Praja

Praja
10. Teguran


__ADS_3

Uci berlari menaiki anakan tangga kayu. Air menetes membasahi papan kayu yang dialas oleh spanduk partai yang tak berguna lagi.


Langkah gadis itu terhenti ketika ia mendapati Fatia yang kini tengah berdiri menatapnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Wajah Fatia terlihat marah, walau ia tak memberitahunya tapi gambaran amarah itu tak mampu tertutupi.


"Uci, Uci. Kamu ini kenapa suka sekali membuat masalah?"


"Masalah? Uci tidak merasa membuat masalah."


Fatia menyentuh keningnya yang terasa pening. Percuma ia bicara dengan Uci.


"Uci, kamu tau orang yang datang itu siapa?"


"Siapa?"


"Orang yang datang ke rumah. Mereka ingin melamar kamu untuk putranya itu."


"Melamar? Siapa yang ingin dilamar? Apa ibu menikah lagi?"


Fatia menghela nafas panjang. Tuhan, ia lelah mendapat anak tiri seperti ini.


"Kamu yang ingin dilamar."


"A-aku?"


"Ya."


Uci menutup mulutnya yang terbuka itu dengan kedua mata yang membulat. Di satu sisi Fatia yang melihat ekspresi wajah Uci mengernyit bingung. Apa gadis ini mengerti apa yang ia katakan?


"Kamu kenapa?"


"Aku tidak mengerti," jawabnya lalu melangkah masuk ke dalam dapur membuat Fatia mendengus kesal.


Tuhan, gadis ini tetap saja tidak berubah. Fatia melangkah masuk mengikuti Uci yang kini telah berada di dalam WC yang ditutup dengan pintu tua.


Fatia bersandar di permukaan tiang sambil menatap permukaan pintu WC.


"Kamu tau yang telah kamu lakukan itu salah. Kamu telah mengotori mobil mereka dengan lumpur."


"Bagaimana jika nanti mereka membatalkan pernikahan. Kamu tau mereka itu orang kaya raya dan punya banyak segalanya. Em, kalau kamu menikah dengan pria itu maka minta uang sebanyak-banyaknya dan kirim untuk Ibu di sini."


Uci melangkah keluar dari WC tanpa menggunakan pakaian atau handuk membuat kedua mata Fatia membulat.


"Uci! Kebiasaan kamu!!!" teriak Fatia yang langsung meraih handuk yang ada di kursi dan melemparnya ke arah Uci.


"Ibu, pasangkan handuk ini untukku!"

__ADS_1


Uci hanya tersenyum tanpa merasa bersalah. Ia menyelimuti tubuhnya dengan asal membuat pahanya terlihat jelas.


Fatia menggeleng. Anak tirinya ini memang masih kekanak-kanakan.


"Uci! Kamu itu kebiasaan. Bagaimana kalau sampai nanti kamu sudah menikah. Pakai handuk saja kamu tidak bisa apalagi kalau-"


Ujaran Fatia terhenti dengan gerakan tangannya yang merapikan handuk di tubuh Uci juga ikut terhenti. Ia menatap serius pada wajah lugu Uci yang terlihat menatapnya.


Fatia menghembuskan nafas panjang.


"Percuma aku bicara dengan kamu. Kamu juga tidak akan mengerti."


Fatia melangkah pergi meninggalkan Uci yang terdiam mematung di belakang sana. Uci mencibirkan bibir dan mengedikkan kedua bahunya tidak mengerti.


Uci tersenyum sembari melompat-lompat bahagia menuju kamarnya persis seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru.


...🍃🍃🍃...


Suara jangkrik berbunyi merdu di pinggiran sawah membuat suasana malam semakin terasa indah. Suasana desa yang sangat dekat dengan pengunungan kebun teh membuat hawa dingin dan sejuk menjadi satu.


Fatia merapikan kamar tidurnya, membersihkan debu menggunakan sapu lidi bersiap untuk tidur. Pintu kamar terbuka seiring suara langkah kecil yang mendekatinya membuat Fatia menoleh.


"Uci?"


"Kamu mau tidur di sini lagi?"


Uci meletakkan kepalanya ke atas bantal dan mengangguk seperti anak kecil.


"Uci ingin tidur di sini lagi."


"Tapi katanya kamu ingin belajar tidur sendiri."


