Praja

Praja
16. Marah


__ADS_3

"Sepertinya cincin ini cantik."


Praja memejamkan kedua matanya erat. Ia begitu pening untuk menghadapi ini semua. Kedua mata Praja terbuka secara tiba-tiba setelah seseorang menyentuhnya.


Ia menoleh menatap Sandigo yang menempelkan meteran pada tangganya.


"Apa ini? Apa yang kau lakukan?"


"Tenang lah Tuan! Jika mereka tidak berani untuk mengukur Tuan maka aku yang akan melakukannya."


Praja melongo. Sepenting ini kah gaun pengantin dalam acara pernikahan hingga Sandigo harus turun tangan. Praja hanya menurut. Ia lelah untuk protes kali ini. Ia mengangkat ke kedua sisi tangannya membiarkan Sandigo mengukur lebar dada dan pinggangnya sementara beberapa wanita tadi terlihat mencatat sesuatu pada buku kecilnya.


Praja menarik nafas panjang dan menahannya di dada saat Sandigo mengukur bagian kakinya.


"Sudah hentikan!" pintanya lalu melangkah pergi meninggalkan Sandigo yang masih berlutut di lantai dengan meteran di tangannya.


"Tapi Tuan! Aku belum mengukur lingkar kaki Tuan!!!" teriaknya.


Sandigo mendencapkan bibirnya kesal. Ia menoleh menatap Sumbawa dengan wajah kecewa.


"Tenang saja! Dia bahkan belum memilih cincin untuk dirinya sendiri."


Sandigo terdiam sejenak.


"Pak bagaimana dengan lingkar kakinya?" tanya wanita yang masih memegang buku catatan kecil di tangannya.


"Ah, ukur saja lingkar kaki ku! Ukurannya tidak jauh beda dengan Tuan Praja!"


...🍃🍃🍃...


Uci berlari kecil keluar dari kamar. Ia mengusap matanya lalu menguap. Tubuhnya terasa lemas setelah tidur. Ia merasa saat ia tidur rasanya ada yang menyentuh tubuhnya. Yah jika ingin tau sebenarnya para wanita yang membuat gaun pernikahan itu yang telah mengukur tubuh Uci secara diam-diam. Ini semua mereka lakukan atas perintah Sandigo.


Ia menoleh ke segala arah menatap suasana rumah yang begitu sunyi, tak ada orang di sini.


"Apa ada orang?!!" teriak Uci yang masih melangkah menulusuri setiap sisi ruangan.


Langkahnya terhenti setelah ia melihat tangga berwarna hitam dengan pegangan tangga berwarna putih. Kedua matanya berbinar seakan menemukan tangga rahasia.


Ia mendongak berusaha untuk melihat apa yang ada di atas sana. Uci melangkahkan kakinya pelan, menyentuh pegangan tangga itu dengan hati-hati.


Sesampainya di atas sana ia dibuat kagum pada suasana ruangan yang bernuansa hitam dan putih. Mulutnya terbuka kagum. Ia berputar sambil mendongak menatap lampu berkristal putih yang megah.


Uci berlari kecil menghampiri vas bunga kecil yang terlihat berkilau. Ia menyentuh permukaan vas berkristal itu dan mengangkatnya. Mencium bau vas itu yang begitu wangi.


Praja melangkah keluar dari pintu lift. Kedua matanya menatap kaget pada sosok gadis yang sedang memegang vas bunga. Di ruangan pribadinya!


"Kau!" teriak Praja.


Uci tersentak kaget. Ia menutup kedua telinganya membuat pegangan tangannya pada vas itu terlepas.

__ADS_1


Bruak!!!


Nafas Uci seakan tertahan di tenggorokan. Ia yang masih menutup kedua telinganya itu langsung menoleh menatap Praja yang tangannya terdiam merentang seakan siap untuk mencegah vas bunga itu jatuh ke lantai.


Kedua mata Praja tak berkedip sedikit pun menatap pecahan vas yang hancur berkeping-keping bersama dengan kristal. Praja masih ingat harga vas bunganya itu yang harganya milyaran.


Kedua mata Uci yang menunduk itu menatap pecahan vas dan dengan cepat menatap ke arah Praja yang menoleh menatapnya.


"Kau!"


Wajah ketakutan Uci lenyap dari bibirnya. Ia tersenyum lalu melambaikan tangannya ke arah Praja.


"Hai! Aku Uci. Salam kenal."


Praja mengerjapkan kedua matanya beberapa kali seakan tak percaya pada apa yang gadis di depannya ini lakukan. Untuk pertama kalinya ada yang berani untuk melambaikan tangan untuknya. Bahkan Sandigo yang sudah bersamanya sejak lama tak pernah melakukan itu.


"Kau siapa? Apa kah-aaaa!!" teriaknya setelah ia menatap ke arah pintu lift.


