
Kening Praja mengernyit berlipat-lipat disaat suara perempuan yang sangat menggangu kedua indera pendengarannya. Tidurya itu tiba-tuba saja terganggu oleh suara rintihan serta igauan. Praja pun tak mengerti dari mana asal suara itu.
Praja membuka kedua matanya. Ia menoleh menatap sosok gadis yang terlihat tengah merintih di atas tempat tidurnya. Kepalanya nampak menoleh kiri dan kanan dengan mata yang terpejam erat. Kedua alisnya saling bertaut dengan wajah yang sudah terlihat basah.
"Gadis itu," bisiknya nyaris tak terdengar.
Praja melangkahkan kedua kakinya yang tak beralas itu dengan pelan mendekati ranjang. Ia meneguk salivanya menatap tak mengerti dengan apa yang terjadi pada sosok gadis yang belum genap 24 jam berubah status menjadi istrinya.
"A-a-ayah....Ayah!"
"Ayah! Jangan ti-ti-ngalkan Uci!"
Praja semakin dibuat bingung dengan apa yang ia dengar dari bibir mungil Uci. Gadis itu sepertinya mengigau menyebut kata Ayah. Kedua alis yang saling bertaut itu kini berangsur datar. Ia kini paham dengan apa yang terjadi pada gadis itu.
Praja dengan cepat duduk di pinggir kasur mendekati Uci yang masih mengigau di sana. Dari sini ia bisa melihat air mata yang mengalir dari kedua matanya yang masih terpejam erat. Bibirnya berceloteh tak jelas sambil menangis sesenggukan.
Sepertinya mimpi itu sangat membuat gadis yang Praja anggap bertubuh kecil seperti anak-anak berusia belasan sangat menyakitkan baginya. Lihat saja gadis itu tak berhenti menangis.
Praja menggerakkan tangannya mendekati lengan Uci dengan rasa canggung. Selama ini ia tak pernah menyentuh seorang
wanita sedikit pun kecuali hanya untuk berjabat tangan mengenai urusan bisnis.
Praja meneguk salivanya. Ia tak mengerti pada dirinya sendiri. Entah mengapa ia bisa segugup ini. Harusnya ia tak perlu merasa canggung. Bagaimana bisa seorang Praja akan dibuat canggung hanya karena gadis kekanak-kanakan ini.
Jemari tangan Praja menyentuh lengan Uci membuat kedua mata Uci membulat. Ia tiba-tiba bangkit dari kasur membuat Praja tersentak kaget. Jika bukan seorang gadis yang telah membuatnya terkejut maka
di detik ini juga ia akan melayangkan satu tamparan untuk orang yang saat ini masih ada di hadapannya.
Dada Uci naik turun mencari pasokan udara untuk rongga paru-parunya. Ia bahkan sampai dibuat ngos-ngosan seakan telah berlari ribuan kilometer. Jantungnya pula ikut berdetak sangat cepat memompa darahnya.
"Ada apa?"
Uci menoleh menatap pria yang ada di hadapannya. Bibir Uci bergetar, ia tak mampu untuk menahan kesedihannya. Tanpa aba-aba ia memeluk tubuh Praja yang menjadi kaku.
Kedua mata Praja membulat. Nafasnya terhenti merasakan tubuh hangat gadis kecil yang memeluk tubuhnya tanpa izin. Tuhan, untuk pertama kalinya ada yang berani memeluknya seperti ini. Terakhir kali hanya Sandigo yang sempat memeluknya namun, sayangnya pelukan itu tak bertahan lama karena Praja yang berhasil melayangkan satu pukulan ke perut Sandigo.
Kedua mata Praja mengerjap. Ia menunduk menatap Uci yang rupanya menangis seperti anak kecil di dalam pelukannya. Ini tak boleh dibiarkan, gadis ini membuatnya merasa tidak nyaman.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
__ADS_1
Praja mendorong gadis itu agar segera melepaskan pelukan pada lingkaran tangan yang mengitari perutnya tapi itu tak berhasil pelukan itu semakin menjadi erat.
"Hei! Lepaskan aku!"
"Cepat lepaskan sebelum aku melempar kau ke bawah ranjang!"
Gadis itu menggeleng. Suara tangisannya tetap saja tak berhasil terhenti.
"Cepat lepaskan!"
"Tidak mau! Uci tidak mau!"
Praja menghela nafas kesal. Gadis ini begitu keras kepala. Tak ada seorang pun yang memiliki sikap keras kepala seperti gadis ini.
