Praja

Praja
27. Tidak Ada Gunanya Bertanya


__ADS_3

Kening Uci mengeryit saat cahaya matahari mengenai keningnya. Cahaya matahari yang masuk dari celah jendela yang ditutup oleh kain gorden berwarna coklat itu bergerak pelan saat angin pagi berhembus. Sepertinya para pelayan telah membersihkan ruangan kamar sehingga jendela kamar yang terhubung dengan balkon itu dibiarkan terbuka.


Tidurnya yang terganggu itu membuatnya bangkit dari kasur. Ia mengusap kedua kelopak matanya sambil menguap lebar. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu membuat rambut panjangnya berantakan.


Ia mendongak menatap ruangan kamar yang begitu asin baginya. Gadis kekanak-kanakan itu bahkan lupa jika kemarin ia telah resmi menikah.


Uci melangkahkan kakinya turun dari ranjang, melangkahkan kakinya yang tak beralas itu menyentuh lantai yang dingin karena hawa AC.


"Rumah ini besar sekali. Uci tidak suka."


Uci menghentikan langkahnya. Ia menggerakkan bibir ke kiri dan kanan yang dibiarkan monyong. Ia meloncat-loncat seperti anak-anak menganggap anakan tangga panjang ini adalah sebuah permainan.


Uci tersenyum menatap sosok pria tua berambut uban yang sedang senam sehat di ruang tamu sambil diiringi suara musik dangdut.


Uci berlari turun menuruni anakan tangga, menghampiri Sumbawa dan ikut mengikuti gerakan yang dilakukan pria tua itu.


Sumbawa menatap bingung sesaat memandangi Uci dan tak berselang lama ia tertawa. Menghentikan gerakan senam serta musik membuat Uci tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi.


"Apa yang kau lakukan, Nak?"


"Uci melakukan apa yang pak lakukan."


"Ah, jangan panggil pak tapi Opah!"


"Opah?"


"Yah, Opah lebih suka dipanggil dengan kata seperti itu. Sekarang, kan kau itu adalah cucu Opah juga."


Uci mengangguk. Senyum dari gadis itu membuat Sumbawa mengusap gemas gadis yang ia jodohkan untuk cucunya.


"Oh, iya Opah mau tanya."


Sumbawa menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk memastikan jika tidak ada pelayan yang akan mendengar percakapan mereka. Setelahnya ia menatap menatap gadis itu dengan serius.


"Semalam apa yang kau lakukan dengan Praja?"


Sumbawa tersenyum. Kedua matanya memandang begitu serius dan penuh harap. Gadis yang ada di hadapannya ini adalah gadis yang masih labil jadi ia bisa mendapatkan jawaban yang benar dari gadis ini


"Praja?"


"Yah, pria yang menemani kau sepanjang malam itu," bisiknya mengingatkan kejadian semalam.


Uci terdiam sejenak.


"Oh, si pria tampan!"


"Pria tampan?"


Uci mengangguk semangat membuat poni tipisnya itu bergerak. Sumbawa mendelik, wah, sepertinya cucunya itu telah memberikan pelajaran yang baik semalam.


"Yah, dia. Em, Opah ingin bertanya tapi Opah mau kau menjawab dengan jujur.


"Uci tidak pernah berbohong."

__ADS_1


Sumbawa tersenyum bahagia.


"Kalau begitu apa yang semalam kau lakukan sebelum tidur?"


"Opah, Uci tidak mau menjawab sebelum Opah memberikan Uci ice cream."


"Ice cream? Kau mau makan ice cream?"


Uci mengangguk cepat membuat Sumbawa terdiam sejenak dengan wajah kebingungan.


"Kau ingin makan ice cream pagi-pagi seperti ini?"


Tanpa ragu gadis itu kembali mengangguk membuat Sumbawa menatap tak percaya hingga beberapa detik kemudian dia baru ingat jika ia sedang berhadapan dengan gadis yang memang masih bersifat anak-anak.


... 🍃🍃🍃...


Sumbawa mengibaskan topi hitam yang sejak tadi melindungi kepalanya dari paparan sinar matahari pagi. Ia tersenyum kecil menatap Uci yang nampak asik dengan ice cream yang berada pada kedua tangannya.


