
Kedua mata Praja membulat saat tubuh gadis itu bergerak ke belakang membuat Praja dengan cepat memegang punggung Uci berusaha untuk menahannya agar tidak terjatuh ke belakang namun, tanpa sengaja Praja ikut tertarik membuat tubuhnya terbaring di atas kasur persis di atas tubuh gadis mungil yang telah tertidur lelap.
Kedua mata Praja menatap lekat pada wajah gadis yang berada tepat di bawahnya. Wajah indah bak bidadari di dalam kisah nyata. Praja tak bisa memastikan bagaimana keindahan wajah mahluk yang digadang-gadang memiliki sayap tapi entahlah gadis yang telah menjadi istrinya itu benar-benar cantik.
Praja tak menyangka jika gadis yang memiliki kepribadian anak-anak, manja dan suka menangis ini memiliki wajah secantik ini. Gadis ini lebih baik tidur daripada terbangun.
Kedua mata Praja menelusuri setiap inci wajah Uci yang masih tertidur dengan pulas. Bibir yang indah itu pula membuat jantung Praja tak karuan. Entah apa yang ada pada pikirannya tentang gadis ini. Keberadaanya di bawah tubuhnya membuat tubuhnya seakan terkunci.
Kedua mata Praja benar-benar tak lepas dari wajah Uci hingga kedua penglihatan Praja itu merendah menatap kembali pada dua bibir yang terpejam erat.
"Selamat pa-"
Kedua mata Sumbawa membulat menatap sosok Praja yang sedang menindih tubuh Uci. Praja dengan cepat menoleh menatap ke arah pintu mendapati sosok Opahnya yang tengah berdiri sambil memegang ganggang pintu.
Praja terkejut bukan main. Ia dengan cepat bangkit menjauhi tubuhnya pada Uci yang masih tertidur pulas. Ia berdiri menatap sosok Sumbawa yang langsung membelakangi Praja.
"Ah, maaf sepertinya Opah menganggu waktu indah kalian," ujar Sumbawa lalu tersenyum kecil.
Praja melongo. Apa yang Opahnya itu katakan? Apa mungkin ia telah mengira jika ia telah melakukan hubungan suami istri pada gadis itu.
Ah, ini tidak boleh dibiarkan.
"Apa yang Opah katakan?"
Sumbawa berbalik badan berusaha untuk menatap Praja tapi ia memilih untuk menutup kedua matanya seakan tidak ingin melihat Praja membuat cucunya itu menatap bingung.
"Kenapa? Kenapa Opah menutup mata seperti itu?"
"Ah, tidak apa-apa. Opah akan keluar dan silahkan dilanjutkan!"
Bibir Praja terbuka. Ia tak percaya dengan apa yang Opahnya katakan
"Apa yang-"
Ujaran Praja terhenti saat pintu itu kembali ditutup oleh Opahnya. Suara langkah dari luar membuat Praja yakin jika Opahnya itu telah benar-benar pergi.
Praja mendengus kesal. Opahnya itu telah salah paham dengan dirinya. Ia memejamkan kedua matanya dengan erat diiringi dengan nafas berat yang berhembus pelan. Ini semua karena kesalahannya sendiri. Andai saja ia tidak mendekati gadis itu maka kesalahpahaman ini tidak akan terjadi.
"Gadis menyebalkan," umpatnya lalu melangkah keluar dari kamar.
...🍃🍃🍃...
Praja melangkah keluar dari pintu lift. Hari ini seperti biasa ia telah siap untuk berangkat ke kantor. Sisa sarapan lagi sebelum ia berangkat.
Sumbawa yang sedang senam sehat dengan musik dangdut itu menghentikan gerakannya. Ia tersenyum gembira menyambut cucunya yang berjalan melintasinya menuju meja makan.
"Praja! Bagaimana tadi malam?"
Langkah Praja terhenti. Keningnya mengernyit diiringi lirikan matanya yang menatap Sumbawa yang masih tersenyum senang di belakang sana.
"Apa maksud Opah?"
__ADS_1
"Ah, tidak usah disembunyikan! Opah akan menjaga rahasianya!"
"Apa? Apa yang Opah katakan? Rahasia apa?"
Bukan malah menjawab, Sumbawa malah tersenyum malu membuat Praja menatap bingung. Opahnya begitu aneh.
"Opah ini kenapa?"
"Praja. Opah tau cinta itu memang akan datang setelah pernikahan dan cinta juga akan datang jika kita terbiasa."
"Tapi Opah juga salut karena kau telah menerima gadis itu dan telah melewati malam yang penuh indah."
