beranjak dari duduknya berjalan mendekati ruang operasi. Tangan Hani mencengkeram kuat tangan Abhiyasa yang sama-sama sedang merasa cemas dan khawatir akan keadaan putra mereka.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa perawat-perawat tadi sepertinya sedang tergesa-gesa? Apa terjadi sesuatu di dalam sana?" tanya Hani dengan paniknya.


Abhiyasa tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya. Dia juga panik melihat ke arah ruang operasi seolah sedang mencari tahu apa yang terjadi di dalam ruangan operasi itu.


"Kenapa lama sekali? Kenapa gak ada yang keluar lagi?" tanya Hani kembali panik sambil melihat ke arah ruang operasi.


Abhiyasa menghela nafasnya. Dia mencoba setenang mungkin untuk menghadapi situasi tersebut. Dan dia juga harus bisa meyakinkan bahwa tidak terjadi apa-apa dengan putra mereka agar istrinya tetap tenang saat ini.


"Honey," panggil Abhiyasa sambil menatap istrinya.


Hani menoleh ke arah samping, di mana suaminya berada. Dia menatap suaminya dengan tatapan penuh kesedihan dan mata yang berkaca-kaca.


Melihat istrinya yang seperti itu, Abhiyasa merasa sangat sedih dan tidak tega. Ditatapnya dengan lembut mata istrinya seraya tersenyum dan berkata,


"Sayang, kita harus tenang dan tetap berdoa untuk kelancaran operasi Aksa."


"Tapi tadi perawat-perawat itu--"


"Yakinlah, Aksa, putra kita baik-baik saja. Kamu liat sendiri kan, sekarang perawat-perawat itu gak keluar lagi dari ruang operasi," tutur Abhiyasa mencoba agar tetap tersenyum dan tenang saat ini.


Hani mengalihkan pandangannya menuju ruang operasi. Dia menghela nafasnya yang terdengar sangat berat saat ini. Kemudian dia kembali menatap suaminya dan berkata,


"Semoga saja operasinya berhasil dan Aksa bisa cepat pulih serta kembali sehat."


"Amin... Semoga ya Sayang. Sekarang kita duduk kembali, menunggu seperti tadi dan berdoa pada Allah agar operasinya berhasil tanpa ada sedikit pun kesalahan yang terjadi di dalam ruang operasi," tutur Abhiyasa kembali sambil membimbing istrinya berjalan menuju tempat duduk yang sebelumnya mereka tempati.

__ADS_1


Hani dan Abhiyasa, mereka berdua duduk di ruang tunggu yang berada di depan ruang operasi sambil merapal doa, meminta pada Allah agar operasi putra mereka berjalan dengan lancar tanpa ada kesalahan dalam proses operasinya.


Setelah beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Keluarlah dokter Antonio beserta beberapa dokter lainnya. Dengan segera Abhiyasa dan Hani beranjak dari duduknya, mereka berjalan cepat menghampiri dokter Antonio yang berjalan keluar dari ruang operasi.


"Dok, bagaimana keadaan anak kami?" tanya Abhiyasa yang terdengar sangat cemas.


"Bagaimana dengan operasinya dok?" tanya Hani yang tidak kalah cemas dengan Abhiyasa.


Dokter Antonio tersenyum dan menatap Abhiyasa serta Hani secara bergantian dan berkata,


"Operasinya berjalan dengan lancar Oak, Bu. Dan bisa Bapak Ibu lihat jika operasi hanya membutuhkan waktu satu jam tiga puluh menit. Padahal biasanya operasi seperti ini membutuhkan waktu satu jam hingga enam jam, jadi operasi ini bisa dibilang lancar dan berhasil. Akan tetapi, kita harus memantau keadaan pasien setelah operasi ini selesai."


Seketika mata Hani dan Abhiyasa berbinar. Bibir mereka berdua melengkung ke atas mendengar penjelasan dari dokter Antonio.


"Apa Aksa baik-baik saja dok?" tanya Hani penasaran.


"Kita lihat perkembangannya nanti ya Bu, semoga proses pemulihannya cepat agar pasien bisa kembali pulih," jawab dokter Antonio sambil tersenyum menatap Abhiyasa dan Hani secara bergantian.


