
"Apa kamu masih penasaran Sayang?" tanya Abhiyasa sambil menatap Hani yang sedang duduk di sampingnya sambil menatap putranya yang terlihat dari kaca pembatas.
Hani menghela nafasnya yang terdengar sangat berat. Dia menoleh ke arah suaminya dan menatapnya seraya berkata,
"Aku hanya ingin tau aja, apa yang terjadi sewaktu operasinya berlangsung. Apa kita gak boleh tau?"
"Boleh. Nanti kita tanyakan pada dokter Antonio ya," jawab Abhiyasa sambil tersenyum, sebisa mungkin dia mencoba untuk menenangkan istrinya.
"Sekarang saja, yuk Abhi, mumpung lagi ingat," ajak Hani sambil menarik tangan Abhiyasa.
Abhiyasa tidak bisa menolak keinginan istrinya. Dia bersama dengan istrinya berjalan meninggalkan ruang tunggu ICCU menuju ruangan dokter Antonio.
Namun, ketika Hani dan Abhiyasa menuju ruangan dokter Antonio, mereka berdua berpapasan dengan seorang perawat yang wajahnya familiar.
Hani menghentikan langkahnya dan menarik tangan suaminya agar menghentikan langkahnya. Kemudian dia bertanya,
"Sayang, bukankah itu perawat yang berlari keluar dari ruang operasi? Kamu ingat gak?Yang keluar masuk dari ruang operasi untuk mengambil darah waktu itu."
Abhiyasa melihat ke arah perawat tersebut yang sedang berbincang dengan perawat lainnya. Dia mengernyitkan dahinya seolah sedang mengingat-ingat, kemudian dia berkata,
"Iya benar, perawat itu yang tergesa-gesa berlari keluar masuk ruang operasi. Apa kita tanyakan saja padanya, Honey?"
Hani menganggukkan kepalanya seraya menarik tangan Abhiyasa agar cepat berjalan menghampiri perawat tersebut.
"Maaf Sus, saya mau tanya," ucap Hani ketika sudah berada di dekat perawat tersebut.
Dua perawat yang sedang berbincang tersebut menoleh ke arah Hani dan Abhiyasa yang berdiri di dekat mereka.
"Iya Bu, ada yang bisa kami bantu?" tanya perawat yang dikenali oleh Hani dan Abhiyasa.
"Iya Sus. Maaf, kami mau tanya. Pada saat operasi berlangsung, Suster berlari keluar masuk ruang operasi untuk mengambil darah, benar bukan?" tanya Hani dengan tatapan menyelidik pada perawat tersebut.
__ADS_1
"Iya, benar. Maaf ya, Bapak dan Ibu ini siapa? Dan apa keperluan Bapak dan Ibu menanyakan tentang itu?" tanya balik perawat tersebut setelah dia menjawab pertanyaan Hani.
Hani menoleh ke arah Abhiyasa, meminta persetujuan darinya untuk menanyakannya. Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang akan ditanyakan istrinya pada perawat tersebut.
"Kami orang tua dari pasien yang bernama Aksa. Putra kami sedang dioperasi pada saat Suster keluar masuk ruang operasi. Apa yang sebenarnya terjadi pada saat operasi berlangsung?" tanya Hani kembali pada perawat tersebut.
"Maaf Bu, pasien yang waktu itu kami tangani bukan putra Ibu dan Bapak. Kami ada di ruang operasi sebelah ruangan putra Bapak dan Ibu ketika sedang dioperasi. Jadi, darah yang saya ambil waktu itu bukan untuk putra Bapak dan Ibu, tapi untuk pasien yang sedang kami operasi," jawab perawat tersebut berusaha menjelaskan pada Hani dan Abhiyasa.
"Benarkah Sus?" tanya Hani kembali seolah tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh perawat tersebut.
"Iya Bu, saya tidak bohong. Ibu dan Bapak bisa tanyakan pada dokternya secara langsung jika masih ragu," jawab perawat tersebut berusaha untuk meyakinkan Hani.
Hani menoleh ke arah Abhiyasa yang ada di sampingnya. Suaminya itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya padanya. Hani pun bernafas lega, begitu pula dengan Abhiyasa yang merasa lega karena tidak terjadi hal buruk di dalam ruang operasi ketika operasi putranya berlangsung.
"Baiklah Sus, terima kasih. Maaf telah menanyakan perihal tadi pada Suster," tukas Hani yang merasa sungkan pada perawat tersebut.
Setelah itu Hani dan Abhiyasa kembali menuju ruang ICCU. Mereka menunggu Aksa yang akan dibangunkan oleh dokter setelah tiga hari berlalu.
Selama ini mereka berhasil menunggu putra mereka tanpa digantikan oleh orang lain. Kali ini pun mereka harus bisa bertahan hingga putra mereka benar-benar dinyatakan sembuh oleh dokter yang menanganinya.