Praja menggeleng tak menyangka. Rupanya Sumbawa benar-benar telah salah paham.
"Opah! Opah telah-"
"Selamat pagi!" sapa Sandigo membuat Praja dan Sumbawa menoleh.
"Sandigo!" sambut Sumbawa kegirangan.
Ia berlari kecil menghampiri Sandigo dan memeluknya begitu erat membuat Sandigo mengernyit bingung.
"Untung kau datang."
"Hah? Opah menunggu aku?"
"Yah, Opah punya informasi yang sangat penting."
"Kau tau-" Sumbawa menoleh menatap Praja yang terlihat diam memasang wajah datar.
"Apa?" tanya Sandigo yang ikut dibuat penasaran.
"Praja telah-"
"Hm! Hentikan!" Tunjuk Praja membuat Sumbawa dan Sandigo menoleh.
Sandigo mengeryit bingung. Ada apa ini?
"Ada apa?" Sandigo ikut bertanya. Wajah Praja yang terlihat cemas membuatnya jadi penasaran.
"Kau tau-"
"Jangan bicara!"
"Iya katakan!" pinta Sandigo penasaran.
"Praja telah-"
"Jangan menyebar kesalahpahaman yang tak jelas, Opah!" Tunjuk Praja.
"Kesalahpahaman?" tanya Sandigo yang malah bingung sendiri.
__ADS_1
"Ini bukan kesalahpahaman!"
"Kesalahpahaman apa?" sahut Sandigo lagi.
Praja mendengus kesal. Ia tak suka berdebat dengan siapa pun membuatnya melangkah menuju meja makan disambut oleh para pelayan.
Sumbawa tertawa kecil. Ia menggerakkan tangannya memanggil Sandigo yang dengan cepat mendekatkan telinganya membiarkan Sumbawa berbisik di sana.
Kedua mata Sandigo membulat. Ia menjauhkan wajahnya dari Sumbawa yang tersenyum puas setelah berbisik.
"Apa?" kagetnya dengan nada suara yang benar-benar terkejut.
Sumbawa meletakkan jari telunjuknya di depan bibir berusaha untuk melarang Sandigo untuk berisik. Ia tak mau jika Praja sampai mengetahui jika ia telah memberitahu Sandigo. Sumbawa tak tahan jika ia harus menahan dan menyimpan informasi ini sendiri.
"Apa itu benar?" bisiknya membuat Sumbawa mengangguk.
Sandigo mengangkat kedua alisya tak percaya. Ia menoleh menatap Praja yang terlihat sedang sarapan di meja makan itu dengan tatapan yang tidak menyangka. Bosnya yang terkenal dingin itu akhirnya telah melakukan hubungan indah dengan seorang wanita.
"Apa itu serius?"
"Serius. Apa kau tidak percaya dengan Opah? Ini adalah kenyataan. Opah melihatnya sendiri."
"Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Pria beku sepertinya tidak mungkin akan mudah meleleh."
Sumbawa mengehela nafas panjang.
"Kau pikir kedua mata aku ini telah rusak? Hah?"
"Mata ini telah melihat semuanya dengan jelas. Mata ini masih sehat."
Praja menghentikan kunyahannya. Ia menatap dua mahluk yang saling berbisik itu seakan sedang membahas sesuatu yang begitu serius. Opahnya yang terlihat berusaha untuk menyakinkan sedangkan Sandigo yang terlihat tak percaya.
"Apa yang kalian bahas?" tanya Praja membuat Sandigo dan Sumbawa tersentak kaget.
"Ahahaha, kami tidak sedang membahas apa-apa, iya, kan Digo!"
Sandigo tersentak kaget ke belakang sambil sambil memegang perutnya yang telah mendapat pukulan hangat dari sikut Sumbawa.
"Iya, kan?"
"Hah?"
Sumbawa membulatkan matanya tajam mengancam lalu mengedipkan sebelah matanya membuat Sandigo paham dan ikut tertawa tak jelas.
"Yah," Sandigo mengangguk, "Tidak ada apa-apa."
Praja mengembuskan nafas panjang. Ia bangkit dari kursi lalu melangkah.
"Ayo berangkat!" ajak Praja membuat Sandigo berlari.
Langkah Praja terhenti. Ia berbalik badan menoleh menatap Sumbawa yang sedikit terkejut.
__ADS_1
"Jangan menyebar luaskan hal yang tidak benar!" Tunjuknya lalu kembali melangkah pergi disusul Sandigo yang berlari ikut.