Praja

Praja
8. Seperti Penyihir?


__ADS_3

"Suruh dia pulang!" suruh Fatia lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


...🍃🍃🍃...


Sumbawa sesekali melirik Praja dari pantulan cermin yang memperlihatkan Praja yang kini terdiam sambil mengigit ujung jari tangannya. Sumbawa hapal betul dengan kepribadian Praja, jika seperti ini maka Praja sedang memikirkan sesuatu.


Kini Sumbawa juga merasa tidak enak pada Praja karena telah menjodohkannya kepada gadis yang ia tak kenal dan bahkan tanpa Sumbawa duga ternyata gadis itu masih berusia 17 tahun dan sifatnya masih seperti anak kecil yang masih ingin bermain dengan teman-temannya, tetapi yang lebih parahnya gadis itu bermain dengan anak-anak kecil berusia 10 tahun ke bawah.


Apa itu patut dikatakan normal? Dia masih ingin bermain lalu bagaimana jika nantinya dia menikah dengan Praja.


Sumbawa menghela nafas panjang rasanya kepala ini terasa pening setelah memikirkan semuanya. Jika saja ini semua bukan karena membalas perbuatannya dulu yang telah menabrak mobil Ayah gadis itu mungkin perjodohan tidak pernah akan ada di dunia ini.


Tak berselang lama mobil yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan rumah berlantai tiga yang begitu sangat besar dan megah, rumah kediaman Praja.


Para pelayan yang melihat kedatangan mobil Tuannya itu segera berlari dan berjejer rapi untuk menyambut kedatangan Praja. Para pelayan itu kini saling bertatapan seakan mempertanyakan mengapa mobil Tuannya itu bisa kotor seperti itu.


Praja melangkah turun dari mobil setelah dibuka oleh salah satu pelayan laki-laki yang berseragam hitam dengan tanda pengenal yang tergantung di bagian dadanya. Yah, dia adalah salah satu pelayan yang bertugas untuk membuka pintu mobil Praja, namanya Sabir.


Sabir memberi hormat saat Praja melintas di hadapannya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Yah, Sabir dan pelayan lainnya tak heran dengan ekspresi wajah Praja, pria dingin dan tegas itu sepertinya tak punya perasaan bahkan para pelayan tak pernah melihat Tuannya itu tertawa atau bahkan tersenyum.


Menurutnya, Tuan Praja adalah pria yang tegas dan tak punya hati yah dan percayalah tak ada seorang gadis yang bisa menyentuh atau mengetuk hati pria dingin itu.  Jangankan hatinya, bahkan jari tangan Praja tak pernah ada seorang gadis yang berani menyentuhnya.    


"Praja! Praja! Tunggu!" panggil Sumbawa yang kini melajukan langkahnya mendekati Praja yang kini menghentikan langkahnya saat ia tiba di ruang tamu.


"Ada apa lagi Opah?" tanya Praja dengan malas.


Sumbawa menelan salivanya, rasanya tatapan cucunya itu seakan menikamnya begitu tajam.


"Jangan menatap aku seperti itu, Praja!"


Praja menghembuskan nafas panjang lalu kembali melangkah membuat Sumbawa dengan cepat melangkah mengikuti ke arah mana Praja pergi.


"Apa kamu marah?" tanya Sumbawa yang kini telah berada di dalam pintu lift yang kini sedang menuju ke lantai dua.


"Tidak," jawab Praja dengan singkat.


Sumbawa mendecapkan bibirnya lalu kembali melangkah saat ia telah sampai di lantai dua dan kembali mengikuti langkah Praja.

__ADS_1


"Praja, aku mohon Nak! Tolong jangan membuat Opah berbicara dengan jantung berdebar seperti ini. Opah bahkan selalu merasa jika Opah berbicara dengan orang asing yang sangat dihormati di dunia ini," jelas Sumbawa.


Praja menoleh lalu menatap serius ke arah Opahnya yang kini berusaha untuk tersenyum walau sejujurnya senyum itu terlihat tertekan.


"Aku tidak habis pikir mengapa Opah mau menjodohkan aku dengan gadis seperti itu. Apa Opah yakin dia tidak akan membuat aku gila?"


"Gila? Come on, Nak! Itu tidak terlalu buruk."