...----------------...
Hari demi hari berlalu. Setiap detik, menit dan jam yang berlalu merupakan hasil kesabaran dan penantian dari mereka berdua.
Sudah tiga hari mereka menunggu. Siang ini dokter akan membangunkan Aksa. Mereka menunggu saat-saat itu tiba. Saat di mana mereka berdua bisa bertemu, berbicara, bercanda dan berkumpul kembali dengan putra mereka.
Cemas, mereka merasa cemas menunggu saat itu tiba. Akan tetapi mereka juga merasa tidak sabar untuk menunggu saat-saat putra mereka membuka matanya kembali.
Siang itu, dokter Antonio beserta satu orang perawat menuju ke ruang ICCU. Ketika melewati ruang tunggu di depan ruang ICCU, mereka bertemu dengan Hani dan Abhiyasa. Dokter Antonio berhenti untuk menyapanya.
"Selamat siang, Pak, Bu. Kami akan membangunkan putra Bapak dan Ibu. Tolong tunggu dulu di sini. Jika pasien sudah bangun, kami akan memanggil Bapak dan Ibu," tutur dokter Antonio sambil tersenyum dan menunduk hormat ketika akan meninggalkan mereka.
__ADS_1
Abhiyasa dan Hani hanya bisa melihat putra mereka dari luar. Mereka berdiri dan melihat dari kaca luar sembari merapal doa untuk putra mereka.
Setelah beberapa saat dokter berada di ruangan tersebut, mata Aksa secara perlahan terbuka. Dokter memeriksa keadaan Aksa secara keseluruhan. Dokter Antonio tersenyum melihat hasil pemeriksaan Aksa yang baik-baik saja dan responsif.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter Antonio beserta perawat yang mengikutinya keluar dari ruangan tersebut.
Dokter Antonio kembali menemui Hani dan Abhiyasa untuk memberitahukan keadaan putra mereka.
"Pak, Bu, operasinya sukses. Pasien sudah sadar dan baik-baik saja. Tidak ada infeksi dan bekas operasinya juga sudah kering. Hanya saja untuk selanjutnya akan dilakukan fisioterapis. Untuk saat ini pasien akan dipindahkan ke kamar inapnya. Bapak dan Ibu bisa memilih kembali kamar untuk pasien atau tetap di kamar yang kemarin saja?"
Hani menoleh ke arah Abhiyasa yang ada di sampingnya seolah bertanya dan meminta pendapat pada suaminya.
"Kamar putra kami yang sebelumnya VIP, apa bisa diganti ke kamar VVIP dok?" tanya Abhiyasa pada dokter Antonio.
"Bisa Pak, silahkan Bapak dan Ibu melakukan prosedur untuk administrasinya agar pasien bisa segera dipindahkan," jawab dokter Antonio sambil tersenyum.
"Baik dok, akan kami urus sekarang. Saya hanya mau yang terbaik dan ternyaman untuk putra saya," ujar Abhiyasa sambil menganggukkan kepalanya untuk berpamitan pada dokter Antonio sebelum meninggalkan tempat tersebut.
Hani ikut bersama dengan Abhiyasa menyelesaikan urusan administrasi kamar putra mereka. Setelah urusan administrasi selesai, mereka menuju kamar yang akan ditempati oleh putranya.
"Sayang, apa tidak terlalu berlebihan mengganti kamar VIP ke VVIP?" tanya Hani pada Abhiyasa ketika mereka berjalan menuju kamar di lantai khusus VVIP.
Abhiyasa menatap lembut pada istrinya seraya berkata,
"Honey, bukannya aku berlebihan, hanya saja kenyamanan dan fasilitas terbaiklah yang harus didapatkan Aksa pasca operasi. Dia akan butuh ruang khusus untuk menjaga kondisinya. Jadi, kita harus memberikan yang terbaik untuk putra kita."
Hani tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca menatap suaminya. Dia begitu bersyukur mempunyai Abhiyasa sebagai suaminya. Menurutnya, Abhiyasa adalah suatu anugerah yang diberikan oleh Allah padanya. Begitu pula dengan Abhiyasa, dia merasa jika Allah memberikan anugerah dengan menjadikan Hani sebagai istrinya.
Sesampainya di kamar VVIP yang dihuni oleh Aksa, Hani dan Abhiyasa masuk ke dalam kamar tersebut. Tampak perawat masih menemaninya dan memeriksa peralatan medis yang masih menempel di tubuh Aksa.
Aksa masih terlihat sangat lemah. Dia tersenyum melihat mama dan papanya yang berada di dekatnya, kemudian dia berkata lirih,
__ADS_1
"Ma, Pa, kenapa kaki Aksa sulit digerakkan?"