Praja

Praja
28. Rencana.


__ADS_3

Sumbawa menghela nafas yang cukup panjang dari indera penciumannya. Ia menggerakkan kepalanya menatap sosok gadis yang sedang duduk di kursi meja makan. Ia terlihat begitu serius saat makan bahkan sampai-sampai terdapat sisa makanan yang menempel pada bagian bawah dagunya.


Sumbawa tersenyum kecil. Gadis lugu macam apa yang telah masuk ke dalam rumahnya ini. Rasanya ia tak mendapatkan seorang menantu tapi mendapatkan anak kecil. Lihat saja saat ia mengunyah. Bibirnya yang kecil dan tipis itu membuatnya semakin menggemaskan.


Gadis ini mirip sekali anak kecil. Poni tipis, pipi yang sedikit chuby serta baju tidur hellokitty itu membuat Uci semakin mirip anak kecil. Namun, di satu sisi saat ia melihat wajah lugu gadis ini membuat Sumbawa mengingat pada sosok pria yang ia tabrak 12 tahun yang lalu itu.


Kejadian yang tak pernah ia harapkan akan terjadi pada dirinya saat itu. Kecelakaan itu bukanlah kemauannya. Jika saja kecelakaan itu tak terjadi mungkin saja putri dan menantunya itu masih hidup dan cucunya, Praja tak perlu ia jodohkan hanya untuk menebus kesalahan itu.


Tapi seolah tak tergantikan. Ia tetap saja merasa bersalah walaupun ia telah menebus kesalahannya dengan memasukkan gadis ini ke dalam rumah.


Sumbawa menghela nafas panjang. Ia menggerakkan jari tangannya memangil pelayan yang mendekat.


"Ambilkan aku ponsel!"


"Baik, pak," jawab pelayan itu menurut lalu melangkah ke arah meja, meraih ponsel dan pada akhirnya menjulurkan ponsel itu untuk Sumbawa.


"Opah! Uci mau ayam!" minta Uci sambil menjulurkan piring kosongnya.


"Ambilkan dia ayam!" pinta Sumbawa sambil menunjuk ke arah Uci membuat pelayan itu menurut.


Sumbawa menyipitkan kedua matanya yang telah memburam itu. Ia meraih kaca mata minesnya yang selalu ada di saku bajunya. Setelahnya ia menekan beberapa kali layar ponsel tersebut dan kemudian meletakkannya di pipi.


...🍃🍃🍃...


Sandigo nampak diam. Ia menatap serius ke arah bosnya yang sejak tadi hanya fokus ke arah berkas pada map hitam yang ada di atas meja, membolak-balikannya lalu menandatanganinya seperti biasa bahkan Sandigo sudah bosan untuk melihat kegiatan bosnya itu di setiap harinya.


Jika tatapan Sandigo tetap berpusat pada pria yang ada di hadapannya tapi tidak pada pikirannya. Sejujurnya Sandigo masih tak percaya jika pria dingin ini mau berhubungan suami istri dengan gadis itu. Yah, sejujurnya ia akui jika gadis itu memanglah memiliki wajah yang begitu cantik jadi tak heran jika banyak pria yang akan jatuh cinta dengannya namun, untuk Praja? Yang benar saja.


Sandigo bahkan mengira jika pria yang telah bersamanya itu sejak umur 22 tahun tidak memiliki hati. Percayalah Praja tak punya daya tarik pada seorang gadis!


Sandigo menghela nafas berat membuat Praja melirik menatap sosok Sandigo yang masih menatapnya. Praja mengernyit bingung. Ia meletakkan map itu ke atas meja. Ia menyentuh bibirnya sambil menyadarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Kedua matanya kini bertemu pandang pada sorot mata Sandigo yang masih menatapnya. Praja mendengus kesal.


"Kau ini kenapa?"


Sandigo tersadar dari lamunannya. Bodoh, bagaimana bisa ia membiarkan Praja melihatnya memergoki dirinya sedang memandangi Praja.


Mati kau!


"Tidak Tuan."


"Lalu? Sejak tadi kau menatap aku seperti ini. Kalau kau tidak punya kegiatan maka keluar lah dari ruang! dan lakukan apa yang kau ingin lakukan."

__ADS_1


"Selain kau tidak membuang-buang waktu setidaknya kau tidak menatap aku seperti ini," tambahnya.


Sandigo menguyah tak jelas. Lagi dan lagi ia mendapat teguran dari bosnya itu.


