Praja

Praja
29. Berpura-pura


__ADS_3

Sumbawa melangkahkan kakinya dengan pelan menelusuri deretan pakaian yang terpajang. Sesekali tangannya menyentuh beberapa pakaian sambil tersenyum, pakaian di sini cukup bagus-bagus.


Sumbawa menghentikan tatapannya menatap sebuah pakaian berwarna merah muda dengan rok sebatas lutut. Ia tersenyum membuat raut wajahnya menjadi bahagia.


"Sepertinya baju ini cocok untuk gadis itu," pikirnya.


Sumbawa menoleh menatap Uci yang kini sedang menatap satu persatu pakaian yang terpajang di besi panjang yang berada di dalam mall.


"Uci lihat baju ini!"


Uci yang sejak tadi terfokus pada sebuah pakaian yang belum pernah ia sebelumnya, di pasar yang ada di desanya tak ada pakaian sebagus ini


Uci menoleh menatap sosok Sumbawa yang tengah memperlihatkan sebuah baju berwarna merah muda itu.


"Kemari!"


Uci melangkah kakinya mendekati Sumbawa lalu ia menatap baju itu begitu serius.


"Apakah kau suka dengan baju ini?"


Uci tersenyum bahagia ia mengangguk cepat dan berujar, "Ia Opah, Uci sangat suka."


"Baiklah kalau begitu Opah akan membeli baju ini untuk kau. Apakah kau senang?"


"Ia Opah, Uci sangat senang."


Ia yang melihat gadis ini tersenyum membuat dirinya juga merasa sangat bahagia. Andai saja Praja ingin menuruti permintaannya untuk menemani gadis ini membeli perlengkapan seperti pakaian dan lain sebagainya mungkin ia akan semakin bahagia. Namun, pria yang begitu sangat keras kepala dan tak mudah diatur itu sangat bedah jauh seperti sandi Sandigo.


Setiap apa yang ia katakan Sandigo tak pernah menolak atau memberikan sebuah alasan. Sumbawa melangkah duduk di kursi yang telah disediakan oleh bodyguard yang selalu ada untuk menjaga dirinya. Ia meraih ponsel dari saku bajunya dan menghubungi seseorang di sana.


Sumbawa melirik sesaat menatap sosok bodyguard yang memiliki badan yang cukup kekar itu.


"Kau jangan berisik, ya! Aku ingin menelpon tuan kau itu."


Bodyguard pribadi Sumbawa itu mengganggu. Ia melangkah sedikit menjauh dari Sumbawa. Sepertinya majikannya itu sedang merencanakan sesuatu.


Kedua mata Praja melirik menatap ponselnya yang bergetar di atas meja ia menghela nafas panjang lalu meletakkan pulpen yang sejak tadi ia genggam ke atas meja. Praja meraih ponsel itu, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan kembali menghela napas panjang setelah mengetahui jika ia menghubunginya itu adalah Sumbawa, Opahnya.


"Hah, untuk apa pria tua itu menghubungi aku?"


Praja meraih ponsel, mengangkat telepon itu dan meletakkan telepon genggam itu ke pipinya hingga suara dari seberang terdengar.


"Ha-ha-halo, P-raja, Opah i-ingin be-berbicara dengan ka-kau," ujar Sumbawa terbata-bata membuat bodyguard yang berada agak jauh darinya kini menatap bingung dengan apa yang dilakukan oleh Sumbawa.

__ADS_1


Di satu sisi Praja yang mendengar suara Opahnya yang terbata-bata itu membuat ia bingung. Keningnya mengernyit tak mengerti dengan apa yang terjadi kepada Opahnya.


"Opah? Apa yang sedang terjadi?" tanya Praja yang begitu panik.


Sumbawa tertawa kecil sejenak lalu kembali memasang wajah lemasnya kali ini rencananya harus berhasil. Ia ingin jika Praja datang ke tempat ini untuk menemani Uci berbelanja. Jika pria itu tak mau datang untuk gadis ini maka setidaknya ia akan datang karena dirinya.


"Praja, cu-cu-ku! Aku tidak bisa lagi bertahan, cepat kau datang ke sini, Nak! Opah, sudah tidak tahan lagi!"


"Apa yang Opah katakan?"


Praja bangkit dari kursinya, wajahnya kini menjadi cemas. Walaupun ia selalu membantah ujaran Opahnya mengenai gadis itu tapi tetap saja Opahnya adalah pria yang paling Praja sayangi.


"Ka-u tidak perlu bertanya, Nak! Opah benar-benar sangat tidak enak badan sekarang. Kepala Opah sangat sakit."


"Opah ingin kau cepat datang untuk menolong Opah di sini!"


"Jadi sekarang Opah ada dimana?"


