Praja

Praja
31. Gandeng!


__ADS_3

"Ada apa lagi? kau kenapa?" tanya Praja.


Gadis itu tak menjawab. Ia tetap diam, tak memperdulikan ujaran Praja yang baru saja bertanya.


Praja menarik nafasnya dalam-dalam sambil memejamkan kedua matanya dengan erat. Tuhan, gadis ini menjadi bisu disaat seperti ini.


"Kenapa? Hm?"


"Uci ingin digandeng."


Wajah Praja mendatar. Gandeng? Cih, kata apa itu? Ia bahkan tak pernah membayangkan hal itu. Seorang Praja menggandeng seorang gadis? Yang benar saja.


"Tidak. Aku tidak akan menggandeng kau," tolaknya lalu melangkah memberikan jarak antara ia dan Uci.


Gadis itu terdiam, menatap sosok Praja yang semakin menjauh darinya. Uci melirik sinis dengan bibirnya yang dicibirkan persis seperti anak kecil yang sedang marah pada temannya.


Praja tetap melangkah dengan santai menelusuri lorong perbelanjaan sambil sesekali menatap ke arah pakaian yang terpajang di sana.


"Memangnya siapa yang akan menggandeng gadis itu. Seorang Praja tidak akan pernah menggandeng seorang gadis lagi pula ini di tempat umum jika ada yang melihat bagaimana?"


"Hah, sudah pasti akan muncul gosip di media sosial atau pun di koran."


"Tapi-" Langkah Praja terhenti seketika, ia baru ingat satu hal, gadis itu tidak berada di belakangnya.


Kedua mata Praja membulat, bibirnya ikut terbuka karena terkejut. Dengan cepat ia menoleh menatap ke belakang dan tak menemukan gadis itu.


Gadis itu tidak ikut dengannya.


Praja menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya lewat mulut. Ia menyentuh kepalanya yang terasa pening. Oh, Tuhan bagaimana bisa ia lupa jika gadis itu adalah gadis kekanak-kanakan dan tentu saja dia tidak akan ikut dengan dirinya karena ia menolak untuk menggandeng gadis itu.


Praja mendecapkkan bibirnya kesal. Sabar, ia harus sabar. Hilang, entah mengapa kata itu yang muncul di dalam benaknya. Apa mungkin gadis itu akan hilang setelah ia meninggalkannya?


Praja menggeleng. Baru lima menit ia meninggalkan gadis itu, tak mungkin ada pencuri yang akan mengambilnya. Lagipula tak ada pencuri yang mau mencuri gadis kekanak-kanakan seperti istrinya itu.


Dengan langkah yang cepat Praja melangkah kembali ke tempat dimana ia meninggalkan gadis itu dan, ya benar saja dari kejauhan Praja bisa melihat gadis itu sedang duduk di lantai persis di mana ia meninggalkan gadis itu.


Praja bernafas lega, gadis itu tidak hilang dan sepertinya Praja beruntung hari ini. Gadis itu tidak hilang dan dia tidak mendapatkan masalah atau amukan dari Opahnya.

__ADS_1


Praja melangkahkan mendekati gadis itu yang terlihat menggerakkan ujung jari telunjuknya di permukaan lantai seakan sedang menulis sesuatu di sana.


Praja berlutut di hadapan gadis itu. Ia berpikir sejenak berusaha untuk memikirkan apa yang harus ia katakan kepada gadis ini.


"Kenapa kau tidak ikut?"


Tak ada jawaban dari gadis itu. Dia tetap saja diam seperti boneka.


"Aku pikir kau ingin membeli baju lalu kenapa kau tidak ikut denganku?"


Apa kau bisa mendengar suara jengkrik setelah Praja bertanya? Sunyi dan sepi. Tetap saja tak ada jawaban dari gadis itu membuat Praja menarik nafasnya dalam-dalam. Di dalam tubuhnya bahkan terasa sangat panas karena amarah yang ingin meledak.