Praja kembali fokus pada berkas yang belum ia baca secara keseluruhan hingga kedua mata dingin itu melirik menatap layar ponselnya yang menyala serta suara nada dering ponsel ciri khas.


Praja mengeryit bingung. Ia merendahkan sedikit kepalanya untuk melihat nama yang tertera di sana.


"Opah? Untuk apa Opah menelepon?"


Praja menatap sejenak sosok Sumbawa yang ikut melirik menatap layar ponselnya lalu buru-buru ia membuang pandang saat ia kepergok lagi dan lagi.


Praja mengangkat telpon. Meletakkan ponsel itu di pipi dan beralih untuk bersandar di sandaran kursi.


"Halo, Praja."


"Iya? Ada apa Opah? Apa ada masalah di rumah?"


"Ah, tidak, Nak."


"Lalu?"


Sumbawa menatap Uci sejenak yang nampaknya tak terusik dengan apa percakapan Sumbawa lewat telpon. Ia seakan tidak peduli membiarkan dirinya asik dengan makanan yang masih tersaji di meja makan.


"Tentu saja."


Sumbawa menghembuskan nafas yang cukup panjang.


"Ada apa?"


"Sebenarnya Opah ingin meminta satu hal."


"Hah, apa lagi yang Opah inginkan? Bukankah selama ini apa yang Opah inginkan selalu aku turuti jadi apa lagi yang Opah mau dari aku?"


"Praja, cucuku. Tapi ini yang terakhir kalinya!"


"Apa lagi?"


Sumbawa tertawa kecil. Agak malu untuk mengatakan hal ini kepada cucunya. Sungkan untuk meminta tapi setelah ia melihat Uci yang masih sibuk dengan kegiatannya membuat Sumbawa semakin tak tahan untuk mengatakannya.


"Opah ingin kau menemani Uci untuk-"


Wajah Praja mendatar.

__ADS_1


"Aku tidak punya waktu," potong Praja.


"Hah, Praja, Opah hanya-"


"Opah, aku tidak ingin berhubungan dengan gadis itu lagi."


"Memangnya kenapa? Kau hanya perlu untuk membantu Uci membeli perlengkapan seperti pakaian dan lain sebagainya."


"Aku akan transfer uang sekarang juga."


"Bukan soal uang, Praja tapi Opah hanya ingin kau dan Uci-"


"Opah!" potong Praja membuat orang di sebrang sana terdiam.


Praja bangkit dari kursi kerjanya. Melangkah ke arah dinding kaca dan berdiri di sana. Ia memijat pelipisnya diiringi helaan nafas berat.


"Aku sudah bilang kalau aku tidak ingin berhubungan dengan gadis itu lagi."


"Praja, Opah tau tapi Opah hanya ingin kau menemani gadis itu, hanya itu tak lebih."


"Kau hanya perlu menemani gadis itu berbelanja pakaian dan semacamnya dan setelah itu urusan kau telah selesai, mudah bukan?"


Praja mendengus kesal, kepalanya semakin terasa pening setelah mendengar hal tersebut.


"Opah sudahlah! Aku tidak ingin berhubungan dengan gadis itu lagi dan satu lagi aku, kan sudah bilang kalau aku telah melakukan apa yang Opah perintahkan.'


"Dulu Opah bilang, kan kalau aku hanya menikahi gadis itu dan setelahnya selesai. Aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan gadis itu."


"Apa Opah lupa dengan kesepakatannya?"


"Ya, Opah tau tapi-"


"Opah tolong jangan buat aku merasa pusing dengan semua ini. Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengar dan menuruti semua kemauan Opah."


Sumbawa menjauhkan telepon genggam itu dari pipinya. Ia menatap layar ponselnya yang telah mati. Praja baru saja memutuskan sambungan telpon.


"Hah, anak itu tidak bisa diatur."


"Terdengar sangat sibuk seakan dia adalah karyawan di kantorannya sendiri," sambungnya.


Sumbawa meletakkan ponselnya ke atas meja, ia terdiam sejenak sambil menatap ke arah Uci yang kini sedang meneguk segelas air. Kegiatan makannya telah selesai.


Sumbawa kembali terdiam kedua matanya bergerak kiri kanan memikirkan sesuatu hingga tak berselang lama ia tersenyum mendapatkan sebuah ide yang bagus.

__ADS_1


"Iya, sepertinya aku telah menemukan ide yang bagus," bisiknya dengan senyum licik.


__ADS_2