"Pasien sudah sadar, silahkan Bapak dan Ibu bertemu dengan pasien. Hanya beberapa saat saja, karena pasien akan kami tidurkan kembali selama tiga hari di dalam ruangan ICCU," tutur dokter Antonio dengan serius pada Abhiyasa dan Hani.


Dengan cepatnya Hani menemui Aksa, disusul oleh Abhiyasa setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada dokter Antonio.


Aksa tersenyum melihat mama dan papanya. Dia terlihat lemah karena masih dalam pengaruh obat. Tangan Hani mengusap lembut kepala putranya itu.


"Aksa Sayang, Aksa baik-baik saja kan?" tanya Hani dengan mata yang berkaca-kaca.


Aksa tersenyum tipis dan mengangguk lemah menanggapi pertanyaan dari mamanya. Kemudian dia beralih menatap papanya yang ada di sebelahnya, berada di hadapan mamanya.

__ADS_1


"Aksa, jagoan Papa pasti kuat kan?" tanya Abhiyasa sambil tersenyum dan sekuat tenaga menahan kesedihannya.


Aksa tersenyum tipis dan kembali mengangguk lemah sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Abhiyasa padanya.


Abhiyasa mengusap lembut pipi putranya sambil tersenyum dan berkata,


"Tetap kuat dan cepat pulih ya Sayang, agar Aksa bisa main bola kembali bersama Papa. Ingat janji kita untuk berlibur bukan?"


Aksa kembali menganggukkan kepalanya Dengan lemah dan mengedipkan kedua matanya sebagai jawaban dari pertanyaan papanya.


Hani menahan sekuat tenaga air matanya agar tidak menetes. Dia tidak mau putranya mengetahui kesedihannya dan air matanya. Karena Aksa, putranya itu tidak suka jika melihat air mata mamanya menetes di pipinya.


"Maaf Pak, Bu, kami harus segera membawanya ke ruangan ICCU sekarang juga," tutur dokter Antonio yang masih berada di dekat mereka.


Hani dan Abhiyasa mencium lembut putra mereka. Abhiyasa membisikkan sesuatu di telinga putranya. Kemudian dia dan Hani menyingkir, sehingga perawat bisa memindahkan Aksa menuju ruangan ICCU.


Dokter Antonio mengikuti Aksa yang sedang dipindahkan ke ruangan ICCU dengan menggunakan brankar pasien. Sesampainya di ruangan ICCU, dokter Antonio menidurkan kembali Aksa selama tiga hari. Setelah itu dia dan perawat keluar dari ruangan tersebut.


Hani dan Abhiyasa hanya bisa melihat dari luar ruangan yang berdinding kaca. Mereka merasa sangat sedih tidak bisa berada di dekat putra mereka saat ini.


Aksa di tempatkan di ruangan ICCU agar udara yang masuk ke dalam jantung harus benar-benar bersih dan juga tidak ada virus ataupun kuman yang masuk lewat udara. Semua ini bertujuan agar tidak terjadi infeksi pada jantung yang telah dioperasi.


Operasi kali ini, dokter mengambilkan sel daging dari bagian pangkal paha dan disambungkan dengan cara dijahit halus ke sekat jantungnya. Nantinya dalam satu tahun sel tersebut akan menyambung dan menjadi daging.


Dalam fase ini Abhiyasa dan Hani hanya bisa memantau putra kesayangan mereka dari luar, melalui kaca yang mengelilingi ruangan isolasi tersebut.


Ada sedikit perasaan lega yang dirasakan oleh Abhiyasa dan Hani. Akan tetapi perasaan khawatir serta kesedihan mereka itu masih saja menyelimuti hati mereka. Bagaimanapun mereka berdua adalah orang tua Aksa, mereka tidak tega melihat anak mereka yang akan satu minggu lagi akan memasuki umur tiga tahun itu sedang berjuang untuk bertahan hidup.

__ADS_1


Ketika melihat perawat yang berjalan di depan mereka, Hani teringat akan sesuatu. Dia pun bertanya pada suaminya.


"Sayang, dua perawat yang berlari keluar dari ruang operasi tadi kenapa? Apa ada yang terjadi pada saat operasi berlangsung?"


__ADS_2