
Uci mengeluarkan separuh tubuhnya pada jendela mobil yang melaju. Rambutnya bergerak-gerak mengikuti tiupan angin yang mengenai wajahnya begitu lembut.
Sumbawa menyentuh kepalanya pening. Sudah sejak tadi ia menyuruh gadis ini untuk duduk dengan tenang tapi tetap saja ia terus mengeluarkan kepalanya.
Di depan sana kini Sandigo hanya mampu menyembunyikan wajahnya dari orang-orang yang melihatnya karena gadis kekanak-kanakan itu yang tak henti-hentinya memuji pemandangan bangunan kota yang tinggi dengan suara teriakannya.
"Uci! Apa kau boleh duduk dengan tenang? Duduklah dengan tenang selama semenit saja! Itu sudah cukup membuat aku tenang."
Uci menoleh menatap Sumbawa sejenak dan kembali menatap ke arah bangunan tinggi.
"Itu apa?" Tunjuknya sambil mengeluarkan jari telunjuknya ke luar dari jendela mobil.
Kedua mata Sumbawa membulat ia dengan cepat menarik Uci membuat gadis lugu itu terduduk di kursi dan dengan cepat Sandigo menekan tombol membuat kaca jendela itu tertutup.
"Ah, kau ini membuat aku takut saja. Jika kau mengeluarkan tangan kau seperti itu lalu ada kendaran dari belakang yang menyalip maka tangan kau itu akan patah. Apa kau mau?"
Uci mencibirkan bibirnya cemberut lalu memeluk kedua tangannya dan menggeleng kencang membuat poni tipisnya itu bergerak.
"Nah, kalau begitu berhenti untuk bergerak! Duduk diam di kursi. Ok?"
Sumbawa menjulurkan jari jempolnya sambil tersenyum.
"Okay," jawab Uci yang langsung mendorong kepala Sumbawa dengan jari jempolnya membuat Sumbawa mematung di tempatnya duduk.
Nafasnya tertahan. Ia tak bergerak sedikit pun bahkan kedua matanya tak berkedip sedikit pun. Uci hanya tertawa kecil sementara Sandigo melongo di depan sana. Untuk pertama kalinya ada yang mendorong kepala Pak Sumbawa seperti itu.
Sumbawa menoleh cepat membuat Sandigo dengan cepat mengalihkan pandangannya. Ia berpura-pura bersiul seakan tidak melihat kejadian tadi.
Sumbawa menoleh kembali menatap Uci yang terlihat memainkan kedua kakinya seperti anak kecil. Sumbawa menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan berusaha untuk bersabar. Ia tersenyum berusaha untuk memaklumi.
"Pak!"
"Hem, iya?" jawabnya lelah. Sudah sejak tadi gadis ini bertanya.
"Rumah siapa itu?"
"Yang mana?"
"Itu!" Tunjuknya pada sebuah perusahaan yang memiliki bangunan pencakar langit.
Jari telunjuknya yang kecil itu menempel pada permukaan kaca mobil. Uci menoleh menatap Sumbawa yang terlihat serius menatap ke arah tunjuk Uci.
"Oh itu bukan rumah."
"Lalu? Apa itu istana?"
"Ahahaha, tentu saja bukan. Itu adalah tempat kerja."
"Te-tempat kerja?"
"Yah."
Uci terdiam bingung. Ia mengetuk-ngetuk dagunya berpikir.
"Apa ada kebun teh di sana?"
__ADS_1
"Kebun teh?"
Uci mengangguk. Sumbawa yang kebingungan itu menoleh menatap Sandigo yang kembali mengalihkan perhatiannya, berpura-pura jika ia tak melihat dan tak mendengar percakapan mereka.
"Ah, hahaha. Aku tidak mengerti. Tidak ada kebun teh di sana."
"Kenapa tidak ada? Bukanya itu tempat kerja?"
Kedua bibir Sumbawa terbuka. Ia mengerti sekarang.
"Oh, hahaha. Begini, Nak di kota ini orang bekerja tidak seperti di desa. Jika di desa orang akan bekerja dengan memetik teh atau menanam padi, sedangkan di sini orang bekerja sebagai karyawan, pedagang dan masih banyak lagi."
Uci menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Sumbawa membuat pria berambut beruban dan sedikit botak itu tersenyum bahagia. Akhirnya gadis ini paham apa yang ia katakan.
"Em, apa kau mengerti?"
