Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2

Polisi Tampan Dan Banker Cantik 2
Bab 11 Hasil pemeriksaan


__ADS_3

Abhiyasa segera meraih tubuh istrinya. Dia memeluk dan menenangkannya seraya berkata,


"Aksa baik-baik saja. Dia laki-laki kuat. Dan kita harus meyakini itu. Jangan biarkan pikiran buruk tentang penyakitnya itu menghantui pikiran kita. Ingatlah Sayang, jika pikiran kita positif maka akan terjadi hal yang positif juga. Jadi... mari kita berdoa untuk kesehatan jagoan kita."


"Maafkan aku Abhi. Aku gak akan berpikiran seperti itu lagi," ucap Hani disertai tetesan air matanya yang mengalir di pipinya.


Abhiyasa mengurai sedikit pelukannya untuk melihat wajah cantik istrinya yang sedari tadi terlihat sangat khawatir. Sayangnya Abhiyasa melihat kesedihan yang disertai air mata pada wajah cantik istrinya, sehingga membuat hati Abhiyasa merasa sedih.


"Sayang, kenapa kamu menangis? Jangan menangis, kita harus kuat untuk putra kita. Jika kita gak kuat, maka Aksa akan berpegangan pada siapa jika bukan berpegangan pada kita?" tutur Abhiyasa dengan paniknya.


Dengan segera Hani mengusap air mata di pipinya. Dia merasa jika apa yang dikatakan oleh Abhiyasa benar adanya.


"Aku janji, aku gak akan berbicara seperti tadi," ujar Hani dengan suara sedikit tercekat seraya memaksakan senyumnya pada suaminya.


Abhiyasa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia merangkul pundak istrinya dan mengajaknya berjalan untuk berada di samping putra mereka.


Siapa yang tidak bersedih jika melihat anak mereka terbaring lemah di tempat tidur. Terlebih lagi dengan vonis penyakit dari dokter yang masih belum pasti. Berbagai kemungkinan ada dalam pikiran mereka. Hanya berdoa saja yang bisa mereka lakukan saat ini. Dengan harapan akan ada kebahagiaan setelah ujian yang diberikan oleh Allah pada mereka, pada keluarga kecil mereka.


......................


Keesokan harinya, Aksa melakukan tes untuk mengetahui penyakit apa yang sedang dideritanya. Tentu saja tes yang dilakukan itu secara bertahap. Untuk hari ini Aksa melakukan tes darah dan selanjutnya akan menyusul tes yang lainnya.


Hari demi hari dilalui Aksa di klinik besar yang mempunyai fasilitas serta peralatan yang lengkap itu. Badan Aksa masih saja demam dan turun layaknya penyakit demam berdarah.


Namun, hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan jika Aksa tidak sedang sakit demam berdarah. Bahkan hasil pemeriksaan jantungnya pun sudah dilakukan.


"Pak, Bu, bisa kita berbicara sebentar?" tanya dokter yang sedang menangani penyakit Aksa.


"Silahkan dok," jawab Abhiyasa sambil mempersilahkan dokter tersebut duduk di sofa yang ada dalam kamar inap itu.


Dokter mantap Hani dan Abhiyasa secara bergantian. Kemudian dia berkata,


"Apa kita akan berbicara di sini Pak? Apa tidak sebaiknya berbicara di dalam ruangan saya saja?"

__ADS_1


"Maaf dok, jika kami ikut ke ruangan dokter, lalu siapa yang akan menjaga anak kami dok?" tanya balik Hani pada dokter tersebut tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh dokter tersebut padanya dan suaminya.


Dokter tersebut menoleh ke arah Aksa yang sedang bermain mobil-mobilan dengan duduk berselonjor di atas tempat tidur pasien. Kemudian dia berkata,


"Baiklah Pak, Bu, saya akan menjelaskannya di sini. Akan tetapi saya juga sedang menunggu hasil pemeriksaan jantung yang dilakukan putra Bapak dan Ibu kemarin."


Hani menoleh ke arah Abhiyasa yang sedang duduk di sampingnya. Terlihat jelas kegelisahan dari wajah Hani saat ini. Abhiyasa mengetahui kegelisahan hati istrinya. Dia memegang tangan istrinya dan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum padanya untuk menenangkan istrinya itu.


"Tenanglah Honey," tutur Abhiyasa berbisik di telinga istrinya.


Hani menganggukkan kepalanya dan menenangkan dirinya dengan berdoa dalam hatinya akan kesehatan putranya.


Dokter tersebut membuka amplop besar yang dibawanya. Kemudian dia mengambil kertas dari dalam amplop tersebut yang merupakan hasil pemeriksaan laboratorium Aksa tempo hari.