"Opah, baru sehari saja aku bertemu dengan dia, gadis yang ingin Opa jodohkan dengan aku tapi apa yang ia lakukan kepada kita semua?"


"Dia datang dengan tubuh kotor bercampur lumpur dan yang lebih parahnya lagi dia mengotori mobil dengan lumpur, mengotori mobil!" jelas Praja dengan menekankan nada bicaranya diakhir kalimatnya.


"Opah tau, dia bahkan lebih licik dari penyihir. Setelah ini apa lagi yang akan dia lakukan?"


Ujaran Praja itu membuat nafas Sumbawa terasa sesak. Baru kali ini Sumbawa mendengar cucunya itu bicara panjang lebar tanpa pernah berhenti.


"Yah, Opa tau tapi-"


"Tapi apa?" potong Praja.


"Opah tolonglah! Bagaimana bisa aku menikah dengan gadis yang masih ingin bermain?"


"Kau tau kan apa yang telah aku lakukan. Aku melakukan ini karena aku telah menabrak Ayahnya. Tolonglah Nak mengertilah sedikit!" jelas Opah dengan suaranya yang terdengar lembut.


Praja menghembuskan nafas panjang lalu ia duduk di sofa mewahnya sambil menyentuh dahinya yang terasa pusing, rasanya bayangan sosok menyeramkan yang mengintip di pintu mobilnya masih terbayang-bayang sampai sekarang.


"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Praja membuat Sumbawa tersenyum lalu Ikut duduk di samping Praja.


"Pernikahan," bisik Sumbawa dengan wajah yang begitu sangat sumringah.


"Pernikahan?" tanya Praja membuat Sumbawa mengangguk.


Praja membuka mulutnya ingin protes, tetapi berusaha untuk ia tahan.


"Kapan?"


"Minggu depan," jawabnya.

__ADS_1


"Maksudnya hari Senin?" tanya Praja membuat Sumbawa mengangguk.


"Aku tidak bisa hari Senin," ujar Praja lalu bangkit dari sofa dan melangkah ke arah jendela yang berukuran luas itu sehingga pemandangan taman rumah terlihat jelas.


"Kenapa?" tanya Sumbawa sambil ikut bangkit dan berdiri di belakang Praja yang kini membelakanginya.


"Aku ada rapat penting tentang pembangunan kantor lagi di salah satu kota," jawab Praja.


"Ah, kamu rapat kerja memang setiap hari, Praja. Lalu kapan kamu memiliki waktu untuk akad nikah?" tanya Sumbawa.


"Kapan aku memiliki waktu?" tanya Praja dengan nada bertanya.


Praja terdiam sejenak lalu melangkah ke arah telfon hitam dan menekan salah satu tombol di sana.


"Panggil Digo! Suruh dia datang ke ruangan ku!" pinta Praja lalu berhenti untuk menyentuh tombol itu.


Praja kini melangkah lalu duduk di kursi sofanya sambil menatap Sumbawa yang kini terdiam dengan wajah keheranan. Praja meraih buku dari mejanya dan membukanya berlagak sok sibuk.


"Praja, untuk apa memanggil Digo?" tanya Sumbawa.


"Aku sedang membutuhkannya," jawab Praja seadanya tanpa menoleh menatap Opahnya.


"Bunga melati tumbuh di lantai, bunga teratai jangan digali, aku ingin bersantai tapi Tuan memanggil lagi."


Suara pantun itu terdengar membuat Sumbawa menoleh menatap Digo yang kini melangkah masuk sementara Praja tak menoleh sedikit pun.


Sumbawa mengernyit bingung menatap benda putih yang menempel di kedua pelipis Digo.


"Apa yang ada di kepala kau itu?"


"Ini, ah ini agar aku tidak merasa pusing Tuan Sumbawa. Jalanan di sana itu seperti tidak pernah diinjak saja."


"Ehem."


Digo menghentikkan ujarannya saat mendengar suara Praja.


"Anda memanggil saya Tuan?" tanya Digo yang kini berdiri sambil menundukkan kepalanya, Digo tiba-tiba saja menjadi pendiam.

__ADS_1


"Bacakan apa kegiatan aku besok dan satu minggu ke depannya!" pinta Praja sambil merapikan jasnya.


__ADS_2