"Tidak," jawab Uci begitu lugu tanpa dosa membuat senyum Sumbawa lenyap dari bibirnya.
... 🍃🍃🍃...
Pintu mobil dibuka oleh Sandigo membuat kaki yang tak beralaskan sendal itu melangkah turun menyentuh lantai keramik. Sumbawa ikut melangkah turun. Ia tersenyum bahagia menatap Uci yang berbinar sambil mendongak menatap rumah megah bernuansa emas ini.
Para pelayan melongo. Mereka menatap bingung pada gadis dengan pakaian usang yang melangkah turun dari mobil Bosnya.
Para pelayan saling melirik berusaha untuk menanyakan siapa gadis yang ia dibawa oleh pak Sumbawa ke rumah ini.
"Uci!"
"Iya?" jawab Uci dengan suara mungilnya persis seperti anak kecil.
"Mulai hari ini, Ini adalah rumah kita dan kau akan tinggal bersama kami semua."
"Pak!"
"Iya? Ada apa?"
"Mereka anak-anak Bapak?"
Sumbawa mengernyit bingung. Ia menoleh menatap ke arah tunjuk Uci yang mengarah pada jejeran pelayannya yang berseragam hitam itu. Sumbawa tertawa kecil. Ia merangkul pundak Uci yang tubuhnya begitu kecil dan menuntunnya untuk melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ah, mereka bukan anak-anak Bapak."
"Lalu siapa?"
"Mereka semua adalah pelayan di rumah ini."
"Pelayan? Apa itu pelayan?"
Sandigo yang melangkah di belakang Sumbawa itu tersenyum kecil. Ia menutup mulutnya agar tidak tertawa keras. Sejak tadi gadis ini tak pernah berhenti untuk bertanya.
"Emmmm, pelayan itu seperti pembantu."
"Pembantu? Apa itu pembantu?"
Rasanya ia mencekik lehernya sendiri. Calon menantunya ini banyak sekali bertanya.
__ADS_1
"Emmmm, pembantu itu, ya orang yang membantu untuk membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyiapkan makanan dan menyetir mobil."
Uci mengerakkan kedua bola matanya, berpikir lalu ia melirik menatap Sandigo yang sedang asik menatap ponselnya.
"Jadi pria ini juga pembantu?"
Kedua mata Sandigo melotot, sudut bibirnya terangkat. Gadis ini begitu polos tapi cara bicaranya yang begitu menusuk.
"Ahahaha!" Sumbawa tertawa. Ia menepuk pundak Sandigo agar ia tak memasukan ujaran Uci ke dalam hatinya.
"Tidak, Nak! Dia telah aku anggap sebagai anak sendiri."
Sandigo yang mendengar hal tersebut tersenyum. Ia sangat bahagia setelah mendengar hal tersebut.
"Digo!"
"Iya, pak!"
"Antar gadis ini ke kamar!"
"Ke kamar siapa, pak?"
"Kamar di lantai dua."
"Baik, pak."
Sandigo menoleh menatap Uci yang terlihat menyentuh beberapa patung putih dan menatapnya begitu serius.
"Uci!"
Uci tersentak kaget. Ia langsung menoleh menatap Sandigo yang tersenyum kecil. Ekspresi kaget pada wajah Uci begitu sangat menggemaskan.
"Ayo ikut aku!"
Sandigo melangkah memasuki pintu lift membuat Uci berlari kecil mengikuti langkah Sandigo.
Pintu lift tertutup membuat kedua bibir Uci terbuka menatap kagum.
"Wah, itu luar biasa!!!" teriak Uci membuat Sandigo terpelonjak kaget.
Ia menyandarkan tubuhnya ke permukaan lift sambil menyentuh dadanya.
"Ada apa?"
"Ka-kau kenapa berteriak? Kau tau aku hampir saja serangan jantung."
"Serangan jantung itu apa?"
Sandigo menarik nafas. Ia bukan lah seorang dokter yang harus menjelaskan proses terjadinya seragam jantung bukan.
Lift itu bergerak naik membuat kedua mata Uci membulat. Kedua tangannya menyentuh setiap sisi lift berusaha untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Aaaaa!!!" teriak Uci membuat Sandigo kembali terkejut.
Ia menoleh menatap Uci yang telah nyaris seperti spider man yang menempel di dinding.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Sepertinya tempat ini bergerak!" ujarnya takut.