Praja

Praja
7. Mobil Penuh Lumpur


__ADS_3

"Bulan depan?" tanya Sumbawa dan Digo dengan kompak.    


Fatia mengangguk membuat Sumbawa dan Digo menoleh saling bertatapan.


"Apa Tuan Praja akan marah?" bisik Digo dengan wajah takut.


Sumbawa menghela nafas panjang.


"Aku juga tidak tau."


"Kalau Tuan Praja marah bagaimana? Tuan tau, kan bagaimana kalau Tuan Praja marah?"


"Hust! Berhenti membuat aku takut, Sandigo!"


...🍃🍃🍃...


... ...


Uci tertawa kecil sambil menutup mulutnya saat menatap pria yang kini sedang tertidur lelap di dalam mobil. Bukan hanya Uci tapi ada banyak anak-anak kecil yang mengintip di permukaan jendela kaca mobil.


"Apa dia mati?" tanya salah satu gadis kecil dengan poni yang tebal sambil menatap Praja yang kini masih tertidur lelap.


"Mungkin dia bunuh diri," ujar bocah kecil dengan ingus kering di bawah hidungnya.


Uci tersenyum lalu tertawa sambil merapatkan wajahnya ke permukaan kaca jendela mobil berusaha menatap wajah Praja yang nampaknya masih tertidur lelap.


"Uci, lihat!" teriak gadis kecil membuat Uci menoleh menatap anak-anak yang berumur sekitar 10 tahun sedang melukis permukaan mobil mewah itu dengan lumpur yang tak jauh dari genangan air.


"Sedang apa?" tanya Uci.


"Melukis, sepertinya dinding ini terlihat bersih dan indah saat diberikan sedikit lukisan," jelas bocah itu sambil menyentuh permukaan mobil yang terlihat bersih dan berkilau.  


Uci terdiam sejenak lalu tak lama semua anak-anak berlarian meraih lumpur dan melukiskan dengan jari-jari kotor mereka ke permukaan pintu, depan dan belakang mobil. Tak pikir panjang kini Uci ikut berlari lalu mencoret-coret permukaan mobil itu dengan lumpur yang membuat permukaan mobil yang bersih itu menjadi kotor.


Suara tawa kebahagiaan mereka tercipta begitu sangat lepas setiap kali mereka membuat coretan dengan lumpur yang kotor itu. Uci mengigit bibir berusaha untuk lebih fokus melukis sebuah kupu-kupu dengan sayap besar.


Uci melangkah mundur untuk melihat hasil lukisannya membuat anak-anak yang berada di samping Uci kini ikut melangkah mendekatinya dan terdiam dengan wajah kagum menatap hasil lukisan milik Uci yang begitu indah walau hanya di lukis dengan lumpur.


"Wah, itu kupu-kupu?" Tunjuk bocah yang paling kecil itu.


"Iya ini kupu-kupu," jawab Uci menunjuk.


"Horeee!!!" sorak mereka begitu sangat gembira sambil melompat-lompat membuat Uci juga ikut melompat.

__ADS_1


Praja menkerutkan alisnya saat ia mendengar suara keributan dari luar mobilnya yang berhasil membuat ia terbangun dari tidurnya yang begitu sangat nyenyak.


"Lihat dia bagun!" teriak bocah ingusan itu membuat mereka berhenti berteriak dan melompat.


Uci kini merapatkan wajahnya ke arah cermin  dengan kedua telapak tangannya yang  menempel di permukaan kaca persis seperti cicak yang menempel di dinding.


Praja bangkit dari sandaran kursi membuat kedua matanya terbelalak menatap pemandangan menyeramkan yang menempel di kaca mobilnya.


"Aaaaa!!!" teriak Praja membuat Uci dan beberapa anak-anak itu kini berlari seakan ikut ketakutan dengan teriakan dari Praja.


Praja membuka pintu setelah menatap sosok yang mengintip itu kini berlari. Praja menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari orang yang telah mengintip di jendela mobilnya.


"Astaga, Praja," kaget Sumbawa yang kini berlari mendekati Praja yang kini masih tak sadar jika keadaan mobilnya sudah kotor.