"Kenapa kau tidak mau? Hah?"
Uci mendongak menatap wajah Praja yang nampak menunduk menatapnya. Jarak wajah mereka terlihat begitu dekat sekarang bahkan Uci bisa merasakan hembusan nafas dari hidung mancung pria itu.
"Apa yang kau lihat?"
Uci tersentak kaget. Pertanyaan itu seakan menyambar tanpa aba-aba membuat bibirnya semakin gemetar menahan tangis.
"Tuan Tampan!"
"Apa?" tanyanya tanpa menunduk menatap Uci yang masih mendongak.
"Jangan marah sama Uci. Uci takut!"
Ujaran gadis itu seakan membuat hati Praja tersentuh. Apa ia seseram itu saat marah sampai gadis ini takut. Praja menghela nafas berusaha untuk tidak memikirkannya. Apa pedulinya ia pada gadis ini.
"Cepat lepaskan aku!"
"Tidak mau!"
Praja kembali menunduk menatap wajah Uci sejenak dan kembali membuang pandang menolak untuk menatap wajah Uci yang masih setia untuk menatapnya.
"Kenapa tidak mau?"
Uci menggelengkan kepalanya pelan. Isakan kecil berhasil lolos dari bibir mungilnya namun, isakan itu tertahan disaat Praja menatap tajam seakan mengancam agar Uci berhenti untuk menangis dan kembali membuang pandang.
__ADS_1
"Cepat lepaskan aku!"
"Uci tidak mau! Uci lihat Ayah."
"Ayah?"
Praja menunduk menatap Uci yang mengangguk.
Praja dibuat terdiam. Kata Ayah yang Uci katakan membuat Praja mengingat sosok Opahnya dan kecelakaan itu. Jika saja Opahnya tidak menabrak Ayah Uci maka Uci tak akan mengalami mimpi seperti ini.
Apa kesedihan ini telah jelas jika keluarganya yang melakukannya. Dan apakah kesalahan Opahnya itu bisa dimaafkan?
"Cepat lepaskan aku!"
"Uci tidak mau! Uci takut. Ayah mukanya hancur. Uci takut."
Praja menghembuskan nafas panjang. Kedua matanya terpejam erat. Ia merasa iba jika mendengar hal tersebut. Setegas-tegasnya ia, ia juga tetap memiliki perasaan walaupun perasaan itu nyaris membeku karena nyaris tak pernah disentuh oleh siapa pun.
Praja menggerakkan jemari tangannya berniat untuk menyentuh punggung Uci namun, dengan cepat ia mengurungkan niatnya. Dasar bodoh! Apa yang telah merasuki pikirannya hingga telah berniat untuk mengelus gadis itu.
Praja menjauhkan jemari tangannya. Ia tak boleh seperti ini. Kini Praja terdiam membiarkan Uci menangis di dalam pelukannya.
"Baik. Aku memberi kau waktu selama satu menit untuk memeluk aku seperti ini dan setelah satu menit maka kau harus berhenti untuk memeluk aku!"
Uci tak berkata apa-apa. Ia diam seakan tak memperdulikan ucapan pria yang tengah ia peluk.
Untuk pertama kalinya ada yang melakukan ini kepadanya. Di dalam pelukannya baru kali ini ada yang menyadarkan kepalanya. Hah, Praja bahkan dibuat tak nyaman karena jujur saja saat ini jantungnya berdetak sangat cepat.
Tak tahan lagi rasanya. Ia menoleh menatap jam dinding. Ini sudah lebih dari satu menit.
"Hei! Cepat lepas!" pinta Praja tapi gadis itu tak menjawab.
Praja menatap bingung. Ia menggerakkan tangannya dan mengguncang pelan lengan gadis itu.
Apa gadis ini tidur? Percaya atau tidak tapi rasanya gadis ini sepertinya memang sedang tertidur.
Praja menyentuh kepala Uci berniat untuk melihat wajah istrinya hanya untuk memastikan apa gadis ini benar sedang tertidur atau tidak.
Kedua mata Praja membulat saat tubuh gadis itu bergerak ke belakang membuat Praja dengan cepat memegang punggung Uci berusaha untuk menahannya agar tidak terjatuh ke belakang namun, tanpa sengaja Praja ikut tertarik membuat tubuhnya terbaring di atas kasur persis di atas tubuh gadis mungil yang telah tertidur lelap.
__ADS_1