
Sumbawa melangkah turun dari anakan tangga menuju mobil hitam yang telah dibawa oleh Sandigo. Pintu mobil dibuka oleh Sandigo menyambut Sumbawa yang melangkah masuk ke dalam mobil.
"Kau lama sekali."
"Maaf, pak hari ini istri ku itu-"
"Berhentilah membahas istri! Kau yang punya istri sedangkan aku tidak."
Sandigo meneguk salivanya. Ia menutup pintu mobil lalu melangkah ke samping mobil sambil berpikir apa ia kembali berbuat kesalahan dalam pembicaraannya.
...๐๐๐...
Praja melangkah turun dari mobil setelah pintu mobil itu dibuka dengan sangat terhormat pada penjaga keamanan yang menjaga pada malam hari. Empat penjaga keamanan itu memberi hormat membiarkan Praja melangkah melintasinya dengan langkah yang begitu sangat berwibawa.
Praja memelankan langkahnya ketika ia melintasi salah satu penjaga keamanan yang terlihat masih memberi hormat.
Praja melangkah mundur membuat penjaga kemanan itu melirik takut. Entah masalah apa lagi yang akan ia hadapi setelah ini.
Ia melangkahkan kakinya mendekati penjaga kemanan itu yang gemetar sementara tiga penjaga kemanan lainnya terlihat melirik secara diam-diam. Lirikan mata elang Praja menatap penuh intens membuat penjaga kemanan itu tak mampu bernafas dengan leluasa.
"Rapikan rambutmu!"
Praja melangkah pergi setelah mengucapkan hal yang sangat singkat itu membuat penjaga keamanan itu menghembuskan nafas lega.
"Baik, Tuan."
"Aku sudah bilang kan untuk menyisir rambutmu sebelum menyambut Tuan Praja!" tegur salah sau dari mereka mengingatkan setelah Praja melangkah jauh dan nyaris tak terlihat lagi setelah melewati pintu.
Praja menginjakkan kakinya ke lantai yang masih terasa basah. Sudah jelas jika lantai ini baru saja telah di pel oleh cleaning service yang harus datang subuh-subuh jika tidak maka Praja akan marah jikalau ia datang ke kantor dan mendapati lantai yang kotor.
Ia melangkah masuk ke dalam ruangannya membuat para cleaning serviceย yang terlihat serius beberes itu menghentikan aktifitasnya.
"Heran kali aku sama dia itu. Aku sudah bangun subuh tapi dia tetap saja selalu datang cepat. Belum semenit ini pel aku pegang tapi dia sudah datang," oceh pria berseragam abu-abu dengan tubuh gemuk serta brewok yang menghiasi dagunya.
"Aduh, maklum saja. Bos kita itu masih bujang jadi dia memang seperti itu," tanggap wanita berhijab yang memilih untuk terus melanjutkan kegiatan pelnya.
Praja meletakkan tas kecil ke atas lemari khusus. Ia menyentuh permukaan meja menggunakan jemari tangannya yang putih bersih untuk memastikan apa meja ini telah bersih atau masih berdebu.
Praja menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi setelah memastikan meja pribadinya telah bersih.
Dua wanita dewasa itu yang merupakan cleaning service menghembuskan nafas lega setelah mengintip di celah jendela ruangan. Hari ini sepertinya mereka kembali aman-aman saja dan tidak mendapati amukan dari Bosnya itu.
Untung saja mereka bisa bekerja sama untuk membersihkan ruangan kantor Bosnya sebelum Bosnya itu datang jika tidak maka siap-siap saja mereka akan mendapat teguran.
Praja menatap jam pada tangannya. Sekarang sudah pukul enam pagi tapi Digo belum muncul-muncul juga. Biasanya pria itu selalu datang tepat jam enam tapi pria itu belum terlihat sama sekali.
__ADS_1
Ia meraih buku hitam perusahaan yang ada pada raknya, membukanya lalu meraih telpon dan menghubungi sekertarisnya itu.
...๐๐๐...
Semenit kemudian mobil telah melaju melintasi jalan raya yang belum terlalu macet. Hari ini masih terlalu awal jika harus dipadati kendaraan. Kedua mata Sandigo yang terlihat fokus menatap jalan di depan dengan cepat melirik ke arah saku jasnya setelah mendengar suara nada dering ponselnya.