Praja ikut menoleh. Ia menatap pintu lift itu sejenak dan kembali menatap gadis kecil yang masih menutup mulutnya.


"Apa kau keluar dari pintu ajaib itu?" Tunjuknya membuat Praja mengernyit heran, tidak mengerti.


Ia tak mengerti dengan apa yang gadis ini katakan kepadanya.


"Kau siapa?" tanya Uci.


Praja mengerakkan bibirnya ingin bicara tapi rasanya ia sudah kehabisan kata-kata berhadapan dengan gadis ini. Ia menatap pecahan vas bunganya itu membuat Uci ikut menunduk.


Kedua mata Praja membulat setelah mendengar suara tawa dari gadis yang ada di depannya.


"Lihat vasnya ada banyak!"


Praja menyentuh kepalanya pening. Gadis ini sepertinya adalah gadis gila.


"Siapa kau? Dan untuk apa kau di sini?" tanya Praja dengan kedua rahangnya yang menegang menahan amarah.


"Aku?" Tunjuk Uci ke arah wajahnya.


Tak ada jawaban dari Praja.


"Aku juga tidak tau lalu apa yang kau lakukan di sini?"


Gila! Dasar gila! Gadis ini benar-benar membuatnya gila. Bukan malah menjawab, gadis ini bahkan ikut mengajukan pertanyaan untuknya. Sekali lagi, tak ada yang pernah melakukan hal ini.


Praja melangkah mendekati gadis itu. Ia berdiri tepat di hadapan Uci yang mendongak menatapnya. Gadis kecil yang hanya memiliki tinggi sampai di dadanya saja.


"Kemari!"


Praja menarik pergelangan tangan Uci dan menariknya dengan kasar memasuki lift.

__ADS_1


"Kenapa menarik tangan Uci? Lepaskan!" mintanya sambil menggerakkan tangannya berusaha untuk lepas dari genggaman Praja yang menggenggam erat pergelangan tangannya.


Tak ada jawaban dari Praja. Pria itu diam dengan wajahnya yang terlihat datar menahan amarah.


Pintu lift terbuka membuat Sumbawa dan Sandigo dan beberapa para pelayan yang membantu memilih model cincin menoleh. Ia menatap Praja yang melangkah keluar sambil menarik pergelangan tangan Uci yang masih mengoceh tak jelas.


Praja menghentikan langkahnya. Ia melempar gadis kecil yang sejak tadi meminta untuk di lepas. Sandigo bangkit dari sofa dan dengan cepat menangkap tubuh mungil yang nyaris terhempas ke lantai.


Praja melirik menatap beberapa pelayan yang langsung terbelalak sambil menutup mulutnya yang menganga.


"Keluar!" pintanya dengan nada dingin membuat beberapa pelanya itu berlarian keluar.


Sandigo menunduk menatap pergelangan tangan gadis itu yang terlihat memerah. Sumbawa bangkit dari sofa, ia juga ikut terkejut melihat kejadian ini.


"Ada apa ini?" tanya Sumbawa.


"Harusnya aku bertanya. Bagaimana bisa gadis ini ada di tempat pribadi ku dan dengan lancang dia memecahkan vas bunga."


"Siapa yang menyuruh kalian memasukkan gadis ini ke dalam rumah?"


Sumbawa melangkah mendekati Praja dan mengelusnya lembut. Ia berusaha untuk menenangkannya.


"Praja, em, dia sebenarnya adalah calon istri untuk kau."


Bagai disambar petir ia mendengarnya. Ia tak pernah menyangka jika gadis ini yang dijodohkan untuknya.


"Gadis ini?"


Praja menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut gadis mungil itu.


"Opah menjodohkan gadis ini untuk aku?"


"Ya. Memangnya kenapa?"


"Aku tidak mengerti dengan pilihan Opah. Gadis pendek seperti ini? Dia bahkan tidak mampu menyentuh rambutku."


"Aku setuju untuk menikahi gadis ini tapi bukan berarti aku mengizinkan dia untuk menginjakkan kakinya ke dalam ruangan aku!"


Sandigo menatap gadis yang mencengkram ujung jasnya. Sepertinya gadis ini terlihat begitu ketakutan.


"Apa kau naik di lantai tiga?"


Uci menggeleng. Ia bahkan tak tau lantai berapa rumah ini.


"Gadis penyihir. Oh, jadi gadis ini yang telah membuat aku ketakutan di dalam mobil."


"Digo! Jangan biarkan gadis ini menginjakkan kakinya ke dalam ruanganku!"


"Baik Tuan."

__ADS_1


Praja melangkah pergi berniat untuk masuk ke dalam pintu lift. Uci mencibirkan bibir, ia melangkah jauh dari Sandigo mendekati Praja.


"Heh, Tuan jelek!" teriak Uci membuat kedua mata Sumbawa dan Sandigo membulat kaget.


__ADS_2