Tuhan tolong berikan Praja kesabaran! Praja tersenyum tentu saja senyum ini adalah sebuah senyum keterpaksaan jika saja gadis ini bukanlah istrinya, gadis yang sangat Sumbawa sayangi mungkin ia sudah membawa gadis ini pergi dan membuangnya di pinggir jalan lalu meninggalkannya seperti kucing.


Ah, niat jahat. Mengapa akhir-akhir ini ia seperti seorang penjahat.


"Sekarang kau mau apa? Tolong bicara! Aku punya banyak urusan. Bukan hanya kau yang harus aku ajak bicara hari ini."


"24! 24 orang sedang menanti aku meeting di kantor jadi tolong mengerti."


"Hei, aku mohon tolong mengerti aku! Siapa tadi nama kau?"


Praja menggerakkan kedua bola matanya ke kiri dan ke kanan berusaha untuk mengingat siapa nama gadis ini, Sumbawa sepertinya pernah menyebutkan nama gadis ini.


"Em, Uci," sebut Praja membuat gadis itu menggerakkan kepalanya menatap Praja yang langsung tersenyum bahagia. Ah, akhirnya gadis ini merespon.


"Ada apa? Kenapa kau tidak ikut dengan aku?" Kau ingin beli baju, kan?"


"Kalau kau ingin beli baju maka kau harus ikut denganku, oke?"


Gadis itu kembali cemberut dan menunduk membuat Praja memejamkan kedua matanya dengan erat kedua rahangnya menegang menahan amarah baru kali ini ada yang melakukan hal seperti ini kepadanya.


"Uci tidak mau."


"Apa? Kenapa tidak mau? Bukankah Opah menyuruh aku datang ke sini untuk menemani kau berbelanja lalu mengapa sekarang kau tidak mau?"


"Uci tidak mau ditemani berbelanja sama tuan tampan."

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa tidak mau?"


"Karena tuan tampan suka marah-marah, Uci tidak suka."


"Aku tidak marah-marah hanya sedikit kesal," jawabnya sambil tertawa paksa dengan gigi yang menggerutu.


Uci kembali terdiam diam seperti patung tak ada bedanya seperti tadi membuat Praja mendecakkan bibirnya kesal. Oh, Tuhan harus ia apa kan gadis ini agar mau menurut dengannya.


Gadis ini sepertinya tidak normal seperti orang-orang yang selama ini ia temui, agak sedikit berbeda, hah bukan sedikit tapi banyak. Gadis ini tidak normal.


Praja menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan sambil tersenyum menghadapi gadis itu. Kali ini ia harus ekstra sabar untuk menghadapi gadis ini, ya mungkin sedikit kelembutan akan menyentuh hatinya.


"Uci, tolong menurut sedikit, ya!"


"Hari ini aku punya banyak urusan. Aku ada banyak pekerjaan dan meeting penting jadi tolong aku sangat bermohon maukah kau menurut denganku?"


"Ikut aku berbelanja bersama dan setelah itu aku akan mengantarmu pulang dan hidupku akan tenang sekali, kau mau, kan?"


Uci mengangkat pandagannya menatap wajah Praja yang masih menatapnya dengan serius.


Bibir Praja bergetar menahan senyum yang penuh keterpaksaan ini. Nafasnya bahkan telah tertahan di kerongkongannya. Tubuhnya bahkan terasa terkunci menantang gadis ini bicara.


Oh, Tuhan apa yang gadis ini pikirkan sehingga cukup lama terdiam seperti ini menatapnya seakan ia karena sebuah TV yang dijadikan bahan pertontongan.


"Uci mau."


"Yessss!" sorak Praja kegirangan seakan ia sedang menonton sebuah pertandingan bola yang berhasil mencetak sebuah gol di TV.


"Tapi Uci mau tuan tampan menggandeng Uci selama berbelanja."


Zong!


Senyum Praja seketika lenyap dari bibirnya, rasanya ia mendapat serangan jantung setelah mendengar ujaran gadis menyebalkan ini.


Gandeng!


"Kalau begitu tidak usah berbelanja!" ujarnya lalu bangkit dan melangkah pergi.

__ADS_1


__ADS_2