"Uci tidak bisa tidur karena tidak ada Ibu yang menepuk-nepuk Uci."


Fatia menopang pinggang diiringi helaan nafas panjang. Ia membaringkan tubuhnya tepat di samping Uci dengan tangannya yang menepuk-nepuk bokong milik gadis kecil itu yang terlihat tersenyum.


Matanya terlihat berbinar menatap raut wajah Ibunya yang terlihat datar. Walau Uci bukanlah anak kandungnya tapi tetap saja Fatia sayang kepada Uci dan begitu pula sebaliknya.


"Ada apa?" tanya Uci di tengah keheningan.


"Sampai kapan Ibu akan menemani kamu tidur dan menepuk-nepuk bokong mu seperti ini sampai kamu tidur?"


Gadis di hadapannya hanya tersenyum lalu menggeleng.


"Uci tidak tau tapi sepertinya akan seperti ini."

__ADS_1


"Uci, jika orang kaya raya itu jadi menikah denganmu maka Ibu tidak akan datang lalu menemani kamu tidur dan menepuk seperti ini."


"Kamu tau, kamu ini seharusnya bisa bersikap dewasa. Tidak seperti sekarang. Sikap kamu bahkan seperti anak kecil yang masih ingin bermain."


"Uci suka bermain," potong Uci membuat Fatia jadi geleng-geleng kepala.


"Kamu lihat teman yang seusia dengan kamu, mereka bahkan ada yang sudah menikah dan punya anak. Apa kamu tidak iri padanya?"


"Untuk apa iri? Uci senang kalau mereka menikah. Uci bisa makan paha ayam goreng."


Fatia menghentikan tepukannya dan memasang wajah tak percaya dengan apa yang Uci katakan. Tuhan, anak tirinya ini memang tidak pernah berubah. Dia selalu saja memiliki jawaban yang di luar dugaannya.


"Ah, sudah lah, Uci! Ibu sudah lelah bicara dengan kamu."


Fatia membalikkan badannya membelakangi Uci yang terdiam sambil meletakkan tanggan di bawah pipinya.


"Ibu! Kalau lelah bicara maka ambil air minum dan setelah itu Ibu tidak akan lelah lagi. Kalau sudah tidak lelah maka temani Uci bicara lagi!"


Tak ada jawaban dari Fatia membuat Uci mengangkat kepalanya dan mengintip menatap Fatia yang telah tertidur.


"Apa Ibu sudah tidur?" tanya Uci sambil membuka sebelah mata Fatia dengan jari tangannya.


Tetap saja tak ada jawaban walau ia telah membuka kedua mata Fatia. Uci membaringkan kepalanya ke atas bantal dengan kedua matanya yang menatap langit-langit kamarnya yang di tempel dengan spanduk kepala desa.


Uci memainkan bibir mungilnya ke kiri dan ke kanan. Rasanya ia tak mengantuk sekarang. Uci menggerakkan kepalanya menatap punggung Fatia yang sudah tak bergerak lagi. Ibu tirinya itu sepertinya memang telah benar-benar tidur.


"Ibu! Uci tidak bisa tidur!"


Suasana kamar menjadi sunyi, suara jengkrik dan katak mendominasi malam ini. Uci bangkit dari kasur. Ia menoleh kembali menatap Fatia sejenak.


Kaki Uci yang mulus itu menyentuh permukaan papan dan berlari kecil menuju jendela, membukanya lebar-lebar membuat angin malam leluasa masuk ke dalam kamar.


Senyum dari bibir mungilnya yang tak pernah di sentuh lipstick tercipta disaat kedua matanya yang berbinar itu mendongak menatap langit berkilau bintang.


Uci menopang dagu menikmati indahnya langit malam. Senyum gadis itu perlahan memudar setelah ia memikirkan sosok Ayahnya, Santoso yang telah meninggalkannya menuju surga untuk selama-lamanya.


"Ayah!"


"Uci tidak bisa tidur."


"Uci rindu sekali sama Ayah."


Uci menunduk. Wajah cerianya mendadak murung. Salah satu kelemahannya adalah sosok Ayahnya. Gadis kekanak-kanakan itu hanya ingin bertemu kembali pada sosok Ayahnya.


Hanya itu, tak lebih.

__ADS_1


__ADS_2