Yap Sumbawa, Digo dan bahkan Fatia kini berlarian keluar dari rumah setelah mendengar suara teriakan Praja.


"Oh Tuhan, apa seperti ini cara mencari sinyal?" tanya Digo yang kini menatap seluruh bagian sisi mobil dengan wajah terkejutnya.


"Apa maksud kau?" tanya Praja tak mengerti.


"Hem, lihat ke belakang!" suruh Digo sambil menunjuk.


"Untuk apa?"


Praja yang masih tak mengerti itu kini memutar tubuhnya menghadap mobil. Kedua bibir Praja terbuka lebar saat menatap mobil mewahnya telah kotor seluruh badan.


"Apa yang-" Praja menghentikan ujarannya yang tak tahu harus berkata apa lagi kali ini.


Praja mengusap rambutnya ke belakang dengan keras lalu mengusap wajahnya yang masih syok melihat mobilnya. Tak lama Praja kini menoleh menatap Sumbawa yang kini menghela nafas panjang.


"Ini pasti karena anak-anak nakal itu," ujar Praja.


Yah, Praja baru ingat jika sebelum ia bangun ada segerombolan anak-anak kecil dan sosok menyeramkan yang menempel di permukaan kaca mobil. Sudah jelas jika semua yang terjadi ini adalah hasil dari mereka.


Di satu sisi kini Fatia terlihat sangat khawatir, ia takut jika yang melakukan hal itu adalah Uci, yah siapa lagi jika bukan anak itu.


"Apa mungkin ini adalah ulah Uci?" tebak Fatia membuat Praja menoleh.


"Siapa itu Uci?" tanya Praja dengan nada tegas ciri khasnya.


"Praja, Uci adalah calon Istri kamu," jawab Sumbawa sambil menepuk bahu Praja yang kini terbelalak kaget.


Praja tak mengerti mengapa ia harus mendapatkan calon Istri yang sangat nakal seperti itu.

__ADS_1


"Aku, ah sudahlah." Praja membuka pintu mobil lalu melangkah masuk ke dalam mobil dan duduk diam. Nampaknya ia begitu sangat kesal hari ini.


Fatia meremas jari-jari tangannya yang begitu berkeringat karena rasa gelisah. Fatia takut jika Sumbawa akan ikut marah seperti apa yang ia lihat dari sorot mata Praja yang begitu sangat kesal.


"Pak Sumbawa saya sangat meminta maaf atas-"


"Tak usah berminta maaf, Bu. Em, mungkin pertemuan kita cukup untuk hari ini dan apa yang sudah kita sepakati tetap akan terlaksana," jelas Sumbawa membuat Fatia tersenyum walau sejujurnya yang belum bisa bernafas lega.


"Tapi, Pak-"


"Tak apa, tak usah dipikirkan! Digo!"


"Iya, Pak," sahut Digo cepat setelah sejak tadi menatap serius ke arah mobil.


"Mari kita pulang!"


"Baik, Pak," ujar Digo lalu berlari ke arah sisi mobil.


Langkah Digo memelan. Kedua matanya menatap perihatin pada permukaan mobil Tuannya ini.


"Digo!" tegur Sumbawa membuat Digo dengan cepat berlari masuk ke dalam mobil.


Fatia terdiam rasanya ia masih tak nyaman setelah melihat kondisi mobil mewah ini yang kotor.


"Bu Fatia."


"Iya Pak?"


"Saya pamit dan masalah mobil ini tak perlu dipikirkan. Em kami bisa mengatasinya jadi tenang saja!" jelas Sumbawa lalu tersenyum dan melangkah masuk ke dalam mobil.


Fatia kini tersenyum dan mengangguk saat Digo membunyikan klakson mobil dan tak berselang lama mobil itu melaju meninggalkan Fatia yang kini menghela nafas panjang.


"Anak itu selalu saja membuat masalah."


"Badrul!!!" teriak Fatia saat melihat sahabat Uci yang kini berlari sambil memainkan layangannya.


"Ada apa Tante?" tanya Badrul.


"Dimana Uci?"


"Tadi aku lihat dia di sungai."


"Suruh dia pulang!" suruh Fatia lalu melangkah masuk ke dalam rumah.        

__ADS_1


__ADS_2