"Menurut hasil laboratorium tempo hari, putra Bapak dan Ibu tidak terkena demam berdarah," ucap dokter tersebut sambil melihat kembali hasil tes darah dari laboratorium.


Seketika mata Hani berbinar mendengar apa yang dikatakan oleh dokter padanya. Aksa, putranya dan Abhiyasa tidak sedang mengidap penyakit demam berdarah. Hal itu sangat membahagiakan bagi Hani dan Abhiyasa.


"Alhamdulillah...," ucap Hani dan Abhiyasa bersamaan penuh dengan raa syukur.


"Dugaan? Dugaan apa dok?" tanya Hani sambil mengernyitkan dahinya.


Dokter kembali menatap Hani dan Abhiyasa secara bergantian. Dia menghela nafasnya ketika melihat Aksa yang begitu ceria sedang bermain layaknya anak seusianya yang benar-benar sehat.


Hani mencengkeram tangan Abhiyasa untuk memberitahukan betapa besarnya kekhawatirannya pada kondisi kesehatan putra mereka.


"Dok, bisa jelaskan apa yang dokter maksudkan tadi?" tanya Abhiyasa yang tidak kalah cemas dengan istrinya.


"Maaf Pak, Bu, ini sementara hanya dugaan kami saja. Belum tentu apa yang kami pikirkan itu benar-benar terjadi. Lebih baik kita menunggu hasil pemeriksaan jantungnya saja dulu, agar--"


"Katakan saja dok agar kami bisa mengerti," sahut Abhiyasa dengan tegas.


Dokter tersebut kembali menatap Abhiyasa dan Hani. Kini dia merasa tidak ada pilihan lagi selain memberitahukan pada mereka berdua sebagai wali dari Aksa.

__ADS_1


"Kami mengira jika putra Bapak dan Ibu terdapat flek pada jantungnya," ujar dokter tersebut sambil menatap Hani dan Abhiyasa secara bergantian.


Sontak saja Hani dan Abhiyasa terkejut mendengarnya. Bahkan mata Hani kini berkaca-kaca seolah tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh dokter tentang penyakit yang diderita putranya.


Melihat ekspresi Hani dan Abhiyasa saat ini membuat dokter tersebut merasa bersalah.


"Ini hanya dugaan kami Pak, Bu. Dan belum pasti. Kita akan memastikannya setelah hasil dari pemeriksaan jantung pasien sudah kami terima," sambung dokter itu kembali dengan tatapan rasa bersalahnya.


Abhiyasa menoleh ke arah istrinya dan tersenyum padanya. Tangannya pun masih menggenggam tangan istrinya. Kemudian dia menghadap ke arah dokter tersebut dan berkata,


"Baik dok, kami mengerti. Kami berdua akan menunggu hasil pemeriksaannya."


Dokter tersebut menganggukkan kepalanya. Kemudian dia melihat jam yang melingkar di tangan kanannya seraya berkata,


"Saya permisi dulu Pak, Bu. Saya akan memberitahu hasil pemeriksaan itu secepatnya jika hasilnya sudah keluar."


"Baik dok, terima kasih," ucap Abhiyasa mewakili istrinya.


Dokter tersebut beranjak dari duduknya, hendak keluar dari kamar inap tersebut. Tiba-tiba saja ponsel dokter tersebut bergetar secara terus menerus, menandakan ada telepon masuk di ponselnya. Tangannya segera mengambil ponselnya dari sakunya.


"Halo, ada apa? Apa ada pasien darurat?" tanya dokter tersebut pada orang yang sedang meneleponnya.


Dok, hasil pemeriksaan jantung pada pasien yang bernama Aksa Putra Nareswara sudah keluar, jawab seseorang yang sedang bertelepon dengan dokter tersebut.


"Tolong cepat antar ke kamar inap pasien tersebut, karena saya sedang berada di ruangan itu," perintah dokter tersebut pada perawat yang menghubunginya.


Baik dok, jawab perawat tersebut melakui telepon.


Setalah itu telepon mereka pun berakhir. Selang beberapa menit, perawat tersebut masuk ke dalam kamar inap Aksa dengan membawa amplop besar yang di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan jantung Aksa.


Dengan segera dokter tersebut membuka amplop itu dan membaca hasil pemeriksaan tersebut.


Hani menatap cemas pada hasil pemeriksaan yang sedang dibaca oleh dokter tersebut. Kemudian dia bertanya,

__ADS_1


"Dok, bagaimana hasilnya?


__ADS_2