Ia meraihnya dengan susah payah sambil sesekali menatap ke arah jalan. Dahinya mengernyit bingung menatap nama Tuannya di sana.
"Pak!"
"Ada apa?"
"Apa Tuan benar-benar telah mengizinkan aku pergi menemani Bapak?"
"Memangnya ada apa? Kau pikir aku berbohong?"
"Ahahaha, bukan begitu, pak tapi Tuan Praja menghubungi aku."
"Kalau begitu angkat saja! Apa susahnya?"
Sandigo menekan tombol hijau dan mendekatkannya pada permukaan pipinya.
"Halo Tuan. Pagi yang cerah untuk calon pengantin yang tampan seperti Tuan Praja. Apa yang bisa-"
"Kau dimana?"
"Digo!"
"Ah, iya Tuan?"
"Kau dimana? Apa kau lupa dengan miting hari ini?"
"Akh, Tuan aku bahkan tak pernah memiliki niat untuk melupakan hal itu. Aku tau bagaimana kalau Tuan marah, hahahaha."
Sumbawa juga ikut tertawa membuat Praja bingung walau sama sekali tak ada wajah kebingungan yang ia tunjukkan.
"Opah? Apa yang kau lakukan bersama Opah?"
"Apa Tuan lupa? Tuan sendiri yang mengisinkan aku untuk pergi, hahahaha. Bagaimana bisa Tuan lupa. Bukan begitu, pak?"
"Yah betul," jawab Sumbawa begitu semangat.
"Izin? Izin apa yang kau katakan?"
Senyum Sandigo lenyap dari bibirnya. Dengan cepat ia menoleh menatap Sumbawa yang terlihat tersenyum.
__ADS_1
"Apa Tuan sudah lupa?"
"Jangan bermain-main denganku! Cepat ke kantor!"
"Tapi Tuan kata Pak Sumbawa engkau telah mengizinkan aku untuk pergi ke desa menjemput gadis itu dan mengurus pesta pernikahan Tuan."
"Apa? Siapa yang mengizinkan kau?"
"Tapi."
Sandigo menoleh menatap Sumbawa yang kembali tersenyum.
"Pak! Berhentilah tersenyum dan bicaralah dengan Tuan Praja!"
"Untuk apa?" tanya Sumbawa sambil meraih ponsel yang dijulurkan oleh Sandigo.
"Bicara saja, pak!"
Sumbawa menatap bingung. Ia meletakan telpon itu ke telinganya.
"Ha-"
"Opah! Apa yang Opah lakukan?" potong Praja.
"Apa yang Opah lakukan? Opah kan sudah bilang kalau Opah meminjam Sandigo untuk satu hari full ini."
"Satu hari full?"
"Iya. Opah tidak mungkin mengurus pernikahan mu itu sendiri. Apalagi Sandigo juga telah menikah dan dia sudah pasti tau apa yang perlu dipersiapkan untuk pesta pernikahan. Bukan begitu Digo?"
"Betul Tuan," sahut Sandigo semangat. Kali ini ia tak merasa khawatir lagi karena Sumbawa telah berurusan dengan Tuannya.
Praja memijat keningnya dengan mata yang terpejam.
"Tapi sejak kapan Opah meminta izin?"
"Sejak kapan? Hah, mengapa kau bisa pelupa seperti ini?"
"Aku sudah meminta izin kepada kau sebelum engkau pergi ke kantor. Bagaimana bisa kau lupa dengan semua itu?"
"Hah, Praja! Praja! Sudah lah! Untuk hari ini jangan menganggu kami berdua karena hari ini adalah hari yang menyibukkan bagi kami!"
Tut Tut Tut....
Praja melipat bibirnya ke dalam. Menarik nafas dalam-dalam sambil memijat keningnya lagi yang terasa pening. Sejak kapan ia mengizinkan Sandigo. Ia bahkan tak pernah mendengar Opahnya meminta izin.
__ADS_1
Jika saja ia tau mungkin ia tak akan membiarkan Sandigo pergi karena ia tau keberadaan Sandigo akan membuat persiapan pernikahan itu cepat selesai dan Opahnya tidak akan berhasil membuat pesta pernikahan untuknya.