
Praja melonggarkan dasi yang ada pada kerah bajunya. Ia menghempaskannya ke atas tempat tidur dengan perasaan yang begitu kesal. Ia duduk di tepi kasur, mengusap wajah hingga ke rambutnya.
Pernikahan ini, pernikahan ini telah terjadi. Gadis itu telah resmi menjadi istrinya sekarang dan itu berarti ia juga telah resmi menjadi suami dari gadis yang masih bersifat bocah itu.
Seorang Praja yang terkenal berwibawa dan tegas harus disatukan dalam ikatan pernikahan bersama dengan gadis kekanak-kanakan.
"Praja!"
Seseorang membuka pintu kamar membuat Praja menoleh menatap Sumbawa yang terlihat memegang ganggang pintu. Kali ini Sumbawa berani menemui Praja karena Praja yang berada di kamar lantai dua.
Sebenarnya Praja memiliki dua kamar. Satu di lantai dua, dimana kamar ini berseblahan dengan kamar yang kini ditempati oleh Uci dan satu lagi adalah kamar pribadinya yang berada di lantai tiga. Kamar yang berada di lantai tiga tak ada yang pernah memasukinya selain Praja saja namun, berhasil di masuki oleh Uci.
Jika ingin menenangkan diri maka Praja akan tidur di lantai tiga namun, jika ia punya banyak perkerjaan dan kesibukan maka ia akan tidur di kamar yang berada di lantai dua.
Praja menghembuskan nafas panjang. Ia beralih untuk menunduk seakan tak ingin melihat Sumbawa.
"Apa Opah boleh masuk?"
Praja tak menjawab dan itu tak membuat Sumbawa untuk mengurungkan niatnya melangkah masuk ke dalam kamar.
"Opah minta maaf. Opah tau kalau Opah itu-"
"Salah?" potong Praja yang langsung melirik.
Praja bangkit dari duduknya. Ia melangkah sambil membuka kancing baju pada kedua tangannya.
"Opah telah menjerumuskan aku pada sebuah kesalahan terbesar. Opah telah menjerumuskan aku pada sebuah hal yang salah."
"Opah! Apa Opah tidak mendengar apa yang aku tadi katakan? Aku menikahi dia dengan melibatkan nama Tuhan."
"Sesuatu hal yang melibatkan kata Tuhan bukanlah sebuah permainan."
"Opah menyuruh aku menikahi gadis itu hanya karena kesalahan Opah yang telah menabrak Ayah gadis itu hingga aku yang harus merasakan resikonya?"
__ADS_1
Praja mendecapkan bibirnya. Ia menopang pinggang lalu mengusap rambutnya yang telah tak serapi tadi.
"Jika Opah ingin meminta maaf atau menebus kesalahan maka kenapa Opah tidak membawa gadis itu saja ke dalam rumah dan Opah bisa mengangkatnya menjadi anak angkat Opah."
"Selain gadis itu bisa tinggal di sini, dia juga bisa hidup dengan kemewahan tanpa harus melibatkan pernikahan."
"Jika sudah begini harus apalagi? Gadis itu telah resmi menjadi istri aku dan itu disaksikan oleh Tuhan. Pernikahan bukan sebuah permainan, ini sakral."
Sumbawa mengangguk. Jujur saja yang cucunya itu katakan memang ada benarnya.
"Praja, Nak!"
Sumbawa melangkah mendekati Praja, menyentuh pundaknya dengan penuh lembut. Ia tak ingin melihat cucunya itu semakin kesal dan marah kepadanya.
"Opah minta maaf. Yah, yang kau katakan tadi itu memang benar. Pernikahan bukanlah sebuah permainan dan itu disaksikan oleh Tuhan."
"Opah merasa bersalah tapi yang perlu kau tau, Nak kalau sejujurnya Opah merasa khawatir dengan diri kau sendiri."
"Diri aku? Kenapa? Memangnya aku kenapa?"
Praja menunduk menatap tubuhnya lalu kembali menatap Opahnya yang menatapnya begitu serius.
"Aku tidak apa-apa."
"Tubuh kau memang tidak apa-apa tapi sifat kau yang sedang apa-apa. Kau adalah pria yang terlalu serius, tidak bisa bercanda, terlalu berwibawa, tegas dan suka marah-marah lalu gadis mana yang ingin menjadi istri untuk kau?"
"Opah bahkan takut kau tidak akan menikah seumur hidup."
"Oh, jadi Opah memandang remeh?"
"Tentu saja. Lihat saja Sandigo. Umurnya jauh lebih muda dari kau tapi dia sudah menikah. Sandigo adalah pria yang ramah, suka bercanda, suka tersenyum dan itu sebabnya banyak gadis yang menyukainya."
Praja membuang pandang menatap ke arah lain. Yang dikatakan oleh Opahnya memang ada benarnya tapi bukan berarti Praja bisa menerima fakta tersebut.
__ADS_1
"Praja! Sejujurnya Opah menginginkan satu hal."
Praja tak menanggapi. Ia diam sambil menatap memandangi taman yang ada di samping rumah.
"Opah ingin cucu."
Kedua mata Praja membulat kaget ia menoleh menatap Sumbawa dengan wajah tak percayanya. Gila! Sepertinya Opahnya ini memang telah gila.
"Apa? Apa Opah sudah tidak waras? Tujuan Opah menikahkan aku dengan seorang gadis itu bukan hanya untuk menebus kesalahan tapi juga karena ingin cucu?"
Sumbawa mengangguk pelan dan semoga saja Praja tidak melayangkan tinjunya ke kepala yang telah berani mengangguk ini.
"Apa Opah sudah gila? Gadis itu bahkan belum genap tujuh belas tahun."
"Opah tau Praja. Tapi Opah menginginkan cucu, hanya itu. Itu tidak sulit bukan?"
"Tidak sulit? Opah menyuruh aku untuk memiliki anak kecil dari seorang gadis yang sifatnya masih seperti anak kecil?"
"Ah, ayolah Opah berpikirlah yang positif!"
"Praja! Pikiran ini selalu positif untuk kau, Nak."
Praja mendengus kesal. Ia mengusap rambutnya ke belakang dengan perasaan kesal.
"Pergilah sebelum aku marah!"
Sumbawa meneguk salivanya. Sepertinya ini bukan ancaman biasa. Praja bisa saja melakukan hal itu walau selama ini Praja sama sekali tak pernah berperilaku kasar kepadanya.
"Baiklah, Nak. Maafkan Opah dan tolong kabulkan keinginan Opah yang sangat sederhana itu! Berikan aku satu cucu, okay!"
Praja melirik tajam membuat Sumbawa tersentak kaget dan segera berlari meninggalkan ruangan kamar yang ia tutup dengan rapat.
"Keinginan sederhana!"
__ADS_1
Praja menghembuskan nafas panjang. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur begitu saja. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Praja tak mungkin mengabulkan keinginan konyol Opahnya. Melihat gadis itu saja membuatnya kesal lalu bagaimana caranya ia bisa memiliki anak dari gadis itu.