Uci menjilat ice cream Itu bergantian membuat Sumbawa sesekali tertawa melihat momen langka. Saat Praja masih kecil dulu ia bahkan tak pernah melihat Praja makan ice cream sekaligus dua sambil jongkok di dekat gerobaknya.


"Uci! Kemari duduk!"


Sumbawa memanggil membuat Uci bangkit dan duduk di kursi taman yang berada di depan rumah.


"Nah, sekarang Uci kan sudah makan ice cream, makannya dua lagi. Jadi bagaimana Uci mau, kan jawab pertanyaan dari Opah?"


Uci tak menjawab. Ia hanya mengangguk membuat Sumbawa tersenyum bahagia. Sumbawa mendekatkan jarak duduknya. Kali ini ia harus bertanya dan mendengar jawabannya dengan serius. Baginya percuma jika ia bertanya dengan Praja, baginya bertanya dengan Praja seperti perbuatan hal yang tidak berguna. Pria itu tidak akan pernah menjawab.


"Uci!"


"Iya?"


"Tidur," jawabnya begitu polos membuat senyum Sumbawa lenyap dari bibirnya namun, tak genap beberapa detik ia kembali tersenyum kembali berharap mendapat jawaban.


"Sebelum tidur, apa yang kau dan Praja lakukan?"


Uci menghentikan jilatannya pada permukaan ice cream rasa vanila. Ia menggerakkan kedua matanya untuk berpikir.


"Pria tampan itu menendang pintu, marah-marah dan-"


"Ah!" Sumbawa memijat pelipisnya yang terasa pening itu.


"Apa tidak ada kegiatan yang lain?"


"Kegiatan apa?"


Sumbawa melongo. Tuhan bagaimana caranya ia bicara pada gadis ini agar ia bisa mengerti.


"Uci!"


"Iya?"


"Apa yang kau dan Praja lakukan di atas tempat tidur?"

__ADS_1


Gadis yang terbilang imut itu berpikir sejenak membuat nafas Sumbawa seketika tertahan menanti jawaban yang sejak tadi memenuhi rasa penasarannya.


"Saat itu Uci memeluk pria tampan."


Kedua mata Sumbawa membulat. Gigi putihnya yang tersusun rapi itu terlihat. Yah, selangkah lagi ia akan menemukan jawabannya.


"Kalian berpelukan?"


"Bukan."


"Lalu?"


"Uci yang memeluk pria tampan itu."


"Lalu apa yang terjadi?"


"Tidak tau."


"Ti-tidak tau?" tanya Sumbawa bingung sementara tanpa menunggu waktu yang lama Uci mengangguk.


"Kenapa kau tidak tau, Nak?"


"Karena Uci tidak tau, kalau Uci tau pasti Uci beritahu."


Sumbawa mengangguk. Benar juga apa yang gadis ini katakan. Lalu siapa yang polos di sini.


"Uci! Begini saja, semalam apakah di dalam kamar itu kau tidur berdua?"


"Tidur berdua?"


"Yah, kau dan pria tampan itu tidur bersama."


"Iya," jawabnya sambil mengangguk semangat.


Sumbawa tertawa, "Benarkah?"


"Iya, Uci tidur bersama dengan pria tampan itu."


"Ap-apa yang kalian lakukan di atas tempat tidur?"


Uci menatap bingung. Ia menjilat cairan ice cream yang ada pada bawah bibirnya dengan wajah begitu polos. Baju tidur hellokitty yang masih terpasang pada tubuhnya membuatnya semakin persis seperti anak-anak.


"Kami tidak melakukan apa-apa. Uci tidur di atas kasur sedangkan pria tampan itu tidur di kursi panjang," jelasnya membuat bibir Sumbawa terbuka.


Kedua matanya terpejam beberapa kali seakan tak percaya dengan apa yang Uci katakan.


"Ku-kursi pa-njag?"


Uci tak menjawab. Ia kini masih fokus pada ice cream yang ada di kedua tangannya. Semenit kemudian ia kini mengusap wajahnya erat. Jadi maksud gadis ini adalah sofa.


"Jadi kalian berdua tidak tidur bersama di atas tempat tidur?"


"Tidak."

__ADS_1


Bodoh, Sumbawa hanya bisa menghela nafas yang cukup panjang. Sepertinya ia telah salah paham dan mengira jika cucunya itu telah melewati hari yang indah semalam.


__ADS_2