"Aku sedang ada di dalam mall," jawabnya yang sengaja di lemas-lemaskan.


Kening Praja mengernyit. Praja tak mengerti apa yang dilakukan Opahnya di dalam mall.


"Ada di mall? Opah ada di mall?"


"Iya, Nak. Opah sedang berada di mall. Opah sedang menemani Uci untuk membeli baju tapi tiba-tiba kepala Opah ini sangat sakit."


"Praja! Opah, tidak bisa berlama-lama lagi di sini! Cepat, Nak tolong Opah!"


Praja menyentuh pelepisnya yang terasa pening.


"Apakah Opah tidak mengajak 2 Bodyguard pribadi Opah untuk menemani Opah di sana?"


"Opah tidak sempat mengajak mereka, Nak. Opah terlalu bersemangat sehingga Opah hanya datang bersama dengan Uci jadi tolong cepat kau datang ke sini, ya Nak!"


"Opah menunggu kau di sini. To-tolong cepat datang sebelum Opah pingsan di sini!"


Tut tut tut


Sambungan terputus, Praja menjauhkan ponsel itu dari wajahnya, menatap ponsel itu sesaat dan kembali mendekatkannya ke pipi.


"Halo Opah!"


Tak ada jawaban dari seberang, sambungan telepon itu benar-benar terputus. Praja dengan cepat berlari keluar dari ruangan pribadinya membuat Sandigo yang baru saja ingin melangkah masuk ke dalam ruangan tersentak kaget. Langkahnya tertahan, ia menatap kaget pada sosok Praja yang begitu terlihat jelas sedang panik.

__ADS_1


"Ada apa Tuan?" tanya Sandigo.


"Cepat ikut aku!"


Praja melangkahkan kakinya cepat membuat beberapa karyawan menoleh ke arah Praja. Sandigo yang tak tahu apa-apa hanya menurut saja. Ia melangkahkan kakinya dan sedikit berlari untuk mengejar kepergian tuannya itu.


5 menit kemudian...


Sandigo menggerakkan setir mobil melajukan mobil pribadi itu menuju Mall. Ia tak mengerti apa yang membawa tuannya itu menuju Mall. Sandigo sangat paham bagaimana tuannya itu, menginjakkan kakinya di mall saja tidak pernah lalu untuk apa Praja mau datang ke tempat itu.


Sejak tadi ia bertanya kepada Praja tapi pria itu tidak pernah mau menjawab, ia hanya diam dan sesekali menyuruhnya untuk berhenti bertanya.


Mobil melaju memasuki area parkiran yang berada di ruang bawah tanah. Baru saja mobil itu berhenti pintu mobil telah dibuka oleh Praja dan membawa pria bertubuh tinggi berisi itu berlari keluar dari mobil.


"Tuan, tuan!" panggil Sandigo yang telah ditinggalkan oleh Praja.


Sandigo menghela nafas panjang pria itu telah meninggalkannya setelah ia menyetir mobil membawa Sandigo berlari mengejar Praja. Kali ini ia tidak boleh ketinggalan jejak dari Praja yang telah melangkah begitu jauh darinya.


Sumbawa tersenyum begitu bahagia. Ia mengikuti langkah Uci yang kini sedang memilih beberapa celana yang akan ia gunakan.


"Opah! Apa ini cocok untuk Uci?" tanya Uci membuat Sumbawa tersenyum


Ia menyentuh permukaan celana berwarna hitam itu.


"Celananya sangat bagus, Opah suka," jawabnya.


Praja menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke kiri dan kanan menatap tempat yang begitu sangat ramai, ada banyak pengunjung yang datang. Praja benci tempat ini karena sejujurnya Praja bendi keramaian.


Kedua mata Praja yang meraba ke segala arah kini berpusat kepada sosok Sumbawa yang sedang berdiri bersama dengan gadis itu, Uci.


"Opah!" teriak Praja membuat Sumbawa dan Uci menoleh.


Praja menghentikan langkahnya melihat wajah Opah yang terlihat baik-baik saja.


"Aku kira Opah sedang sakit tapi mengapa Opah terlihat baik-baik," saja.


Sumbawa tersenyum.


"Opah memang sedang baik-baik saja. Memangnya siapa yang bilang kalau Opah sakit?"


Kedua mata Praja mengejap beberapa kali ia tak mengerti dengan apa yang Opahnya itu katakan.


"Tapi Opah, aku mendengar kalau suara Oppo itu sangat lemas. Aku ini sudah khawatir dengan Opah."

__ADS_1


Sumbawa tersenyum kecil, cucunya ini memang keras kepala tapi sangat peduli dengan Opah.


"Opah hanya berpura-pura," jawabnya membuat praja melongo.


__ADS_2